Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Mini | Ziarah

Foto ilustrasi: wallpaperplay.com (diambil dari ngertiaja.com)

 “Silvia ....! Sedang apa kamu di sana. Mungkin ketakutan bila malam tiba, kedinginan ketika turun hujan. Pulanglah! Aku merindumu. Begitu otak kecil pemuda 25 tahun itu sering meracau sejak kematian Silvia kekasihnya.

Hati siapa yang tak lara. Rencana pernikahan mereka tinggal hitungan hari. Tiga minggu setelah Idul Fitri.  Acara sudah tersusun rapi, surat undangan telah dipesan.

Namun, kenyataan berkata lain. Gadis yang telah dipacarinya selama 2 tahun itu tewas dalam suatu kecelakan di Kota Denai, tempat mereka berdomisili.

 Saat itu Silvia sedang berangkat kerja. Angkot  yang ditumpanginya terbalik karena tersenggol fuso. 

Dua hari lagi pas setahun berpulangnya Silvia. Besok Yoga akan berangkat ke Desa Berlian. Menepati janjinya pada keluarga Silvia untuk ziarah bersama ke kuburan. Disanalah gadis pujaan hatinya itu lahir. Di bumi itu pula dia dimakamkan.

Rindu Yoga sedikit terobati saat menyalami Bu Diah ibunda Silvia. Kehangatan dan ketulusan senyumnya tujuh puluh persen mirip almarhumah.

Perempuan empat puluh lima tahun itu terlihat tegar menerima kenyataan.  Kondisinya  jauh lebih baik dibandingkan ketika Yoga mengantarkan jasad Silvia setahun yang lalu.

Yang kurang ceria, suaminya Pak Burhan. Ayah kandung Silvia itu rapuh. Sepertinya dia  kehilangan semangat. Lesu, pucat, murung. Bahkan menyungging senyum pun seolah-olah dia tak mampu.

“Bapak ikut kan?” Tanya Yoga ketika keluarga besar Silvia bersiap-siap berangkat ke makam.

“Belakangan,” jawabnya ketus.

Belum lima belas menit rombongan peziarah sampai di lokasi, Pak Burhan menyusul.

Yoga bergumam, “Hebat ini Bapak, konsisten dengan janji.”

Yoga dan peziarah lainnya menyambut Pak Burhan penuh takzim. Sekalian meluangkan tempat duduk untuk pria 48  tahun itu.  

Yang disambut tidak responsif. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Muka Pak Burhan sangar dan gabak bak awan hitam menahan hujan.

Yoga mencoba tersenyum untuk menetralkan kondisi.

Lagi-lagi Pak Burhan tidak merespon. Malah ngoceh dan marah-marah, pakai bahasa daerah yang kurang dimengerti oleh Yoga. Tetapi Yoga tahu kemarahan  itu ditujukan padanya.

“Istighfar, Pak…! Istighfar …!” bujuk Bu Diah memelas. “Nak Yoga ini datang jauh-jauh  untuk menghibur keluarga kita lho, Pak. Sepuluh jam Naik travel. Baru sampai ke sini,” tambahnya.

Yoga salah tingkah. Tubuhnya gemetar, serasa kehilangan muka.. Maafkan saya, Pak. Kalau ada tingkah saya yang salah. Saya ke sini sekadar berziarah ke kuburan Silvia, Pak. Sekalian mempererat silaturrahmi dengan keluarga Bapak. Tiada niat lain.”

Tiada ampun dan maaf baginya. Pria yang sedang dikangkangi amarah itu terus mengericau, tunjuk kiri tunjuk kanan. Yoga semakin bingung

Bu Diah tak lagi berbicara apa-apa. Begitu juga 2 adik kelaki Silvia. Semua terpaku diam di pusara almarhumah. Mukanya merah menahan malu. Mereka tahu watak Pak Burhan. Kalau dia sedang naik pitam, semakin dinasihati kian menjadi-jadi.

Hanya Paman Hudri yang berani tampil, “Sabarya, Nak Yoga!” Adik laki-laki Bu Diah itu merangkul Yoga, lantas mengajaknya keluar dari lokasi pemakaman. Mereka istirahat di sebuah bangku dekat warung kosong.

“Maafkan saya, Paman! Kedatangan saya telah mengganggu kenyaman keluarga di sini,” ujar Yoga, pada Paman Hudri. 

“Tiada yang perlu dimaafkan. Nak Yoga tiada bersalah. Dua tahun terakhir Bang Burhan itu memang sering bertingkah aneh. Suka cemburu buta kepada sembarang orang,” balas  Paman Hudri.

Kata cemburu menyentak naluri Yoga. Dia terperanjat dan berpikir panjang. Suasana Hening sejenak. Dia mereka-reka ulang ucapan Pak Burhan yang ditujukan padanya beberapa menit lalu.

Sehingga memperoleh suatu pemahan kira-kira begini, “Enaknya kau. Datang-datang menyalami isteri saya, senyum-senyum, dekat-dekatan. Memang begitu orang kota. Tak punya tata krama.” Harus bagaimana lagi. Yoga hanya bisa pasrah. Dia memahami posisinya sebagai tamu di negeri dan rumah tangga orang.

“Untuk sementara, kamu ke rumah Paman saja, menjelang situasi aman."  Paman Hudri memecah kesunyian.

Yoga mengamini. “Tak apa-apa, Paman. Besok saya pulang,” jawabnya. 

Baca juga:

****

Penilis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

15 komentar untuk "Cerita Mini | Ziarah "

  1. cerpen yang menarik..... asik bacanya.

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mas Tanza. Selamat pagi dari Tanah Air.

      Hapus
  2. Ikut menyimak, Bu Nur.. 🤝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mas Warkasa. Selamat malam. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  3. Haha, saya pikir bapaknya marah perkara almarhum putrinya. Ternyata cemburu isterinya dideketin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... Bapaknya cemburuan karena ada kekurangan kali. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda Nisa. Selamat malam.

      Hapus
  4. Wahhh keren nih bunda bikin cerpennya, nambah semangat saya untuk nulis 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kita ssling menyemangati, ananda Dinni. Terima kasih telah singgah. Selamat pagi.

      Hapus
  5. Saya suka banget cerpenya bunda, sekali kali bikin yang horor dong bun, yg cerita rakyat gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih, ananda Srie. Baru belajar nulis cerpen. Ntar insyaallah kita bikin yang horor. He he .... Selamat pagi.

      Hapus
  6. Oh ternyata pak Burhan marah pada yoga karena istrinya di dekati ya, kirain apaan.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suka Cemburuan karena ada masalah dengan dirinya sendiri. He he ... Selamat malam, Mss Agus.

      Hapus
  7. Masya Allah, menarik sekali ceritanya.
    endingnya mengandung twist, sedih juga saya. merasakan bagaimana jadi seorang Yoga.

    Semangat terus ya Kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Mas Teddy. Jangan panggil kakaklah. Kemudaan. He he .... Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam. Foa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
    2. *Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus