Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Wahai Emak-emak, Hamil dan Melahirlah! Namun ada Tapinya

 

Ilustrasi bayi baru lahir. (Tangkapan layar, dokpri)

Wahai emak-emak, hamil dan melahirlah! Namun ada tapinya. Judul ini dibuat sekadar mengingat masa kecil yang kurang menyenangkan.

Sebagai anak pertama, saya sangat risih dengan kelahiran adik bayi yang rata-rata berjeda satu atau satu setengah tahun. Di usianya ke 37, Emak melahirkan 7 anak.

Setelah saya menikah pun, kami pernah sama-sama hamil dua kali. Hingga jumlah saya bersaudara jadi 9 orang.

Memang tak ada aturan yang melarang mau punya anak banyak atau sedikit. Tapi secara pribadi penolakan saya cukup berdasar.

Pertama, Ada rasa malu dan minder, karena perut ibu saya keseringan membuncit. Saya merindukan beliau tampil tanpa menggendong, fresh dan ceria. Seperti emak-emak yang lain. Celakanya ada pula nenek tetangga yang judas. Terang-terangan dia berujar, “Emakmu tahunya cuman beranak, beranak terus.”

Ke dua, saya ikut terbebabani. Zaman itu kondisi ekonomi keluarga kami sedang tandus. Untuk bertahan hidup orang tua saya hanya mengandalkan hasil tani yang dilakukan secara tradisional.

Ketika emak dan  bapak bekerja di sawah dan ladang, saya bertugas mengasuh adik. Hal ini terjadi sepanjang tahun. Di sisi lain, saya merasa semakin kurang mendapat perhatian.

Padahal, zaman itu pemerintah Orde Baru sedang gencar mengendalikan pertumbuhan penduduk. Program Keluarga Berencana menggaung di seluruh nusantara.

Slogan “Dua anak cukup. Laki-laki/perempuan sama saja.” dan “Norma Keluarga Kecil dan Sejahtera.” terpampang di mana-mana.

Sejatinya emak juga tak menginginkan kehamilan yang berjeda pendek itu. Ya, apa hendak dikata. Beliau belum mengerti apa itu Keluarga Berencana. Saya malu dan merasa tidak berhak mencampurinya.

Kegalauan menerima kehadiran adik baru di tengah keluarga besar bukan saja membelit saya.

Karib saya IT juga pernah curhat. Katanya saat itu dia dan 4 kakak perempuannya sangat senang dan berbahagia. Bulan lalu ibunya habis keguguran. “Alhamdulillah, Emak tak jadi hamil,” katanya.

“Sejak lama kami berdoa supaya tidak dikasih adik kecil lagi. Ternyata awal tahun ini Emak hamil anak nomor 9,” tambahnya.

“Kami semua kecewa. Terutama kakakku yang nomor 3. Empat bulan lagi dia akan menikah. Bagaimana nanti, saat pesta Emak dalam keadaan hamil tua. Untung kandungannya rontok.” Wajah IT tampak plong.

Lain IT beda pula JN. Saking apatisnya menyambut kehadiran adiknya yang ke 7, siswi SLA ini mengancam, tak mau pulang ke rumah orang tuanya. Dia memilih tetap tinggal di tempat kos.

Alasannya, dia malu sama pacarnya karena ibunya hamil lagi pada usia yang kurang muda.

Saking kesalnya JN sampai mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan seorang anak terhadap ibu kandungnya, dan sangat tidak pantas kalau saya tulis di sini.

Setidaknya, di sekitar saya kisah seperti JN ini terjadi 3 kali. Ketiganya anak cewek. Bahkan saya pernah menampung gadis remaja minggat dari rumah orang tuanya gara-gara tak sudi melihat ibunya hamil lagi dalam usia yang menurutnya tidak pantas lagi. Terlepas apakah si gadis sudah punya pacar atau belum.

Konflik di atas patut menjadi renungan kita bersama. Terutama bagi anak muda.

1. Jangan Menunda Kehamilan

Bagi pasangan yang baru menikah, sebaiknya usahakan cepat punya momongan. Rencanakan jumlah dan jeda kelahiran dengan matang. Begitu anak-anak sudah dewasa, ibunya tidak hamil lagi.

Tinggal menyelamatkan putra-putri yang ada. Mau 6 atau 7 tidak masalah. Yang penting punya kesiapan untuk mengasuhnya, moril maupun materil. Memberikan pendidikan dan bekal agama yang cukup.

2. Jalin Komunikasi yang Intens

Umumnya kehamilan ibu di tengah anak-anaknya yang telah dewasa atau remaja, tidak diinginkan oleh yang bersangkutan. Upaya penangkalan sudah dilakukan. Tetapi apa bila Allah berkehendak, tiada tangan yang bisa mencegahnya.

Andai terjadi protes seperti peristiwa di atas itu manusiawi. Orang tua yang bijak tidak akan melawan protes dengan protes.

Percayalah insiden tersebut merupakan pergolakan batin sesaat. Jika orang tua melakukan komunikasi dengan intens, konflik tersebut akan segera reda. Silakan hamil dan melahirkan berapa kali dan  kapan maunya. Ini termasuk salah satu hak  yang paling azazi yang melekat pada setiap pasangan.

Bukankah si anak sudah beranjak dewasa. Jika masih ingusan, dia belum reaktif terhadap masalah begini. Toh Setelah si bayi lahir rasa apatis kaum kakak itu lenyap seketika. Berganti dengan cinta dan sayang. Layaknya cinta kakak kepada adik.

Saya sendiri merasakannya. Terlebih setelah punya anak dan cucu. Sekarang justru saya bersyukur terlahir dari seorang  ibu memiliki kesuburan yang luar biasa.

Sementara lain orang ada yang seumur hidup tidak dititipkan amanah untuk menjadi ibu oleh Allah. Di antaranya uang banyak, harta melimpah.

 Saya juga bangga punya banyak saudara. Apabila ada orang lain berani menjelekkan saya, merekalah yang duluan membela.

Demikian hal yang patut dipertimbangkan ketika seorang ibu mau mengatur kelahiran supaya terhindar dari konflik. Ini bukan ajakan bukan pula larangan. Semua terpulang pada individu masing-masing.

Ingat! Semua Ibu pernah jadi anak, semua anak insyaallah akan menjadi Emak. Hanya waktu yang menentukan. Semoga bermanfaat.

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi.

 

61 komentar untuk "Wahai Emak-emak, Hamil dan Melahirlah! Namun ada Tapinya "

  1. Turut menyimak Bu Nursini..
    Jarak kehamilan yg terlalu dekat atau klo di Jawa biasa disebut kesundulan memang cukup membuat galau para ibu, apalagi pasangan muda.

    Punya saudara banyak mungkin repot pada saat masih kecil ya Bu, tapi ketika sudah pada gedhe menyenangkan sekali tentunya πŸ˜‡, banyak tempat curhat dan temen main hehe

    Terima kasih Bu nursini untuk pandangannya soal ini, salam santun, hangat, dan sehat selalu πŸ™πŸ˜‡

    BalasHapus
  2. Sependapat, ananda Firda. Kerepotannya berlipat-lipat karena ekonomi yang sangat minim. Zaman itu kondisi ekenomi di kampung rata-rata sangat memprihatinkan. Makan berbagi suap sudah merupakan keseharian kami, para tetangga juga mengalaminya. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa srhat untuk keluarga di sana.

    BalasHapus
  3. Ingat! Semua Ibu pernah jadi anak, semua anak insyaallah akan menjadi Emak. Hanya waktu yang menentukan. Semoga bermanfaat.

    Setuju, enak bacanya nih tulisan bunda πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ananda Dinni. Salam sehat untukmu selalu.

