Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Pemicu Timbulnya Gonjang-ganjing Ibu dan Anak Tiri

Ilustrasi 6 Pemicu Timbulnya Gonjang-ganjing Ibu dan Anak Tiri (Sumber: Istockphoto)

Asalkan temanya  “tiri-tirian”, ayah tiri, ibu tiri, anak tiri, dan tiri-tiri lainnya, pelakunya sering berkubang dalam konflik. Mungkin dalam sepuluh keluarga, jarang satu hubungannya berjalan mulus.

Tengoklah di luar sana. Berapa banyak anak tiri dianiaya bapak dan ibu tiri, bahkan sampai meregang jiwa. Sebaliknya tak jarang juga ibu atau bapak tiri menjadi pihak korban, Belum lagi antar saudara tiri yang gontok-gontokan.

Meski pun demikian, harus diakui juga, bahwa tidak semua ibu/bapak  tiri itu jahat. Katakanlah ada  Ashanti  istri Anang  Hermansyah yang sangat menyayangi anak tirinya.

Ada pula  Sonny Septian, ayah sambung  yang  sangat akrab dengan putra Fairuz A. Rafiq dari perkawinannya  dengan suami terdahulu.  Dan banyak pula orang-orang bukan publik figur, yang tidak terekspos. Mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Dalam kesempatan ini saya coba menguliti, mengapa gonjang-ganjing ibu tiri dan anak tiri bisa terjadi dalam sebuah rumah tangga.

1. Suami tak Tepat Janji

BP duda 40 tahun menikahi  MA gadis perawan seumurannya.  Dari perkawinan pertama dia punya 2 anak cewek.  Masing-masing  7 dan 4 tahun. 

Pasangan ini tinggal bersama anak-anaknya di perumahan milik instansi tempat suaminya bekerja. Kehidupan mereka aman-aman saja. MA menyayangi  kedua anak tirinya seperti putrinya sendiri.

Ternyata kedamaian itu kulit luarnya saja. Di dalam rumah, mereka ada gesekan-gesekan kecil, antara MA dan anak tirinya.

Setelah BP dan MA punya anak baru, persoalan itu meletup. Kata si istri,  anak  tirinya itu tak mau bantu-bantu. Tak mau nyuci piring, tak mau nyapu, tak betah di rumah sukanya keluyuran.

Kebencian-demi kebencian terus bergulir. Maklum, bila tak ada kecocokan, semua serba salah. Meskipun ributnya masih dalam lingkup rumah tangga.

Setelah adik kakak itu beranjak  remaja, keduanya mulai berani melawan. Setiap MA marah,  mereka tentang, dengan mengeluarkan kata-kata tak enak didengar, sampai berani ngusir.

Dari apa yang saya dengar dan amati, gonjang ganjing ibu dan anak tiri itu bermula dari janji manis. Rupanya, sebelum menikah BP menitipkan kedua buah hatinya itu kepada kakak perempuannya.

Dia berjanji bahwa anak-anaknya itu tidak bakalan mengganggu. Sebab kakak perempuannya yang mengadopsi. Karena di usianya yang ke 50, sang kakak belum dikaruniai anak.

Faktanya, belum setahun BP mengumpulkan anak-anaknya tinggal bersama mereka. Jadi, MA kesal. Selain tidak siap punya anak tiri, dia merasa dibohongi.

 “Coba dari awal dia berkata jujur, mungkin saya memilih mudur,” katanya.

2. Terperangkap Cinta Buta.

Dikatakan cinta monyet, BP dan MA telah kelewat  dewasa. Barangkali tak ada salahnyan saat mereka pacaran disebut keduanya terperangkap cinta buta. 

Karena cinta manusia itu buta segala-galanya. Mudah termakan rayuan maut. Buta terhadap keberadaan  anak tiri. Sampai MA tak sadar bahwa dirinya menjadi sasaran kebohongan.

Calon suaminya  pun buta dan khilaf. Di depan matanya ada dua anak yang menjadi tanggung jawabnya. Dia juga  tak ingat bahwa dirinya telah berbohong.

Coba dari awal dia berkata jujur. Akui kondisi rielnya. Kalau cocok angkat barang. Jika tidak cari yang lain.

3. Ego tak Terkendali

Setelah menikah pasangan itu belum dewasa mengelola keadaan. MA sering mengungkit-ungkit bahwa suaminya tak tepat janji.

MA bertambah luka ketika terjadi pertikaian, BP berpihak pada anak-anaknya. “Kesalahan selalu dialamatkan pada saya,” katanya.

Patut diduga kedua-duanya sama-sama berpegang pada ego masing-masing. Susah  dicari titik temunya.

4. Kurang Bersyukur

Membaca sengkarut rumah tangga BP dan MA ini bisa diprediksi, pernikahan mereka  terjebak oleh hawa nafsu. Belum dilandasi nilai ibadah dan keikhlasan.

Mereka abai, bahwa berumah tangga itu tidak hanya menyangkut bersatunya dua insan. Lebih dari itu adalah mengharap Ridho dari Allah SWT.

Seharusnya BP dan MA bersyukur pada  apa yang telah mereka raih. Suami telah dapat jodoh pengganti,  setelah ditinggal selingkuh oleh istri sebelumnya. Begitu juga si istri. Memasuki  kepala  4 baru ketemu jodoh.

5. Luapan Kecemburuan

Dahulu saya pernah dicurhati oleh gadis tetangga 23 tahun. Katanya saat berkunjung ke rumah  ayah kandungnya, dia sedih, iri, dan sakit hati melihat ayah dan istri mudanya berbahgia.

“Rumahnya besar dan mewah. Punya mobil pribadi. Setiap  kamar  ada WC. Sedang saya  dan kakak saya dahulu sengsara. Kami ditinggalkannya masih kecil tanpa dibiayai. Mama tak bisa kerja apa-apa,”  ungkapnya.

Prakiraan saya, boleh jadi ketidakakuran anak-anak BP dan ibu tirinya ini diperparah oleh kecemburuan. Mungkin mereka tidak rela cinta ayahnya dimiliki wanita lain, yang  bukan ibu kandungnya.

6. Miskomunikasi

Sejatinya masalah ini tak perlu dibesar-besarkan. Gonjang-ganjing ibu dan anak tiri ini pasti berlalu apabila: (a) suami pandai bersikap netral (b) istri stop mengungkit-ungkit kesalahan suami, dan (c) anak-anak diberikan pemahaman yang intensif.

Bola panas berada di tangan suami. Obatnya cuman satu. Lakukan komunikasi  secara terbuka.

Simpulan

Banyak pelajaran penting yang bisa dipetik dari kisah rumah tangga BP dan MA ini. Satu  yang paling berharga adalah, perceraian membawa luka yang mendalam bagi semua pihak. Terutama buat anak-anak. Untuk itu, berpikirlah seribu kali sebelum melangkah ke gerbang halal yang dibenci Allah itu. 

Demikianlah 6 pemicu timbulnya  gonjang-ganjing antara ibu dan anak tiri yang saya temui. Tentu beda pelaku, lain lingkungan lain pula masalahnya. Semoga bermanfaat.

Baca juga: 

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi

46 komentar untuk "6 Pemicu Timbulnya Gonjang-ganjing Ibu dan Anak Tiri"

  1. Komunikasi...
    Itu intinya yaa bund.
    Kasihan sekali yaa kalau smpai ada yang merasa dibohongi. Sungguh tak enak. Setiap hubungan, harus diawali dengan kejujuran yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda Dodo. Bukankah agama itu mengajarkan. Katakan kebenaran itu walaupun pahit. Cari bini bukan untuk dipakai sehari dua. Selamat malam, terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malming

