Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Andai Kutahu Akan Begini, Salat Idul Fitri Enak di Desa saja

Ilustrasi Salat Idul Fitri di Lapangan Merdeka Sungai Penuh

Salam Idul Fitri sobat blogger, mohon maaf lahir batin. Karena sibuk, lama blog ini tak tersentuh.  Di Jumat barakah ini saya hadir untuk curhat, tentang pengalaman Salat Idul Fitri 1 Syawal 1444 lalu. 

Salat Idul Fitri di Luar Kabupaten

Langsung aja ya temans.  Lebaran tahun ini  kami sekeluarga menunaikan salat Idul Fitri ke kota Sungai Penuh. Lima belas  kilometer dari kediaman  kami,  Desa Simpang Empat Tanjung Tanah.  Judulnya, Salat Eid di luar Kabupaten Kerinci. He he ... . Keren kan?

Pukul  7.20 kami sudah sampai di  Lapangan Merdeka, di sanalah salat akan digelar.  Jamaah belum banyak. Kami pilih tempat  agak ke pinggir. Kata putriku,  biar adem karena banyak pepohonan.

Kurang lebih 20 menit, area hijaudi tengah kota  itu dibanjiri  lautan manusia, hingga  tumpah ruah ke jalan raya di depan telekom, meluber ke Bank Jambi

Bertahan dalam panas eksrim

Menjelang salat dimulai, takbir dan tahmid mengalun syahdu.  Memuja  Sang khalik Rabbil Izati.  Tiba-tiba matahari  bersinar garang, pedih di kulit, silau di mata. Barangkali inilah yang debut-sebut  panas ekstrim yang sedang  melanda sebagian dunia saat ini. Jamaah mulai gelisah. 

Alhamdulillah tubuh saya masih kuat menantang kodisi. Meskipun keringat mengalir di sekujur tubuh. Dalam hati saya menyesal. Jauh-jauh  dari desa, memasrahkan diri berpanggang matahari.

Padahal  setiap tahun, di tempat kami salat Idul Fitri berlangsung tertib, dilaksanakan dalam masjid. Hanya 500 meter dari kediaman saya.  Kegiatan berlangsung sesuai jadwal. No kata sambutan, No pengumuman, tiada berhalo ria mengarahkan petugas mengumpulkan infak sadaqah. Cukup diwakili oleh kotak amal yang diedarkan pada seluruh jamaah. 

Pidato Wali Kota panjang kali lebar

Pukul 08.18 WIB, Pak Wali Kota  yang ditunggu-tunggu rakyatnya  baru muncul.  Yang bikin jengkel, bukan menyegerakan  Salat Eidnya.  Dia malah menyampaikan  sambutan panjang lebar, mengupas berbagai masalah yang seharusnya tidak pantas dibicarakan di momen Idul Fitri. Mana pidatonya kurang jelas versi  saya,  karena kejauhan dan pengeras suaranya agak demam. 

Wali Kota diteriaki Emak-emak

Puas berpanas-panasan, sekelompok emak-emak berdiri dan berteriak rame-rame.  “Uuuu .... Turuuuun ....!”  

Orang nomor satu di Kota Sungai Penuh itu turun mimbar. Saya  tidak menghiraukan apakah begitu diteriaki dia langsung turun mimbar atau sempat menutup pidatonya secara prosedural. Allahu alam bish shawab.  Sebab, saat itu saya  fokos melindungi ubun-ubun dari sengatan matahari. 

Menurut suami saya, yang shaufnya berada di tengah lapangan, kelompok bapak-bapak juga banyak yang ngomel-ngomel. Tetapi tidak berteriak seperti emak-emak. “Sudahlah Pak!  Panas. Sudahlah Pak!  Panas. Kalau mau berpidato yang panjang, harusnya Bapak datang lebih pagi.”  

Siksaan belum berakhir

Salat Idul Fitri segera dimulai. Siksaan belum berakhir. Pak Imamnya baca ayat lumayan panjang. Meskipun tidak panjang benaran.  Tapi cukup mengganggu kekhusukan  ibadah.  Suami saya cuman sanggup berdiri pada rakaat pertama.  Kemudian dia sudahi sambil duduk.  Kalian bisa  memprediksi sendiri, kira-kira pukul  berapa Salat Eidnya selesai.

Jamaah tidak care  dengan  khotbah 

Usai salat, Khatib segera naik mimbar membacakan khutbah.   Sebagian besar jamaah meninggalkan area.  Mereka tidak care dengan materi khutbah.  Banyak pula yang berswafoto di tempat yang teduh.   Sebagian lainnya masih sanggup bertahan.  Kalian bisa menebak golongan mana saja yang bisa bertahan dalam keterpaksaan begitu. 

Melunasi Janji yang Telah Usang

Ilustrasi Salat Idul Fitri di Lapangan Merdeka Sungai Penuh

Mungkin ada yang penasaran, Kok si nenek ini mau ya? Sekadar salat Idul Fitri 2 rakaat,  harus jauh-jauh ke luar daerah. Kayak kurang kerjaan. Jawabnya, demi janji yang belum terlunasi. 

Begini ceritanya: Semasa punya anak satu, saya bermimpi  suatu saat bisa punya kendaraan. Saking pengennya, sampai berjanji pada diri sendiri.  Andaikan saya dapat beli motor baru, saya ajak suami  salat Eid di Kota Sungai Penuh naik motor. Minimal satu kali seumur hidup. Beliau (suami) mengamini. 

Luapan rasa capek tak terhingga

Sekilas janji  tadi merupakan cita-cita konyol bin pandir, yang tak lebih dari  luapan rasa capek tak terhingga.  Sebab, zaman itu setiap hari saya ke sekolah jalan kaki sejauh 3 kilometer PP. Hujan dan panas adalah sahabat karib yang menemani sapanjang hari.  Dan yang paling  melelahkan  meniti jalan dalam kondisi  hamil tua.   

Tahun 1986, saya berhasil beli motor dengan cara nyicil. Sebuah Honda Astrea  M 1 warna merah.  Senangnya bukan kepalang. Ha ha .... 

Sayangnya, setelah itu saya dan  suami  tak pernah saling mengingat kapan melunasi janji salat lebaran ke Kota Sungai Penuh. Bukan berarti  lupa, atau dilupa-lupakan, begitulah fitrahnya manusia. Royal  berjanji. Setelah keinginannya tercapai, janji  tinggal janji, syukur-syukur tidak lupa diri.  

Recuest ke anak dan suami

Kini  tahun telah bergulir ke angka  2023. Ikrar yang  pernah saya sabdakan tersebut sudah berlalu 40 tahun. Motor yang dibelipun tinggal kenangan karena telah pergi bersama rohnya.

Entah malaikat apa yang menggerakkan lidah saya, sehari sebelum lebaran saya  recuest ke  anak-anak dan suami, minta salat Idul Fitri tahun ini ke Lapangan Merdeka Sungai Penuh. Mereka menyetujui.

Demikian curhatan tentang Salat Idul Fitri ini ditulis sebagai pengingat janji  lama yang telah usang.  Semoga inspiratif.  

 Baca juga:  

*****

 Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

35 komentar untuk "Andai Kutahu Akan Begini, Salat Idul Fitri Enak di Desa saja"

  1. Ternyata harapan tak seindah kenyataan ya bund heheheh

    Memang kadang kutbah yg ceramah suka kepanjangan bund..atau bacaan solat kepanjangan..jemaah malahan jadi ga khusuk solatnya..ujung"nya hari raya yg harusnya jadi ajang bermaafan malahan bikin kita emosi😁..mohon maaf lahir dan batin ya bundπŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Padahal, rasul mengajarkan, supaya saat berjamaah, imam tak boleh baca ayat terlalu panjang. Kecuali salat sendirian di rumah. terima kasih telah mengapresiasi, ananda. Selamat idul fitri

      Hapus

      Hapus
  2. di tempat saya mbak sholat idul fitri engga sampai sejam, tempanya juga enak di dalem masjid, bacaan surat-suratnya engga panjang :D, yah mau bagaimana lagi itu udah janji yaa, kalo di agama itu seperti nadzar gitu ya mbak, memang harus di teoati sih, nanti takutnya ejadian yang engga2 meski udah 40 tahun lamanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Khanif. Ini udah jadi pengalaman. Jangan terlalu mudah berjanji. Sebab janji itu sama dengan hutang. Bayar hutang termasuk salah satu hal yang susah dilaksanakan. Terutama utang pada diri sendiri. Tiada yang menyaksikan.

      Hapus
  3. Alhamdulillah saya dan keluarga salat id tinggal loncat dari rumah, karena masjidnya tepat di samping rumah.. hehe
    Diantara hecticnya salat Id versi Bunda, tak lupa saya mohon maaf lahir batin dari segala kekhilafan selama kita silaturahmi online selama ini

    BalasHapus
  4. Biasanya bunda juga salat eid di masjid dekat rumah, ananda. Kemarin tuh karena melunasi janji. Terima kasih telah mengapresiasi, selamat idul fitri. Maaf juga lahir dan batin.

    BalasHapus
  5. Emak emak memang makhluk terbuat di muka bumi hehe
    Saat korban, saay pulang
    Maklum tak kuat nahan ngantuk
    Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ..... Rata2 kaum Adam memang begitu, ananda. Tapi mereka punya segudang kelebihan yang tidak dimiliki oleh kaum hawa.

