Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kos-kosan dan Garasi Mobil di Sally Oak Birmingham

 Catatan Perjalan ke Inggris (4) 


Halaman depan  kos-kosan.  Foto ARIE

Seperti bangunan lain, umumnya kos-kosan di Sally Oak terbuat dari bata merah, lantainya dicor menggunakan semen, permukaannya ditutupi dengan papan. Tidak pakai sandal pun lantainya nyaman diinjak.

Ini berlaku untuk seluruh bangunan yang pernah saya kunjuungi. Seperti gedung-gedung, rumah sakit, pertokoan dan kantoran. Termasuk kampus Universitas of Birmingham. Barangkali tujuannya untuk memberi efek kehangatan pada musim dingin.

1. Cara Memilih Kontrakan

Memilih kontrakan di Birmingham relative mudah. Dapat dilacak melalui browsing. Atau kalau ingin urusannya terang benderang, calon konsumen cukup menyusuri jalan daerah mana yang akan dia pilih. Pada beberapa rumah terpampang papan iklan kecil. Kurang lebih 50 x 35 CM.

Saya memberinya nama papan To Let karena setiap kepingnya ada tulisan To Let. Persis kayak sebuah judul, berikut narasi singkat tentang kondisi rumah. Tanggal mulai dikosongkan, jumlah kamar, dan terakhir nomor agen yang dapat dihubungi.

Urusan sewa menyewa di Inggris, ditangani agen-agen resmi. Pemilik barang tinggal terima uang melalui rekening. Hal ini berlaku juga untuk urusan kos-kosan. Kecuali penyewa ilegal, antara konsumen dan penyedia layanan dianggap keluarga sendiri.

2. Perjanjian Sewa Menyewa

Sebelum terjadi kontrak mengontrak, klien wajib membayar deposit kepada pemilik kosan. Besarnya satu bulan sewa atau tergantung kesepakatan.

Tujuannya, Apabila pihak pemakai pindah, rumah harus dikembalikan dalam kondisi bersih dan rapi seperti semula. Tak boleh ada kerusakan sedikit pun, steril dari benda milik penyewa sekecil apapun.  

Jika tidak dipatuhi, si bos tidak segan-segan mengurangi bahkan menahan seluruh uang jaminan dimaksud.

Baca juga: Sendirian ke UK tanpa Menguasai Bahasa Inggris  

Katakan saja, rumah bersih, tidak ada kerusakan, tapi barang-barang milik peyewa masih tergeletak di dalamnya, tuan rumah berhak minta ganti rugi. Karena  barang  tersebut dianggap nyampah.

Makanya, sering ditemui perabotan layak pakai teronggok di pinggir jalan. Mulai kasur, lemari pakaian, jok, kursi/meja belajar, peralatan dapur, dan sebagainya.  

Benda tersebut dibuang pemiliknya karena pindah rumah. Atau mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliah dan mau pulang ke daerah atau ke negara asalnya.

Ada juga yang sengaja disingkirkan karena empunya tak menginginkannya lagi dengan alasan-alasan tertentu. Misalnya, mau ganti baru tersebab sudah bosan. (Akan dikemanakan  limbah buangan tersebut? Akan saya jelaskan pada bagian lain).

Sebelum diangkut oleh pihak berkepentingan, siapa yang butuh silakan diambil. Di rantau orang tak perlu malu-malu.

Mahasiswa dari negara lain juga melakukannya. Meskipun tidak semua. Seperti anak pengusaha kaya sekelas Reynhard Sinaga dan anak-anak artis. Mereka studi di sana pun dengan biaya pribadi. Bangsa yang jaga gengsi juga ada.  

Biasanya, yang laris manis meja belajar dengan kursi putar, lemari pakaian, sepeda, TV, dan sebagainya.  Terutama di kalangan mahasiswa yang baru datang.

Untuk apa beli. Memakainya 2 atau 3 tahun. Harganya Poundsterling-an, mahal selangit.

Tetapi tradisi Mahasiswa Indonesia usai kuliah, sebelum pulang mereka mewariskan barang-barangnya kepada rekan mahasiswa setanah air.

3. Parkiran dan Garasi di Pinggir Jalan

Mobil-mobil parkir di pinggir jalan. Foto NURSINI RAIS

Di Sally Oak, tidak perabotan  saja yang terkapar di halaman. Di kiri kanan jalan raya beraspal, mengular kendaraan roda empat aneka warna.  Cantik-cantik dan mengkilat. Semula saya menduga, di sana pangkalan taksi. Pengemudinya sedang istirahat makan, atau sekadar melepas penat.

Ternyata tidak. Sebagian besar mobil tersebut milik mahasiswa. Karena di kawasan Hubert Road tersebut penghuninya sebagian besar mahasiswa dari dalam dan luar negeri.

Pemiliknya menggunakan badan jalan untuk parkir sekaligus garasi. Namun dalam area-area tertentu yang dilingkungi garis putih,  tidak mengganggu pengguna jalan. 

Sebab tidak semua pemilik mobil di sana mempunyai lahan parkir dan garasi pribadi. Terutama di kos-kosan.

Nomor plat belakang. Foto Istimewa

Uniknya, plat nomornya dua warna. Belakang kuning, depannya putih. Ini berlaku untuk semua kendaraan bermotor di Inggris. Milik pemerintah, swasta dan pribadi. Kecuali mobil militer, depan belakangnya warna hitam.

Seperti di Indonesia, stir mobilnya sebelah kanan. Beda dengan Arab Saudi, yang menempatkan drivernya di samping kiri.

Plat belakang. Foto Istimewa

4. Pajak Kendaraan dan Asuransi

Agak aneh menurut saya orang awam. Sebagian masyarakat Sally Oak merelakan mobil-mobil mewahnya bercokol di pinggir jalan raya, berjemur panas bertadah hujan.

Padahal, di halaman belakang banyak lahan kosong ditumbuhi gulma tanpa ditanami. Hanya dimanfaatkan untuk gudang dan tempat menjemur pakaian. Sementara halaman depanya cuman berjarak kurang lebih satu meter dari bibir trotoar bagian dalam.

 Baca juga:  Keanehan Bermunculan di Cyti Centre

Rupanya orang Inggris menganggap mobil bukan barang mewah. Tetapi merupakan kebutuhan. 

Harganya pun lumayan terjangkau, tergantung mereknya. Yang mahal pajak dan asuransi. Jika pajak sebuah mobil dinilai dari tingkat kemewahan,  maka asuransinya diukur dari tempat parkir atau garasi. Mobil bergarasi di badan jalan asuransinya lebih tinggi karena dianggap rawan tertabrak atau ditabrak.

5. Mahasiswa Indonesia Ogah Membeli Mobil

Kebanyakan mahasiswa asal Indonesia enggan membeli mobil. Fasalnya, bila pemiliknya selesai study, mobil tersebut tidak bisa dibawa pulang,  karena pemerintah Indonesia melarang mobil bekas masuk ke tanah air.

Dijual tidak laku. Meskipun otoritas Inggris tidak membatasi usia kendaraan yang boleh mengaspal di jalan raya, dengan persyaratan tertentu. (kondisi 2015). Antara lain, mengikuti uji kelaikan sekali setahun.

Baca juga:  Meluncur ke Sally Oak

Mobil yang dinyatakan tidak lolos, dikenakan denda besar dan tidak boleh beroperasi. Bagi masyarakat yang tetap bersikukuh agar mobilnya tetap beroperasi, ia harus mengelurkan dana lebih besar untuk memperbaikinya. Hingga boleh digunakan kembali.

Tetapi terhitung 1 Januari Sussex Timur membuat kebijakan membatasi usia mobil selama 7 tahun sejak didaftarkan kepada otoritas setempat. Sebab masing-masing daerah di Inggris mempunyai kebijakan sendiri-sendiri. (Tgar.id, 6/8/2019).

6. Mahasiswa Malaysia dan Mobil Mewah

Beda dengan pemerintah Malaysia yang membuka pintu untuk ngimpor mobil-mobil rosokan dari luar negeri. Momen tersebut dimanfaatkan oleh sebagian mahasiswanya yang belajar di Inggris untuk membeli mobil mewah dengan harga miring. Selesai kuliah kendaraan tersebut bisa dipaket lewat Pos.