      Hapus
  2. menurut saya luka yang paling dalam itu ada pada anak ya mba, mereka pasti mendapatkan tekanan dari lingkungan mainnya, di katakan inilah, itulah oleh orang-orang di sekitarnya, sehingga membuat anak menjadi syok, kalau sudah begitu kasihan banget sama anaknya dan ini bisa jadi pembelajaran untuk para ayah dan ibu di rumah agar tidak langsung tancap gas ketika mengambil keputusan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Kuanyu. Semasa aktif mengajar, saya sering menemui snak SD di sekolah menangis tersedu-sedu, karena dibully temanya. "Eh kamu anak cewang" artinya, si anak itu bapaknya punya bini lain. Emaknya punya laki baru. Duh, bergoncang2 bahunya menangis menahan sedih. Selamat sore. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
    2. Selamat sore juga, sama-sama mba Nur 😊

      Hapus
    3. Selamat pagi, Mas Kuanyu.

      Hapus
  3. Kasian bgt anak2 kalo jadi korban kondisi semacam ini ya, Bunda.
    Semoga ada solusi terbaik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bsnget, ananda Nurul. Apalagi di sekolah dasar pedesaan. Kalau berantem, anak-anak korban perceraian itu jadi sasaran cibiran oleh teman-temannya. selamat sore ananda. Salsm sehat selalu.

      Hapus
  4. Hidup merupakan rangkaian2 kejadian yg mendewasakan. Tak bisa dipungkiri bahwa lerap kali kita jumpai besaran angka tak sejalan dengan kedewasaan berpikir. Kalau secara teori (berdasar apa yg saya pelajari selama ini) kejadian yg sudah lalu kita ikhlaskan, kita berdamai dulu dengan diri kita dan mulai Nerima tanpa drama atas segala aspek yg terjadi. Yang kedua adalah membangun Komunikasi Efektif dan Disiplin Positif terutama pada anak2. Jika hal ini diabaikan, tak hanya anakntiri, dengan anak kandungpun tetap bisa ada caci maki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda Era. Menata hati dan berdamai dengan diri sendiri adalah jalan terbaik bagi MA. Tetapi sepanjang suaminya tidak bisa netral, kasus ini sulit menemui jalan damai. Selamat pagi. Doa penuh berkah di bulan Ramadhan.

      Hapus
  5. Sepakat Bunda, berbagai cerita tentang divorce memberikan luka. Komunikasi adalah awal segalanya. Semoga kita selalu menjaga komunikasi bersama pasangan dan keluarga ya Bund.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ananda Laily. Sebagai penonton saya ikut prihatan pada ibu dan anak tirinya itu. Sebab menurut dia, satu yang paling membuat dia sedih. Suaminya sering memihak ke anak-anaknya. Padahal segala sesuatunya bisa dikomunikasi dengan baik. Selamat berpuasa. Semoga semua ibadah kita mendapat pahala yang berlimpah.

      Hapus
  6. Repot memang ya mbak, orang nggak ada tiri tiri an aja, banyak masalahnya terjadi.

    Tapi begitulah manusia, kalau nggak mengalami langsung rasanya sulit mempercayai, apalagi udah ah ada yang namanya janji Manis kelar deh 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bagi sahabat kita yang telah mengalaminya tidak terperangkap untuk ke sekian kalinya, ya, ananda Rey. Selamat berpuasa.

      Hapus
  7. Ya inilah yg banyak terjadi dgn orang2 disekitar saya Bu Nur.. sedih memang tp kalau takdir sudah berbicara adanya perpisahan dan dilanjutkan dgn pertemuan dgn jodoh yg baru, maka mau tak mau harus menerima adanya keluarga baru (tiri atau yg sekarangbanhak diperhalus dgn bahasa 'sambung')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ananda Annisa! Saya sering sedih menyaksikan anak-anak yang korban orang tuanya nikah lagi. Jujur, saya telah mengalaminya. Terima kasih tanggapannya. Selamat berpuasa.

      Hapus
  8. Ada yang bilang ibu tiri itu kejam, Dan ada pula orang yang punya ibu tiri biasa2 saja tanpa masalah.😊😊

    Intinya kehidupan ini beraneka ragam yaa bu Haji...Bahkan ada pula ibu kandung yang kejam terhadap anak2nya..😊😊

    Karena kalau tidak begitu dunia nggak rame yaa bu Haji.

