Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen | Sandal Baru Udin

Hallo anak-anakku, cucu-cucuku, dan sobat bloggersku. Kali ini celotehnur54 mendapat sumbangan cerpen dari sahabat baikku  Umi Sakdiyah Sodwidjo di Jakarta.

Cerita bertema kehidupan ini  dia tulis dengan bahasa ringan. Tetapi ada polesan koplaknya. Cucok untuk segala usia. Terutam bagi kamu yang ingin  mengendorkan urat syaraf, setelah seharian beraktivitas yag hampir tanpa jeda. Selamat menikmati.

Sandal Baru Udin

Ilustrasi sandal Udin (Foto NURSINI RAIS)

Di teras masjid, terlihat seorang laki-laki tinggi besar, memakai sarung hijau, baju koko putih, dan sabuk hijau lebar mencengkeram tangan kanan seorang pemuda. Udin, terduga maling sandal itu gemetar. Wajahnya pucat pasi.

“Maliiing, maling sendaal!!!”

Teriakan Bang Makmun melengking keras. Membuyarkan kekhusukan jamaah sholat Jum’at masjid Al-Muhajirin yang sedang berdo’a. Tanpa dikomando, mereka berhamburan ke arah datangnya suara.

Di teras masjid, terlihat seorang laki-laki tinggi besar, memakai sarung hijau, baju koko putih, dan sabuk hijau lebar mencengkeram tangan kanan seorang pemuda. Udin, tersangka maling sandal itu gemetar. Wajahnya pucat pasi. Tangan kirinya memegang sandal jepit baru berwarna biru.

“Jadi elu, ya, yang sering nyolong sendal di mari!” seru Bang Makmun geram. Semua orang yang ikut menyaksikan kejadian itu ribut, dan berteriak emosi

“Pukulin aja!”

“Hajaaarr!!”

“Bawa ke kantor polisi!”

Ustadz Samsul yang mendengar teriakan itu bergegas keluar masjid.

“Ada apa ini?” tanya Pak Ustadz.

“Maling sendalnya ketangkep, Pak Ustadz!” seru seseorang dari balik kerumunan.

“Sebaiknya jangan salah sangka dulu. Kita bawa saja ke rumah pak RT untuk diinterogasi,” ujar Ustadz Samsul menasehati. Semua setuju dengan pendapat Pak Ustadz. Udin pun dibawa ke rumah pak RT tidak jauh dari masjid.

 “Ada apa ramai-ramai ke sini?” tanya Pak RT kaget.

“Ini, Te. Ane berhasil nangkep maling nyang selama ini nyolong sendal di masjid,” jelas Bang Makmun sambil mencengeram krah baju belakang Udin.

“Tenang semuanya! Ayo masuk ke dalam dan kita bicarakan kasus ini dengan kepala dingin,” ujar Pak RT. Pemuda kerempeng itu pun ditarik masuk ke dalam. Sedangkan jama’ah masjid menunggu diluar.

“Namamu siapa, tinggal di mana?” tanya Pak RT menginterogasi.

“Udin, Pak,” jawabnya gemetar. “Saya tinggal di kontrakan Haji Marullah,” sambung Udin. Keringat dingin bercucuran dari dahinya.

“Apa pekerjaan kamu?”

“Mmm … penulis, Pak RT.”

Tiba-tiba, Bang Makmun tertawa. “Huahahahaha … jangan ngaco lu, bocah! Anak ane aje nyang baru masuk SD udah bisa nulis. Masa lu yang udah kumisan baru belajar nulis,” serunya, disambut gelak tawa sebagian pemuda di ruangan itu.

“Geledah saja rumahnya! Pasti sandal-sandal yang dicuri diumpetin di sana!” teriak seorang pemuda yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.

Bang Makmun bersama beberapa warga pergi ke rumah Udin untuk menggeledah.

Sesampainya di sana, warga segera merangsek ke dalam. Terlihat sebuah ruangan berukuran 3x3 meter. Di sebelah kanan pintu masuk, terdapat sebuah kasur busa dengan seprai batik. Di sebelah kiri ada lemari plastik dan rak buku.

Barang berharga di rumah kontrakan itu hanya satu unit komputer jadul yang terletak di sudut ruangan. Layar monitornya masih menyala.

Di lantai depan komputer, berserakan beberapa buku yang terbuka, kertas-kertas HVS yang penuh coretan, spidol, dan potongan koran bekas. Di bagian belakang, terdapat ruangan kecil yang berfungsi sebagai kamar mandi.

Di depan pintu kamar mandi terlihat sebuah rak sepatu yang berisi sepasang sepatu kanvas berwarna putih dan sepatu olah raga berwarna biru. Mereka membongkar isi lemari. Isinya hanya beberapa potong kaos, celana jeans, sarung dan dua potong kemeja.

Di rak paling atas lemari plastik terletak sebuah celengan plastik berbentuk kura-kura. Bang Makmun memeriksa rak buku. Di sana terdapat beberapa buku tebal berbahasa Inggris, buku Hadist, puluhan novel, dan beberapa buku lain.

Mereka kembali ke rumah Pak RT dengan tangan hampa. “Lapor Pak Ustadz, Pak Rete! Ane kagak nemuin sendal satupun di rumahnye,” ujar Bang Makmun melaporkan hasil investigasinya.

“Tuh, kan, Pak RT, saya bukan maling sandal,” kata Udin mulai berani. “Saya tadi sedang mencari sandal yang baru saja dibeli di warung dekat masjid. Saya lupa warnanya, hijau atau biru. Waktu saya ditangkap, saya sedang memastikan apakah itu sandal saya apa bukan,” jelas Udin panjang lebar.

“Pak RT, itu orang yang tadi beli sendal jepit warna hijau di warung saya, dia bukan maling sendal,” Teriak seorang ibu pakai daster bunga-bunga  dari teras.

“Oh, kita salah paham, tho?” kata Ustadz Slamet.

“Bang Makmun, lain kali jangan sembarangan menuduh ya, kasihan kan, Udin jadi kena fitnah,” tambah Pak Ustadz menasehati.

“Ya sudah, jadikan ini sebagai pelajaran. Udin! Bapak minta maaf ya, dan kamu  Makmun, minta maaf sama Udin!” kata Pak RT. Mereka semua mengulurkan tangan sambil minta maaf kepada Udin.

“Iya, Pak RT, Bang Makmun, saya memang orangnya pelupa, saya juga mohon maaf sudah membuat keributan,”  balas Udin sambil menjabat tangan mereka satu persatu.

Siang itu, Udin sibuk sekali. Ia harus menyelesaikan sebuah artikel yang tenggat waktunya jam 12.00 siang. Ia lupa kalau waktu itu hari Jum’at.

Begitu terdengar suara marbot mengumumkan laporan kas Jum’at, dia langsung berangkat ke masjid tanpa sempat mandi terlebih dahulu. Di tengah jalan, sandal jepitnya putus.

Ia merelakan uang sepuluh ribu yang sedianya untuk infak sebagai penukar sepasang sandal jepit baru yang tak sempat ia perhatikan warnanya karena terburu-buru. Dari sinilah kasus sial itu bermula. 

Baca juga:

*****

10 komentar untuk "Cerpen | Sandal Baru Udin"

  1. Kasian si Udin gak ngerti apa-apa malah dituduh maling, Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Resiko orang lugu dan pelupa. He he ... Selamat malam, ananda Naia. Selamat istirahat bersama suami dan anak2 tercinta.

      Hapus
  2. Aku kok jadi ketawa plus mewek ya bu? jangan berprasangka buruk terhadap orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya memang begitu ya, ananda Supriayadi. Sebagian kita ini yang sering diabaikan. terlebih terhadap orang-orang tak berdaya. Terima kasih telah hadir. Selamat malam.

      Hapus
  3. Untung Bang Udin belum dipukuli. Memang tidak boleh main hakim sendiri. Bersyukur ada Pak Ustad dan Pak RT. Salam sehat Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat juga Pak Eko. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  4. begitulah budaya kita, mudah berprasangka....

    mantap cerpennya....

    👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mas Tanza. Terima kasih telah bersedia membaca cerpinnya.

      Hapus
  5. Salam, menarik ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, Mbak/Mas. Selamat akhir pekan.

      Hapus