Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jadi Istri ke Dua? Lhoh ..., Kok Mau Ya

Ilustrasi Di jadiakan Istri ke Dua (Sumber foto dikutip dari nuonline)

Lhoh .... Kok mau ya?  Perempuan secantik dia dijadikan isteri ke dua. Pertanyaan begini sering keluar dari mulut waras, ketika seseorang mengetahui  ada wanita menikah dengan pria beristri.  

Dikatakan mulut waras sebab, kaum ODGJ  tak mungkin kepo dengan urusan orang lain. 

Yah ..., begitulah hukum alam  yang tidak bisa dibantah, dan sulit terhapus di muka bumi ini. Ketika orang lain berbuat  janggal, mata hati dan mulut kita ikut menyorot. Giliran kita, orang lain jadi tukang komen. 

Ya, sudah. Selagi yang dikatakan orang sesuai fakta, kenapa kita harus  gondokan. Santai aja. “Paling sebulan dua bulan. Setelah itu mereka bosan sendiri,”  

Berbahagia Menjadi Istri ke Dua

Sebelumnya saya mohon maaf. Mungkin tema ini agak sensitif, untuk dibicarakan. Tetapi setelah dapat ide dari lingkungan, gatal tangan saya mau menulisnya. 

Saya salut dengan pilihan oknum wanita yang memasrahkan dirinya menjadi  istri ke dua. Meskipun agama Islam membolehkan pria beristri lebih dari satu, dua, tiga, dan sebatas empat. 

Kadang-kadang dengan bangga pula dia menyatakan bahwa dirinya berbahagia dengan statusnya  tersebut.  Apa betul narasi itu terucap dari lubuk hatinya paling dalam, atau sekadar gula pemanis kata saja. 

Sebab, umumnya wanita itu suka memaksakan dirinya enjoy menerima segala kondisi, yang menyangkut masalah rumah tangganya, dengan beragam pertimbangan. Meskipun sesungguhnya batinnya terkoyak. 

Daripada  begini, daripada begitu dan daripada-daripada lainnya. Terutama jika mereka  sudah punya anak. 

Apabila diamati, banyak hal yang melatari oknum wanita itu bersedia dijadikan istri ke 2. Diantaranya:

1. Mau dijadikan istri ke dua,  karena faktor ekonomi

Sebagian wanita setelah ditinggalkan orang tercinta, umpanya oleh orang tua yang telah pergi selama-lamanya, berpisah dengan suaminya terdahulu, apakah bercerai hidup maupun cerai mati, dia tak bisa mandiri secara ekonomi.  Sebab,  dirinya telah terbiasa bergantung pada orang tua atau  suami. 

Tiba-tiba ada pria yang bersedia menjadi malaikat penyelamat, kaum berduit pula.  Kenapa tidak. Jangankan jadi yang ke2, yang ke 3 atau yang ke 4 pun tak masalah. 

2. Mau dijadikan istri ke dua, karena butuh tempat berlindung

Wanita sekelas ini biasanya mampu di segi ekonomi.  Punya jabatan ngejreng,  karier cemerlang.  Harta banyak duit melimpah. 

Di tanah air tercinta ini, sekaya apapun seorang perempuan kalau dia hidup melajang, terutama janda muda, sering dipandang sebelah mata.

Dengan menikah, mereka akan terhindar dari fitnah.  Sayangnya takdir membawa hatinya ke pincut pada suami orang. 

Padahal  banyak janda yang mampu berpikir waras dan menjaga marwah dirinya.  Hanya sedikit  mereka yang mau merendahkan derajatnya di mata publik.  

Wanita bersuami pun tak kalah banyak  yang tega merusak martabatnya dengan perbuatan kurang terpuji. 

3. Mau dijadikan istri ke dua, karena korban kebohongan 

Seorang pria beristri dan sudah punya anak mengaku bujangan kepada wanita yang ingin dinikahinya, adalah lumrah. 

Kebohongan seperti ini sering terjadi  sebelum dikeluarkan UU No 1 tahun 1974 oleh pemerintah Indonesia, yang mengatur masalah pernikahan mencakup persoalan poligami.  Zaman sekarang juga ada.  Kenal lewat medsos, terus berlabuh di pelaminan.  

Perempuan yang merasa ditipu acap kali menuntut cerai. Ada juga yang bertahan dengan berbagai dalih.  Salah satunya terlanjur sayang.  Akad nikah selesai sayang pun lengket. Harus bagaimana lagi. Jangan-jangan si wanitanya sudah berb*d*n  dua pula.

Kadang-kadang, untuk bertahan dan mencari aman mereka melakukan berbagai cara. Di antaranya,  istri mudanya tidak boleh keluar rumah, sampai  diumpetin entah ke pelosok negeri  mana. Dia (suami) enakan bersenang-senang dengan anak-anak  dan istri pertamanya.

Mending punya laki pria berduit dan bertanggung jawab. Dikasih nafkah yang cukup, bahkan bisa hidup mewah.  Kalau suami hanya sekelas ASN biasa yang hanya bermodalkan berangkat kerja dengan seragam dinas, duh, kasian. Yang terdaftar dalam gajinya  bini pertama. 

4. Mau dijadikan istri ke dua karena tabiat dari sononya  

Semasa remaja saya punya teman yang hobinya pacaran dengan suami orang. Padahal  dia tidak jelek, orang tuanya berekonomi mampu, jumlah saudaranya tidak banyak. Dengan fasilitas yang dimiliki keluarganya, tak mungkin membuat dirinya merasa kurang.  Andaikan dia mau meraih pendidikan setinggi apapun orang tuanya tak akan kekurangan dana.  

Bukan berarti  tak ada jejaka yang mau. Dianya yang kurang respon. Tak tahu apa enaknya pacaran sama laki orang. Alhamdulillah, endingnya dia tetap jadi istri ke dua. 

Risikonya dia  jadi bulan-bulanan istri pertama.  Pulang ke orang tua dimarahi Emak.  Belum lagi hukuman sosial yang selalu memojokkan istri ke dua. Duh kasian.  Dimana bahagianya tatkala suami berbagi cinta. Coba!

5. Mau dijadikan istri ke dua karena mengharap keturunan 

Dahulu banget, ada trend di daerah X, oknum janda sengaja minta dinikahkan  dengan  suami orang dari golongan tertentu. Misalnya dengan dukun terkenal, orang alim sekelas kiyai, dan barangkali pria kaya ganteng juga masuk list. He he .... Dengan harapan beroleh keturunan sekelas bapaknya.  

Sekarang saya tak mendengar  lagi  tradisi tersebut. Kecuali yang bermotif duit. 

Kesimpulan, Saran dan Penutup  

Menurut saya, banyak cara lain yang bisa digunakan untuk meraih kebahagiaan dan menyelesaikan persoalan hidup. Bukan dengan merampas suami orang, yang banyak sedikitnya akan mengurangi wibawa suami di mata masyarakat. Terutama di daerah pedesaan. 

Di sisi lain, sudah saatnya oknum pria berpikir rasional.  Kesampingkan prinsip, “Tidak bahagia dengan satu istri, cari  wanita lain untuk penambal sulam.”  Padahal, dia bisa menerima kekurangan istrinya. Bukankah manusia itu tidak ada yang sempurna? Dirinya pun belum tentu tanpa cela. 

Demikian artikel ini ditulis berdasarkan opini pribadi. Bukan untuk menggurui. Mohon maaf jika ada pihak yang menganggap ulasan ini terlalu bulgar. 

Saya yakin, masih banyak alasan lain yang membuat wanita mau dijadikan istri ke dua. Karena kita tumbuh dan menua dalam lingkungan sosial berbeda. Otomatis kebutuhan  dan konflik yang kita hadapi beraneka warna.   Sekian dan Terima kasih. 

Baca juga:   

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Jambi

27 komentar untuk "Jadi Istri ke Dua? Lhoh ..., Kok Mau Ya"

  1. ya, begitulah.....
    sosial menciptakan wanita tergantung sama lelaki....sehingga wanita sulit punya pilihan...

    # Artikel menarik.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kasian ya, Mas Tanza. Zaman kini baik anak laki2 maupun perempuan harus diarahkan untuk bertumbuh dan berkembang supaya bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan keluarganya. Alhamdulillah, mulai orang tua sampai ke anak2 saya bisa mandiri semua.

      Hapus
  2. Semoga Teddy nggak begini ya Nek hehe, Biasanya juga ada loh Nek kasusnya si Istri pertama yang ngelamar istri kedua untuk suaminya.

    BalasHapus
  3. Masih banyak cowok yang jomblo, jadi buat cewek, biarkan dirimu menjadi satu-satunya ratu.
    Dan buat cowok, bagi-bagi lah ama yang jomblo, jangan diabisin semua.

    BalasHapus

  4. Menjadi istri kedua terkadang sering menjadi sorotan yang negatif yaa bu Haji...Terlebih kalau istri pertamanya masih ada.


    Tapi kalau menurut saya selama tidak ada masalah kenapa harus malu. Dan tak perlu sembunyi pula.😁😁


    Justru sebenarnya yang jadi masalah adalah gosip dari orang2 tertentu yang hanya bisa memperkeruh suasana saja, Dan pada akhirnya jika ia sudah bosan menyinyir akan menghilang dengan sendirinya.


    Jadi untuk para wanita jika ingin menjadi istri kedua tetaplah percaya diri selama yang kita lakukan untuk hal yang positif. Dan tentunya pria yang menjadi calon suami bisa melindungi atau memberikan kenyamanan secara adil.😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi saya masalah petlindungan itu bisa diperoleh dari mana2. Yang tak sudi itu suami berbagi cinta. He he he .....

      Hapus
    2. Sepertinya kang Satria mau nih.😁

      Hapus
  5. Terimakasih nenek ulasannya πŸ‘πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, ananda Dinni. Terima kasih juga telah singgah.

      Hapus
  6. Menurut saya, sosok wanita yang rela menjadi istri kedua itu adalah sosok wanita yang luar biasa dan diatas rata-rata pada umumnya, terimakasih untuk artikel Bu Nur. Salam hormat πŸ˜ŠπŸ‘

    BalasHapus
  7. Ternyata banyak juga faktor yang menjadi penyebab wanita menjadi istri kedua, biasanya faktor ekonomi sih, tidak apalah jadi istri muda yang penting hidupnya kecukupan.πŸ˜‚

    Tapi ada juga karena dibohongi, ngaku perjaka atau duda, tahu-tahu sudah punya anak dua.🀣

    Tapi kalo tabiat dari sononya saya baru tahu.πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu, Mas Agus. Hehe .... Memang ada perempuan hobi pacaran sama laki orang. Selamat malam. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
    2. Hobi yang aneh, pacaran kok sama laki orang.πŸ˜‚

      Hapus
    3. Betul, Mas. Hehe .... Mungkin cari sopir berpengalaman. He he ....

      Hapus
    4. @ Mas Agus : banyak mas yg udah tabiatnya kaya gitu, sukanya ama yg beperngalaman hihihi

      Hapus
    5. Ananda @ursula ... Hihikkk ....

      Hapus
  8. sebagai pria satu saja deh bu
    takut ga amanah hehe
    kadang istri juga bisa cemburu karena hobi suami wkwk

    tapi memang salut sama istri yang mau dimadu
    apalagi zaman sekarang ya Bu Nur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau banyak duit mungkin bisa berbuat adil ya, Mas Ikrom. Tapi supaya tak banyak problem atas nama perempuan, saya sarankan punya istri itu cukup satu saja. Sebab, setahu saya, bila lebih dari 1 banyak susahnya. Meskipun punya duit segudang. Apa enaknya nyakiti hati perempuan.

      Hapus
  9. Kalau di agamaku, katolik, pernikahan itu untuk seumur hidup, cerai aja nggak bisa, apalagi poligami, tapi kalau suami atau istrinya meninggal gitu ya boleh nikah lagi.

    Tapi kalau aku pribadi, apapun alasannya aku ga mau jadi istri kedua, entah aku yg dimadu atau aku jadi yg kedua pokoknya nggak mau, karna suami kan manusia biasa, belum tentu bisa adil sepenuhnya, istrinya pasti ada korban perasaan.

    Wanita2 yg dipoligami pasti hatinya kuat banget, harus rela berbagi suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Islam memang membolehkan pria beristri lrbih dari 1 - 4. Tetapi kalau tak bisa berbuat adil cukup 1 saja.

      Setuju, ananda Ursula. Mana ada manusia bisa bertindak adil.

      Wanita mana yang tak tersakiti dipoligami. Yang kuat itu memang pantas delabeli wanita luar biasa. Tapi bunda sendiri, mohon ampun, benar2 tidak sanggup. He he. Selamat malam, ananda. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
    2. Saya pernah dengar konten di medsos nih, kalau Kristen atau Katolik ya?
      Menikah cuman boleh 1 kali seumur hidup, kecuali dipisahkan oleh maut.
      Jadi, kalaupun harus bercerai, tapi pasangan masih hidup, jadi nggak boleh nikah lagi ya.

      Hapus
    3. Oh ...., pantasan teman anakku seorang Kristen sekarang lagi sibuk ngurus perceraian dengan suaminya, yang setahunan, belum kelar. Katanya memang rumit. Sampai mamanya bilang begini, "Urusan2 begini saya suka aturan Islam."

      Hapus