    Dan tidak semua anak juga benci terhadap ibu tirinya.😊😊

    BalasHapus
  9. Setuju Mas Dahlan. Kehidupan yang beraneka ragam membuat dunia jadi rame. karena Dia telah menciptakan alam ini dengan isinya yang serba dua. ada siang ada malam, ada si kaya ada pula si miskin. Ada ibu tiri yang baik, ada juga yang kejam, ada wanita cantik ada pula pria ganteng .., Eh salah .... Selamat siang, Mas. Terima kasih telah berkenan singgah.

    BalasHapus
  10. Ashanty dan Aurel itu memang hanya 1 dari 100.000 ibu dan anak tiri yang bisa harmonis ya bunda, sisanya memang anak dan ibu tiri tidak selalu cocok, faktanya memang seperti itu.

    Menikah sesama lajang aja banyak masalah, apalagi sama yg udah punya anak, masalahnya pastu berkali2 lipat, harusnya kedua belah pihak sudah memikirkan matang2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ananda. Justru dalam hal begini si suamu harus bijak ya ananda. Jangan sampai anak merasa terpojok, istri merasa tertekan. Selamat pagi, ananda Ursul. Terima kasih telah berkenan singgah. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  11. Apa yang dituliskan dalam artikel ini benarlah adanya. Ketidakharmonisan muncul dari sifat tidak jujur, ingkar janji, ketidakadilan, kecumburuan dan sifat buruk lainnya.
    Jangankan ibu tiri dan anak tiri, saudara kandung pun bisa berselisih karenanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Umumnya kasus muncul setelah menikah ya, ananda Nisa. Karena sifat asli seseorang itu terlihat pascanikah. Semasa pacaran semuanya manis semanis gula. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam Ramadhan penuh berkah.

      Hapus
  12. Hmm, ada banyak pemicu ternyata. Semuanya memang kadang terjadi di dunia nyata. Aku sendiri lebih senang dengan istilah ibu/bapak sambung, bukan ibu/bapak tiri karena kesannya yang negatif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Orang sini menyebutnya ayah dapen dan mak dapen, ananda Rindang. Terima kasih tanggapannya. Selamat berpuasa.

      Hapus
  13. Hmmm, cukup banyak dan riskan juga ya pemicunya ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, ananda Efo. Intinya, setiap rumah tangga itu pasti ada masalah. Terima kasih telah mengapresiasi, salam berkah Ramadhan

      Hapus
  14. Sepertinya menarik kesimpulan dari cerita-cerita di atas, pemicu pertama adalah suami/bapak yang kurang fair. Memang agama itu paling benar mengatur kita, menikah harus dilandasi ibadah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda Andina. Suami itu adalah imam. Kalau imamnya keliru, jamaahnya tentu keliru. He he ... Terima kasih telah singgah. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  15. Pantas jika pernikahan disebut dengan Mitsaqan galizha karena pernikahan bukan sekedar main-main. Seseorang yang sudah terikat dalam sebuah pernikahan tak bisa main cerai seenaknya saja.

    Belum lagi efeknya untuk anak-anak, duh sedih bayanginnya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih banget, ananda Pipit. Harus bagaimana lagi. Anak-anak adalah korban yang paling terdampak. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  16. Agak berat memang untuk bisa berdamai hidup dengan anak tiri. Saya yang beberapa kali jalan bareng ponakan suami saja, terkadang ada rasa tidak nyaman, cemburu, dsb. Tapi jika semua didasarkan atas ibadah dan ketaqwaan, semua akan berjalan dengan indah. Semoga saya tidak diuji dgn ujian seperti BP dan MA. Tidak sanggup.. hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Senyaman-nyamannya berumah tangga memang tiada dimasuki orang ke tiga. Tetapi kalau perkawinan didasari ibadah, pasti semuanya baik-baik saja. Toh di balik kesabaran kita menghadapi suatu kondisi, pasti ada hikmah terselubung. Selamat malam, ananda Nabila. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  17. Terima kasih tulisannya, Bu Nur. Sangat mencerahkan. Pernikahan memang tidak pernah mudah, maka itu disebut ibadah seumur hidup, banyak kompromisnya dan menekan ego sebesar-besarnya.

