Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hallo, Mobil Angkutan Desa! Mana Popularitasmu Dulu

Ilustrasi  mobil angkutan desa. Dalam Foto tampak Si Mus dan mobil kesayangannya. (Dokumentasi NURSINI RAIS). 

Warnanya bervariasi. Ada yang kuning, metalik, ada juga yang biru. Orang daerah saya menyebutnya “oto tambang”.  Oto = mobil, tambang = angkutan (istilah umum masyarakat Kerinci).

Di daerah lain orang mengenalnya Angkutan Desa.  Sejenis  mikrolet atau  angkot kalau di kota-kota.  Supaya kesan kekampungannya tidak terlalu kental, di sini saya sebut saja Angkutan Desa.

Setiap pagi  sebelum jam 07,00 dia berangkat  dari desa-desa menuju ibu Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh. Kadang-kadang  penumpangnya penuh.  Sering juga diisi oleh 1 atau 2  orang saja. Tergantung  musim. 

Mobil terebut beroperasi  mengusung brand masing-masing. Ada Stand Utama, Papa Zai, Putri Setia, dan merek lainnya, saya sudah lupa. Penggunanya kalangan menengah ke bawah.

Nostalgia Lama

Saya ingin sedikit bernostalgia. Zaman angkutan desa  sedang jaya, banyak oknum  cewek  mengidolakan  sopirnya.  Jika keduanya sama-sama lajang, no bromlem. Hubungan mereka bisa saja berlanjut ke  pelaminan.  

Tetapi yang berstatus laki orang, ini masalah besar  bagi rumah tangganya. Ada lho, oknum sopir  gonta-ganti  bini sampai 3 kali. Itu  waktu dahulu.

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan 80-an sampai awal  2 ribuan. Kini popularitas oto tambang dan kisah eksotis pengemudinya telah hilang bak ditelan bumi. 

Sejatinya bukan hilang benaran. Sebagiannya berubah wajah, melalui bedah plastik. He he. Ada yang  menjadi mobil bak terbuka untuk mengangkat hasil tani. Ada juga berfungsi  sebagai tokoh berjalan tempat pemiliknya berjualan dari pekan ke pekan. Tak sedikit juga jadi barang rongsokan.

Meskipun kini angkutan desa masih ada yang bertahan,  jumlahnya sangat sedikit. Narik pada hari-hari tertentu saja. Misalnya mendekati puasa sampai sebelum lebaran. Sopirnya  tidak sepopuler zaman dahulu. Kondisi mobilnya pun memprihatinkan.  Ibarat manusia, tinggal kulit pembalut tulang.

Sejak 20 tahun terakhir, di daerah saya tidak pernah lagi ditemui angkutan desa keluaran baru. Ini dapat dipahami, pengusaha enggan membelinya dengan berbagai alasan. Di antaranya:

1. Karena Sepinya Penumpang.

Salah satu mobil bekas angkutan desa. (Foto NURSINI RAIS)
Sepi penumpang adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Kemana -mana warga senang naik motor. Minimal naik ojek. Meskipun tarifnya lebih mahal dibandingkan naik angkutan desa. Lebih praktis, irit, dan bisa memasuki  lorong-lorong kecil.  Belum lagi di segi kenyamanan.

Kita semua tahu, kini sepeda motor merupakan barang kebutuhan dasar bagi masyarakat Indonesia. Khusus di desa saya, rata-rata rumah tangga memilikinya. Yang belum punya bisa dihitung dengan jari.  Palingan nenek-nenek janda tua. Dampaknya oto tambang  kurang dilirik.

2. Usaha yang Kurang Menjanjikan

Apabila dikalkulasi, satu kali bolak balik trayek Kota Sungai Penuh - wilayah saya Danau Kerinci, (20 km)  palingan dapat duit Rp 200 ribu PP. Belum termasiuk BBM dan gaji sopir.  Itupun kalau  penumpangnya penuh.  Silakan dihitung berapa sisanya!

Berangkat pagi, pulangnya sore.  Menunggu penumpang usai beraktifitas di pasar. Habis itu mobil dikandangi. Sangat tidak menjanjikan bukan?

