Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Kiat Ampuh Mencegah Persaingan antar Menantu

 

Ilustrasi  persaingan antar menantu merebut perhatian  mertua. (Foto dikutip dari www.coretanzone.id)

Persingan antar menantu untuk merebut perhatian mertua, jamak terjadi. Terutama oleh kaum hawa, yang jumlahnya lebih dari satu orang dalam sebuah keluarga. Sebab, mereka lebih ekspresif dibandingan kaum adam.

Jika persaingan sifatnya positif,  tentu akan membawa kebaikan.  Mereka berlomba-lomba dan kompak memperhatian kebutuhan mertua.  Mulai menyiapkan makanan kekesukaan, memperhatikan kesehatan, sampai mengajak mertua tinggal serumah dan lain sebagainya.

Tetapi, sepanjang pengetahuan saya, yang sering terjadi persaingan negatif. Mereka berkompetisi mengambil hati mertua dengan tujuan  agar dianggap menantu terbaik atau menantu kesayangan. 

Boleh jadi di balik itu semua, ada misi terselubung untuk menguasai harta mertua. Apalagi mertuanya golongan orang berpunya dan terpandang.

Jika  berhasil, mereka puas dan merasa menempati posisi terkuat dibandingkan menantu-menantu yang lain. Biasanya pememenang  persaingan mendapat dukungan dari  keluarga besar suami. Mulai kakak dan adik ipar (selain suami mereka), sampai ke keponakan suami.

Masalah seperti ini sering berujung adu mulut antar memantu sampai tidak bertegur sapa. Tak tertutup juga kemungkinan para suami mereka terbawa arus. Hubungan yang dahulunya  rukun, berubah menjadi perpecahan dan saling benci.  

Apabila ada indikasi persaingan tak sehat tersebut akan terjadi,  berikut 5 kiat ampuh untuk mencegahnya:

1. Mertua harus netral

Dalam kasus seperti ini, kata netral hanya enak diucap. Tetapi  sulit  dipraktikkan. Terlebih mertua,  yang maaf, kurang pengalaman, dan kurang iman.

Percaya atau tidak, banyak terjadi di lingkungan saya dan mungkin juga di tempat Anda, para mertua cendrung pro ke menantu yang paling manis budi bahasanya,  mampu ekonominya, dan  royal dompetnya. 

Terutama ibu mertua.  Suka memuji-muji menantu yang satu dan menjelek-jelekkan menantu lainnya. Jika  gaungnya sampai ke luar rumah, kata netral hanya slogan dan semakin jauh dari jangkauan.

Ada lho, gara-gara sikap mertua seperti ini, rumah tangga anak hancur dan berakhir pereraian.  Saya salah satu saksi sejarahnya yang masih hidup.  Sang pemenang persaingan mati-matian mempertahankan singasana yang berlabel  menantu kesayangan.

Wahai para mertua bijak nan cerdas! Jangan mudah termakan hasutan anak dan menantu. Apabila melihat gelagat persaingan tidak sehat antara mereka, Segeralah turun tangan. Nasihati anak-anak dan menantu.

Jangan sekali-kali ikut memanas-manasi suasana,  membanding-bandingkan menantu satu dengan lainnya. Apabila hal ini terjadi, kusut akan susah terselesaikan.

2. Suami dituntut bertindak sigap

Seperti halnya mertua,  begitu tercium gejala persaingan tidak sehat antar istri pemilik mertua bersama itu,  para suami juga dituntut bertindak sigap. Jika api permusuhan terlanjur berkobar, akan sangat sulit dipadamkan.

Gejala persaingan tidak sehat dimaksud, relatif mudah terdeteksi. Salah satu contonhya, istri sering menunjukkan penghargan  berlebihan kepada mertua. Misalnya memberikan barang-barang mahal, tak mungkin tersejajarkan oleh istri saudaranya yang lain.