    Dalam menerima anak bawaan juga ujian, namun jika berhasil bisa menyayangi seperti darah daging sendiri, masya allah pahala kasih sayang sesama manusia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda Rella. Jangankan anak tiri, dengan anak kandung pun bisa saling membenci kalau hubungan tidak didasari kasih sayang yang tulus. Selamat malam. Doa sehat di bulan Ramadhan.

      Hapus
  18. Banyak komunikasi, banyak bersyukur, dan mengelola emosi penting banget dalam membangun sebuah keluarga ya mbak. Jangankan yang tiri-tirian ya mbak, yang nggak tiri-tirian aja kadang ada aja masalahnya, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda Rani. Hidup ini penuh masalah. Tanpa itu dunia akan sepi.Selamat Berpuasa. Terima kasih telah menanggapi.

      Hapus
  19. Hai Bu NUr, menarik sekali artikelnya dari kacamata orang ketiga. aku pribadi juga di posisi anak yang memiliki ibu dan ayah tiri. memang tak mudah dari kacamata anak, apalagi masih remaja. komunikasi terbuka adalah salah satu kunci utama untuk menyelesaikan masalah. sayangnya, skill penting ini tidak banyak dikuasai orang banyak. semoga Allah yang Maha Lembut bisa melembutkan hati mereka semua ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, gara-gara miskomunikasilah masalahnya jadi runyam. Pada hal tak ada persoalan yang tidak selesai kalau ditangani dengan musyawarah dan kepala dingin. Selamatsiang, selamat berpuasa ananda Shafira.

      Hapus
  20. Terbayang kehidupan rumah tangga ketika masih pacaran itu yang happy happy aja.
    Begitu sudah menikah dan menjalaninya setiap hari, tentu banyak sekali masalah yang mungkin timbul.
    Sedihnya, kalau gak ada yang mau mengalah.

    Dapat sesama single saja banyak sekali tantangannya, apalagi mendapat yang sudah pernah mengenyam kehidupan pernikahan sebelumnya.

    Sebagai manusia biasa yang diberi rasa, pastilah ada cemburu dan hal-hal seperti itu yang muncul selama perjalanan pernikahan.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Uniknya, perjodohan itu, kadang-kadang pasangan menikah sesama single. Seiring perjalanan waktu, masuk orang ketiga yang berujung pada hadirnya anak tiri dalam keluarga. Duh ini yang paling menyakitkan. He he ... selamat siang, ananda Lend. Terima kasih tanggapannya. Selamat berpuasa.

      Hapus
  21. Naudzubillahimizalik semoga kita semua dijauhkan dari keretakan rumah tangga. intinya komunikasi pasangan harus diperbaiki ya mba. jangan ada dusta diantara kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan yang paling penting sedapat mungkin pilihlah jodoh sesama belum punya anak ya, ananda Irma. Dan kalau memang tidak bisa mengelak, harus siap dengan segala risiko. Selamat siang. Terima kasih tanggapannya. Salam Berkah Ramadhan.

      Hapus
  22. Saya tidak pernah merasakan dan melihat secara langsung kondisi ibu dan anak seperti ini
    Seringnya cuma di TV
    Namun, saya percaya masalah yang timbul hanya karena kurang komunikasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ananda Rahmah. Dari awal komunikasinya penuh kepalsuan. Kalau saja masing-masing pihak bicara jujur, mungkin masalahnya akan lain. Terima kasih telah hadir. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  23. dalam kehidupan sehari hari, "miskomunikasi" diantara hal yang juga sering diabaikan ....

    nice posting, thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Tanza. Padahal kadang kasusnya berawal dari masalah spele. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus