Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 5]

Ilustrasi Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 5].  Foto S. PRAWIRO 

Masa kecil tak kalah heboh dibandingkan ketika remaja. Setiap insan dewasa pasti pernah mengalaminya. Tak peduli apakah dia orang kecil atau orang kaya.

Namun masing-masing individu  punya kenangan yang berbeda-beda.  Sesuai situasi dan kondisi lingkungannya. Ada kenangan lucu, menyenangkan, bahkan tak jarang juga anak-anak yang mengalami kisah menyedihkan.

Aku kelahiran tahun 50-an,  dibesarkan di desa yang zaman itu kumuh dan miskin.  Di sana aku menghabiskan masa kecil dengan main tanah, main berudu (kecebong),  main sawah-sawahan berkubang lumpur. 

Aku juga pernah jatuh dari pohon asam.  Emak ....! Dunia rasanya miring. Ha ha .... Nanti kututurkan panjang lebarnya pada artikel khusus.  

Kali ini,  kita berikan  dulu kesempatan pada Eyang Wiro untuk melanjutkan kisah masa kecilnya, saat tinggal bersama orang tuanya di sudut kota Makassar.  Judulnya  simple, “Berburu Pipit.” Tetapi konfliknya rumit, kompleks,  dan inspiratif.

Seperti  cerita sebelumnya, cerpen ini bagian ke 5 dari  Kumpulan Cerpen karya (S. Prawiro) Dongeng Orang Miskin.  Dari hulu hendak ke Muaro, Singgah duhulu ke Batang Asai,  Ingin tahu bagusnya cerita Eyang Wiro, Bacalah cerpen ini sampai selesai.  Ahay ....

Berburu Pipit

Ilustrasi Cerpen Dongeng Orang Kecil [Part 5] Berburu Pipit (Sumber foto: dikutip dari
nimadesriandani.files.wordpress.com)

 Hujan dan burung pipit, dua hal yang paling kusuka di masa kanak-kanak. Setiap tiba musim penghujan, aku dan teman-teman punya kegiatan yang sayang jika dilewatkan. Kami gemar mengusik pipit yang sedang bernaung.

Sulit sekali menangkap pipit di musim kemarau. Sementara anak-anak besar mudah saja menggunakan perangkap yang bisa melukai burung kecil itu. Aku sendiri tak tega. Lebih senang menunggu musim hujan tiba dan berlarian bersama teman-teman mengejar burung di rerumputan.

Ada satu momen perburuan yang paling membekas, yang pernah mengubahku menyerupai karakter kartun.

Tak jauh dari SD tempatku belajar, terdapat kebun yang dulunya lapangan. Tanah itu ditumbuhi pohon pisang dan daun pandan, serta aneka jenis bunga dan tanaman tinggi. Sudut-sudutnya dipenuhi tumbuhan liar yang rimbun, mirip pohon tebu. Di sanalah rumah para pipit beranak pinak.

Kami senang mengganggunya dari persembunyian.  Mengguncangkan batang pohon tempat mereka hinggap supaya terbang, lalu pindah ke rerimbunan yang lebih aman.

Kami mengendap-endap mengikutinya, menggoyang-goyangkan batang sampai pasukan pipit basah dan kelelahan.

Tak tergambarkan serunya.

Pernah suatu sore, hujan turun sangat deras. Semua teman sudah bersiap. Aku berlari kencang dan bertekat harus mebawa pulang burung itu meski seekor saja.

Selama ini aku hanya bisa menyaksikan teman yang berbadan besar, sebut saja Giant, bergembira menangkap pipit-pipit yang lucu.

Aku berlarian dengan badan kuyup. Kulit penuh baret merah lantaran tersayat rumput. Terasa agak perih. Seekor pipit akhirnya mampu kusergap. Badan yang gigil tak kuhiraukan. Kebahagiaan menghangatkan hatiku.

Bergegas aku mencari wadah. Tak jauh dari lokasi perburuan ada tumpukan sampah berserakan, tempat para pemalas menyiksa alam. Sengaja aku memungut satu plastik bening. Harus bening supaya aku bisa menyombong pada Giant.

Melihat barisan pipit, yang mulai letih, nafsuku menjarah semakin berkobar. Aku menggigit ujung plastik sambil kembali berlarian, berharap menangkap lebih banyak.

Tiba-tiba bibirku terasa panas. Seperti ada bara yang membakar. Gatal, dan lama-lama membengkak. Seperti habis dipatuk sesuatu.

Niat menyombong hari itu terpaksa batal, lantaran tak kuat lagi aku merasakan bibir yang semakin gatal dan nyeri.

***

Hujan masih mengetuk-etuk atap seng ketika aku sampai di rumah. Tubuhku menggeligis. Baju kotor penuh cipratan tanah.

Mamak berdiri di depan pintu memegang sapu lidi. Berulang kali mamak melarang anak-anaknya agar tidak hujan-hujanan. Kalau ada dari kami yang sakit, Mamak juga yang repot dan sedih.

“Kenapa lagi itu bibirmu?” 

Aku menutup mulut. Rasanya kini semakin berat. Seperti ada batu menggelantung.

Mamak menepis kasar tanganku yang bertindak sebagai pelindung. Dan ... astaga. Mamak terkejut.

Aku kira Mamak akan iba, namun ternyata marahnya semakin menjadi.

