Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Minat Bekerja di Inggris? Ketahui Dulu Upah dan Kondisi Pekerjanya

 Catatan Perjalanan ke Inggris (15)

Ilustras: Pekerja sedang beraktivitas di Hotel Indigo Birmingham, Inggris (foto istimewa)

Berbicara masalah upah buruh, mengingatkan saya ke era 70-an. Saat masyarakat di daerah saya Kerinci sini dilanda demam bekerja di luar negeri.

Tujuannya bukan Inggris. Tapi hampir 100% ke negara jiran Malaysia. Sebagian besar mereka berangkat melalui  jalur tidak resmi. Di sana statusnya sebagai pendatang haram dan tenaga kerja illegal.

Laki-laki, perempuan, bujang dan gadis, rela mininggalkan kampung halaman demi mengejar upah yang lebih tinggi jika dibandingkan di negeri ini.

Kemajuan Perekonomian Masyarakat Desa

Diakui atau tidak, zaman itu tindakan nekad tersebut membawa perubahan signifikan bagi kemajuan perekonomian masyarakat desa kami.

Tetapi, 20 tahun terakhir, kondisi itu tinggal cerita. Bekerja di Malaysia dan Indonesia sama saja.

Tak  terbayang, sekiranya ada  satu atau 2 warga desa ini yang berhasil menembus dunia kerja di Inggris, pasti banyak yang menyusul. Mengingat di sana upah buruhnya justru lebih tinggi  dibanding Malaysia.

Tentu saja didahului oleh orang-orang yang menguasai bahasa Inggris, dan memiliki dokumen lengkap. Sebab di sana saya tak mendengar adanya tenaga kerja ilegal. Meskipun ada mungkin di tempat-tempat tertentu.

Dan yang paling penting dari segala-galanya adalah, individu yang punya skill, sesuai dengan kebutuhan pasarnya. Makin mahir seorang pekerja dalam suatu bidang kian tinggi dia dibayar.

Perbandingan Upah di UK dan Tanah Air

Di UK majikan wajib membayar pekerja sesuai standart yang ditetapkan pemerintah. Yakni,  7 pond per jam. Kalau tidak, bosnya bisa dipenjara.

Hari kerja, Senin sampai Jumat. Jika seorang karyawan bekerja 8 jam per hari, berarti  dalam satu minggu jumlahnya 40 jam. Maka ia harus dibayar 7 x 40 = 280 poudsterling. Kalau dirupiahkan kurang lebih Rp 5,6 juta. Bandingkan dengan UMP DKI Jakarta Rp 2.700.000, Jambi hanya Rp 1.710.000, (kondisi 2015, bersamaan dengan tahun kunjungan saya ke sana).

Gaji tidak Sepenuhnya Dinikmati Pekerja

Di Inggris, gaji yang tinggi tidak sepenuhnya dinikmati oleh pekerja, karena 25% potong pajak, belum lagi jaminan hari tua dan asuransi kesehatan.

Namun, bila dibandingkan dengan upah buruh dan gaji PNS di Indonesia, masih amat lumayan. Tergantung bagaimana kecerdasan seseorang memanaj-nya. 

“Saya bekerja 40 jam per minggu. Setelah dipotong pajak dan iuran lain-lain,  sisanya cukup memadai dibandingkan dengan di Indonesia,” aku salah seorang tenaga kerja asal Indonesia.

“Belum lagi di segi kepuasan. Sekali tiga bulan ada penilaian kerja oleh atasan. Perusahaan akan memberikan reward kepada  karyawan yang prestasi kerjanya baik. Hal ini belum pernah saya peroleh selama delapan tahun mengabdi di tanah air,”  tambahnya.

Gaji Besar tidak Berimbas pada Nasib Pekreja

Sayangnya, kebiasaan sebagian pekerja British suka ber-happy-happy. Makanya gaji besar tidak terlalu berimbas pada perbaikan ekonomi karyawan. Habis gajian bayar kontrakan, minum-minum di bar dan ke tempat hiburan.

Mereka suka jalan-jalan ke luar negeri. Jadi, jangan dikira semua oknum turis asal UK yang berkunjung ke Bali atau daerah lainnya di Indonesia, semuanya melioner. Sebagiannya bermodal dari pinjaman Bank atau lembaga khusus pinjaman. Habis  jalan-jalan nyicil utang. 

Pergi Sayak Balek Tempurung

Sikap pekerja UK sangat kontras dengan pola pikirnya kebanyakan warga Indonesia.  Khususnya masyarakat pedesaan. Baru beberapa tahun menikah, beli tanah, bikin rumah adalah agenda utama hidupya. Terutama para TKI luar negeri, khususnya Malaysia. Meskipun  tidak semua.

Asal namanya kerja di Malaysia,  tanpa membawa perubahan, mereka akan diejek. Istilahnya, “Pergi sayak balek tempurung.” Maknanya pergi miskin, pulang tambah miskin.

Di desa saya, tidak sedikit rumah bagus tak berpenghuni, ditinggal pemiliknya jadi TKI ke Malaysia. Sebagian mereka telah menjadi penduduk tetap di sana. Yang penting baginya jika pulang sekali setahun tinggal di rumah sendiri.  

Nenek-nenek Masih Bekerja

Soal penampilan, masyarakat Inggris memang hebat. Nenek-nenek yang sudah tua bahkan terlalu tua, masih terlihat prima, gesit, dan tegap. Langkahnya gagah dan cepat.

Demikian pula semangat kerjanya. Semua swalayan yang pernah saya kunjungi, mempekerjakan perempuan tengah baya. Malahan banyak yang sepantaran saya. Mereka tak kalah energik dengan anak muda. Saya berpikir, mungkin anak muda tidak ada yang mau jadi karyawan toko.

Di daerah saya, perempuan 60-an tahun jika masih bekerja, dianggap serakah lah, memalukan anak cucu lah. Dan semua nyinyiran yang membunuh semangat nenek-nenek untuk beraktivitas.

Terakhir saya tahu, rupanya usia pensiun bagi pekerja Inggris lebih tinggi daripada di negara kita.  Sebelumnya (2018), usia 65 tahun, kini dinaikkan menjadi 66 tahun, (berita satu.com, 12/10/2020).

Demikian kondisi upah dan kondisi para pekerja di negara Inggris. Semoga bermanfaat. 

Baca juga:   

****

Penulis,

Hj.NURSINIRAIS

di Kerinci, Jambi

 

 

 

18 komentar untuk "Minat Bekerja di Inggris? Ketahui Dulu Upah dan Kondisi Pekerjanya"

  1. Gajinya memang besar ya mba, mungkin karena nilai mata uang inggris yang lebih besar dari Indonesia, untuk yang mau merantau di inggris harus tahu nih, agar bisa jadi bahan pertimbangan, bahwa bekerja di negeri orang tidak lebih mudah dari bekerja di negeri kita ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zaman itu (2015), nilai tukar 1 poudsterling 19 ribuan, mendekati 20 rb, Mas Kuanyu. Tapi biaya hidup juga tinggi. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
    2. Malam, Sama-sama mba Nur ☺

      Hapus
    3. engga apa-apa kerja keras, asal anak dan istri bahagia, asik

      Hapus
  2. Memang kerja di Inggris besar gajinya, seminggu saja dapat 5,6 juta, itu juga tahun 2015. Mungkin kalo sekarang bisa sampai 7 juta kali, tapi biaya hidup seperti makan atau menyewa rumah juga tinggi, belum lagi kena pajak 25%, kalo di Indonesia yang kena pajak yang bergaji diatas 5 juta, itu juga kecil.

    Kalo irit sih memang bisa ada tabungan yang lumayan banyak, bisa buat rumah kalo sudah kerja tiga tahun, tapi kalo boros ya malah banyak hutang.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Simpulannya, Hujan batu di negeri sendiri, hujan emas di negeri orang Masih enak di negeri sendiri. Hidup itu daman-mana hampir sama. Selamat malam Mas Agus. Salam sehat untukmu selalu.

