Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Kekhasan Tradisi Petang Balimau di Inderapura yang Wajib Anda Tahu

 

Upacara petang balimau masyarakat Indrapura Pesisir Selatan Sumbar, yang digelar secara adat. Foto indojatipos.com

Bagi masyarakat perkotaan, menyongsong datangnya puasa Ramadhan mungkin biasa-biasa saja. Namun di desa, wah-nya luar biasa.

Di daerah kelahiran saya Inderapura Pesisir Selatan sana, penyambutan bulan puasa  dilaksanakan dengan hidmat dan meriah.

Penduduk setempat menyebutnya petang balimau. Di mana, pada hari itu mereka mandi balimau. Yakni, mandi keramas pakai rebusan jeruk nipis atau jeruk purut atau jeruk  lainnya, ditambah ramuan wewangian dari tumbuhan.

Dikatakan petang balimau karena biasanya ritual tersebut dilakukan pada sore hari. (Petang = sore, balimau = keramas).

 

Limau siap pakai. (Foto NURSINI RAIS)

Kata nenek-nenek kampung,  tradisi mandi balimau ini bertujuan untuk mensucikan diri dari sifat hasat dengki, dan perasaan buruk lainnya, agar puasa kita diterima oleh Allah SWT. 

Budaya ini telah berlangsung secara turun temurun sejak ratusan tahun silam. Perhelatannya digelar sehari sebelum puasa. (Untuk tahun ini bertepatan dengan hari Senin, 12 April 2021). Baik secara adat maupun secara pribadi. 

Saya tak tahu apakah di masa pandemi ini acara versi adatnya tetap diselenggarakan atau tidak. Mengingat prosesinya tak bisa terlepas dari kerumanan manusia.

Namun, bahasan ini saya batasi pada lingkup  penyelanggaraan secara pribadi saja.

Pada hari itu, setiap rumah tangga menyiapkan ramuan buat dipakai untuk mandi balimau. Aroma kampung yang awalnya biasa-biasa saja,  seakan berganti dengan bau dewa dari gunung merapi.

Nuansa kepetangbalimauannya terasa lebih spesial karena dilengkapi dengan tradisi  unik yang hanya berlaku pada momen-momen tertentu saja. Di antaranya:

1. Memotong Sapi atau Kerbau

Foto NURSINI RAIS
 
Zaman saya kecil, penjual daging sapi atau kerbau hanya beroperasi pada saat tertentu saja. Khususnya pada hari-hari keagamaan. Salah satunya pada  hari petang balimau.

Kalau warga mau beli daging, harus ke ibu kota kabupaten Painan. Jarak tempuhnya  seratusan kilometer.  Kini zaman telah berubah. Masyarakat dapat membeli daging kapan maunya. Minimal sekali seminggu di hari pekan.

Maka oleh sebab itu, jauh sebelum hari H-nya sebagian rumah tangga sengaja mempersiapkan dana untuk membeli daging. 

Tetapi bagi yang tidak punya uang, atau tak suka makan daging, memotong ayam adalah alternatif  lain. Intinya, pada hari itu aroma dapur penduduk beda dengan hari biasanya.

2. Membuat Lemang dan Ketupat

Membuat lemang. Foto NURSINI RAIS
 
Kekhasan  lain dari petang balimau adalah membuat lemang dan ketupat. Ada juga yang membuat kue-kue tradisional lainnya seperti klepon wajik, lapek dan , dan sebagainya.

Namun, lemang dan ketupat adalah kuliner khas penyambutan Ramadhan dan upacara keagamaan lainnya. Bukan petang balimau namanya tanpa kehadiran lemang dan ketupat. Meskipun kue  lain tak kalah enak daripada kedua kudapan tersebut.

3. Sedekahan

Selain disantap bersama keluarga, peruntukan menu yang telah disiapkan adalah buat disajikan pada acara sedekahan. Sebab, seremoni inti dari petang balimau itu adalah membaca doa di  rumah tangga masing-masing.

