Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rasakan Sensasi Staycation Kekinian dan Bermalam di Kebun Era 60-an

Ilustrasi Sensasi  Staycation Kekinian dan Bermalam di Kebun Era 60-an (Rumah kebun)

Berlibur dan tinggal di luar untuk satu atau beberapa hari, merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat kekinian,  khususnya bagi kaum milenial dan orang-orang kota. Mereka menyebutnya staycation.  

Yang  menjomblo  dapat melakukannya bersama teman-teman, bagi yang sudah bekeluarga memboyong pasangan dan anak-anaknya. Kakek nenek bisa mengajak anak menantu dan cucu-cucu.

Saat ini, banyak pilihan buat tempat menginap selama melakukan staycation. Mulai  guest home level sederhana sampai ke hotel-hotel berbintang. Tergantung  kurus gemuknya isi dompet. Yang memilih  bermalam di tenda camping juga ada, sekalian berolahraga mendaki gunung. 

Staycation tidak hanya milik kaum milenial dan masyarakat perkotaan

Belakangan ini, staycation tidak hanya dinominasi kaum milenial dan masyarakat pertotaan saja.  Nenek-kakek  ndeso seperti saya juga  butuh liburan bergaya staycation, Untuk melepas penat  sambil menikmati suasana baru. 

Awal tahun 2021 lalu. Kami  diajak si sulung nginap di Guest House Pelangi di daerah Perkebunan Teh Kayu Aro, Kerinci. Semenjak itu, Nenek udik  ini dan cowok gantengnya  ketagihan.  He he ....

Sering kami berangan-angan  untuk mengulangi kembali momen tersebut, tapi belum kesampaian. 

Staycation di pondok kebun


Ilustrasi Sensasi  Staycation Kekinian dan Bermalam di Kebun Era 60-an (Masak air pakai kayu bakar)

Senin malam  31 Januari lalu, mendadak doi mengajak cewek cantiknya ini staycation di tempat yang tak lazim. 

Saya menyetujui. Satu jam naik motor, pas maghrib kami sampai di tempat yang dituju. Yaitu di rumah kebun milik pribadi. 

Lokasinya di Desa Batang Merangin Kabupaten Kerinci. Kurang lebih 40-an kilometer dari kediaman kami. Sejak dibangun kami belum pernah bermalam di sana.

Sejatinya hunian tersebut kurang tepat dikatakan pondok kebun. Sebab, posisinya di pinggir jalan raya Kerinci-jambi. Motor dan mobil berlalu lalang siang dan malam, listrik dan sinyal HP menyala layaknya di kampung-kampung. 

Namun, nuansa rimbanya sangat kental. Lingkungan sekelilingnya dipenuhi hutan tanaman milik sendiri. Pada malam hari hawanya dingin sampai ke tulang. 

Jarak rumah satu dengan lainnya 1 sampai 2 kilometer. Tetapi lingkungan rumah kami itu lumayan ramai. Ada 2  KK numpang  ngontrak. Malam itu jadilah penghuni kawasan tersebut 3 keluarga.

Walaupun demikian,  sensasi staycationnya tetap dapet. Selama di sana saya dimanjakan oleh si doi, bak putri dari kayangan.  Air mandi dipanasin,  minum dibuatin teh. Yang membuat suasana bertambah jadul dan spesial,  masak airnya menggunakan kayu bakar.

Mau makan dibeliin nasi di warung makan Padang yang  lumayan jauh dari lokasi. Wah ...  hahay ..., Serasa kembali ke Juli 1974, semasa menjadi pengantin baru. 

Sayanya, yang tak bisa diam. Bangun pagi nyapu halaman, sesekali  tetap  berkutat dengan  laptop. He he ....

Apabila malam telah tiba, nyanyian  hewan memecah kesunyian.  Tak tahu sang pemilik suara itu wujudnya seperti apa.  Bangun pagi kami  disambut kicauan burung. Reme sekali. 

Kalah horor dengan suasana era 60-an

Namun, suasananya kalah horor dengan  era 60-an, semasa  saya dan adik-adik ikut orang tua tinggal di ladang.  Kami bermalam  di gubuk mungil  berdinding pelulupuh, diberi atap tumbuhan hilalang.  

Di sana cuman ada belasan keluarga petani yang mengadu nasib dengan menanam padi ladang. Lokasinya   dikelilingi oleh hutan blantara.  Dua  jam jalan kaki dan menyeberang sungai dari desa kami.  

Agar terhindar dari serangan binatang buas, Bapak dan peladang lainnya mendesain pondoknya berbentuk panggung.   Jarak lantainya dari permukaan tanah mencapai  2 meter lebih.  

Dikala malam, hingar bingar suara burung hantu, kodok, kelelawar, kumbang pohon, dan sebagainya,  semua menyatu membelah malam. Sesekali harimau pun ikut mengaum.  

Belum lagi nyamuk-nyamuk nakal tumbur menumbur dan berdenging-dengung. Mereka hanya bisa diusir dengan menyalakan api unggun di bawah kolong gubuk. Aduh Emak ....! Bayangkan, sudah pondoknya sempit  4 x 4 meter, ditambah asap yang bergumpal-gumpal. 

Tiada kata selain ucapan  Syukur kepada Allah. Sekarang Dia telah memeberkahi kami adik beradik dengan umur panjang dan kehidupan yang lebih baik.  Duh ..., Maaf.  Kok saya jadi baper ya. 

Simpulan dan penutup 

Dari paparan di atas tergambar jelas, bahwa Staycation tak selalu identik dengan kemewahan. Bermalam di kebun pun  orang bisa bersenang-senang melakukan staycation dengan gaya kekinian.

Tentu saja konsepnya berbeda dengan tinggal di pondok kebun pada era  60-an. Petani melakoninya   karena dihimpit derita tersebab pahitnya hidup. Sekian dan terima kasih.  Semoga bermanfaat.

Baca juga:  

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

Sumber Ilustrasi: Dokumen pribadi

29 komentar untuk " Rasakan Sensasi Staycation Kekinian dan Bermalam di Kebun Era 60-an "

  1. suasana dikebun memang beda menurutku. apalagi kalau lagi musim panen kopi, seru aja bisa metikin buah kopi bareng keluarga hhe

    BalasHapus
  2. Ditambah pula musim dirian, ha ha .... Mantap ya, Mas. Terima kasih telah singgah. Selamat siang.

    BalasHapus
  3. Wow jadi staycation nya itu di kebun beneran ya. Sepertinya agak menyeramkan ya apalagi kalo malam hari, banyak suara jangkrik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... Benaran, Mas Agus. Bagi saya ada kenangan khusus. Semasa kecil bersama orang tua. Selamat malam minggu.

      Hapus
  4. Ini yang dinamakan stayacation dengan konsep kombinasi kekinian dan hal-hal yang jadul. Tentunya segmentasinya lebih luas, untuk generasi X misalnya seperti membangkitkan memori atau kenangan dulu. Tapi juga tetap bikin penasaran generasi milenial. Terima kasih ulasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha ... Staycation modal semangat dan pengalaman jadul, Mas. Masak air minum dan buat mandi pakai kayu bakar. Setelah puluhan tahun meninggalkannya. Plus minum air ada aroma asapnya. Makan pakai pring beralas daun pisang petik dipohon. He he ... Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat sore.

      Hapus
  5. hadu ngeri kalau harimau beneran ada Bu Nur
    tapi seru juga si kalau staycationnya model begini
    bisa nostalgia juga
    saya jadi kepingin hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan kepingin Mas Ikrom. Bisa nangis malam2. Hehe .... Terlebih kalau kebunnya kayak tahun 60-an. Jauh di tengah hutan. Selamat sore, doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  6. Terima kasih sharingnya Bu, saya jadi ingat niat kami ajak anak-anak untuk menginap di tempat yang pedesaan gitu, membiasakan mereka untuk lebih cinta alam.
    Pengennya sih ngajak camping, sayang waktunya nggak pernah tepat mulu.

    Anak-anak saya selalu mengeluh soalnya kalau diajak main ke kebun almarhum kakek dulu, padahal laki, tapi kurang suka alam, saking dikurung mulu, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya, barangkali karena belum terbiasa ya ananda Rey. Cucu-cucu saya malah setiap pulang minta dibawake kebun kakeknya. Karena di sana sda sungai tempat main dan mandi2. Kadang saking dinginnya terlalu lama berendam bibirnya udah pucat kedinginan. Tetap saja menolak di minta keluar. He he ...