Suami berkewajiban memberitahukan  bahwa yang dilalukan istrinya itu kurang  bagus. Bisa membuat para menantu Emak yang lain minder.  Kecuali sang menantu orang kaya raya, tentu menantu yang lain bisa maklum.

3. Sering-seringlah  berkumpul

Sering berkumpul dan melakukan kegiatan bersama antar kakak dan adik ipar,  dapat mencegah persaingan antar menantu. Misalnya memasak bersama,  makan dan berlibur bersama, dan kegiatan lainnya. Tidak harus sering, yang penting rutin.

Bagus  juga mengadakan wikend dan staycation bersama  di home stay atau hotel yang disepakati. Biaya ditanggung bersama. Atau ditangani secara sukarela oleh salah satu saudara yang kemampuan ekonomi lebih.

Melalui pertemun tersebut,  selain mempererat persaudaraan, mereka berkesempatan saling tukar cerita dan pengalaman,  hingga bisa saling mengenal  lebih dekat sifat dan karakter masing-masing.

4. Lakukan komunikasi yang inten

Berkat kemajuan teknologi, yang sulit menjadi mudah, jauh bisa jadi dekat.  Andaikan terkendala jarak para anak dan menantu perempuan  Emak itu  tak bisa berkumpul, dengan saling telepon pun keakraban terjalin kuat. Persaingan tidak sehat bisa terlupakan.

Melalui  telepon, apa yang tak bisa disampaikan. Mau berbagi resep, curhat, bergosip, asal jangan menggibah mertua. He ... he ....

5. Saling menghormati antar seluruh anggota keluarga

Saling menghormati antar seluruh anggota keluarga adalah kiat ampuh lain untuk mencegah persaingan negatif antar menantu. Menantu satu tidak merasa lebih pantas dihargai ketimbang yang lain.

Para  perempuan pemilik satu mertua ini hendaknya menyadari,  mereka punya keduduan  yang sama dalam keluarga besar suami. Tanpa memandang latarbelakang dan status sosial. Apakah mereka berasal dari keluarga  miskin atau keluarga konglomerat, dan anak pemulung atau anak pembantu.

Para menantu tersebut disatukan karena pernikahan. Sebelumnya  status mereka  sama-sama orang lain alias pendatang dalam keluarga suaminya.  Alangkah tidak eloknya, gara-gara pendatang keluarga sang mertua berantakan.

Di sini naetralitas mertua benar-benar  diuji. Mereka dituntut  bijak  dalam bersikap. Sebab, mertua  adalah role model bagi anak menantu. Pandai menimbang sama berat, membagi sama banyak. Termasuk dalam berbagi kasih sayang dan rasa saling menghormati.

Demikian 5 kiat ampuh mencegah persaingan antar menantu ini ditulis atas opini pribadi, didukung temuan di lapangan. Bukan bermaksud menggurui. Mungkin Anda punya pengalaman sendiri dalam masalah ini.  Silakan share di kolom komentar. Semoga bemanfaat.

Baca juga:  

*****
Penulis,
Hj.  NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi.

32 komentar untuk "5 Kiat Ampuh Mencegah Persaingan antar Menantu "

  1. Aku belum punya menantu Bu, soalnya anak juga baru SD. Tapi aku perhatikan memang ada persaingan antar menantu.

    Tetangga saya orang kaya dan punya beberapa mobil, menantunya yang lelaki kebanyakan gitu biar disayang mertuanya.😅

    Waduh, malah jadi ghibahin orang.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Itu ciri khas oknum kurang kreatif dan menantu pemalas. Malas mikir, malas kerja. Ngarap harta dari mertua. Kerja dan menikmati hidup di atas cucuran kerigat sendiri itu adalah harga diri bagi lelaki. Ahay .... Maaf, nenek telah nyiyir terlalu dalam. selamat sore, Mas Agus.

      Hapus

  2. Benar ya bunda, menantu lelaki mah sekarang kebanyakan gitu? Bukannya membawa aura positif dalam keluarga justru malah membawa aura negatif jahat ke mertuanya sendiri , gak peduli dengan kebutuhan mertua, kalau udah begitu rumah bagaikan neraka jahanam .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf bunda, tari jadi curhat dikit di blog bunda.