Tamu yang diundang, kaum kerabat, tetangga dan sanak keluarga. Pada kesempatan itu, tuan rumah minta dibacakan doa, memohon pertolongan kepada Sang Pencipta supaya diberikan kekuatan dan kesehatan untuk menunaikan puasa, dengan perolehan pahala yang melimpah.

4. Nyalang Mintuo dan Orang-orang yang Dituakan

Pada  hari baik bulan baik ini pula budaya kunjung mengunjungi dihidupkan. Bila petang balimau telah tiba, datanglah ke kampung saya.  Anda akan menemukan para perempuan muda menenteng rantang berisi jambar untuk diantarkan ke rumah kerabat atau keluarga terdekat.

Menantu mendatangi  mertua, yang biasa disebut nyalang mintuo. Cucu mengunjungi nenek dan kakek. Keponakan nyalang mamak (paman), dan seterusnya. Dalam hal ini berlaku hukum yang muda mendatangi yang tua atau dituakan.

Empat puluh tahun di perantauan, saya tak menikmati lagi semarak hari petang balimau. Kangen? Itu pasti. Namun, Yang Kuasa telah menakdirkan saya menghabiskan hampir setengah abad hidup ini di negeri orang.

Kini mandi balimau mungkin bisa saya laksanakan sendri. Namun, kekhasan tradisi petang balimau  hanya tinggal kenangan. Dan tak mungkin terulang kembali. Semoga bermanfaat.

Baca juga: 

.****

 Penulis,

Hj.NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi

 

 

30 komentar untuk "4 Kekhasan Tradisi Petang Balimau di Inderapura yang Wajib Anda Tahu"

  1. budayanya unik ya mba, wajib di pertahankan, apalagi jaman sekarang budaya di desa sudah banyak yang luntur karena globalisasi, anak-anak muda lebih suka bermain game ketimbang melestarikan budayanya, he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mas Kuanyu. Kalau tidak dimulai dari desa, dimana lagi budaya bangsa ini akan tumbuh dan berkembang. Terima kasih telah mampir, salam sukses selalu.

      Hapus
    2. salam sukses juga mba Nur

      Hapus
    3. Salam kembali, Mas Kuanyu.

      Hapus
  2. semoga tradisi ini tetap berjalan yambak sampa anak cucu soalnya seru kalo mengikuti tradisi seperti ini, jadi penuh makna

    BalasHapus
  3. Amin, Mbak Amirotul. Terima kasih telah hadir. Selamat berpuasa.

    BalasHapus
  4. Terima kasih Ibu
    Selamat menjalankan rangkaian ibadah Ramadan
    Salam sehat n salam hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mas Susy. Terima kasih doanya. Salam sehat juga untuk keluarga di sana.

      Hapus
  5. Nah, tradisi lawas seperti petang balimau ini nih harus dilestarikan dan dilaksanakan secara kontinyu agar tidak tergusur modernisasi.

    Selamat menjalankan puasa, kak Nur.

    BalasHapus
  6. Seharusnya begitu, ananda Himawan. Jangan panggil Kak Nur lah. Kemudaan. He he ... terima kasih telah berkenan singgah. Salam Ramadhan penuh berkah.

    BalasHapus
  7. Banyak tradisi pedesaan yang unik menyambut bulan Ramadhan ya Bu nur, salah satunya petang balimau ini.

    Tradisi nya cukup unik, keramas biar bersih dan wangi, terus ada yang masak daging. Kemudian masak ketupat, bersedekah dan mendatangi mertua atau orang yang dituakan.

    Kalo di Jawa ada tradisi nyadran, yaitu tradisi mendatangi makam orang yang sudah meninggal untuk dibersihkan, kemudian slametan Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lain lubuk beda ikannya ya, Mas Agus. Di daerah kami juga mendatangi kuburan sebelum puasa. Tetapi gotong royong membersihkan makam. terima kasih telah mengapresiasi. Selamat berpuasa, suses selalu ya.

      Hapus
  8. Wah, menarik juga ya tradisi masyarakat dari daerah mbak Nur ini.

