Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ke Rantauprapat? Awas Nyasar!

Ilustrasi: Ke Rantauprapat?  Awas Nyasar ke! (Istrihat, salat maghrib, dan makan malam di salah satu rest area / Foto anakku)
 
Jika  ada yang bertanya, “Enam hari  mengelana from Jambi ke Medan, apa saja pengalaman yang Nenek peroleh?”  Jawabnya, “Lumayan. Satu darinya, kalau mau ke Rantauprapat tak akan nyasar di Parapat.”

Hah ...?  Kok bisa ...?  Nenek pernah nyasarkah?

Benar, Cu. Sumpah .... Tak percaya?  Berikut  Nenek membagikan kisahnya pada  cucu-cucu  celotehnur54  sebagai oleh-oleh.  Duduk yang rapi, baca sampai habis. Okey?

Rantauprapat dan Parapat

Ilustrasi: Ke Rantauprapat?  Awas Nyasar! (Dex Cafe)

Pukul 11.30, kami  meninggalkan Pekanbaru menuju  Medan. Putri saya telah menjadwalkan  malam itu kami  nginap di Guest  House Ahza Syariah,  Rantauprapat. Dua kamar telah dia booking lewat aplikasi. Satu untuk dia dan suaminya, lainnya buat saya dan si Cantik Ratu cucuku.

Seteleh  salat Maghrib dan makan malam di Dex Cafe, di rest area  SPBU perbatasan Riau Labuhan Batu (kalau salah tolong koreksi), kami melanjutkan penjelajahan.   Kata Mbah google, untuk ke  Parapat butuh waktu 7  jam.

Beberapa menit kemudian,  suami si sulung berhenti di salah satu Alfamart untuk beli rokok. Dia bertanya pada anak muda yang lagi nongkrong di sana. “Bang Rantauprapat jauh gak dari sini?”

“Kira-kira setengah jaman?”

“Hah .... Mosok.  Bukankah 7 jam?”

“Bukan. Abang tuh mau ke Rantauprapat  atau ke Parapat? Rantauprapat dekat sini. Kalau Parapat Jauh, Bang,” jelas pemuda itu sambil menunjuk ke arah utara.

Ternyata Ahza Syariah itu di Rantauprapat. Berada dalam Kabupaten Labuhan Batu. Dekat dengan perbatasan  Riau.  Kurang lebih 265 kilometer dari kota Medan. Bukan di Parapat.

Sedangkan Parapat dalam wilayah Kota  Pematang Siantar.  176 kilometer dari ibu kota Sumatera Utara, Medan.  Jadi, Rantauprapat beda dengan Parapat.

Syukur   Google teleh memberikan kemudahan  bagi kita semua.  Tetapi kalau salah memasukkan kata kunci/alamat, seperti  Rantauprapat ditulis Parapat, bisa keliru.

Pukul  21.20 kami sampai di Guest House  Ahza Syariah,  Jalan  Syukur Rantauprapat.

Alasan Nginap di Ahza Syariah

Ilustrasi: Ke Rantauprapat?  Awas Nyasar!
 
Pilihan menginap di Ahza  Syariah oleh putri saya bukan tanpa alasan. Pertama, mungkin tersebab malam Sabtu,  bertepatan dengan wekend, hotel-hotel  di sana  banyak yang penuh.

Alasan ke dua, lokasinya  tak jauh dari salah satu tempat yang akan  kami singgahi besoknya,  sebelum lanjut ke Kota Medan.

Acaranya menghadiri pesta pernikahan salah satu karyawati kantornya di Pintu Pohan. Kurang lebih 50 kilometer masuk ke dalam  dari jalan lintas. Tepatnya dalam kawasan PT Inalum.

Untuk sampai ke Pintu Pohan,  melewati  perkampungan penduduk dan  kebun kelapa sawit.   

Andaikan kami terlanjur ke Parapat, tentu jarak tempuh jadi bertambah. Minimal mutar-mutar  dulu baru sampai ke Pintu Pohan.

Demikian pengalaman ini dibagikan semoga dapat menjadi pedoman  buat kalian yang akan  pergi ke Rantauprapat atau ke Parapat. Semoga tidak nyasar. Terima kasih.

Baca juga:  

*****

16 komentar untuk "Ke Rantauprapat? Awas Nyasar! "

  1. oh, begitu alasannya....siip.

    Thanks telah berbagi pengalaman

    # Cafe kelihatan bersih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, Mas Tanza terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  2. Tinggal dimana Nek, aku daerah Raya Simalungun lho, yang pasti melewati Pem. Siantar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nenek, sekadar transit saja, ananda. Ikut anak jalan2 pakai mobil ke Medan. Nenek juga singgah di Simalungun ke Danau Toba. Benar lewat pematang Siantar. Malah singgah makan di rumah makan simpang tiga. Jadi dimana malam tiba, di sanalah kami nginap. Terima kasih telah singgah. Selamat malam.

      Hapus
    2. Hello bu selamat pagi. Lama gak jumpa... bagus artikelnya

      Hapus
    3. Hello juga, Say. Terima kasih telah menyapa.

      Hapus
  3. Waah asyik nih, jalan-jalan๐Ÿ˜…๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan, Mas Warkasa. Sekali seumur hidup. He he ....

      Hapus
  4. Hahahaha memang beda Bu ๐Ÿ˜„. Aku pernah ke Rantauprapat, dulu Tante dan sepupuku tinggal di sana . Tapi Krn kesannya pas msh kecil, JD jujur ga terlalu inget kotanya.

    Tapi kalo Parapat, lebih sering lagi ๐Ÿ˜. Soalnya kampung papa kan di Sibolga. Jadi kalo mau kesana ya pasti ngelewatin Parapat. Dan kami selalu singgah di sana sambil liat danau Toba ๐Ÿ˜. Duuuh aku kangen bu pengen mudik. Udah lama bgt ga pulang gara2 pandemi ini ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga orang sumut tak lupa beda Rantauprapat dg Prapat. Saking lamanya merantau. He he ... Tapi tetap rindu dan ingin mudik ya, ananda Fanny. Mudah2an pandemi cepat berlalu. Bunda juga ingin ke sana lagi. He he ... Terima kasih telah singgah. Selamat siang.

      Hapus
  5. Namanya hampir mirip Bu, Rantauprapat dan Parapat, tak heran kalo google maps salah kasih info.
    ๐Ÿ˜‚

    Pernah aku cari daerah Kalinyamat, lalu dikasih informasi di Jepara, padahal Kalinyamat yang aku cari di Tegal ๐Ÿ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... Ke depannya kekeliruan mungkin juga terjadi secara nasional, antara "seluruh nusantara" dengan Nusantara ibu kota negara.

      Antara Rantauprapat dan Parapat memang nyaris sama ya Mas Agung, untung menantu saya bertanya pada warga. Jadi terlalu menuhankan teknologi juga bisa keliru. Selamat malam, Mas Agus. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  6. seronoknya road trip. cuma itulah hati-hati jangan sesat kalau nama tempatnya hampir sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, justru hal yang menantang membuat pelancongan itu asyik. Terima kasih telah singgah, ananda Salbiah

      Hapus
  7. Pengalaman perjalanan yang seru ya Bu Nur, untung sempat bertanya. Silap sedikit saja beda huruf a, bisa berbda ratusan km ya. Salam sehat ya Bu Nur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak Eko. Silap sedikit ruginya ratusan kilometer. Energi terkuras, waktu sia-sia. Selamat sore, Pak Eko. Terima kasih telah hadir. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus