Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Simak! Berurusan di Kantor Enaknya Lewat Calo atau Langsung

Ilustrasi Berurusan di Kantor (Sumber Foto: Tangkapan layar IG @donapiscesika)

Kenapa harus lewat calo? 

“Lewat  calo apa urus sendiri, Bu?” tanya HF saat saya melengkapi bahan untuk keperluan mutasi Kartu Sehat  Indonesia  atas nama suamiku. Dari sebelumnya sebagai peserta PNS aktif ke anggota  pensiunan.  

Saya balik nanya, “Enaknya bagaimana?” 

“Pengalaman saya, daripada menghabiskan biaya ratusan ribu, bolak balik sampai 2-3 kali, titipkan saja sama calo,” tambah  pemilik usaha foto copy  itu.

Bapak 2 anak tersebut menceritakan pengalamannya ketika berusan di kantor pemerintah Kabupaten kami. “Data sudah komplet, persyaratan terlampir. Tahu-tahu, oknum pegawainya bikin salah,” keluhnya. 

Besoknya saya ulang lagi, bagian  yang salah saya lingkar pakai spodol merah. Eh ... salah lagi, masih poin yang sama. Padahal dia tinggal mindah data yang sudah saya isi lengkap. Urusan yang seharusnya selesai  beberapa jam, jadi 3 hari.

“Spontan,  saya marahi oknum tersebut. Sampai-sampai  bosnya keluar mendekati saya dan minta Maaf. Saya terbiasa berurusan di Sumbar sana, Bu. Masalah seperti ini bisa selesai kurang dari  1 jam,” tambahnya. 

“Berapa  kost yang harus saya bayar.  Sekali  ke sana 100 ribu, biaya bensin,  belanja makan, dan tetek bengek lainnya. Tiga  kali,  300 ratus ribu. Belum lagi di segi waktu.” 

Minta diaktifkan KIS malah disuruh ganti

Lain kisah HF beda pula dengan masalah suami saya. Beberapa bulan lalu dia minta medical cek di Puskesmas, pakai kartu BPJS kesehatan. 

Karena selama pensiun 10 th tak pernah  digunakan, ternyata kartu KIS-nya sudah terblokir.  Mungkin Pihak Askes mengaggap beliau sudah meninggal.

Karyawan Puskesmas tersebut  memberi saran, supaya diaktifkan kembali di kantor Askes.  

Anehnya, oknum pegawai Askes malah mau mengantinya jadi KIS Khusus Pensiunan, dengan melampirkan beberapa persyaratan.  Antara lain KTP dan Kartu Keluarga. Padahal, kartu tersebut dikeluarkan tahun 2019,  lima tahun setelah pensiun.  

Rantai kerumitannya bertambah panjang

Tiga hari kemudian kami ke sana lagi. Setelah diperiksa, eh ...,  nomor  NIK (Nomor Induk Kependudukan) di KTP  beda satu angka dengan yang tercantum pada  Kartu Keluarga.  Sang pegawai Askes minta supaya kami memperbaikinya di Catatan Sipil. Duh ..., Rantai kerumitannya bertambah panjang.

Lolos di BKN, nyangkut di Askes Kabupaten

Saya tak habis pikir, kok tidak lolos. Padahal, KTP elektronik keluaran 2012 tersebut sudah bertahun-tahun dia pakai untuk segala keperluan. Mulai mengajukan pensiun ke BKN, ambil SIM,  naik pesawat dan sebagainya, tak  pernah nyangkut. Termasuk dasar dia memperoleh KIS yang akan diganti ini.

Ya sudah. Harus bagaimana lagi. Saya konfirmasi salah satu orang Capil. Apa saja bahan yang harus dilengkapi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jawabnya, “Siapkan foto copy  A, B, C, dan D,  Bu.”

Kalau mudah pakai jasa calo, ngapain urus sendiri

Kini bahan-bahan  tersebut telah standby.  Tinggal  menghadap ke Catatan Sipil, yang jaraknya kurang lebih 35 km PP dari kediaman saya. 

Setelah dipikir-pikir, saya dan suami  setuju dengan saran HF kemarin. Kalau mudah pakai jasa calo, ngapain urus  langsung. Buang-buang waktu, menghabiskan energi, Boros biaya pula. Sekali ke sana, minimal kami berdua mengeluarkan duit Rp 100 ribu. Andaikan tak bisa tuntas satu hari biayanya tambah lagi. Sebab,  masalah  KTP biasanya tidak bisa sekali jadi.

Susahnya, si cowok gantengku tidak sabar dengan hal rumit begini. Jadi, ke mana-mana harus berdua. Tentu dananya doble. 

Tahap pertama di Kantor Askes kami sudah bolak balik 2 kali, urusannya belum  juga kelar. Malah merembet ke NIK. 

Belum tahu entah apa pula  halangannya di Capil kelak.  Takutnya disuruh ganti KTP. Sebab Usia KTPnya telah 10 tahun. Dan tiada tercantum masa berlakunya seumur hidup. Meskipun usia beliau sudah 70 tahun.  Duh .... Tentu harus minta pengantar dari Kepala Desa. Subhanallah. Ya wes .... Enaknya lewat calo saja. 

Ini belum termasuk kelanjutan  urusan pokoknya. Yakni mutasi KIS  PNS ke KIS Pensiunan.

Penutup

Begitulah  wajah birokrasi  di negeri ini sejak era merica sampai ke zaman ketumbar. Ha ha ....

Pelayanan oleh aparatur negara yang seharusnya berpihak kepada masyarakat masih jauh dari harapan. Katanya sudah dilakukan reformasi birokrasi, tapi tetap saja pakai cara basi.

Demikianlah alasan kenapa  urusan di kantoran lebih nyaman lewat  calo  daripada melakukannya sendiri. Semoga bermanfaat. 

Baca juga: 

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS

21 komentar untuk "Simak! Berurusan di Kantor Enaknya Lewat Calo atau Langsung"

  1. Memang lebih mudah urusan seperti itu lewat calo Bu, soalnya pakai duit. Kalo misalnya ngurus sendiri habis 100 ribu, lewat calo cuma 110 ribu kasih saja Bu. Beda 10 ribu buat amal.😁

    Aku pernah tanya, urus KTP lewat calo 50 ribu, karena sayang aku urus sendiri, ternyata cuma habis 20 ribu, tapi ditambah ongkos bensin dan makan di warung habisnya 50 ribu juga.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terbukti, bukan? Ha ha .... Itu cuman sekali urusan langsung tuntas. Andaikan ada halangan? Bahan A yang kurang, bahan B yang tidak lengkap? Bisa dua atau tigakali bolak balik. Kalau lewat calo, yang kurang bisa dilengkapinya sendiri. terima kasih telah mengapresiasi, Mas Agus.

      Hapus
    2. Tapi aku nyoba sendiri itu buat pengalaman sih Bu, jadi tahu ternyata ngurus KTP tidak terlalu ribet. Sebelum berangkat pastikan tanya dulu ke pak RT syaratnya apa saja biar gak bingung

      Hapus
    3. Di sini walau persyaratannya lengkap dari desa, ngurus ktp tak bisa sekali jadi. Di capil nunggu besoknya baru siap. Selamat pagi, Mas Agus. Maaf telat merespon.

      Hapus
  2. kalau tidak ada waktu memang mengurus lewat calo menggiurkan
    tapi sekarang sudah banyak kantor yang memasang anti calo
    jadi ya kadang mengurus sendiri jauh lebih mudah ya bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Jawa birokrasinya memang lebih tertib ya, Mas Ikrom. Di sini belum. Meskipun ada juga yang pelayanannya agak bagus. Tapi termasuk langka.

      Hapus
  3. kalau saya, sukanya pakai calo waktu di Indonesia.....
    cepat dan beres.... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaknya begitu. Mas. Kami juga sering begitu. Kecuali urusan pertanahan (sertifikat).
      Takut dipalsukan.

      Hapus
  4. Kalo saya liat situasi Nek 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di sana mungkin tidak terlalu ribet seperti di sini ya, ananda.

      Hapus
  5. Baru sempat berkunjung ke blog ini. Di kita, apa-apa sudah berpikiran birokrasi yang ribet. Ternyata jika dipelajari dan tau tipsnya memang lebih mudah. Cuma jalur resmi ini ya harus sabar saja menghadapi antrean hehe...

    BalasHapus
  6. Setuju, Pak Vicky. Mungkin sayanya yang kurang sabar. Maklum jarak ke kantoran sekarang udah jauh 70 km pp. Kerena kami baru pindah ibu kota Kabupaten. Kantor Askes masih dekat. 30 km pp. Capil 40 km pp.

    BalasHapus

  7. Warisan Petani commented on "Simak! Berurusan di Kantor Enaknya Lewat Calo atau Langsung"
    20 hours ago

    "Kalau boleh urus sendiri lagi bagus."

    Maaf, Wak Petani. Komen Wak tak muncul di kolom komentar. Mungkin blog saya ini sedang bermasalah.

    BalasHapus
  8. banyaknya sih pada make calo..dikarenakan waktu serta tempat yang tidak dekat dari rumah , ditambah antrian yang bikin males....resikonya biaya lebih bengkak..D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas. Karena jarak yang jauh. Rumah saya 70 km pp dari perkantoran/pemerintahan. Kalau berulang2 untuk satu urusan, enak pakai calo saja. Terima kasih telah mampir. Selamat sore.

      Hapus
    2. ya alloh jauh banget 70km..iya sih mending make cara pintas..sehat terus , sama sama..makasih juga sudah visit back kemarin

      Hapus
    3. Terima kasih kembali, Mas Satriyo. Selamat malam.

      Hapus
  9. Saya belum pernah sih mengurus hal seperti ini lewat calo...alhamdulilah saya pernah ngurus ktp, kk, akte, surat NA buat nikah sampai ngurus tilang polisi saya lakukan sendiri....eh tapi ada sih yang pakai calo...yaitu pas bikin sim...2x ngurus sendiri gagal terus pas testnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya memang begitu, Mas. Tapi, karena kondisi, mau tak mau harus lewat calo. Mengingat kebiasaan urusan yang berbelit2, jadi kapok. He he .... Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  10. Kalo saya lihat, dan denger cerita papa juga yg tinggal di Medan, birokrasi di daerah memang masih ampun2an ya bunda. Kalo Jakarta dan mungkin Jawa, rata2 udah lumayan bagus, walopuuuuuun terkadang kalo lagi males ngurus, sayapun pernah pake calo 🤣. Tapi lebih Krn, ga ada waktu ngurusnya . Bukan Krn birokrasi. Salah satunya kayak bikin pasport, bikin Visa, itu saya prefer calo aja. Palingan saya DTG pas waktunya interview.

    Semoga sih ini birokrasi makin teratur, ga ribet, walopun kayak pungguk nunggu rembulan ya bunda 🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sistim birokrat kita susah untuk berubah, ananda. Karena sudah mendarah daging. Khusudnyz mungkin fi temp tabunda. Hari ini bunda berurusan lagi di kantor tertentu. Duh Emakaaak .... Bikin pusing. Padahal di lembaran lain bukti yang diminta telah tertera nyata. Masih juga dia minta surat sejenis. Habis gimana lagi. Kita yang tingkat akar rumput harus nurut. Terima kasih telah mampir, ananda, Dalsm sayang selalu.

      Hapus