      Hapus
    2. Ternyata menantu lelaki ada juga yang berhati jahat ya, ananda Tari. Itu hanya oknumnya, kan? Tetapi menurut penelitian, sebagian besar yang suka bersaing merebut hati mertua itu oknum menantu perempuan. Yang pasti, pria dan wanita itu tingkahnya beda tipis.
      Kerena mereka sama2 makhluk Tuhan yang punya kekurangan dan krlebihan. Nah, kalau ada menantu yang menyebabkan perpecahan dalam keluarga besar mertua, itu ya, keterlaluan, dan sangat disayangkan. Terima kasih telah singgah, doa sukses untukmu sekeluarga.

      Hapus
    3. Gak apa-apa ananda Tari. Salah satu gunanya blog itu tempat kita curhat. Curhat itu obat bagi jiwa yang sedang tak enak. Kalau di tahan2 bisa jadi penyakit. Salam srhat srlalu ya.

      Hapus
  3. Gak apa-apa ananda Tari. Salah satu gunanya blog itu tempat kita curhat. Curhat itu obat bagi jiwa yang sedang tak enak. Kalau di tahan2 bisa jadi penyakit. Salam srhat srlalu ya.

    BalasHapus

  4. Iya, oknum menantu lelaki saja bunda ??? Cuma ini kan kalau mertuanya lengkap okelah masih bisa ditolerir , tapi kalau mertuanya tinggal satu ibu doang kok rasanya menyakitkan . Dan sebagai anak kedua dan belum nikah pula wajib dong ya bunda menghibur ibu kandungnya dan membuatnya tersenyum agar awet muda ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meskipun mertuanya lengkap, tak pantas juga selaku menantu, bikin pusing mertua. seharusnya dia melindungi, biar orang tua menikmati sisa usianya dengan tenang.

      Ya. Tindakanmu sudah tepat. Menghibur orang tua supaya beliau tetap tersenyum. Senyum itu sehat. Selamat malam ananda Tari. Selamat istirahat.

      Hapus
  5. mungkin, kita masih saling menghormati antara anggota keluarga.
    Apakah sudah berubah?

    # Terima kasih tulisannya, telah mengingatkan.

    Have a nice weekend

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smin, Mas Tanza. Semoga oknum menantu yang belum sadar kedudukannya dalam keluarga mertua itu segera ngoreksi diri. Selamat Jumat barokah.

      Hapus
  6. Hai ibu..Sudah lama ga mampir nih. Semakin senang dengan membaca tulisan ibu mertua kece begini. Alhamdulillah, saya pun masuk dalam keluarga besar suami yang sangat kompak. Padahal saya dengan 5 saudara ipar (suami anak kedua dari 6 bersaudara yang kebanyakan lelaki) usianya hanya selisih satu dua tahun saja. Sempat tinggal berdekatan, rasanya kayak dapat para saudari baru yang seru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ananda Nisa. Ini patut disyukuri. Memang banyak saudari/saudara ipar yang kompak. Biasanya mereka-mereka itu orang berpendidikan dan agamanya bagus. Oknum yang suka ngambil muka sama mertua juga banyak. Terima kasih telah singgah. Selamat berhari Jumat nsn berkah.

      Hapus
  7. Benar kelima kiat ini. Hanya saja nomor satu kayaknya sulit di terapkan, saya lebih suka tidak konfrontasi dengan mertua saya, mengalah itu belum tentu berarti kalah, malah bersabar itu rasanya manis. Kita semua suatu hari akan menghadapi fase itu jika memiliki keturunan: Menjadi mertua he he he.

    Kehidupan menuntut kita menghadapi problema dengan sebijaksana mungkin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "... mengalah itu belum tentu berarti kalah, malah bersabar itu rasanya manis." >>> bagus Pak Sofyan.

