Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Perjuangan Tersulit Saat Berhaji Membuat Hati Rindu pada Kota Suci Mekah

Perjalanan Ibadah Haji

Ka'bah dipotret dari lantai 2 Masjid Haram (Foto NURSINI RAIS)
 
Dua belas tahun meninggalkan kota Mekah, kerinduan untuk kembali  berhaji tak pernah luntur. Padahal  menunaikan haji itu adalah sebuah perjuangan. Wajar, haji diwajibkan bukan saja bagi orang yang mapan  dibidang materi. Tetapi juga  mampu secara fisik.

Anehnya, justru perjuangan  penuh rintangan itu pula yang membuat momen-momennya  jadi  asik,  dan indah. Tanpa itu, wah-nya kurang dapat. Ibarat berperang tanpa musuh.

Tidak heran, banyak umat Islam ketagihan untuk berhaji. Sudah sekali pengen dua kali, dan seterusnya. Tak percaya? Silakan coba sendiri!

Berikut 4 perjuangan tersulit saat berhaji yang membuat hati  rindu pada  kota suci Mekah.

Perjuangan Tersulit Pertama: Naik Mobil Pulang  dan Pergi  ke Masjid Haram

Tempat kami biasa menunggu mobil pulang ke Hotel (Foto NURSINI RAIS)
 
Tidak semua  kelompok haji  Indonesia memperoleh pemondokan di sekitar Masjid Haram, yang dapat dijangkau dengan jalan kaki.  Ada yang dua kali naik mobil baru sampai.

Kami kebagian di daerah Al-Shesha. Kurang lebih 2 km dari Masjid Haram. Cuman 1 kali naik bus. Untuk Shalat subuh, kira-jam dua jamaah harus standbey nunggu mobil di pinggir jalan utama. Sebab penginapan kami agak ke dalam kira-kira 100 meter.

Begitu bus berhenti, seluruh jamaah berebutan naik. Kayak naik bus di Blok M.  He he .... Kadang-kadang, mobil belum penuh-penuh amat (meski sering berdesak-desakan seperti lemper dalam kukusan).

Tabiat orang Indonesia memang begitu. Suka panik tak karuan. Lihat saja bagaimana panic buying  untuk persiapan mengahadapi  Covid 19. Numbur sana-numbur sini, aksi borong susu beruang.  Untung  tak ada celana dan roknya yang melorot.

Ketika Capek datang mendera, tidur di sembarangan tempat merupakan pemandangan umum (Foto NURSINI RAIS)
 
Aduh ...,  tadi saya ngomong naik mobil ya. Nanti pulangnya berdesak-desakkan lagi. Bapak-bapak dan emak-emak seperti adu cepat untuk menjadi orang pertama duduk di jok bus. Apalagi sesama Bapak-bapak.  

Saya dan si doi usai menunaikan salat Subuh, di Masjid Haram. (Foto: NURSINI RAIS)
 
Tetapi banyak juga laki-laki lebih mengutamakan perempuan. Begitu ada peluang menginjakkan kaki di mobil, mereka mendorong tubuh kami masuk ke dalam bus. Beliaunya nyusul belakangan. 

Uniknya, sungguhpun dalam kondisi panik begitu, tak ada yang berantam. Pernah ada jamaah yang jatuh ke bawah gara-gara ditarik oleh jamaah lainnya. Tapi di pemberhentian, bukan mobil sedang jalan.

Andai  saya ke Masjid duduk manis di kendaraan pribadi, dimana  asiknya perjuangan? Coba.  Ini Versi saya, yang bergendre suka tantangan.  Tantangan itu pula yang membuat saya rindu pada kota kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut. Mungkin pendapat anda beda.

Perjuangan Tersulit  ke Dua: Tawaf dan Sya’i

Tawaf adalah ritual mengelilingi ka’bah  berlawanan dengan arah jarum jam. Waktu melakukan tawaf  pertama (Tawaf selamat datang), kota Mekah belum begitu padat. Sebab sebagian jamaah masih di Medinah. Bahkan mungkin ada yang masih di tanah air.

Saat itu tawaf belum terasa menantang.  Kami bisa mengintari ka’bah dengan jarak dekat.  Otomatis  garis lintasannya pendek.  

Hari-hari berikutnya sekitar ka’bah kian sumpek. Jutaan manusia dari berbagai ras berhimpun di sana dengan karakter dan paras berbeda. Ada yang hitam manis gede tinggi, yang kuning langsat mancung ukuran jumbo, ada pula yang semekot alias semeter kotor. Nah ini pasti orang Asia. khususnya dari Indonesia.

Terbayang bukan? bagaimanna pergulatan untuk mengambil posisi paling dekat dengan ka’bah.  Siapa yang bersungguh-sungguh dialah yang mendapat.

Tetapi, setiap usai menuntaskan satu paket putaran (7x) sensasinya lebih  dapat jika dibandingkan dengan tawaf pertama terdahulu. Kondisi itulah yang membuat hati ini rindu dan ingin kembali ke kota suci Mekah.