    Saya sendiri punya pengalaman menarik ketika sempat tinggal di luar kota, waktu itu kebetulan di Sambas, Kalimantan Barat.

    Lebaran di sana itu, bisa berlangsung selama 1 bulan.

    Bahkan, 17 Agustusan, peringatan hari kemerdekaan NKRI saja disana itu diperingati dari tanggal 17 Agustus hingga 17 September.

    Sekarang di Jakarta, mungkin karena masyarakat disini kebanyakan masyarakat urban, mesti sedikit ke pojok kota untuk merasakan budaya Betawi yang sesungguhnya.

    Hehe, padahal saya sendiri orang Betawi secara keturunan, tapi saya tidak paham betul dengan budaya, tradisi dan adat istiadat masyarakat di kota saya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, ternyata budaya Betawi masih bisa dinikmati ya di kota Jakarta ya, Mas Dapunta. Meskipun di daerah pinggiran. Karena di setiap kota, kebanyakan (meskipun tidak semua) penduduk asli itu pasti tergusur ke daerah pingguran. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  9. selama saya tinggl di Pekanbaru sering lihat orang balimau di sungai Siak Bu Nur..
    Ramee, seru dan kayaknya baru afdol menjalankan ibadah puasa kalau sudah balimau dulu ya..

    Saya senang karena sering kebagian lamang tapai dalam bambu yg dibakar dari tetangga

    BalasHapus
  10. Selamat malam bu hajah, baru bisa hadir nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat malam juga, ananda Grilee. Terima kasih telah menyapa. Salam Ramadhan berkah.

      Hapus
  11. Wah meriah bu, semoga tradisi ini bisa terus terjaga sampai ke anak cucu.. Senang masih bisa membaca dan jadi tahu ragam budaya di Indonesia ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin ananda Naia. Terima kasih tanggapannya. Selamat menjalankan ibadah puasa.

      Hapus
    2. sama2 Bu, selamat menjalankan ibadah puasa juga

      Hapus
  12. tradisi lama masih dipelihara..... mantul.
    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, alhamdulillah, Mas Tanza. Sepanjang sejarah ritual ini tak pernah sbsen. Terima kasih telah hadir. Salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  13. Nita paling suka dengan lemang ketupat bunda...biasanya kalau pas lihat news atau berita di TV pas nuansa Ramadhan begini kalau kebetulan menyiarkan adat di Sumatra...pasti ada ngulas kuliner lemang. Dan saat nita masih stay di jakarta lalu singgah ke pasar benhil, pasar musiman tiap ramadhan selalu yang nita jumpai di beberapa lapak adalah lemang tapai yang lezat ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ananda Nita...! Kalau ananda pernah tinggal di Padang, lamang tapai paling terkenal produk Air Haji. Di rantau bunda tinggal sekarang juga ada. Tetapi tidak seenak lamang tapai Air Haji. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat berpuasa.

      Hapus
  14. Tradisi yang unik dan baik untuk dilestasikan nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin Mas Bang Day. terima kasih telah singgah. Selamat berpuasa, salam berkah Ramadhan.

      Hapus
  15. unik sekali budayanya bu Nur
    ada masak daging kerbau juga
    tapi memang di banyak daerah tradisi masak masak sebelum ramadan seringkali dilakukan
    cuma di daerah saya engga ada acara mandi itu

    BalasHapus
  16. Semoga bulan puasa kali ini masih tetap dengan budaya2 yg ada. Terasa bgt sejak pandemi, bulan puasa dan lebaran itu jadi beda bgt suasananya... semoga pandemi ini segera berlalu ya mbak...

    Pokoknya suasana bulan puasa itu selalu ngangenin masa2 kecil dulu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mas Penghuni 60. Berpuasa di kampung halaman semasa kecil adalah masa yang paling indah. Selamat malam. Terima kasih telah berkenan singgah. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  17. Semoga puasa kali ini jadi lebih baik untuk kita semua yaa bund

    BalasHapus