Entah mengapa anak kecil harus mengalami hari yang buruk. Sudah gagal menikmati asyiknya bermain hujan. Ditambah celaka, masih dibebani omelan, tak jarang juga makian dari orang sekitar.

“Begitu memang akibatnya kalau tidak mau mendengar orang tua.”

Sedih. Rasanya mau kabur mencari rumah tinggal sendiri. Jauh dari Mamak dan Bapak.

Bibirku bertambah ngilu. Semakin bengkak, tebal, dan kian mengerucut.

Orang Makassar bilang sumimikan, atau tertempel arwah penasaran. Tapi sepertinya ada sesuatu yeng menempel pada plastik bening yang kugigit tadi.

Mungkin bibirku dikecup ulat bulu, semut, atau entah apa.

Puas marah-marah, Mamak bersedih dan mengurus lukaku. Mamak menjadi lebih perhatian sebagai kompensasi perasaan bersalahnya sudah kesal pada anaknya yang sedang kesakitan.

Api dinyalakan, lalu Mamak memanaskan songkok hitam di atasnya. Peci tersebut disapukan pada bibirku yang bentuknya semakin tak teratur.

Perlahan rasa nyaman menjalar di sepanjang bibirku. Meski belum sepenuhnya sembuh, minimal tak seberat sebelumnya.

Setelah hilang rasa tak nyaman, esoknya aku pun kembali diizinkan pergi bermain. Wajahku berubah. Menatap ke cermin membuatku ingin tertawa. Aku bahkan tak mengenali wajah sendiri.

Ini semua gara-gara plastik, aku jadi merasa baru menjalani operasi plastik sungguhan.

Kalau bukan karena tahi lalat di dekat hidung, mungkin tak ada yang mengenaliku. Daripada mirip wajah lamaku, selama dua hari itu aku justru lebih mirip Suneo.

Suneo teman Giant.

Teman-teman terus menggodaku, tak pelak aku pun banyak tertawa meski kondisi bibir masih memprihatinkan.

Menjadi anak-anak, sama artinya dengan menjadi lebih pintar ketimbang orang dewasa, untuk berbahagia.

Kejadian itu tak membuatku jera. Aku dan teman-teman tetap menantikan hujan untuk mengejar-ngejar pipit. Hanya saja aku harus menjadi lebih berhati-hati. (Bersambung).

Baca juga:

*****
Penulis,
S. PRAWIRO
Jakarta.

 

16 komentar untuk "Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 5]"

  1. berburu burung kecil dan main hujan adalah salah satu aktifitas saat kecil dan remaja...

    # asiik baca ceritanya.... thanks for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main hujan kenangan masa kecil paling asyik. Bukan hanya bagi anak laki2, anak perempuan pun juga senang mandi hujan. He he .... Selamat malam, Mas Tanza. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terima kasih, Mas Warkasa. Doa sehat untuk keluarga di Pekanbaru ya. Selamat malam.

      Hapus
  3. Wkwk sebuah pelajaran kalo jadi anak harus dengar omongan orang tua, seru juga cerpennya pak s. Prawiro yah nek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Wiro ini cerpenis asuhan Asma Nadia dan suaminya Isa Alamsyah. Selamat malam, cucunda Alul. Doa sehat dari jauh.

      Hapus
  4. lebih berkesan zaman dulu, penuh dengan petualangan.

    BalasHapus
  5. Betul, Mas/Mbak. Apalagi zaman kami kelahiran tahun 50-an. Terima kasih telah singgah. Selamat pagi.

    BalasHapus
  6. Seperti itulah orang tua awalnya marah ke sananya jadi timbul rasa kasihan.
    Bermain hujan waktu kecil memang sangat mengasyikkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Marah orang tua kepada anak hanya sebatas bibir saja. 10 ribu kali pun dimarah si anak tak akan mau dilarang. Apalagi dilarang mandi air hujan. He he ... Selamat malam, Mas Herman. Terima kasih telah hadir. Doa sehat selalu.

      Hapus
  7. Saya rasa seronok membaca cerpen Berburu Pipit. Terasa ingin membaca lagi cerpen yang terdapat di dalam Dongeng Orang Kecil. Gaya bahasanya sangat indah, jalan ceritanya juga menarik sehingga membawa saya untuk membacanya hingga ke noktah akhir. Ada mesej dan pengajaran yang ingin disampaikan oleh penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda Ami. Di sana terlihat jelas penulisnya menulis dari hati. Terima kasih telah hadir. Doa sehat dari seberang sini.

      Hapus
  8. aduh waktu kecil pernah ngalamin bibir jontor gara2 digigit serangga.. Hahaha itu sering banget waktu kecil, sampe malu rasanya kalo harus berangkat ke sekolah.. Rasanya nyeri bercampur gatal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ... Semuanya gara-gara susah diam. Gak apa-apa ananda. kepingan-kepingan kenangan tersebut membuat kita kemampuan berpikir kita jadi terasah. Selamat sore. Terima kasih telah hadir.

      Hapus
  9. "enjadi anak-anak, sama artinya dengan menjadi lebih pintar ketimbang orang dewasa, untuk berbahagia."

    Saya kok baper ya bu baca kalimat yang ini? salam sehat Ibu Nur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pintarnya main. pintar minta duit, minta beli ini, minta beli itu. Wajar mereka lebih berbahagia ketimbang orang dewasa. He he .... Salam sehat kembali, ananda Supriadi. terima kasih telah singgah.

      Hapus