Oto Si Mus

Tiga Si Buah Hati, Mobil si Mus tampak depan. (Foto NURSINI RAIS) 
 
Kemarin suami  saya ngirim seng bekas  ke rumah kebun  via oto tambang.  Mobilnya jenis  Bus ¾  (beda dengan angkot). Lokasinya  di luar Kecamatan. Yakni di Kecamatan Batang Merangin. Jarak tempuh  1 jam naik motor dari kediaman kami kearah kota Jambi. (kira-kira 35 km).

Inilah satu-satunya angkutan umum pedesaan yang masih eksis,  untuk trayek paling jauh dari kota Sungai Penuh. Kondisinya sama dengan oplet yang masih tersisa di desa kami. Jadul, tua, dan rikih.

Angutan desa tersebut populer dengan sebutan  Oto Si Mus. Karena  nama empunya  Mus. Bilang saja oto si Mus, orang  daerah saya pasti kenal. Sebab, mobil tersebut mulai beroperasi saat si bungsu masih kecil. Sekarang dia sudah punya anak 3, mendekati  4.

Konsumennya emak-emak, bapak-bapak petani pergi ke ladang. Plus  Ibu atau Bapak Guru yang mengajar di  daerah Batang Merangin. Barangkali beliau-beliau itu (para penumpang) tidak mampu membawa motor sendiri. Mengingat jaraknya kurang lebih 50 km dari Kota.

Sambil mengangkat seng bekas ke mobil,  si Mus sempat  menjawab pertanyaan saya tentang oto tambang antiknya tersebut. Katanya, mobil itu dia beli dalam kondisi baru  tahun 1992.

Kemudian pria 60 tahun itu naik ke mobilnya. Sambil menutup pintu dia berkata, “Pak! Kalau Bapak ke Bengkulu, bisa kenalan dengan anak saya. Dia jadi Polisi lalu lintas di  sana. Namanya si ....” (maaf dirahasiakan). Terus tancap gas.

Tafsiran saya, ujaran Pak Mus itu sekadar penyemangat diri. Maknanya, “Punya mobil jelek begini, saya berhasil menyekolahkan anak sampai jadi polisi lho.” 

Saya tak habis pikir. Bagaimana dia bisa bertahan dengan keadaan sesulit ini. Setiap dia lewat di depan rumah saya, hampir tak pernah terlihat itu mobilnya penuh.

Dan yang membuat saya terkagum-kagum, tubuh beliau ini agak lemah karena terkena strooks.  Tapi masih aktif membawa mobil. Malahan dia kuat menaikkan barang penumpang. Enaknya, setiap  dia pergi nambang, istrinya ikut mendampingi.

Demikian riwayat dan popularitas mobil-mobil  angkutan desa pada zamannya. Khususnya dalam wilayah Kerinci. Mungkin di daerah Anda kondisinya berbeda.  Semoga bermanfaat. 

Baca juga:   

****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

20 komentar untuk "Hallo, Mobil Angkutan Desa! Mana Popularitasmu Dulu "

  1. Einstein menulis: "Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri" Dulu pengusaha wartel, warnet, isi ulang pulsa, loper koran pernah sangat berjaya.

    Zaman berubah karena perkembangan teknologi yang cepat. Warnet untuk apalagi ketika iPhone dan iPad jadi supercepat? Murah lagi praktis dan selalu ada bersama kita. Isi pulsa via sms? Buat apa? tinggal klik aplikasi beres!

    Jujur, saya suka matimatika, koding dan bahasa pemrograman, dan sangat terbiasa dengan perubahan. Saya juga kadang sangat terganggu dengan sikap statusquo yang mempertahankan paradigma lama ketika hal baru datang menjadikan segala hal lebih mudah dan lebih praktis.

    Tulisan ini bagus untuk dijadikan rujukan dan literasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Zaman berubah karena perkembangan teknologi yang cepat. Warnet untuk apalagi ketika iPhone dan iPad jadi supercepat? Murah lagi praktis dan selalu ada bersama kita. Isi pulsa via sms? Buat apa? tinggal klik aplikasi beres!" Setuju, Mas Sofyan.

      Kalau kuekeh masih berpegang pada kebiasaan lama, hidup kita susah maju ya, Mas Syofyan. Selamat bermalam minggu. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  2. Jika berada di masa lampau dan menjadi supir bisa jadi idola para cewek hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya terlambat laah sudah kau datang padanya. He he ... Selamat malam minggu, Mas Akuwiwi. Terima kasih telah hadir.