      Hapus
  4. Sama kayak kakek saya bu haji ibu saya ada 7 bersodaran enaknya pas lagi lebaran suasana rumah kake yang masih di perkampungan seketikan menjadi ramai. Sehay selalu bu, agar terus bisa berbagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Grilee. Kami bersaudara juga begitu. Terima kasih doa sehatnya. Selamat malam

      Hapus
  5. Terima kasih Ibu
    Ikut menyimak
    Salam sehat

    BalasHapus
  6. Terima kasih kembali, Mas. Saya belum berhasil masuk ke blog Mas Susy. Habis, kalau diklik nama Mas di kolom komentar saya arahannya ke blog lama. Alamat web baru sudah lupa. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

    BalasHapus
  7. Sebagai anak pertama, mungkin kalau ibu saya beranak banyak juga akan keberatan. Apalagi kalau tanggung jawab mengurus bayi dilimpahkan ke kakak. Jadi saat memutuskan untuk punya anak lebih dari satu juga dipertimbangkan siapa yang akan mengurus si bayi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ibu bapa yang mampu di segi ekonomi, kasus tersebut mungkin tak ada, Mbak Alfa. Terlebih zaman sekarang. Kebanyakan orang tua berpendidikan. Ekonomi tidak sesulit zaman dahulu. Selamat malam, terima kasih telah mengapresiasi. Salam hangat selalu.

      Hapus
  8. Terbayang itu kakaknya mau resepsi, pas hajatan, emaknya sedang hamil besar... Padahal usia tidak muda lagi...

    Itu ada lagi emaknya keguguran, malah disukuri, hehehe... Saking menolaknya punya adik lagi dan lagi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, Mbak. Maklum anak muda. Termasuk saya pada zamannya. Pikiran masih disusupi oleh ego yang tinggi. Terlebih tanpa bimbingan moril yang cukup dari keluarga.

      Maklum. Kala itu masyarakat negeri kami dimana-mana kehidupan susah. Angka buta huruf sangat tinggi. Mungkin kondisi tersebut hanya berlaku di daerah kami saja. Terima kasih telah tanggapannya. Selamat siang.

      Yang Emaknya keguguran itu, malah keluarga agak berpunya dan berpendidikan. Kakaknya yang mau nikah tersebut waktu itu sedang menuntaskan pendidikan Sarjana muda.

      Hapus
  9. Sudut pandang yang menarik. Anda membuat saya berpikir. Terima kasih banyak telah berbagi.

    Memeluk!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Saudaraku Carlos. Terima kasih juga kunjungannya. Doa sehat selalu menyertaimu.

      Hapus
  10. Kalo di keluargaku, agak sedikit beda mba. Ini maksudnya papa mama ku yaaa. Krn kami Batak, anak laki2 itu penting, untuk meneruskan marga :). Makanya papa ga nyerah sampe dpt anak laki2 hahahaha. Untungnya anak keempat laki2.

    Tapi aku sendiri dan suami, ga mau kayak begitu. Buat kami punya anak, hrs yakin dulu kondisi financial dan mental. Aku bukan tipe yg suka anak2. Makanya aku membatasi jumlah anak cukup 2. Sebenernya malah 1, tp suami kepengennya 2 ya sudahlaah, demi dia. Kalo aku paksa utk punya anak trus2an, walopun keuangan kami cukup, tp mentalku ga akan bagus. Aku pasti stress. Makanya setelah 2 anak, kami sepakat steril , supaya stop reproduksi :D. Fokus ajalah Ama 2 anak yg skr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, begitu ya, Mbak Fanny. Beda sama orang Minang. Kalau tidak punya anak perempuan, dianggap keturunan itu putus. Karena di sana menganut sistem matriarchald.