      Memang sulit. Terlebih mertua yang kamp ....an kurang pengalaman. Saya kasian dengan menantu punya emak mertua tipe ini. Kalau kurang dikasih, sang mertua ngomel. Suaminya cuman pekerja serabutan. Akhirnya menantunya mundur dan kabur. Untungnya belum punya anak. Selamat pagi. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  8. 1000 banding 1 yg bisa akur ya mantu dan mertua hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terutama menantu perempuan dan ibu mertua ya, ananda Rezky. Nenenk ini insyaallah akur. Minimal diakur-akurkan saja. Nenek tak rela rumah tangga anak menantu hancur gara-gara nenek selaku mertua. Kasian mereka masih saling menyayang. Di tempat nenek ada tuh, mertua tukang pecah belah anak menantu. Tapi bagi kalian kaum suami, usahakan seminim mungkin bertemu ibu dan bapak mertua. Supaya tak banyak kelihatan salahnya. Biar ngontrak sepetak kecil. Syukur, nenekpunya 2 menantu. 1 cewek 1 cowok. Alhamdulillah akur-akur saja. Tapi mereka tinggal di kota berbeda.

      Hapus
  9. Aku pernah diceritakan sama temanku gitu karena dia hamil duluan dibanding menantu lainnya yang lebih lama, langsung main blok whatsapp. Kaget dong cuma masalah gitu. Alasannya takut ibu mertuanya lebih sayang temanku karena udah kasih cucu.

    Dari situ aku jadi pengen nanti punya suami yang saudaranya cewek aja jadi nggak ada persaingan antar menantu perempuan. Kadangkan perempuan cenderung lebih baper. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, gara2 iparnya hamil duluan, langsung blokir medsosnya. Sungguh oknum manusia bersumbu pendek ya, ananda Zakia. Gak malukah mereka pada dirinya sendiri? Tak sanggup menahan dengki. Saudara suami cewek semua, mungkin kasusnya beda lagi. Selamat malam. Terima kasih atensinya.

      Hapus
  10. Wah terima kasih sharingnya Bu Nur, jadi tahu kalau ternyata ada perlakuan sesuai fiat masing masing menantu. Harusnya menantu yang menyesuaikan dengan kebiasaan dan kegiatan mertua. Pintar pintar menjaga perasaan mertua dan harus berterima kasih karena sudah diperboehkan menyunting putri beliau. Terima kasih sharingnya Bu, salam sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau semua menantunya saling menjaga dan pandai menyesuaikan diri, insyaallah hal yang tak diinginkan pasti keluarga besar suami baik-baik saja. Yang susahnya salah satunya ada yang tak mau menanggalkan egois. selamat malam Pak Eko. Doa sehat selalu.

      Hapus
  11. Alhamdulillah di keluarga kami biasa melaksanakan seperti yang disebutkan bunda di poin 3, yaitu sering berkumpul. Kami menjadwalkan Jumat untuk berkumpul di pesantren sang kakak, acara santai, silaturahmi, diselingi makan bersama untuk mempererat tali ikatan keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungguh, dirimu sangat beruntung, ananda Regen. Tergambar jelas kalian orang-orang berpengalaman dan ngerti agama. Dan bangganya, punya saudara memiliki psantren. Selamat malam. Terima kasih telah singgah. Dos sehat penuh berkah.

      Hapus
  12. terima kasih tipsnya bunda, untungnya keluarga suami cuma berdua sepasang kakak adik laki2 dan perempuan, jadi gak ada istilah persaingan menantu. Tapi saya sendiri kebetulan baru merasa disayang di tahun ini, setelah 13 tahun menikah. Hehheehe sebelum2nya mertua masih sangsi apakah saya layak atau tidak menemani anaknya karena kami berbeda suku. Syukurlah sekarang saya merasa benar-benar disayang, dan gak ada lagi perbedaan antara saya mau pun anaknya yang perempuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau anaknya sudah cinta, nyaman dan bahagia, pasti layak, ananda. He he ... selaku nenek-nenek yang memegang jabatan sebagai menantu, bunda sering heran, kalau ada mertua yang menyangsikan pasangan anaknya. Seolah-olah dia mendambakan sosok menantu tanpa cela. Selamat pagi, ananda Naia. Maaf telat merespon.

      Hapus
  13. Untungnya saingan saya di mertua cuman 2 Bu, dan memang saya paling anti bersaing, jadi belum jadi masalah pelik sih, meski jujur pernah juga merasa sedih karena mertua membeda-bedakan menantunya, dilihat dari siapa yang menghasilkan uang hahaha.

    Dulu waktu saya kerja, saya disayang banget ama mertua, soalnya saya tinggal di rumah mertua dan kayak ngekos hahaha.
    Jadi ya bayar ini itu, belanja ini itu.
    Makanya disayang.

    Setelah jadi IRT, udah nggak bisa ngasih-ngasih lagi, apalagi di masa pandemi gini, suami kesulitan finansial juga.
    Jangankan ngasih, malah suami yang dikasih ortunya, huhuhu.

    Sejak saat itu juga saya merasa kurang disayang lagi kayak dulu.
    Cuman ya karena saya jarang ke mertua, ga jadi beban pikiran juga :D

    Dan kalau masalah warisan, mertua orangnya lebih ke anak-anak perempuan sih.
    Terutama mertua perempuan, kalau bapak mertua sih adil, semua anaknya dianggap sama.
    Punya tanah dibagi rata ke semua anaknya, baik perempuan maupun laki :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Miris ya. mertua menyayangi menantu karena sering dikasih duit. (meskipun tidak semua). Maunya selalu diumpani. Tanpa melihat kondisi keuangan anaknya. Ini adalah kekeliruan besar.

      Tindakan ananda Rey, jarang mendatangi mertua dan tidak ambil pusing merupakan kiat yang tepat untuk menyikapinya.

      Selaku mertua saya sejak lama pakai jurus serupa mengahadapi menantu, jika ada sifat2nya tak berkenan di hati.

      Kuncinya ada 3. Jangan terlalu sering berkumpul, jangan dighibah ke luar rumah, dan pasang prinsip, "Dia tidak tiap hari bersama saya."

      Makanya, pasangan yang telah menikah, sedapat mungkin tinggal terpisah dari orang tua. Walau hanya ngontrak sepetsk kamar. Selamat pagi, ananda Rey. Doa berkah untuk keluarga di sana

      Hapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Kalau sya mah milih ga ikut kompetisi itu Bu... Habis energi terkuras. Biarlah kalau mertua saya sayang dengan menantu satunya misal ini terjadi. Malah kebeneran saya, hehehe

    BalasHapus
  16. Membaca ini aku jadi bersyukur banget karena dekat sama ibu mertua. Alhamdulillah beliau sangat baik, bahkan selalu support, suka kirim makanan juga. Sama ipar pun berhubungan baik. Memang ini salah satu rejeki besar dalam hidup sih

    BalasHapus
  17. Terimakasih Bunda Nur atas tipsnya menjadi mertua yang baik, bisa dipraktekan nanti kalau dah punya menantu, hehehe. Kebetulan saya sudah tidak ada lagi mertua, keduanya sudah wafat. Tapi memang dalam hubungan mertua menantu tidak selamanya berjalan indah, pasti ada suka dukanya. Pun dengan sesama menantu ya, tapi balik lagi ke pribadi masing2, bagaimana berusaha agar hubungan tetap berjalan baik, meski kadang ada lika likunya. Intinya sih saling menghargai dan mengalah untuk hal2 yang sepele, jadi meminimalisir konflik.

    BalasHapus
  18. Bunda kalo nulis kok relatable banget yaak, wkwkwk
    Memang begitulah.
    Dunia orang dewasa super complicated, termasuk masalah persaingan antar menantu ini.

    BalasHapus