Meskipun banyak yang punya mobil, rata-rata mahasiswa yang berdomosili di sekitar Selly Oak lebih senang jalan kaki pergi kuliah. Padahal pp-nya kurang lebih 4 kilometer. Hal ini terkendala lahan dan biaya parkir. Semakin lama mobil bercokol di kampus, kosnya kiantinggi. (Bersambung).

****

53 komentar untuk "Kos-kosan dan Garasi Mobil di Sally Oak Birmingham"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Pengen jalan2 ke sana juga 😁 eh main ke bunda dulu ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditunggu dengan senang hati, ananda Dinni.

      Hapus
  3. Mantap bu.. Panduan ketika di Sally Oak Birmingham

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan berwisata ke sana, Mas. Aku juga rindu mau ke sana lagi.

      Hapus
  4. Wah. Ternyata di sana juga parkir pinggir jalan ya Nek🀭🀭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka tak punya garasi, Zy. selamat malam. Terima kasih telah mampir.

      Hapus
  5. Membaca tulisan ini, saya seperti diajak ke sana, di negara ratu Elisabet itu, setiap sudut dan lorong dideskripsikan dengan sangat baik.

    Ini mempertegas opini saya bahwa pengalaman dan jam terbang tidak pernah bohong tentang kualitas diri seseorang.

    Ke konten
    Mobil bukan barang mewah, sesuatu yang baru untuk saya. Salut tetapi juga saya merasa aneh, namun budaya dan tradisi jelas mempengaruhi pandangan suatu bangsa, terima kasih ibu, sudah berbagi hal baru untuk saya.

    Bata merah, entah kenapa saya jadi bayangkan Jogja ya?

    Jogja dan Inggris beda dalam banyak hal, selain itu saya pun tidak pernah ke Inggris. Namun dari narasi ini saya ingin katakan menjadi luar biasa tidak harus hebat tetapi menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat menurut saya.

    Unik ya bu...

    Ups mobil dipaket lewat pos, maksudnya bagaimana bu?

    Ibu kuliah di Inggris?

    BalasHapus
    Balasan
    1. "luar biasa tidak harus hebat tetapi menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat menurut saya." Nenek tua ini tersanjung, Mas. Saya menulis semampunya saja, He he ...

      "Ups mobil dipaket lewat pos, maksudnya bagaimana bu?" Kita kirim lewat jasa pengiriman, Mas. Mereka mengirimnya lewat kapal laut. Kalau tak salah, menerut anak saya yang pernah melakukannya, Dari London ke Surabaya. Surabaya baru ke pelabuhan terdekat ke alamat yang dituju. (Pelabuhan Pulaubay. Karena mereka tinggal di Bengkulu). Berbulan-bulan baru sampai.

      "Ibu kuliah di Inggris?" Bukan Mas. He he ... Menantu saya kuliah S.3. Suaminya (anak saya) kerja disana. Saya diajak melancong selama satu bulan.

      Hapus
    2. Menulis dari hati pasti selalu memberi arti bagi pribadi yang bersangkutan maupun pembacanya. Salut tetap berkarya, inspirasi bagi kami yang masih cukup 'hijau ini"

      Wah, penuh perjuangan untuk sampai di sini (Indonesia) luar biasa ketangguhan seorang dalam mengarungi samudra raya. Bahagia tiada tara jika mobil yang didamba tiba di pelataran rumah.

      Wah berkat yang istimewa, selamat menikmati negeri ratu Elisabeth itu bu, kado terindah melalui tulisan yang menginspirasi sudah cukup bagi kami di tanah air...

      Salam hangat dan selalu sukses bu...

      Hapus
    3. Pulang ke sini aman, Mas. Yang penuh perjuangan saat pergi. Silakan Mas baca kisah bagian 1. "Sendirian ke UK tanpa Menguasai Bahasa Inggris? Kenapa Tidak?"

      Hapus
  6. Suka sekali baca pengalaman dan kisah keseharian saudara/i sebangsa dan setanah air yang sedang berada di luar negeri. Kita yang hanya bisa terperangkap dalam negeri bisa mengenal dunia luar lewat mereka-mereka termasuk Ibu Nur ini.. Danke banyak-banyak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya semua tinggal kenangan Bang Ancis. Momennya telah lewat 6 tahun lalu. Selamat pagi, Mas. Terima kasih telah berkenan singgah. Salam literasi.

      Hapus
  7. bermanfaat...dan menarik untuk disimak.
    terima kasih mau berbagi info....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga telah singgah, Mas. Doa sehat untuk keluarga di rumah, ya.

      Hapus
  8. Aku baru manjat cerita2 pas ke UK lainnya. Ternyata cerita di tahun 2015 yaa. Hebat bu nur masih ingat sedetail ini.. Seru sekali bacanya. 😍 Semoga suatu saat aku bs mengunjungi UK jg..

    Ditunggu cerita tntng pengelolaan sampah furnitur di situ 😁 kabarnya di bbrapa negara malah kita hrs bayar buat ngebuang sampah2 besar ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahuku, di Inggris buang sampah-sampah besar tidak bayar, Mbak Tessa. Tapi di luar tugas tukang sampah harian. Menjelang diangkut oleh pihak terkait (relawan), kalau kita butuh boleh diambil. Misalnya lemari pakaian, TV. meja belajar, kursi putar, dsb. Kabarnya sampah seperti ini musiman. Musim tahun perkuliahan baru. Nanti insyaallah aku ulas lagi pada bagian lain. Terima kasih telah berkenan singgah. Salam sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  9. Unik juga kost2,san di Sally Inggris yaa bun...Meski banyak mobil2 yang terparkir dihalaman Kost tetapi semuanya terpakir berjajar dengan rapih... Jadi meski panjang dan padat kelihatannya tidak semaraut. Meski terkadang ada kedaraan umum seperti taksi yang juga berada di tempat kost tersebut.

    Menarik bun kisah pengalamannya di negara Inggris.😊😊 Dan kalau menurut saya bangunan berbahan bata mungkin khas sebuah kota dinegara tersebut..Karena biasanya negara yang masih menganut sistem kerajaan bangunannya lebih dominan dengan batu bata merah yang tertata rapih.😊😊 Benar atau tidaknya yaa saya juga kurang tahu sih....Belum pernah ke Inggris.😁😁

    Tetapi biasanya negara yang menganut sistem kerajaan yaa seperti itu...Sotoy yaa saya ini..🀣🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan Mas Satria ditakdirkanNya untuk ke sana. Saya juga tak nyangka sedikitpun. Sudah tua, ndeso, dan cuman mengandalkan biaya dari anak. Kalau Tuhan berkehendak, seribu jalan. Selamat pagi. Terima kasih telah berkenan mampir.

      Hapus
  10. Asik sekali ceritanya, Bu. Saya langsung meluncur ke seri 1. Rasanya kayak mengalami dan melihat langsung di sana. Ditunggu kelanjutan ceritanya Bu, jadi obat kangen buat jalan2 lagi πŸ€—πŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tanggapannya Mbak Kartika. Saya hanya bisa nulis apa yang saya lihat, dengar, dan alami saja. Bahasanya pun ndeso. He he .... Sayangnya sepulang dari sana Hp saya dicuri orang. Jadi foto pendukung amat minim.

      Hapus
  11. Haloo ibu, salam kenal. Waah asyik sekali yaa cerita tinggal di Inggris. Saya pernah membaca jg tulisan mengenai tinggal di negara Eropa lainnya, tapi di Belanda. Di sana pun kalau mau sewa rumah, harus pakai uang deposit dulu, di akhir sewa, uang itu digunakan untuk mengganti apabila ada kerusakan. Nampaknya banyak negara Eropa yg seperti itu yaa bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Nampaknya banyak negara Eropa yg seperti itu yaa bu." ===> Begitulah yang namanya budaya ya, Mas. Boleh jadi karena mereka ada kesamaan warna kulit. Tradisinya pun ada kesamaan. Namun, tindakan mereka berdasarkan aturan yang berlaku di negaranya. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas Dodo. Doa sehat untukmu sekeluarga.

      Hapus
  12. Senang banget membaca kisah-kisah Ibu Nur di blog ini, semacam saya bisa ikutan berada di Sally Oak.
    Tempatnya rapi banget ya.

    Btw sayang banget ya pemerintah melarang masuk mobil dari sana, setidaknya kan ada keringanan, misal mobil yang masuk bukan untuk diperjual belikan dan bukan untuk kebutuhan bisnis gitu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena mobil bekas itu dianggap limbah ya, Mbak Reyne. Kalau mobil baru mungkin aturannya lain lagi. Selamat malam, Mbak. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam untuk keluarga di sana.

      Hapus
  13. Apa disana deket sama Birmingham Univ, bu? Jujur dulu saya diterima di univ tsb tapi karena kendala biaya dan gak berhasil tembus beasiswa jd gagal berangkat. Hehe. Baca ceritanya aja udah senang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan dekat, Mbak Ima. Mahasiswa yang kos di sana umumnya jalan kaki ke kampus. Wah., rugi ya, Mbak. Udah diterima malah ditolak. Tapi benar. Kalau dengan biaya orang tua, sangat tak terjangkau bagi ukuran kantong kita. Terutama sekelas saya. Biaya hidup mahal. Zaman saya di sana ada mahasiswa Indonesia undangan dari universitas of Birmingham. Biaya kuliah gratis, belanja harian saja dia sangat kewalahan. Kontrakan paling murah 1 buah rumah 6 ratus pond. Mending ada teman bisa diajak
      keroyokan. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat bersktivitas.

      Hapus
  14. Seruuu banget ngikutin perjalanan Ibu Nur.
    MasyaALLAH, rupanya tiap negara punya kebijakan yg beda2 ya.
    Sally Oak rapii banget dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda Nurul Rahma.

      Rapi karena penduduknya tidak terlalu padat. Lagi pula, sampah dikelola dengan baik dan benar.

      Salam untuk keluarga di sana. Selamat sore.

      Hapus
  15. wah baru tahu saya kalau di Inggris boleh naruh mobil di pinggir jalan. jadi alasan mereka nggak bikin garasi karena asuransi mobil di jalan lebih tinggi ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Parkir dan grasi di pinggir jalan. Menurut anak saya, selama mereka di sana belum pernah terjadi mobil tersebut ketabrak, Mbak Atung. Terima kasih telah berkenan dinggah. Selamat sore.

      Hapus
  16. Wah...jadi penasaran.
    Karena setahu saya, sangat jarang sekali mahasiswa yang memiliki kendaraan pribadi. Mereka lebih nyaman menggunakan kendaraan massal, karena fasilitas dan pelayanannya yang sangat baik.

    Apakah mobil Eropa harganya terjangkau untuk mahasiswa, Bunda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khusus di Inggris sangat terjangkau, ananda Lend. Anak bunda pernah diminta tolong sama temannya untuk jual mobil. Harga 5 juta (nilai duit kita) masih bagus. Mungkin mereka menganggap mobil bekas ituj limbah yang tidak terpakai. He he .....

      Mahasiswa luar negeri yang kuliah disana ada 2 kategori. (1) anak orang kaya (2) mahasiswa pintar yang dibiayai oleh pemerintahnya masing-masing. Zaman bunda di sana (2015), beasiswa mahasiswa kita (kalau tak salah ingat) LPDP 1100 Pond X Rp 20000 (kurang lebih) per bulan.

      Yang pandai memanagemen duit, pulang bawa tabungan. Kalau bawa suami kreatif, rajin dan pandai berbahasa Inggris, mereka diterima menjadi tenaga kerja resmi. gajinya 17 pond per jam. yang memboyong istri, istrinya bisa bikin kueh, nasi, sambal, untuk dijual ke mahasiswa kita. Untungnya lu ma yan .... Bayangkan< andai kuliah di sana bisa mencari makan, beasiswa bisa ditabung kan? He he ... narasinya terlalu panjang ya. Terimakasih telah berkenan singgah.





      Hapus
  17. Tempatnya bersih ya Bund, meskipun kelihatan padat tapi rapi, tertib gitu. Suka baca ceritanya, buat nambah pengalaman bagaimana kehidupan di negeri orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersih banget, ananda Ulfah. Tukang sampah rutin ngambil sampahnya. Menuangkan sampah dari tempatnya ke mobil, tidak pakai tangan otomatis. Tong sampah khusus untuk mahasiswa dikasih dan dibayar universitas. Lihat itu tong sampahnya berderet-deret (yang warna hitam).

      Hapus
  18. Membaca ini serasa saya ikut berpetualang di Sally Oaks, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ntar ibu-ibu doyan nulis pergi ke sana, Mbak. He he ... Kita melancong bersama-sama. Sekitar musim semi sampai musim agak panas. Siangnya lebih panjang daripada malam. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  19. Wah belum pernah ke Inggris, tapi pemandangan seperti iini sering lihat di video-video klip Band Inggris, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin suatu masa Mbak Rella ditakdirkan untuk ke sana. Amin. Selamat siang, terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  20. Suka ceritanya. Poin soal kepemilikan mobil beda dengan budaya kita ya. Mobil dianggap sebagai status sosial dan barang mewah. Makanya kalau orang tiba-tiba ketiban durian runtuh jadi OKB (Orang Kaya Baru) yang dibeli adalah mobil. Bodo amat nggak tau cara nyetirnya gimana. Dan pas beli orang awam soal urusan pajak dan asuransinya. Sementara di sana dianggap sekadar kebutuhan dan orang malah lebih suka jalan kaki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... orang kaya baru kaya desa meliader di Jawa sana ya Mbak Nieke. Suka jalan kaki ketimbang naik mobil, gak juga kali Mbak. Mereka yang jalan kaki itu kebanyakan anak kos yang tinggal agak dekat dengan kampus, Sebab, di kampus parkirannya mahal, bayar per jam. Lagi pula naik kendaraan umum (Bus) di sana sangat tertib dan nyaman. Tidak berdesak-desakan seperti di Indonesia. Begitu juga naik kereta. Selama di sana saya belum pernah ketemu keretanya penuh. Yang penumpangnya bergelayutan seperti di Negeri kita. Karena ketersediaan keretanya cukup. Terima kasih telah menanggapi. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  21. Ibu Nur... Suka sekali dengan ceritanya ini. Membaca blog IBU Nur ini seolah lagi jalan ngobrol berdua sambil ditunjukan setiap sudut sally oak... Mobil-mobil dan parkirannya... Menanti cerita lainnya ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Aisyah. Saya tersanjung. Syukur kalau begitu. Sayangnya kondisi yang saya ceritakan ini telah berlalu hampir 6 tahun. Kadang agak ragu. mungkin sekarang situasinya sudah beda. Terima kasih atensinya, Mabak. Salam sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  22. Paling suka kalo ada yang sharing mengenai kehidupan di negara lain. Rasanya seperti dibawa menjelajah ke negara itu langsung. Aku sempet kaget ternyata parkir mobil disana sama seperti di Indonesia yang suka parkir di jalan. Apakah ga ada peraturannya ya mba yang mengatur tentang parkir mobil disana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aturannya ya, itu. Parkir sekalian grasinya di pinggir jalan. Tetapi dibatasi garis-garis warna putih. Selamat siang, Mbak Irma.Terima kasih telah singgah. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  23. Ibu, ini menarik banget. Saya jadi merasa ada di sana. Alur tulisannya juga runut. Bermanfaat banget nih buat yang mau studi di sana.

    BalasHapus
  24. Rata-rata mahasiswa dari mana tuh bu yang pada bawa mobil? Lumayan juga berarti uang sakunya bisa membayar pajak mobil dan biaya operasionalnya ya.

    Sally oak kayak di Indonesia ya sekilas lalu kalau ngelihat mobil pada parkir pinggir jalan hehehe... kirain kalau di negara maju udah tertib ga parkir di sepanjang jalan begitu walaupun memang ditata rapi sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di kawasan Sally Oak, itu mahasiswa dari bebagai negara, Mbak Uniek.

      Bukankah mereka yang kuliah di sana itu, pertama anak orang kaya. Duit orang tuanya banyak. Ke dua orang pintar. Dibiayai oleh pemerintahnya masing2. Orang luar negeti itu beasiswanya gede, Mbak Unik. Mahasiswa Malaysia beasiswanya lebih besar daripada beasiswa snak kita dari Indonesia. Tetapi anehnya, kapan mereka sudah selesai dan bekerja, duitnya dikembalijsn lagi ke negara. Itu ceritanya 2015 dulu yang saya peroleh dari mahasiswa kita di sana. Mungkin sekarang situadinya sudah berobah ya. Sementara harga mobil bekas di sana sangat terjangkau. selamat siang. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  25. Wah nomor platnya Bini 3 gue
    lucu juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he .... Tengkiyu apresiasinya, Mas Riza.

      Hapus