Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

2 Desa Ini Mendadak Terkenal, Gara-Gara Helikopter Jatuh di Bukit Tamiai Kerinci

Ilustrasi Penyelamatan korban kecelakaan Helikopter di Bukit Tamiai (Posko penyelamatan 2 di Jembatan Payung, Cuaca sempat sedikit cerah)

Gara-gara Helikopter jatuh, desa  Tamiai dan Muara Emat mendadak terkenal sampai ke tingkat nasional. Lucunya,  kedua daerah ini mendapat beberapa  nama baru.

Fenomena ini berawal dari beberapa  host  televisi  kepeleset lidah,  tatkala mewartakan kecelakaan helikopter yang terjadi, di hutan wilayah Bukit Tamiai, Muara Emat,  Kecamatan Batang Merangin, Kerinci, Jambi.

Nama-nama baru untuk Desa Tamiai dan Muara Emat. 

Untuk desa Tamiai, ada yang  mengartikulasikan Tamia,  ada pula Tami-a, (“a” terakhir diucap terpisah dari “mi”. Jadinya Tami-a.  Huruf  “i”  di belakngnya tercecer ).  Host lain menyebutnya Tami-ai  (“ai” terpisah).

Padahal pelafalan sesungguhnya biasa-biasa saja. Tamiai. (“ai” diseret langsung bersama mi. Sekilas terdengar seperti  Tamiyai). 

Plesetan senada juga  terjadi pada nama desa “Muara  Emat”.  Beda host peda pula cara pengucapannya. Mulai Muara Emat,  Mara Imat,  Mara Amat,  Muara Amat, sampai keseleo jadi   Muara Mat.  He he .... Lumayan juga buat lucu-lucuan.  Kasus tersebut hanya berlangsung 2 hari  pasca kecelakaan. Selepas itu normal kembali. 

Heli  mendarat darurat, semua penumpangnya selamat termasuk Kapolda Jambi

Ilustrasi Penyelamatan korban kecelakaan Helikopter di Bukit Tamiai (Cuaca pagi gelap berawan di daerah Tamiai, Selasa, 21 Februari 2023)

Sebagaimana kita ketahui bersama, Minggu 19 Februari lalu, sebuah helikopter mendarat darurat  di kawasan hutan Bukit Tamiai, Muara Emat,  Kerinci.  Pesawat hancur bekeping-keping, 8  penumpangnya selamat, meskipun mengalami cidera parah.  

Mereka  adalah, 3 kru, 5 rombongan Kapolda Jambi Irjen Pol Rusdi Hartono yang hendak mengadakan kunjungn kerja di Kabupaten Kerinci.

Terbang dari Sulthan Thaha Jambi pukul  09.25 WIB, menuju Bandara Depati Parbo Kerinci. Jam 11.02 Posko Polda Jambi mendapat laporan dari kru, bahwa Pesawat jenis Bell 412 SP, nomor  registrasi P-3001 itu mendarat darurat akibat cuaca buruk.

Titik koordinat jatuhnya pesawat ditemukan

Senin 20 Februari  pukul  07.40. Tim SAR gabungan TNI, polri dan Basarnas  menemukan titik kordinat jatuhnya pesawat.Yakni, S20 9'  3.53"  E1010  42' 12,63" desa Tamiai.  

Namun Heli  Beel milik 429 milik polri yang mereka gunakan tak bisa mendarat karena cuaca yang tidak mendukung. Tim hanya berhasil menjatuhkan logistik di lokasi kejadian. 

Dengan bantuan alat GPS, hari itu juga (Senin) pukul 11.00 menjelang siang, Tim evakuasi darat sampai di lokasi,  setelah berjalan kaki 21 jam. Rombongan dipimpin Kapolres Kerinci, AKBP Patria Yuda Rahadian, dibantu masyarakat setempat. 

Hutan Hijau yang tak pernah dijamah manusia

Ilustrasi Penyelamatan korban kecelakaan Helikopter di Bukit Tamiai (Cuaca gelap berawan pagi menjelang siang di Batang Merangin, Selasa 21 Feb 2023)

Kebetulan lokasi jatuhnya heli yang ditumpangi rombongan Kapolda Jambi  Irjen Pol Rusdi Hartono itu,   satu kawasan dengan  kebun kami. Penasaran dengan berita  berbagai media, kemarin (Selasa) saya ajak cowok gantengku ke kebun sekalian jalan-jalan ke posko penyelamatan di Jembatan Payung Desa Batang Merangin.

Dari masyarakat setempat  saya sedikit tahu kondisi titik jatuhnya Pesawat. Menurut mereka, sebenarnya posisinya tidak terlalu jauh. Tetapi medannya  sangat ekstrim. Berbukit-bukit dan  lereng-lereng yang terjal. Untuk ke sana butuh waktu 2 hari jalan kaki. Paling tidak 1 hari, bagi orang yang berpengalaman beraktivitas di hutan. 

“Kami di sini menyebutnya hutan hijau. Ia termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat. Rimbanya lebat pepohonnya besar.  Belum ada dalam sejarah orang  yang berani datang ke sana.” Kata salah satu penduduk Tamiai. 

3 hari terakhir cuaca Kerinci tidak bersahabat

Evakuasi korban sempat terkendala cuaca.  Sejak hari pertama sampai hari ke 3 pasca insiden, helikopter  tim penyelamat beberapa  kali gagal mendarat di lokasi. Evakuasi jalur darat tidak memungkinkan.

Kemarin saya sendiri nyaris putus asa. Pasalnya, dari pagi langit Tamiai dan Batang Merangin umumnya gelap. Terutama di daerah yang diprediksi Bukit Tamiai,  sebagai titik jatuhnya pesawat.  Kira-kira pukul 09.00 hujan turun lumayan lebat. Sorenya baru agak cerah, tetapi sesekali gerimis-gerimis kecil, kemudian cerah dikit, terus mendung lagi.

Evakuasi berlangsung dramatis 

Ilustrasi Penyelamatan korban kecelakaan Helikopter di Bukit Tamiai. (Kondisi polda Jambi, Irjen Pol Rusdi Hartono, hari ke 2 di lokasi kecelakaan helikopter di Bukit Tamiai Kerinci. Foto Brimob Jambi. Diadopsi dari jambiekspres.co.id

Berkat doa kita semua, Selasa sore, di tengah cuaca yang tidak menentu itu (kadang terang, seketika gelap ditutup awan), tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban satu persatu dari lokasi kecelakaan melalui jalur udara. 

Evakuasi menggunakan helikopter Super Puma H 3211 milik TNI Anggkatan Udara, dilengkapi peralatan hoist tanpa harus mendarat. 

Penyelamatan  korban berlangsung dramatis. Dalam video yang ditayangkan oleh beberapa saluran televisi, tampak proses evakuasi Kapolda Jambi Irjen Rusdi Sartono  sangat menantang dan mengerikan.  

Petugas memeluk erat tandu berisi korban (Kapolda Jambi), meskipun terombang-ambing  dan  berputar-putar 360 derajat ditiup angin, sebelum dinaikkan ke heli penyelamat.  Petugas dimaksud adalah  Kopda Ahmad Nofrizal Prajurit Batalion Komando Kopasgat Pekanbaru.

Kini semua korban telah mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Bayangkara Jambi. Kabar terakhir dari beberapa media, siang tadi Kapolda Jambi dan Asistennya diterbangkan ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Polri Keramat Jati. Keduanya terbilang kronis. Tetapi  luka paling parah dialami Pak Kapolda. Tangannya patah, tulang punggungnya remuk. 

Penutup

Sebelum bertemu tim evakuasi darat tepatnya malam pertama nginap di hutan Bukit Tamiai, tak terbayang betapa  beratnya perjuangan 8 korban itu untuk bertahan hidup di tengah cuaca ekstirim. 

Gelap gulita tanpa penerang, nyamuk berjibaku, cuaca yang dingin menggigit. Jangankan di hutan, dalam rumah pun suhu Kerinci pada waktu-waktu tertentu pernah mencapai 16 derajat Celcius. Belum lagi ancaman hewan buas yang jika kebetulan bertemu, pasti penasaran ingin mencicipi bagaimana sedapnya darah manusia. 

Peristiwa ini,  mengingatkan saya pada gurauan cucu saya Ratu. Dia  pernah bilang  kalau dirinya berani pulang  Kerinci sendirian numpang pesawat dari Jambi. “Nenek jemput Ratu di Bandara,” katanya. Saya menolak keras. Waktu itu dia baru kelas 5 SD.  

Kejadian jatuhnya heli ini bisa jadi pembelajaran bagi kita orang tua, supaya jangan sekali-kali mengizinan anak kecil naik pesawat  tanpa didampingi. Sekalipun atas nama dititip pada orang dewasa. 

Baca juga: 

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

13 komentar untuk " 2 Desa Ini Mendadak Terkenal, Gara-Gara Helikopter Jatuh di Bukit Tamiai Kerinci"

  1. Nama desanya langsung viral ya Bu, ada desa Tamiya eh Tamiai sampai muara amat eh emat. Kirain aku muara Empat.😁

    Syukurlah semua penumpang selamat.πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Agus. Memang sering begitu. Lubuk Aluang mereka baca Lubuk Alu-ang. He he ....

      Hapus
  2. Saya kalo baca berita tentang kecelakaan pesawat atau heli jatuh suka merinding bund..karena ada beberapa kejadian seperti ini yg sering terjadi,menimbulkan trauma bagi korban yg selamat...semoga mereka di beri kekuatan dan kesembuhan ...amiiin...nama desanya langsung jadi terkenal ya bund ...ada hikmah positif di balik musibah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya tak ada yang meninggal. Apa jadinya di hutan korban bebaur dengan mayat. Pasti harimau akan datang karena mencium bau busuk.

      Hapus
  3. Semoga pak kapoldanya bisa pulih lagi yaaa. Saya ngilu baca yg tulang punggungnya remuk bunda πŸ˜”.

    Tadi sebelum baca nama2 baru utk tempatnya, saya juga siwer, muara emat, malah saya baca muara empat πŸ˜….

    Yg saya takutin tiap kali terbang, ya kecelakaan seperti ini. Kebayang aja, itu para korban selamat jadi trauma terbang kayaknya Yaa πŸ˜–

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kabarnya beliau (apak Kapolda Jambi), kondusinya kian membaik, ananda Fanny.

      Iya, sebenenarnya jalan darat dan udara sama2 berisiko ya, ananda. Tapi membayangkecelakaan pesawat itu lebih mengerikan. Coba kayak rombongan Pak Kapolda Jambi ini. Jatuhnya di hutan balantara. Untung peswatnya tak langsung meledak. Terima kasih telah singgah, ya. Selamat siang.

      Hapus
  4. Terima kasih untuk informasinya Bu Nur, jadi tahu tentang daerah Kerinci.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Pak Eko. Terima kasih juga telah hadir.

      Hapus
  5. semoga semua yang kritis cepat sembuh kembali.... Aamiin YRA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Begitu harapan kita semua. Terima kasih telah singgah, Mas Tanza.

      Hapus
  6. syukurlah masih selamat.

    jadi parno

    BalasHapus
  7. Ini dekat Tempat saya, Semoga Para Korban Di Berikan Kekuatan Untuk Menghadapi cobaan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Kalsu boleh tahu tepatnya Mas tinggal dimana?

      Hapus