      Hapus
  3. Ditempat saya angkutan desa biasa disebut taksi. Sebutan yang cukup keren jika dibandingkan dengan bahasa lain. Warnanya ada yang hijau, orange, dan putih.

    Memang benar yang ibu bilang, dulu pas kecil, saya pun kalo mau ke pasar selalu naik angkot. Pas banget rumah saya di depan jalan. Sekarang kemana-mana naik motor. Sudah tak tahu lagi tarif angkot saat ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he. ... Naik taksi. Kami naik oto tabang. Kuno banget ya. Selamat siang ansnda Nisa. Terima kasih telah singgah. Doa sehat selalu.

      Hapus
  4. He he. ... Naik taksi. Kami naik oto tabang. Kuno banget ya. Selamat siang ansnda Nisa. Terima kasih telah singgah. Doa sehat selalu.

    BalasHapus
  5. Kalo di sini metromini dan kopaja, supirnya kalo bawa kendaraan aduhaaaaiii.. hahaha ngebut banget, bun.. belum lagi kalo mereka bertemu bus lain, alamat jalanan bakal jadi arena balap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. " ....Kalo mereka bertemu bus lain, alamat jalanan bakal jadi arena balap." Padahal mobilnya kayak mau mati besok. He he ... Apakah sekarang Kopaja masih eksis, ananda Naia? Bunda terakhir ke Jakarta tahun 2018. Terima kasih telah singgah. selamat malam minggu.

      Hapus
    2. Udah jarang, bun. Karena sekarang udah ada kopaja n metromini AC yang rutenya jadi satu di jalanan transjakarta.

      Hapus
  6. hidup berubah makin membaik, sehingga tak perlu angkutan umum lagi di banyak tempat .....

    Nice story.... thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tandanya ada perbaikan pendidikan dan ekonomi masyarakat juga ya, Mas Tanza. Terima kasih telah singgah. Selamat sore.

      Hapus
  7. Sepertinya Bu Nur lagi nostalgia nih, kemarin waktu awal mula dengan suami, sekarang dengan angkutan desa.

    Disini juga sama Bu haji, angkutan desa memang sepi, padahal dulu jadi primadona. Kalah saing dengan motor atau gojek.

    Tapi biarpun begitu, masih ada juga sih yang jadi supir angkot, biarpun penghasilannya pas pasan

    BalasHapus
  8. He he ... Daripada dibiarkan memumi di endapan waktu lebih baik dibagikan kepada yang berhak ya. Mas Agus. Mana tahu ada yang terinspirasi. Selamat sore. Terima kasih telah singgah.

    BalasHapus
  9. Kalo mobil 3/4 masih ada di desa saya bun, sejenis angkot juga ada sih tapi namanya angdes cuman udah agak jarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada tapi sudah jarang. Berarti beda tipis dengan dengan di Kerinci sini. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda Srie. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  10. Walaupun saya anak kekinian #tsah tp saya juga sempat punya banyak pengalaman naik angkutan umum yg kayak gitu bu haja, huh jadi kangen lagi masa2 smp klo baca postingam ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah harapan, ananda Fahrul. He he .... Selamat Idul Adha untuk orang tuamu di sana ya.

      Hapus
  11. wah keren ya Oto Tambangnya Bu Nur. Saya pernah naik bis dari bengkulu ke Jambi, Bis 3/4. Melewati Curup, Lubuk Linggau, Sarolangun, Bangko hingga Jambi. SAya juga pernah tinggal di Lebong Bengkulu yang katanya bisa motong jalur ke Kerinci. tapi belum pernah lewat. Semoga Oti tambang tetap lestari dan membantu penggunanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang di Kerinci bus 3/4 itu hampir sirna Pak Eko. Wah, pernah tinggal di Lebong. Pasti bisa bahasa daerah sana. Bangko-Kerinci cuman 3 jam. Kalau ke Sumatera silakan mampir ya. Kalau dari Padang ke Jakarta, bisa via Kerinci,lewat perkebunan teh Kayu Aro, tembus ke Bangko. Kerinci itu destinasi wisatanya banyak dan bagus. Di Kayu Aro Home staynya murah meriah. Ada Danau Kerinci. dan lain-lain. Terima kasih telah singgah Selamat Idul Adha untuk keluarga di ru

      Hapus