Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

2 Pengalaman Berhaji Paling Ekstrim Membuatku Ingin Naik Haji Lagi

 Ilustrasi: Pengalaman Berhaji

Berhaji adalah salah satu  ibadah istimewa dibandingkan amalan lainnya. Sebab, hukumnya wajib, tetapi tidak diberlakukan pada semua umat Islam. Kecuali bagi yang mampu moril dan materil. 

Proses pelaksanaannya relatif sulit. Butuh semangat dan perjuangan yang tinggi. Kita ambil satu contoh sepele saja, masalah naik bus dari dan ke Masjid Haram. Susahnya setengah pingsan. 

Belum sempurna mobilnya berenti, jamaah menyerbu  mau masuk. Berebutan, kayak takut tak kebagian kue. Siapa yang kuat dialah yang duluan.  Ha ha .... (Kasus ini tentu tidak berlaku bagi jamaah yang mondok di hotel sekitar Masjid Haram. Ke Masjid bisa jalan kaki). 

Tahulah orang Indonesia. Masih rabun budaya antre.  Belum lagi berdesak-desakan saat tawaf. Sya’i,  tidak terlalu padat. Saya yakin sekarang kondisinya lebih tertib.  

Anenhya, justru di sanalah asyiknya perjuangan berhaji. ... Suatu  hari  kami tawaf di lantai 2 entah lantai 3 (maaf lupa). Areanya luas, tidak sesak, diwarnai jamaah yang didorong pakai kursi roda. 

Duh ..., gak banget. Serasa tawaf hari itu hambar dan tiada berarti. Tak ada wahnya karena terlalu santai. Sesuatu yang diperoleh dengan tantangan berat itu terasa mahal. Ha ha. Padahal  garis lingkarnya  jauh lebih panjang dibandingkan tawaf di lantai dasar (dekat ka’bah).

Sebagai oleh-oleh, yang barangkali sudah basi, berikut saya bagikan 2 pengalaman  yang saya sebut paling ekstrim, yang pernah saya hadapi selama melaksanakan haji di Makkah al Mukaramah tahun 2009. 

Pengalaman ekstrim berhaji pertama: Jalan kaki 16 kilometer 

 Ilustrasi: Pengalaman Berhaji

Selesai wukuf di arafah,  jamaah melanjutkan perjalanan ke Mina, untuk melakukan rangkaian ibadah haji selanjutnya. Yaitu ritual melempar (melontar)  jumrah.  

Ringkas certia, sampai di Mina, lewat tengah malam 10 Zulhijjah 1430 H itu juga, (maaf lupa jamnya pukul berapa) rombongan kami berangkat menuju  lokasi jumrah Ula, untuk melakukan lontaran pertama yang disebut melempar jumrah Ula. Kami dipandu oleh seorang  anak muda berkulit gelap. 

Emak .... mulai star dari tenda,  pemuda  bertubuh tinggi itu melaju kencang tanpa ampun. Untuk mengikutinya, kita Indonesia ini harus  berlari-lari  kecil. Andaikan sempat terpisah dari rombongan, bisa-bisa kehilangan jejak. 

Tapi demi semangat 45, ha ha  .... tiada anggota kami yang tercecer. Mungkin karena di sepanjang jalan banyak menemui  pemandangan unik. Mulai penjual makanan dan sebagainya, sampai ke emak-emak, bapak-bapak, dan anak-anaknya berhamparan tidur di alam terbuka. Mungkin itulah yang membuat langkah kami ringan.

 

Ilustrasi Pengalaman Berhaji

 Usai melontar, kami langsung  pulang ke kemp. Kira-kira separoh perjalanan, lelah mulai mengusik raga. 

Kurang lebih 1 kilometer menjelang garis finish, kaki suami saya nyaris tak berdaya melangkah. Tubuhnya  seakan terkulai layu. Saya khawatir kalau-kalau beliau pingsan di jalan, terus diangkut  ambulance  entah dibawa ke mana. 

Mungkin tersebab badannya kegedean,  70an kg.  Padahal saat usianya  baru 59 tahun, saya 56 tahun. Saya gandeng dia sambil terus memberinya motivasi. Sesekali saya bijit bahunya. 

Ilustrasi Pengalaman Berhaji
 
Alhamdulillah, sebelum subuh  kami sampai kembali di tenda. Di sanalah saya melihat suami gantengku  itu menangis. Air matanya benar-banar tumpah. Tangis haru sekalian bersyukur tentunya.  

