Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Alasan Orang Tua Enggan Tinggal Bersama Anak Menantu

 

Ilustrasi Orang Tua Enggan Tinggal Bersama Anak Menantu.  (Foto NURSINI RAIS)

Saya tertarik dengan ceramah seorang ustad bahwa, lahir, tumbuh, tua dan mati adalah 4 peristiwa yang tak bisa diganggu gugat

Bagi saya dan cowokgantengku, dua gerbang pertama sudah kami lewati.  Kini berada pada pase lansia, dan siap-siap memasuki gerbang kematian.

Saat ini usia saya 68 tahun, si gantengku 69 plus 1.  Artinya kami telah bergabung dalam lingkup lansia Indonesia  yang ditetapkan  UU. No. 13 Tahun 1998. Yaitu mulai umur 60 tahun.

Sejak tahun 1999  anak-anak tidak lagi tinggal bersama kami.  Mereka melanjutkan pendidikan di luar daerah. Setelah lulus keduanya mengikuti takdirnya bekerja di kota berbeda.

Secara fisik kami sudah banyak yang rombeng. Gigi tersisa  70%, kulit telah keriput, uban memutih, dan segudang kekurangan lainnya.

Yang patut saya syukuri, berat badan saya stabil dari remaja sampai kini berkisar 43-44 kg.  Bawa motor masih tak sabar dengan kecepatan di bawah 40 Km. Begitu juga cowokgantengku.

Kalau lauknya sesuai, selera makan kami belum pudar. Cuman terkendala perut tak bisa diisi banyak.  Kata Bu Dokter, kapasitas lambung telah berkurang karena volumenya sudah ciut. He he  .... Saya berpikir dokter cantik itu bergurau. Supaya  kami makan tidak menurut nafsu.

Non fisik pun tak kalah eror.  Mudah lupa  adalah problem utama.  Belum semenit memegang sesuatu sudah lupa taroknya di mana.  Cari sana-cari sini hingga menguras  energi.  Kadang-kadang  yang dicari tak jauh-jauh dari tempat  saya beraktivitas.

Momen mencari-cari ini sering memicu perbantahan antara saya dan kakekganteng. “Coba  letakkan barang itu pada satu tempat. Giliran butuh  tinggal nyomot.”

Duh ..., Kakek. Kalau ingat  pada satu tempat,  namanya bukan lupa. Saya tambah panik. Sudah pusing disalahkan pula.

Jika doi yang lupa, saya justru bantu mencari. Tak pernah menyalahkan dia.  Saya maklum, kondisi ini bukanlah penyakit bukan pula tabiat. Melainkan pase lanjutan dari proses kehidupan yang terjadi secara alami. Bila yang dicarai sudah ketemu saya ajak beliau ketawa ngekeh.

Selain pelupa, dampak kemanulaan  kami yang menonjol  adalah, tak betah berlama-lama tinggal di rumah anak menantu. Setelah saya koreksi  apa penyebabnya,  inilah jawabannya.

1. Merasa Terikat dan  Kikuk

Pasca menikah, putri saya dan suaminya langsung tinggal di ibu kota provinsi (di Kota Jambi), 10 jam naik mobil dari desa kediaman kami. Sebelumnya dia dan calon suaminya memang bekerja disana.

Pertama saya berkunjung, Emak ...! Kagoknya  bukan kepalang.  Ketika sang menantu berada tak jauh dari pintu kamar mandi,  saya menahan diri tidak ke toilet.

Takutnya saat buang air, angin ikutan nembak berdebut-debut. Uuuh ...,  Memalukan. Syukur, sekarang sudah agak berkurang.

Padahal si menantu biasa-biasa saja.  Santun terhadap mertua, sangat sayang pada anak dan istri.

2. Ibarat Makan Buah Simalakama

Banyak orang bilang, “Setelah anak-anak  berumah tangga, mereka punya kehidupan sendiri-sendiri. Orang tua tak boleh mencampurinya.” 

Iya, 99,99% pernyataan itu betul.  Tetapi bagaimana kalau dia berjalan di atas kekurangbenaran. Misalnya,  salat sering bolong, malas puasa, gaya hidupnya kurang  Islami dan sebagainya.

Tidak ditegor, mulut ini gatal dan tak bisa ngerem.  Digas, syukur kalau mereka mengiyakan. Meskipun belum tentu menurut.

Bagaimana kalau dia cuek, marah pula.  Mendingan si anak saja yang marah. Jika suaminya juga tersinggung?  Jadinya serba salah. Daripada terpleset lidah, lebih baik ngumpulnya tak  usah lama-lama.

3. Malu Bermesraan

Bermesraan bukan hanya milik anak muda. Orang tua juga butuh kehangatan. Tentu saja mesra dalam makna umum. Sesuai situasi kondisi. Semisal duduk berdekatan, curhat mengenai sakit kaki dan sakit gigi, sampai ke saling bijit sebelum tidur. Ahay.

Tahun 1976, saya punya ibu dan bapak kost. Usianya mungkin sepantaran saya dan cowokgantengku sekarang. Siang-siang  hobi mereka  rebahan di kasur yang cuman dibatasi layar kain. Posisinya pada lintasan keluar masuk  kamar dan dapur.

Kalau mereka sedang di balik layar, saya tak berani  lewat di sana. Sepenting apapun urusan saya tahan. Malu, takut dicap usil, dan banyak pikiran negatif bersarang di benak saya saat menghadapi situasi itu.

Andai saya dan si kakekganteng  romantis-romantisan di rumah anak menantu, apa kata dunia. Ha ha .... Sumpah mati saya malu. Kalau begitu,  ya, pulang ke desa saja, di rumah sendiri.

4. Sensitivitas yang Tinggi

Serapi apapun orang tua menjaga tindakannya, terlalu lama bergaul dengan anak dan menantu, peluang berbuat hal yang tidak mereka sukai semakin besar.   

Sebab, selera anak muda tidak sama dengan orang tua. Baik menurut ibu bapanya, belum tentu sesuai bagi si anak. Begitu pula sebaliknya.  Dikasih tahu atau diprotes, Emak dan bapak ini tersinggung. 

Persoalan lain tak kalah mengganggu, Emak dan bapaknya ini tersinggung jika mereka memarahi anaknya di hadapan kami.

5. Tak Sanggup Duduk Manis

Cowokgantengku  hobinya berkebun. Tetapi  sekadar hiburan dan cari keringat dua kali seminggu.  Kata dia, melihat tanaman hatinya senang.  Hal ini hanya diperolehnya di desa  tempat kami berdomisili.

Dilarang dia marah. “Kalau tak boleh saya ke ladang, berarti kalian menyuruh saya cepat mati,” katanya.

Ocehannya itu bukan tak beralasan.  Sebab kalau  duduk manis di rumah tanpa kegiatan, sepanjang hari kerjanya tidur. Lima menit habis makan ngantuknya  level akut. Berat badannya bertambah, perutnya gendut, nafasnya sesak, meskipun tidak batuk.

Makanya, seminggu di Kota Jambi, dia gelisah minta pulang. Alasannya kangen kebun, rindu tanaman, kakinya sakit kalau tak berkeringat dan sebagainya.  Belum lagi, lingkungan sosial yang cendrung individualis. Di desa banyak kenalan dan mantan siswanya yang menyapa.

Hal  serupa tidak berlaku  pada saya.  Di kota atau desa sama saja. Sebab menulis bisa dilaksanakan dimana-mana. Yang penting ada ide. Tiada yang menyapa pun no problem.

Demikian 5 alasan saya dan cowokgantengku tidak betah terlalu lama tinggal bersama anak menantu. Dan alasan yang paling mendasar adalah tak  mau menyusahkan sang buah hati. 

Sebagai informasi tambahan, artikel ini saya tulis bukan dari kaca mata psikologi lansia. Tetapi berdasarkan opini dan pengalaman pribadi, belum tentu dirasakan oleh semua orang tua. Andai ada narasinya yang kurang tepat, mohon masukannya pada kolom komentar.  Semoga bermanfaat. 

 Baca juga: 

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi


 

 

 

 

34 komentar untuk "5 Alasan Orang Tua Enggan Tinggal Bersama Anak Menantu "

  1. Kelima alasannya sangat masuk akal mba Nur dan saya setuju sekali, dimana ada rasa ketidak enakan antara mentua dengan sang anak, tapi sebagai anak yang baik kita harus tetap menjaga orang tua kita sebaik mungkin sekalipun tidak serumah lagi ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya memang begitu, Mas Kuanyu. Sebab orang tua itu bukan barang rongsokan. Habis dipakai terus dibuang. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
    2. Selamat malam juga mba Nur, sama-sama

      Hapus
    3. Selamat berakhir pekan, ananda Kuanyu.

      Hapus
    4. Yup, selamat berakhir pekan juga mba Nur ☺

      Hapus
  2. Dari perspektif anak, seperti kami, aku sering sekali mendengar bahwa banyak dari kami yang "tidak betah" apabila tinggal bersama orangtua/mertua.
    Ternyata dari perspektif orangtua juga begitu yaa bu, mereka juga ada rasa kurang nyaman juga yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ..., Ini dia. Terbongkaaarrrr ... ternyata anak juga risih tinggal bersama orang tua/mertua, bukan? Ha ha ... Intinya, nenek ini juga tidak mau mengganggu anak menantu. Cocok ananda Dodo. Dengan misah dari orang tua bukan saja anak/menantu bebas dari nyinyin emak. Tetapi mendidik pasangan muda jadi lebih mandiri. Terima kasih telah mampir. Selamat berakhir pekan.

      Hapus
    2. Memang enaknya hidup mandiri ya mba kalau udah berkeluarga, agar tidak merasa tertekan dan merepotkan ☺

      Hapus
    3. Setuju, Mas Kuanyu. Terima kasih telah hadir. Salam sehat selalu.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih telah berkenan singgah, ananda Nita. Salam sukses selalu.

      Hapus
  4. Aktual nih bunda Nur😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkiyu, ananda Dinni. Selamat istirahat di malam minggu yang indah.

      Hapus
  5. Ikut menyimak bu Nur..😀👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mas Warkasa. Terima kasih partisipasinya. Semat bermalam minggu.

      Hapus
  6. Ibu mertua saya sering mengatakan poin-poin yang Bu Haji tulis di atas, sampai sekarang kalau di ajak tinggal bersama selalu menolak. Padahal saya dan suami nggak tega melihat ibu dan bapak mertua yang mulai sepuh hanya berdua saja.

    Tapi bisa jadi kalau tinggal serumah dan bersama belum tentu senyaman di rumah sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi bisa jadi kalau tinggal serumah dan bersama belum tentu senyaman di rumah sendiri >>>. Intinya tak mau menyusahkan anak. Mereka terikat, ibu bapaknya juga terikat. Cukuplah ngumpul/berkunjung sekali 6 bulan saja. Kalau bapaknya malah sekali setahun juga jarang. Tapi kami sangat berbahagia. Setiap lebaran mereka pulang semua. Terima kasih ananda Pipit. Selamat beraktivitas.

      Hapus
    2. Betul, Bu Haji
      Saya juga setiap lebaran pulang cuma tahun kemarin aja pas pandemi mudiknya mudik virtual 😁

      Hapus
  7. Saya baru tahu umur ibu 69. Saluuuut sekali masih aktif di blog . Semoga saya nanti juga bisa seperti itu, tetep menulis :D.

    Kalo ttg menantu dan mertua tinggal serumah, ini memang selalu jd bahan dilema :D.

    Saya mungkin termasuk yg beruntung Bu, almarhum mertua berpikiran terbuka. Tapi dr awal kami menikah, mama mertua udh bilang, 'kalo menikah usahakan jgn prnh tinggal serumah. Mama ga mau hubungan kita jd makan hati, trus ribut, dan malah menjauh.'

    Tapi akhirnya, mertua akhirnya menghibahkan rumah mereka yg pertama ke aku dan suami, dan kebetulan dekeeet banget Ama rumah mama. Solusi yg bagus sih. Kami tetep Deket, bisa mampir kapan aja, tapi ga serumah :).

    Dan akupun mau seperti alm mama mertua. Kalo anakku nanti sudah menikah, aku juga ga mau tinggal bareng mereka. Biarlah di rumah sendiri, yg ptg bisa bebas dari rasa ga enak :D

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah, prinsip si mama mertua sudah tepat dan benar. Kami juga begitu, seminggu setelah menikah, langsung misah. Tinggal di rumah milik mertua laki-laki. Mereka sudah bercerai. Di sanalah kami muliai merintis kehidupan yang penuh suka dan duka. Kalau satu rumah, sebaik apapun orangnya, lambat laun pasti ada gesekan. Kadang dari saudara ipar. Terima kasih telah menanggapi, ananda Fanny. Selamat berhari minggu.

    BalasHapus
  9. Semoga ibu dan cowok gantengnya panjang umur dan sehat selalu, semoga saya bisa merasaknya kelak, mencapai usia tua bersama kekasih serta menyaksikan anak2 beranjak dewasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, semoga saya juga demikian,..he-he, ingin rasanya hidup mandiri tanpa tekanan sana-sini ☺

      Hapus
    2. Sip. Mas Kuanyu. Persiapkan segala sesuatunya sebelum berumah tangga. Terima kasih tanggapannya. Selamat sore.

      Hapus

  10. Sebenarnya kalau sudah berkeluarga atau berumah tangga baik wanita atau pria, Akan lebih baik hidup misah dari orang tua atau mertua.

    Karena senyaman2nya tinggal dengan mertua pasti tetap akan ada perselisihan nantinya. Meski pada faktanya masih ada sebagian yang bertahan dengan hidup nyampur dengan mertua, Tetapi akan lebih bagus hidup mandiri tanpa dekat dengan ortu atau mertua.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas Satria. Lagi pula, misah dari orang tua itu mendidik kita jadi mandiri. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat beraktivitas.

      Hapus
  11. Kirain hanya anak2 yang kurang betah tinggal sama mertua... Ternyata para mertua juga banyak memiliki kekurangenakannya ya.. Hanya satan saja, kalau semakin memua, mintalah perhatian dari mereka...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Umumnya semakin berumur, orang tua itu makin nyaman tinggal di rumahnya sendiri. Semakin keberatan dia merepotkan anak-anaknya. Selamat malam. Bang Ancis. Terima kasih telah hadir.

      Hapus
  12. MasyaAllah tabarakallah. Sungguh ga nyangka, saya biasa menyapa mbak ternyata hanya beda tipis usia dengan para uwak bahkan diatas kedua orang tua saya. Sungkem dulu..

    terimakasih sharing dari sudut pandangnya bu. Semoga saya jadi lebih bisa memahami uwak-uwak saya dan orang tua di masa yang akan datang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ananda Annisa. Anak pertama saya lahir Mei 1975. Tetapi dia meninggal. Syukur, kalau tulisan ini bisa menginspirasi. Khususnya buat memahami uwak-uwak dan orang tua mulai sekarang sampaai ke depannya. Selamat pagi.

      Hapus
  13. wah, info ini sebagai pelajaran berharga buat saya kelak... mksh mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat, Mas 60. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  14. Wah info yang menarik Bu, selama ini dengar cerita kaya gini tu cuma dari point of view si menantu jadi seringkali takut takut sendiri. Ternyata eh ternyata dari sisi mertua juga punya sisi serupa walaupun berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, Mbak Rere. Menantu dan mertua kisahnya beda tipis, Mbak. Tapi keseringan tidak akur ibu mertua dan menantu perempuan. He he ... Bagi saya, kasus ini paling saya hindari. Sedapat mungkin jangan anak dan istrinya bermasalah gara-gara ulah saya. Jadi. Tersinggung sedikit abaikan saja. Selamat malam. Salam sukses selalu.

      Hapus
  15. Terima kasih telah mengapresiasi, Mbak Rere. Menantu dan mertua kisahnya beda tipis, Mbak. Tapi keseringan tidak akur ibu mertua dan menantu perempuan. He he ... Bagi saya, kasus ini paling saya hindari. Sedapat mungkin jangan anak dan istrinya bermasalah gara-gara ulah saya. Jadi. Tersinggung sedikit abaikan saja. Selamat malam. Salam sukses selalu.

    BalasHapus