      Hapus
  6. Duh Mbak, sampai berkendaraan sejauh 15 km ya demi Shalat Ied.
    Mestinya memang pidato dari Wali Kota gak terlalu panjang kalau acara ritual begini ya Mbak.
    Dan bacaan surat nya panjang pula... mestinya imam bijak dengan memperhatikan kondisi jemaah...

    Mohon maaf lahir dan batin ya Mbak.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidak diteriaki emak2 mungkin pidatonya sampai satu jam. Bisa2 ada jamaah yang pingsan. Selamat Idul Fitri juga Mas Asa. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  7. Dengan kondisi spt itu seharusnya disesuaikan ya. Jadi banyak yang gak fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya mereka tidak pedulu dengan kegrlisahan jamaah, Mbak. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam Idul fitri.

      Hapus
  8. Semoga tahun depan tidak terulang lagi kejadian seperti itu, mohon maaf lahir dan batin nek πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda. Mohon maaf juga lahir dan batin.

      Hapus
  9. Paling lelach kalo khutbahnya lamak. Udah gak fokus, dtanbah panas banget makin susah fokusnya ... Bising pula hihi

    Minal aidzin walfaidizin juga, bund

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Insyaallah, tahun berikutnya tak terulang lagi.terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
    2. πŸ˜‚iya, pdhal mah jamaah dh gelisah, inget opor ayam, baju baru, sungkeman, yg khutbah makin khusyu hehhee

      Hapus
    3. Ha ha .... Setuju. Mbak Keza. Selepas salat, tukang sate diserbu jamaah, karena terlalu lama menahan lapar. Padahal opor ayam udah standby di meja makan. Terima kasih telah singgah. Minal aidin wal faizin ya. Maaf lahir dan batin.

      Hapus
  10. sama sama.... Salam Idul Fitri, mohon maaf lahir batin...
    # ya, semoga tidak terulang kembali.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Maaf juga lahir dan batin. Terima kasih telah singgah, Mas Tanza. Salam idul fitri dari tanah air.

      Hapus
  11. wah bapak walikota gak bisa baca situasi.. Selamat idul Fitri bunda, maaf lahir batin ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, ananda. Sebsiknya bialiau cukup berbicara masalah idul fitri dan menyampaikan maaf lahir dan batin saja. Urusan pencapaian dan program pemerintah itu pada kesempatan lain. Orang gak butuh itu. Terima kasih telah singgah, ananda. Selamat malam.

      Hapus
  12. oalah yang viral itu di tempatnya Bu Nur toh
    tak kira di pagar alam
    duh itu walikota ya kok ga tau orang orang udah pengen cepet selesai
    kalau di sini udah pada ditinggal pergi pindah ke tempat lain wkwkwk

    eh maaf lahir batin ya Bu Nur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Ikrom. Di tempat saya. Hampir semua media Online menguliknya. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam. Minimal aidin wal faizin.

      Hapus
  13. Pak walkotnya hadir pukul 8.18, ananda. Kalau di desa kami, jam segitu salat eidnya udah selesai. Seharusnya kalau dia mau pidato, pukul 7 dia sudah berada di l
    Tkp. Nunggu dia datang kayak menunggu seorang raja.

    Alhamdulillah, tak ada jamaah yang pingsan. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda. Salam lebaran buat keluarga di sana ya.

    BalasHapus
  14. Mohon maaf lahir batin bu Nur..πŸ™πŸ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ucapan yang sama, Mas Warkasa. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  15. minal aidzin wal faidizn ukhty

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ucapan yang sama. Mas. Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  16. seumur hidup menikmati shalat ied, emang paling enak di Surabaya atau Sidoarjo buat saya Bu, shalat ied dimulai pukul 6 pas, pukul 6.30 udah kelar.
    Enak banget, nggak pakai berpanas-panasan.
    Apalagi juga saya biasanya kalau enggak di masjid ya di lapangan Unair surabaya yang nggak kepanasan juga.

    Waktu kecil shalat ied di Buton, astagaaaaaa panasnyaaaa hahahaha.
    Soalnya di sana mulai pukul 7.30, kadang pukul 8.
    Ya jelas matahari udah semakin panas membara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mantap, ananda Rey. Panitia yang bijak. Memahami kondisi Jamaah. Mulai pukul 6, selesai jam 6.30. Biasanya saya sekeluarga juga salat eid di masjid desa. Mulai pukul 7.30, selesai jam 8.00. Cuman sekali ini salat eid di lapangan. Terima kasih telah mengapresiasi, selamat sore.

      Hapus
  17. Saya juga paling malas kalau sambutan Idul Fitrinya panjang, apalagi kalau sepanjang khutbahnya sampai lupa yang penting: sholat dan khutbahnya.

    Senang ya mbak bisa menunaikan nazar. Alhamdulillah. Semoga kita diberi usia panjang untuk menyambut Ramadhan berikutnya dan merayakan idul fitri lagi. Aaamiin

    BalasHapus