Ternyata malam itu kami telah menapaki jalan sejuah 16 kilometer PP.  Sungguh beruntunglah jamaah yang tinggalnya tidak jauh dari lokasi melontar. 

Malam ke 2 (lempar  jumrah wustha),  momen ekstrim tersebut hampir tidak terulang. Karena selain lokasinya agak dekat,  kami dibawa  lewat jalan alternatif.   Terakhir lempar jumrah aqabah (ke 3), dilaksanakan sore hari. Setelah kembali dari Mina. Berangkatnya dari hotel, lagi-lagi jalan kaki kurang lebih 6 kilometer PP. 

Pengalaman ekstrim berhaji ke dua: Sendirian turun lif

Ilustrasi Pengalaman Berhaji
 
Malam kedua sekembalinya  dari Mina, bus antar jemput ke masjid Haram tidak ada yang beroperasi. Tujuannya supaya jamaah istirahat total setelah wukuf dan melontar jumrah.

Tapi ada juga sebagiannya yang terlalu nafsu untuk ke Masjid Haram dan melakukan ibadah umrah tambahan. Termasuk teman sekamar saya yang notabene sama-sama berasal dari desa yang sama.  Saya  tidak ikut. Sebab sejak pulang dari Mina, suami saya agak demam. 

Ilustrasi Pengalaman Berhaji
 
Pukul  1,45 lewat tengah malam, saya ditelpon salah satu dari mereka. Katanya mereka pulang naik mobil carteran. Drivernya  tak kenal alamat yang dituju.  Dia tak bisa berbahasa Indonesia, tidak juga bahasa  Inggris. Dia minta saya ngasih HP ke resepsionis yang kebetulan pemuda Makassar. Kamarnya di lantai dasar. 

Waduh ..., Saya harus berhadapan dengan situasi ektrim.  Turun dari lantai 3 via lif. Sementara di kamar kami tak ada yang bisa diajak berunding. Di kamar sebelah ada suami saya dan 2 bapak-bapak lainnya.  Ketiganya terkapar  demam. 

Ilustrasi Pengalaman Berhaji
 
Situasi di hotel benar-benar hening dan mencekam. Saya bukan takut hantu. Yang mengerikan, kalau-kalau  ada lelaki  Arab  si pemilik hotel dari ruang bawah tanah udah duluan ada dalam lif. Biasanya sering begitu. Tapi kami tidak pernah sendirian.  Sementara teman saya tadi nelpon berulang kali.

Dengan sangat terpaksa, saya turun juga. Alhamdulillah saya selamat menemui resepsionis hotel. Terus menyerahkan HP padanya.  Kemudia dia melakukan pembicaraan dengan sopir yang ditumpangi rombongan teman saya tadi, menggunakan bahasa Arab.

Setelah kedua  momen ekstrim tersebut berlalu, tak ada pengaruhnya bagi fisik dan mental saya. Terlebih setelah menuntaskan semua rukun dan wajib haji dengan sukses, sesuai prosedur serta tuntunan. 

Yang ada rasa haru, senang, dan syukur. “Alhadulillah Ya Allah. Anak tukang sayur seperti saya bisa dapat undangan untuk datang ke rumahMu. Nikmat mana lagi yang harus   aku ingkari."  

Selama di Makkah al Mukarramah, film masa kecil saya sering berkelebat di ruang mata. Tinggal bersama orang tua, bergelimang  sedih dan duka.  Saya rindu almarhumah  Emak. Beliau berpulang ketika kami sedang mengikuti manasyik untuk bekal naik haji ke Mekkah. Kurang lebih 1 bulan sebelum kami  berangkat.  

Sampai di tanah air, saya ingin pergi haji lagi. Tahun 2011, saya mengajak suami mendaftar untuk yang ke dua. Tetapi daftar tunggu kian jauh. Kata pegawai Depag, 10 tahun ke depan. Setelah dihitung-hitung kelak usia suami 70 tahun. Ternyata, teman yang terdaftar tahun itu terhalang covid 19 tahun 2021. Terus tahun ini disusul pembatasan usia 65 tahun. Sedangkan kami 69 dan 71 tahun.