Pernah kelompok kami sepakat melakukan tawaf di lantai dua. Lingkaran yang dititi lebih panjang daripada di lantai dasar. Tetapi jamaahnya terurai, alias tidak terlalu sesak. Di sini banyak calon haji yang didorong naik kursi roda.

Apa kata teman-teman?  Ada yang bilang kurang gerget, kurang menantang, kurang heboh, kurang payah, dan sederet kurang lainnya.

Bagaimana pula dengan Sya’i?  Peribadatan ini satu  kemasan dengan tawaf. Saya katakan satu kemasan, karena pelaksaannya setiap usai tawaf.  Tak ada sya’i tanpa didahuli tawaf. Namun, untuk merebutnya  tidak sesulit melakukan tawaf.

Perjuangan Tersulit ke Tiga: Salat Sunat di Hijir Ismail

Di samping ka'bah (kanan) tampak Hijir Ismail seperti setengah lingkaran. (Foto NURSINI RAIS)

Area Hijir Ismail berbentuk setengah lingkaran, berpagar tembok  1,23 meter.  Posisinya di antara Rukun Iraki dan Rukun Syami atau di sebelah utara ka’bah dari arah talang mas. Panjangnya dari luar tembok sekitar 12 meter.  Dari dalam, kira-kira 8 meter. Pintunya, sebelah timur lebar 2,30 meter, sebelah barat  2,23 meter.  (viva.co.id). 

Zona Hijir Ismail ini merupakan bagian dari ka’bah. Oleh sebab itu, melaksanakan salat sunah di situ serasa beribadah di dalam kakbah.  Wajar, setiap jamaah mendambakan salat sunah dan berdoa di sana.

Tetapi untuk mencapainya tidak mudah. Memerlukan perjuangan klimaks. Lebih susah daripada mengerjakan tawaf. Bayangkan ruangan sekecil itu, jutaan manusia mengincarnya.

Tapi, karena kita orang Indonesia rata-rata tubuhnya  imud seperti saya, ahay ...! Ada saja orang yang membantu. Alhamdulillah saya dapat dua kali. Cowok gantengku cuman sekali, pada hari terakhir.

Apa yang dirasakan setelah berhasil menerobos dan salat di sana? Tentu saja senang, puas,  dan bangga pada diri sendiri.

Perjuangan Tersulit ke Empat: Melempar Jumrah

Jamaah haji sedang melaksanakan wukuf dalam tenda di Padang Arafah (Foto: NURSINI RAIS)
 
Sebelum melempar jumrah, jamaah telah  melaksanakan  Wukuf  yang jatuh pada tanggal 9 Zulhijjah.  Wukuf merupakan puncak ibadah haji.  Pada hari itu, seluruh jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul di satu titik yang dikenal dengan Padang Arafah.   

Wukuf adalah rukun haji. Apabila terlewati, maka  haji seseorang tidak syah. Apa saja yang dilakukan selama wukuf? Bahasannya ada pada bagian lain.

Pelaksanaan wukuf tidak terlalu menantang. Karena berangkat dari hotel menuju Padang Arafah naik mobil dengan tempat duduk yang cukup dan terkoordinir. Artinya tidak berebutan seperti  pulang dan pergi ke  Masjid haram.

Memungut kerikil di Muzdalifah untuk melontar jumrah (Foto NURSINI RAIS)
 
Jamaah menuju ke salah satu lokasi Jumrah (Foto NURSINI RAIS) 

Sorenya jamaah diberangkatkan ke Mina, untuk melanjutkan  ibadah lempar jumrah.  Di sinilah awal dari bertarungan akbar.

Pasalnya, jarak kamp ke lokasi Jumrah Ula (jumrah pertama) atau jumrah sughra, kurang lebih 8 km, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.   

Setelah mabit di Muzdalifah, lewat tengah malam itu juga   kami berangkat untuk melakukan lontaran  jumrah pertama,  (malam 10 Zulhijjah).

Kelompok kami dipandu oleh seorang pemuda berkulit gelap. Tanpa teding aling, cowok semampai  itu star dari kamp, tak tahu arahnya ke barat atau ke timur.

Hanya dalam hitungan menit kami mampu  merunut langkahnya. Selepas itu, dia hilang dari pandangan.  Tetapi  jamaah tetap bersemangat.  Walaupun letih dan lelah mulai memagut.

Melewati salah satu terowongan (Foto NURSINI RAIS)

Yang membuat saya terharu, ada 1 kakek anggota kelompok kami usia 85 tahun. Beliau jamaah tertua  dalam kloter 11.  Tetapi dia kuat dan segar bugar. Kakek lainnya 82 tahun, berkali-kali jatuh tersungkur. Kemudian berhasil  bangkit sendiri.  Subhanallah.

Beliau berdua itu membuat kami termotivasi. Di tanah air, kita-kita biasa pakai motor. Malam itu kami harus jalan kaki sajauh 16 kilometer.

Pagi sebelum subuh kami sampai kembali ke kamp.  Allahu akbar. Rasa syukur  diiringi air mata. Suami saya benar-benar menangis  haru di bahu saya.

Usai ritual lontar jumrah, jamaah berangsur-angsur pulang ke tenda. (foto NURSINI RAIS)

Malam berikutnya tanggal 11 Zulhijjah melempar jumrah wustha (ke dua atau tengah).  Rupanya jamaah sudah lebih siap. Entah lokasinya agak dekat, atau tersebab melewati jalan alternatif. Sehingga  jarak tempuhya  terasa agak pendek dibandingkan malam sebelumnya.

Lontar jumrah aqobah (ke 3 atau yang terakhir).  Pelaksanaanya setelah  kami sampai di hotel, tanggal 12 Zulhijjah, pada sore hari,  dikala matahari masih bersinar gagah menerangi bumi.  Perkiraan saya, jaraknya tak kurang dari 4 kilometer.  Lagi-lagi ditempuh dengan jalan kaki. Subhanallah.

Tiga kali melontar jumrah tiada kesuliatan yang berarti. Perjuangan yang habis-habisan dan  menguras energi lahir batin, adalah aksi jalan kakinya. Tetapi karena bergulat dengan capek dan lelah itu pula pertarungan dalam menjemput haji itu  terasa heboh dan maknyus.

Terakhir mohon maaf, atas kelancangan saya membeberkan kisah-kisah ini yang mungkin membuat sebagian pihak merasa tidak nyaman. Tapi percayalah, justru karena  kesulitan itu pula perjalanan suci itu jadi berseni.  Hingga kerinduan  umat islam ingin berulang kali pergi naik haji.

Yang ke dua, nostalgia ini ditulis berdasarkan  keadaan akhir tahun 2009. Sepanjang waktu pemerintah terus berbenah. Menurut cerita saudara kita yang pulang haji 2019 lalu, kini kondisinya jauh lebih bagus dan tertib.

Dekat ka’bah telah  dibangun sarana penunjang sehingga jamaah tidak lagi berdesak-desakan saat melaksanakan tawaf.

Demikian kisah 4 perjuangan  tersulit  saat berhaji  yang membuat hati  rindu pada  Kota Suci Mekah. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

****

 Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

 

10 komentar untuk "4 Perjuangan Tersulit Saat Berhaji Membuat Hati Rindu pada Kota Suci Mekah"

  1. inspiratif ceritanya....

    thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas Tanza. Maaf telat merspon.

      Hapus
  2. Masya Allah, beruntungnya bunda.. Saya pun masih bercita-cita untuk bisa kesana, teman yang sudah pernah berhaji dan umrah bilang kalau disana badan yang sakit-sakitan seketika bisa segar bugar saking semangatnya beribadah. Terima kasih sudah membagikan kisah dan foto2nya, setidaknya menjadi motivasi buat saya untuk terus berdo'a agar kesampaian beribadah di sana ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rombongan ksmi dulu juga ada yang berangkat dalam kondisi agak demam. Sampai di mekah dia sehat. Mungkin saking semangatnya. Yang ke dua, sampai di sana tiap hari dia minum air zam2. Dokter pembibimbing kami bilang, kalau zam2 itu kandungan zatnya agsk beda dengan air kita. (Cuman bunda gak bisa menjelaskan.) He he .... Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat sore. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  3. Seru sekali menyimak cerita dan pengalaman ibu saat berhaji. Semoga Kondisi Dunia segera pulih kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mas Supriyadi. Yang kasian mereka telah nungggu 2 terakhir. Entsh kapan pandemi ini berakhir. Selamat sore. Terima kasih telah singgah. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  4. Wah doain yah bu haja nur hehe,, semoga dapet rejeki biar bisa ke tanah suci juga... jadi iri pengen ke mekah juga hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Fahrul. Kalau takdir trlah memberi peluang, tak ada halangan yang merintangi. Selamat Idul Adha untuk Emak dan bapak di sana ya.

      Hapus
  5. Pengalaman Naik haji yang luar biasa Bu Nur. Saya baru umrah, dan masih menunggu antrian untuk melaksanakan haji. Semoga Pandemi bisa segera berlalu dan antrian bisa cepat kembali normal. Membaca cerita Ibu, jadinya pengin segera berangkat. Rindu baitullah. Cerita Ibu tentang Tawaf dan Syai, Sholat di Hijir Ismail dan melempar jumrah, yang seperti pertarungan akbar. Subhanllah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin .... Kasian saudara kita yang telah mendaftar. Terutama mereka yang seharusnya bisa berangkat 2 tahun terakhir ini harus tertunda. Selamat malam, Pak Eko. Doa sehat untuk keluarga disana.

      Hapus