      Hapus
  3. Waaah, lumayan yaa itu. 1 pekan bisa dapat 5,6 jt. Walaupin dipotong pajak, itu tetep gede loh yaa bund

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dibelanjakan di negara kita gede banget, ananda Dodo. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat sore. Salam untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  4. Kalau aku ada kesempatan, pengen rasanya bekerja di luar negeri, apalagi di Inggris. Cuma susah ya. Apalagi gak ada skill begini. Jadinya ya sudah lah. Aku mensyukuri saja apa yang sudah aku punya sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau punya pekerjaan tetap di negara kita untuk apa kerja di luar negeri, Mas. Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Enakan di negeri sendiri. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus

  5. Yaa baik UK atau mungkin Dubai...Umumnya orang pasti berkata kerja dinegri tersebut besar gajinya...Padahal biaya hidup disana juga besar terlebih jika tak bisa kontrol diri.😊😊


    Intinya kalau kita punya kepintaran serta keahlian yang memadai silahkan saja pergi keluar negri..😊😊


    Tetapi kalau pendidikan kita standar lebih baik kerja dinegri sendiri...Biar sedikit yang penting berkah, Yaa Bu Haji.😊😊😊


    Makanya dinegri kita sering penduduknya pada nekat keluar negri demi gaji besar padahal pendidikan minim, Akhirnya yaa seperti yang dijelaskan diatas pergi miskin pulang miskin juga. Meski tidak semua seperti itu tetapi faktanya memang demikian.😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya kalau kita punya kepintaran serta keahlian yang memadai silahkan saja pergi keluar negri. Tetapi kalau pendidikan kita standar lebih baik kerja dinegri sendiri...Biar sedikit yang penting berkah, Yaa Bu Haji. >>>> ... sepakat, Mas Satria. Hidup ini dimana-mana sama. Yang membedakan ialah karakter dan kualitas diri. Kalau kualitas kita standar-standart saja ya, lebih baik di negeri sendiri. Terima kasih telah mampir. Maaf telat merespon. di tempat kami dua ri lalu sinyal drop parah. Syukur hari ini mulai lumayan.

      Hapus
  6. wah ternyata cukup sulit juga ya untuk menembus kerja di Inggris raya sana bunda.....keimigrasiannya tak main main..tak boleh ada istilah ilegal. Juga tak hanya bisa berkemampuan berbahasa saja, namun skill juga oenting adanya. Terlebih menilik benefit yang diberikan juga tergolong besar meski beberapa akan dipotong pajak, jaminan kesehatan, dan tunjangan hari tua. Nice sharing Bunda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skill sangat penting, ananda Nita. Banyak juga mahasiswa kita lulusan british karena dia pintar dan punya skill mereka diterima kerja di sana dengan gaji puluha ribu poundsterling per bulan. (ratusan juta rupiah). Yang gajinya 7 pound cuman buruh harian. Kerja menggunakan otot, bukan otak ... He he ... Selamat beraktivitas. terima kasih telah hadir. Maaf telat merespon. di tempat kami dua hari lalu sinyal drop parah. Syukur hari ini mulai lumayan.

      Hapus
  7. sangat informatif dan membuka wawasan.... semoga dibaca oleh mereka yang ingin bekerja di UK.

    Have a wonderful day

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih telah menanggapi Mas Tanza. amin. Karena tujuan utama menulis adalah menyebar kebaikan. Selamat siang dan selamat beraktivitas.

      Hapus
  8. Saya salut dengan situasi kondisi di UK di mana para orang lansia setengah baya masih bisa dipekerjakan di swalayan-swalayan..mana para lansia tsb masih enejik dan gesit sungguh luar biasa.
    Kalau di Indonesia pasti ada batasan umurnya ya bu ? Umur di atas 35 tahun sudah susah mendapat pekerjaan.. mungkin karena negara Indonesia kebanyakan penduduk jadi ada batasan umur untuk pekerja lain dengan negara maju.
    Btw.. harus diakui negara kita memang masih belum bisa memberi lapangan pekerjaan dengan upah yang sesuai apalgi dengan banyaknya jumlah penduduk.
    Makasih sharingnya bunda.. bermanfaat bagi kita.
    Semoga bunda sehat selalu.

    BalasHapus
  9. Iya, ananda Just. Usia pensiun di sana sekarang 66 tahun. Makanya banyak orang yang sudah berumur masih bekerja. Di Indonesia tenaga kerja banyak, lapangan kerja sedikit. Karena masyarakat kita bermental pekerja, sedikit sekali berjiwa pengusaha. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi.

    BalasHapus