Saran dan Penutup 

Berdasarkan pengalaman tersebut saya sarankan kepada cucuc-cucu dan teman-teman  yang punya rencana pergi haji, dan kalau ada kelebihan rezki usahakan berangkat selagi muda. Atau minimal jangan terlalu tua. 

Bukan berarti nenek-nenek dan kakek-kakek tua tak boleh naik haji. Tetapi jika masih muda dan kuat, heboh, gembira,  dan enaknya benar-benar dapat.

Demikian pengalaman saya selama mengikuti proses ibadah haji di Makkah al-Mukaramah tahun 1430 Hijriah. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

37 komentar untuk "2 Pengalaman Berhaji Paling Ekstrim Membuatku Ingin Naik Haji Lagi"

  1. Waaah lengkap sekali ulasannya. Terimakasih untuk artikelnya Bu Nur🤝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Warkasa. Salam akhir pekan.

      Hapus
  2. Jauhnya berjalan kaki sampai 16 kilometer!
    Ya ibu, tunaikan haji memang wajib rukun Islan kelima, namun kemampuan turut diambilkira terutama dari segi kesihatan, mental dan fizikal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, 16 km, Ami. Karena kemp kami jauh dari lokasi jumrah. Bagi yang dekat tentu tidak seperti itu. Selamat akhir pekan.

      Hapus
  3. Aku blm kalau berhaji, tapi pernah merasakan umroh. Jadi terbayang rasanya seperti apa saat berhaji.

    Yg penting niat nya ga jelek ya bunda. Insyallah selalu dilindungi. Aku percaya rumah Allah adalah tempat teraman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, ananda. Asalkan beramal dengan niat tulus insyaallah semua urusan dilancarkan Allah. Karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Usahakan berhaji selagi masih muda. Terima kasih apresiasinya, ananda Fanny. Salam akhir pekan.

      Hapus
  4. kuat fisiknya.....sehingga bisa berjalan berkilometer....
    Terimakasih telah berbagi pengalaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mas Tanza. Terima kasih juga telah singgah.

      Hapus
  5. perjalanan haji memang memberikan pengalaman luar biasa ya ya bu nur
    semoga saja juga bisa berhaji..
    amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, Mas Ikram. Asal ada niat, pasti terlaksana. Terima kasih telah singgah, salam sehat selalu.

      Hapus
  6. Iya Bu Nuraini, terima kasih sudah sharing pengalaman hajinya
    Dari sekian artikel yang saya baca, tulisan Bu Nur menjadi oase dan pengingat untuk saya dan suami menabung haji
    Semoga dimampukan untuk haji furoda
    aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga niat berhajinya terwujud ya, Mbak.

      Hapus
  7. Lhoo Nenda, tahun 2009 ortu saya juga ke tanah suci, tapi berangkat dari Jatim.

    Semoga Nenda sekeluarga murah rezeki sehingga bisa umroh atau haji ONH plus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang waktu itu kita belum kenal ya ananda. Di Mekah sering lho, Nenda ketemu dan ngobrol sama jamaah dari Pulau Jawa. Terima kasih telah singgah. Selamat malam

      Hapus
  8. Masya Allah, terima kasih sudah berbagi pengalaman, bunda. Mudah2an kami juga ada kesempatan untuk beribadah ke sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada niat dan berusaha, insyaallah tercapai, ananda Naia. Bunda juga tak menyangka bisa melaksanakan haji. Selamat malam, doa murah rezeki untukmu di sana. Semoga bisa pergi berhaji.

      Hapus
  9. Waw, memeang pengalaman yang tak terlupakan ya bu Nur. Apalagi bisa pergi Haji bersama suami tercinta. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kembali ananda Supriadi. Benar. Bahagianya kayak penganten baru. Gak bohong lho. He he ...

      Hapus
  10. Masyaa Allah, semoga bisa segera naik haji jg dan ngerasain ibadah bareng muslim lain di tanah yang Allah ridhoi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Terima kasih telah mampir, Mas Allamandawi.

      Hapus
  11. Ibadah haji ini memang ibadah fisik juga ya Bund. Tetapi meskioun lelah, rasa nikmat dan syukur selalu menggema dalam hati. Apalagi sekarang antriannya puluhan tahun. Ikut deg2an saya waktu cerita naik lift sendiri. Semoga kita semua diberikan umur panjang dan kemudahan untuk beribadah haji, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. "... meskipun lelah, rasa nikmat dan syukur selalu menggema dalam hati." >>> nah, itu yang membuat banyak orang kecanduan pergi haji.

      Deg2an banget ananda. Andai ketemu satu satu di lif dan jika mereka punya niat salah, gampang. Mereka bisa saja nyeret kita ke ruang bawah tanah. Siapa yang tahu, coba!

      Hapus

      Hapus
  12. Inspiratif banget kisahnya bunda
    Aku jadi pengen juga bisa berhaji
    Semoga bundabjuga dimudahkan kembali kesana lagi ya

    BalasHapus
  13. Alhamdulillah bisa mengunjungi kakbah ya mbak, harus benar-benar di syukuri.

    BalasHapus
  14. Nenek....semoga selalu sehat ya, Nek. Lama tidak mampir ke blog Nenek ini. Membaca pengalaman nenek berhaji saya jadi ikut deg-degan ya, Nek.

    Semoga saya dimampukan berhaji dalam kondisi sehat jiwa raga, tidak perlu menunggu tua untuk bertamu ke rumah Allah.

    BalasHapus
  15. Maa syaa Allaah pengalaman yang sangat berkesan ya, Nek. Lumayan ekstrim juga nih berjalan sampai sejauh 16 km. Saya gak kebayang jauhnya perjalanan yang ditempuh. Bagi saya turun lift sendiri juga termasuk hal yang ekstrem apalagi pengalamanbga di sana. Tapi apapun itu merupakan suatu kesyukuran bisa naik haji.

    BalasHapus
  16. Masya Allah barokallah ya Nek. Alhamdulillah sudah berhaji dua kali. Semoga Allah mampukan saya ke baitullah. Amiin Allahumma Amiin 🤲

    BalasHapus
  17. Betul Bunda..
    Sepemikiran dengan Papah mertua. Waktu itu beliau berkata "Kalau haji di usia muda, harapan ketika berdoa tuh masih panjang menikmatinya. Sedangkan haji di usia tua, selain sudah kesulitan dalam hal mobilitas, juga terkadang terkendala masalah kesehatan, jadi gak bisa lama menikmati doa yang mungkin dijabah Allah."

    Dari sini, anak-anak Papah sudah haji semua, Bunda.
    Alhamdulillah..

    Kini mohon doanya Bunda.
    Kami sedang menanti giliran kami setelah tertunda pandemi selama 2 tahun.

    Barakallahu fiik untuk kisah manisnya, Bunda.
    Memang pengalaman berhaji ini tiada dua yaa, Bun. Membuat ingin kembali dan berlama-lama di Baitullah.

    BalasHapus
  18. baca judulnya aja langsung nangis ya Allah, semoga segerakan saya bisa pergi ke tanah suci, umroh dulu lalu berhaji, semua orang sellau bilang kalau sudah di sana pengen berlama-lama

    BalasHapus
  19. Iya ya mba...ketika masih muda, semua rangkaian ibadah bisa dijalani dengan fisik prima

    BalasHapus
  20. Masya Allah, membaca ini mengaduk-aduk perasaan. Semoga Allah segera mampukan saya untuk bisa beribadah ke tanah suci... aammiin.

    BalasHapus
  21. Masya Allah ... jalan kaki 16 kilometer itu memang sudah tahu akan dilalui, atau setelahnya baru diketahui, Bu Nur? Luar biasa ya, tidak terbayangkan, malah jadi motivasi untuk tetap kuat.

    BalasHapus
  22. Ibuuuu, terharu baca pengalamannya, makasih sharingnya Bu, semoga saya juga bisa merasakan haji maupun umrah, jika Allah menghendaki, insha Allah diizinkan mengunjungi Baitullah, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada niat insyaallah tercapai ananda. Kini mungkin rasanya tak mungkin, ke depannya belum tentu. Karena zaman dan kehidupan berkembang dinamis. Orang berpendidikan sepertimu pasti berusaha supaya hari esok lebih baik dari hari ini.

      Hapus
  23. Ya allah mbak beneran 16 km? Panjang banget jalannya. Beneran kudu kuat fisik ini mah. Hiks. Sungguh perjuangan ya berhaji itu. Alhamdulillah mbak sudah merasakannya. Doakan saya dan suami juga bisa berhaji ya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perjuangan meraih ridhoNya punya nikmat dan kepuasan tersendiri ya, Mbak. Amin. Semoga doa Mbak di ajabah Allah.

      Hapus