      Sama dengan saya, Mbak. Saya juga punya dua. Memang dari awal direncanakan 2 anak saja. Mengaca dari pengalaman Emak, kapok saya. He he .... Alhamdulillah, 1 cewk 1 cowok. Mereka sudah dewasa dan berumah tangga semua. Alhamdulillah juga, tidak banyak tingkah, dan mandiri semua. Tahun ini si bungsu usia 36 tahun. Terima kasih sharingnya. Doa sukses untuk Mbak sekeluarga.

      Hapus
  11. Harus ada kesepatan nih antara suami dan istri, agar anaknya lahir dan besar tepat waktu 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas Kuanyu. Justru di sini diperlukan komunikasi yang intens. Selamat siang. Terima kasih telah hadir. Salam untuk keluarga di sana.

      Hapus
    2. Sama-sama, salam balik mba Nur 😊

      Hapus
  12. Saya pernah juga kena nyinyir tetangga, karena jarak kehamilan saya berdekatan. Bedanya tiga tahun tiap anak.

    Rencana dan kepinginnya memang tiga anak, tapi dengan jarak lima tahun. namun ternyata semua rencana dan usaha juga bukan semata kehendak kita. Beruntung orang tua dan mertua saya sangat support mereka bahkan lebih bahagia dari saya sepertinya karena punya banyak cucu, hihihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jarak 3 tahun rasanya lumayan sedang. Tidak terlalu rapat juga. Dan usia si ibu masih muda. Belum ada kakak-kakaknya yang dewasa. Didukung pula faktor ekonomi yang memadai. Biarin mereka. Msu ngomong apa.

      Alhamdulillah, ada dukungan dari mertua. Zaman 60-an, bangasa Indonesia masih miskin banget, Mbak, Pipit. Kasian orang tua yang punya anak banyak.

      Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat untuk keluarga di sana

      Hapus
  13. Wah semoga ibu dan ananda sehat selalu ya mbak ...jarak kehamilan memang menentukan kebahagaiaan seorang ibu dalam membesarkan anak2nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mbak Bayu. Terima kasih. Salam sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  14. Anak adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Memang terkadang menimbulkan polemik saat jarak kelahiran terlalu dekat. Tetapi sekali lagi semua pasti ada hikmahnya. Setuju dengan tips dari Bunda, agar tidak menimbulkan masalah dengan anak2 saat mempunyai adik dikala usia si sulung sudah beranjak dewasa. Sehat selalu ya Bunda.

    BalasHapus
  15. Betul Ananda Ulfah. Setelah dewasa dan berumah tangga hikmah itu sangat terasa. Setidaknya, bunda berusaha, stop melahir setelah si sulung remaja. Berkat pengalaman yang kurang enak masa lalu. Terima kasih. Selamat malam. Doa sehat untuk keluarga di sana.

    BalasHapus
  16. Hallo bunda,

    Aku ga bisa membayangkan sih gimana rasanya hamil bareng sama ibu kita, selain beban mental kita mau punya adik lagi, kesehatan ibu juga pasti agak terancam karna usia ibu pasti udah bukan usia aman untuk mengandung.

    Kalau dikampungku, orang yg jarak kehamilannya dekat disebut kesundulan, biasanga karna nggak KB, tp ya KB itu memang pro dan kontra.

    Buat aku dan suami sbg keluarga muda, KB itu penting bgt, wlpn kalau mau ikut ajaran agama yg disarankan memang KB alami, tp resiko kesundulannya gede bgt, daripada kesundulan dan kami nggak siap secara mental ataupun finansial mendingan kami jaga jarak kehamilan deh hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sependapat banget dan kita satu prinsip, ananda Ursula. Alhamdulillah, kondisi tersebut tidak terulang pada bunda. Punya dua anak udah cukup. Kini bunda tinggal berdua sama bapaknya saja. Punya cucu 4.

      Mengurus keluarga kecil itu memang agak mudah. Kalau kelahiran diatur dan terencana, kita bisa menikmati masa tua dalam waktu yang panjang. Tanpa beban apa pun.

      Sebelum pensiun anak-anak selesai kuliah, sudah bekerja dan menikah semua. Sekarang, bunda memang jauh dari kata kaya. Tapi untuk makan, beli data telkomsel, lumayan cukup. Sesekali mereka juga ngasih. He he ... nenek songong. Terima kasih ananda. Curhatan kita terlalu panjang. Doa sehat untukmu selalu.

      Hapus
  17. Merinding bacanya. Masa lalu keluarga memang sangat berpengaruh pada psikologis anak ya Mbak. Mau tak mau juga mempengaruhinya dalam bersikap. Yuk para perempuan dan juga seharusnya suami agar bisa mempersiapkan masa depan anak yang lebih cerah agar tak ada penyesalan di kemudian hari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah ikut berseru buat para perempuan dan kaum suami, Mbak Rindang. semoga rintihan ini bisa didengar. Selamat sore, doa sehat untuk Mbak sekeluarga.

      Hapus
  18. Tetangga saya dulu juga ada yang gitu, bu. Anak sulungnya udah kerja, jadi guru di sebuah SMP, eh ibunya mengandung lagi. Kebrojolan lah istilahnya, karena jaraknya emang jauh banget dari kakak-kakaknya. Tapi reaksi menolak dan malah memusuhi ibunya menurut saya kurang tepat yaaa... justru sang ibu butuh dikuatkan. Bisa jadi beliau juga shocked bisa hamil lagi di usia yg sudah tidak muda kaaan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau lingkungan (keluarga) dalam keadaan nyaman dan gembira tiada masalah Mbak Unik. Yang kebanyakan berkasus itu efek dari ketidak nyamanan. Contohnya saya. Tak dapat menikamati masa kecil sebagai mana mestinya. Karena ngurus adik-adik. Sementara orang tua harus meninggalkan rumah ke sawah ke ladang. Saya dewasa sebelum waktunya. Terima kasih telah menanggapi, Mbak Doa sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  19. ya, begitulah kehidupan....
    persepsi soal punya anak, waktu dan jumlahnya akan berubah ubah dari masa ke masa.....

    # Ceritanya nambah wawasan ..... have a wonderful day.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sementara sebagian wanita diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk punya anak banyak, Sementara perempuan lainnya malah ada yang sangat merindukan kehadiran anak, Namun tak dapat-dapat. Selamat malam, Mas Tanza. Terima kasih atensinya.

      Hapus
  20. Ternyata yg anaknya banyak itu bukan cuma orang tuanya yg galau ya tapi anak2 terutama yg tertua2nya ikut galau.

    Suami saya termasuk yg klrga'y anak'y banyak. Suami saya anak ke7, kk pertamanya usianya kira2 hampir sama dgn ibu saya. Hehe.. Katanya dulu ibu mertua malah harus'y anak'y 9, tapi yang 2 keguguran dan usia'y sudah tidak muda lagi jd beresiko tinggi kalau hamil lagi.

    Oh, saya pikir memang masyarakat dulu nggak mau ngikut program KB, ternyata mungkin sosialisasi'y juga kurang ya Bu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertama, memang kurang sosialisasi, Mbak. Kedua, kalau tak salah ingat, tahap pertama dulu KB biaya sendiri. Belum dibiayai pemerintah (gratis). Hubungan ke puskesmas 8 km. Tenaga medis sangat minim. Satu kecamatan paling ada dua bidan.

      Betul, Mbak Imawati. galaunya tingkat akut. Mungkin hal ini tidak sama dengan keluarga yang berkemampuan di segi ekonomi. Karena semua bisa dikerjakan oleh pembantu. Namun saya rasa, kecemburuan karena kurang mendapat perhatian itu pasti ada. terima kasih elah berkenan menanggapi. Salam sehat dari jauh.

      Hapus
  21. Setuju banget Mba Nur, jangankan yang anak nya 6 atau 7, kami dulunya 3 bersaudara aja sungguh bikin saya jadi tumbuh menjadi anak kekurangan perhatian, dan jadi luka batin di masa kecil yang terbawa hingga sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, mungkin luka batin saya berkali lipat dibanding Mbak Rey. Kadang setelah menikah, ketika ada benturan dalam rumah tangga saya sering sedih. Serasa derita batin ini putus nyambung. Selamat malam, Mbak. Maaf, curhat saya meluber ke mana-mana. Doa sehat untuk mu sekeluarga.

      Hapus
  22. Terima kasih sudah berbagi cerita eyang. Saya jadi teringat tentang eyang saya yang pada suatu masa hamil anak bungsu bersamaan dengan kehamilan pertama budhe saya beserta mertua budhe saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah wah ...., dasar rezeki ya, Tiga tambur sekali berpacu ya, cucunda Era. Terus, Tetangga Eyang juga ada kisah serupa. Karena kelahiran cucu dan anak hampir bersamaan, tinggal satu rumah pula, si bungsu memanggil ayah ibunya kakek dan nenek. He he ... Selamat malam, cucunda Era. salam dan doa untuk keluarga di sana.

      Hapus
  23. Wah, Bunda Nur menyodorkan point of view yg super duper menariiik
    Sukaa bgt dgn cara Bunda membahas isu ini
    Keren, Bund!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bunda tersanjung, Say. he he ... Mengungkapkan apa yang ada di lingkungan saja ananda Nurul. Terima kasih telah mengapresiasinya. Semat malam. Doa sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  24. Saya ibu dengan enam anak. Alhamdulillah, saat kecil saya merawatnya sendiri dengan segala suka duka.
    Sekarang mereka sudah besar..

    Terima kasih, tulisannya menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mbak Nani. Alhamdulillah, karena Mbak sudah diamanahkan 6 anak. Dan diberikan kemampuan untuk merawatnya. Tentu ditunjang pula dengan finansial yang cukup. Tugas mbak Nani cuman mengurus anak. Tidak dilibatkan dalam mencari nafkah (ke sawah dan ladang). Seperti penderitaan ibu saya zaman dahulu. Terima kasih partisipasinya, Mbak Doa sehat untukmu sekeluarga,

      Hapus
  25. Ya ampun anak sama ibu bisa hamil barengan .... gimana ya ngebayanginnya aduuuh

    Terus kalau baca postingan di atas kayaknya yang fokus dibahas ibunya ya, bapaknya juga harusnya dikasih tau juga hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sering ketawa saat mengingat momen saya membenceng ibunda naik sepeda. kami sam-sama hamil. ha ha ... Habis. Tempat yang dituju sejauh 11 km. Dahulu belum ada motor. Mobil hanya pada jurusan tertentu. Selamat malam, Mas Edotz.

      Hapus
  26. Ibu saya dulu juga 7 bersaudara, yang hidup bertahan sampai tua hanya 5, sedangkan saudara seayahnya ibu masih 4. Hehe yang senang ya aku anaknya ibu, soalnya pas lebaran dapat angpao banyak πŸ˜‚πŸ˜‚
    Meski saudara ibu banyak, ibuku cuma punya anak 2. Kata ibu, anak sedikit biar terjamin ekonomi dll nya

    Senang baca tulisan Bu Nur, tidak menghakimi juga tidak menganjurkan punya anak banyak. 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Mbak Rani bisa menikmatinya dengan enak. Sebab Mbak tumbuh dalam lingkungan yang menyenangkan. Tiada terhimpit oleh kemiskinan. Terima kasih tanggapannya. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  27. Insightful sekali Bundaaa..
    Dimana kita tidak boleh judgement. Ada baik dan buruknya pasti memiliki anak banyak. Yang pasti, bila anak banyak, kelak semoga Allah ijinkan untuk bisa bersama menuju jannahNya.

    Aamiin~

    Barakallahu fiikum, Bunda dan keluarga.
    Sehat-sehat selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Lend. Betul sekali. Sekarang hikmahnya sangat terasa. Kekeliruan zaman dahulu sifatnya reaktif. Maklum hidup di bawah kesulitan. Terima kasih telah membacanya. Doa sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  28. Membaca tulisan Ibu, jadi ingat waktu jaman sekolah dulu, sering denger temen-temen yang ngeluh atau protes karena ortunya memiliki banyak anak, terlebih temen-temen saya anak pertama atau kedua.

    BalasHapus
  29. Terima kasih sudah berbagi. Pelajaran penting banget buat saya yang masih lajang kalau nanti menikah. Kakek nenek termasuk keluarga besar, anaknya 11. Udah bisa bikin kesebelasan 🀭 Saya ga bisa bayangkan dulu nenek melahirkan dan mengasuh 11 anaknya seperti apa. Strong woman πŸ₯°

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekali lagi kita katakan, kalau didukung kemampuan ekonomi, 20 pun anak tak ada masalah, ananda Nieke. Mungkin beliau tidak merasa berat. Karena ... ya itu ... disokong oleh faktor E yang cukup. Selamat malam. Doa sukses untukmu selalu.

      Hapus
  30. MasyaAllah Bu Hajjah.. terima kasih sharingnya. pasti ga mudah dilalui sebagai anak pertama yang punya 8 adik yang berdekatan. ibu saya pun termasuk yang punya saudara banyak walalupun hanya ber6. tapi mmg tak mudah dilaluinya. jaman sekarang jamannya sudah berbeda, tantangan semakin banyak. memang harus diperhatikan lagi kesiapan sbg calon orang tua ya bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mbak Shafira. haregene mikirnya masih seperti era 60-an, RUGI. Treima kasih apresiasinya. Selamat malam. Salam untuk Mbak sekeluarga.

      Hapus
  31. wah ceritanya inspiratif bu hajjah, klo aku saat hamil dan melahirkan selalu direncanakan, biar siap lahir batin heheh
    sekarang alhamdulillah sudah ada dua anak, sepertinya sudah cukup.hehe
    nggak sekuat orang orang dulu aku tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos, Mbak Dee. Zaman telah berubah, kita harus siap beradaptasi. Terima ksih partisipasinya. Salam untuk keluarga di sana.

      Hapus
  32. Sebagai seorang anak kadang ketika tahu ibunya hamil or mau punya adik rasa khawatiran ITU selalu ada ya IBU Nur.
    .
    Khawatir ibunya tak sayang lagi
    Khawatir perhatian orang tuanya berkurang. Bahkan malu memang ada disebagian anak.

    Sedih kalau ingat... Trims remaindernya ya bu Nur...

    BalasHapus
  33. Saya pernah diserang alias didebat karena mengomentari orang yang menunda punya anak
    Sampai sekarang nggak punya anak apalagi sempat ngomong kalau anak itu merepotkan
    Maka jadilah semesta mengaminkan dan sekarang mau punya anak jadi ga bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, sedih juga ya Mbak Rahmah. Makanya disarankan, begitu menikah jangan menunda kehamilan. Selamat berakhir pekan. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  34. memang dalam membangun hubungan terutama pasangan muda perlu dipertimbangkan banyak hal ya mba soal keturunan ini. Dan komunikasi intens antar kedua pasangan menjadi penting... Soal kapan harus punya anak hmmm menurut saya itu tergantung komunikasi dan keadaan keduanya. yang penting dikomunikasikan, Tidak mesti saat setelah menikah harus segera mikirkan momongan. Terutama untuk perempuan yang bekerja. Karena setelah punya anak akan ada hall ikutan di belakangnya. Yang terpenting kedua belah pihak sudah siap lahir batin untuk punya anak... :-)

    BalasHapus
  35. Betul, Mbak Ira. Dalam hal ini komukasi intens antar suami istri sangat penting. Selamat malming. terima kasih, telah hadir. Salam untuk keluarga di rumah.

    BalasHapus