      Hapus
  7. Wih, saya juga ingat kampung halaman di kalimantan bu. Rumah dulu dikelilingi hutan, dan banyak suara owa serta kawan-kawan. Tapi kini tinggal cerita. Yang ada hanya Pohon-pohon sawit yang merajalela. Salam sehat bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat kembali, ananda Supriyadi. Sama. Di kampung kami juga susah ketemu hutan. Karena telah jadi lahan sawit. Ini kebetulan hutan kebun milik sendiri. Pohon kayu bangunan yang usianya udah 11 tahun. Terima kasih. Apresiasinya. Terima juga telah singgah.

      Hapus
  8. Staycation di rumah kampung begitu hati kena cekal. Kalau penakut dan suka terbayang bukan-bukan nanti semalaman tak lena tidur. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ...... Telah familier dengan lingkingan hitan dari kecil, kayaknya bslagi kami staycation di pondok kebun biasa2 saja. Malahan punya keindahan tersendiri. Selamat siang, ananda Sal. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  9. Staycation yang asyik ini.... kerasa alamnya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Muhaimin. Tapi bagi orang yang belum familiar dengan lingkungan hutan, nengok hutan saja malah takut. Terima kasih telah singgah. Doa sehat untuk mu sekeluarga.

      Hapus
  10. salah satu tempat yang saya sukai adalah ke kebun, waktu kecil....
    banyak makanan, ada buah, jambu, melinjo, pepaya dsb....

    wonderful.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak2 dibawa ke kebun memang senang. Terlebih di kebun kami ada sungai tempat mandi2. Setiap lebaran cucu2 pulang, minta dibawa ke kebun. Kalau mandi, susah diajak pulang.

      Hapus
  11. Staycation seperti ni malah lebih asik buat saya, Bu. Dapet suasana alamnya walau di pinggir jalan besar. Masaknya masih pakai hawu kalau orang Sunda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Aroma asapnya terasa lada air minum, Mbak. Tapi bisa melepas rindu pada masa dahulu, Mbak. Malihat asap keluar dari bubungan dapur. Selamat malam, terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat selalu buat keluarga di sana.

      Hapus
  12. Kalo aku pernah staycation juga tapi ala glamping dan camping gitu, bu. Kemping di hutan sekalian. Hehe. Tapi karena modelnya glamping jadi ada fasilitas AC dan makanannya juga disediakan.

    Mungkin udah banyak yang ngrasain di daerah bandung dan sekitarnya udah familiar ala glamping ini. Biasanya yang make keluarga atau karyawan lagi outing kantor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih Enak staycation ala Glamping, Mas. Daripada nginap di hotel, yangvterlslu resmi. Terlebih bagi anak muda. Selamat malam, Mas. Terima kasih telah singgah. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  13. Wahh thank you sharingnya bunda.

    Staycation di tempat yang penuh kenangan pasti jauh lebih menyenangkan karena salah satu tujuannya adalah untuk nostalgia.

    Apalagi benar2 menyatu dengan alam, suasanya pasti beda banget sama yg terbiasa hidup di perkotaan.

    Aku masih belum bisa membayangkan jika jarak antar rumah bisa sampai 2 km, OMG, ga kebayang kaya apa suasananya kalau malam. Sepanjang aku ke tempat saudara, jarak atar rumah paling jauh cuma berapa ratus meter aja, ga ada yg sampe 2 km hahhaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang pasti, suasananya seram, ananda. He he .... Mulai sori, nyanyian jengkrik bersahut-sahutan. Tapi karena lokasi di pinggir jalan raya, mobil mundar mandir setiap saat, bagi bunda malah kurang dapet jadulnya. Selamat sore. Doa sukses untuk mu selalu.

      Hapus
  14. Terimakasih untuk artikelnya Bu Nur.. inspiratif 👍

    BalasHapus
  15. Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih, ananda Nita. Terima kasih juga telah mengapresiasi. Selamat siang.

      Hapus
  16. Terima kasih kembali, Mas Warkasa. Salam sehat buat keluarga di sana.

    BalasHapus