Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sepanjang Hidupnya Manusia Diperbudak oleh Perut

Tandas dalam proses renovasi. (Ilustrasi, Sepanjang  Hidupnya  Manusia Diperbudak oleh Perut. Foto NURSINI RAIS)

 Zaman sekarang, tiolet lebih penting  daripada tempat tinggal. Kalau tak punya rumah, bisa ngontrak. Minimal  menghuni  gubuk reot dari kardus atau hidup nomaden dalam gerobak, di kolong jembatan, atau  ruang apa saja asal bisa berteduh.

Apa-apa semuanya di sungai

Beda dengan waktu dahoeluuuu .... Penduduk yang tinggal di dusun, khususnya  di  daerah aliran sungai, tak perlu kakus, tak butuh air PDAM. Apa-apa di sungai semua. Maklum,  bumi belum sepenuh sekarang.

Jika tak punya uang untuk beli makanan, bisa minta nasi sama tetangga, pasti dikasih. Asal ngemisnya jangan sama mantan. Malu ..., selangit sebumi.

Bagaimana kiranya era sekarang, andai kita punya rumah tapi tak ada jambannya. Tiada pula wc umum, dan  jauh dari sungai atau empang.

Tandas ngambek

Kondisi ini menimpa saya dan suami seminggu terakhir.  Tiada badai tiada topan tandas tiba-tiba ngambek.  Kami terpaksa numpang BAB ke musala. Jaraknya kurang lebih 300 meter.  Subhanallah. Benar-benar tersiksa.

Jadi ingat filsafat almarhumah nenek  saya. Beliau sering bilang, sepanjang hidup manusia ini diperbudak oleh perut.  Sudah dikasih makan dia minta minum. Parahnya, sudah diisi minta dikeluarkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Yang terakhir saya dan mungkin juga Anda mengamini. Coba saat mau buang air besar ditahan semampunya. Paling kuat menunda satu atau dua jam, dalam kegelisahan pula. 

Selepas itu,  mungkin  bom bisa meledak dalam celana. Terlebih lagi musimnya lancar meluncur  habis makan pepaya, atau agak sedikit mencret, atau mencret benaran. Wow .... Apa kira-kira yang terjadi.

Kisah jijik  bikin ngikik

Saya pernah jijik sekalian ngikik mendengar cerita  gadis tetangga teman anakku. Saat dia sedang naik  travel menuju kota jambi,  perutnya mules hendak buang hajat.  Dia minta Pak Sopir berhenti, barang semenit saja.

Sang sopir menolak dengan alasan, medan yang ditempuh hutan blantara, tempat terkenal dengan perlintasan hariamau.  Jam menunjukkan pukul  12.20.

Setelah dia ngancam akan berak di mobil. Sang sopir menghentikan mobilnya di daerah perladangan rakyat  yang dipenuhi tanaman kayu manis. Tetapi sudah dibalut oleh semak belukar.

“Begitu  celana jens usai saya buka, bom keburu meledak. Sepindon saya penuh.  Waktu itu tak terbayang oleh saya bahaya binatang buas yang mungkin mengintai,” ceritanya berapi-api. 

Saya bertanya, “Bagai mana ceboknya?”

“Saya istinja pakai dedaunan. Habis pakai celana jens, saya naik mobil dengan aroma mewangi-wangi tipis. Tak tahu apakah tetangga sebelah terganggu atau tidak, saya cuek aja. Yang penting saya lega selega-leganya.”  

“Buangnya dimana?” tanya saya lagi.

“Tak pakai buang. Saya  tinggalkan saja dia di sana.”

Pendengar di sekitarnya tertawa ngikik. Termasuk saya.

Menyimak serita diatas, betul kata al marhumah nenekku. Sepanjang hidup manusia itu diperbudak oleh perut.

Demikian kisah ini ditulis, terinspirasi  saat menyaksikan tukang sedang merenov  tandas di rumah saya. Semoga bermanfaat. Dan  mohon maaf kalau ada yang kurang nyaman dengan kisah menjijikkan ini.

Baca juga:  

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci Jambi

28 komentar untuk "Sepanjang Hidupnya Manusia Diperbudak oleh Perut"

  1. Balasan
    1. He he ... Terima kasih tanggapannya, Mbak Amirotul. Selamat berakhir pekan.

      Hapus
  2. Nah betul Bu Nur, ini hal penting yang patut menjadi perhatian. Ada yang masuk dan mesti juga ada yang keluar. Masuknya bisa diatur, lha keluarnya ini kadang nggak tahu kapan...meski umumnya pagi. Urusan perut bisa berabe apalagi kalau tiba tiba kebelet dan tak tertahankan, apalagi saat seperti cerita Bu Nur, pas di perjalanan yang kadang ada pihak pihak yang tidak mau mengerti bahwa akan ada Bom meledak dahsyat ha..ha..ha...yang bisa menggagalkan perjalanan. Salam sehat dan selamat beraktifitas Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... kebelet pagi itu yang perlu diwanti-wanti. Semalaman dia berproduksi. Harus siap penampungan yang memadai. Terima kasih ulasan tambahannya Pak Eko. Selamat berakhir pekan.

      Hapus
  3. Apalagi kalo lagi mencret ya Bu, kalo tidak segera dikeluarkan bisa bahaya, nanti Beol di celana.😂

    Kisahnya bikin ngikik tuh yang tetangga.🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kisah gara-gara tuntutan perut ya, Mas Agus. He he ... Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  4. hehe....
    humor di weekend

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore dari tanah air, MasTanza. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  5. Walaupun mrnjijikan, sepele dan gak guna,, tapi ngeri juga yah kalo sampe gak buang aer apalagi kalo kebelet dan gak ada t4 membuang kayak kisah teman bu nur,, ngerii taruhannya di makan harimau wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Harimau di Kerinci memang ganas, cucunda Alul. tetapi kalau tidak diganggu dia tak akan marah. atau dalam hutan bikin ulah yang enggek-enggak. Selamat pagi. Terima kasih telah hadir.

      Hapus
  6. itu kalo isi perut mau keluar singapun akan kalah. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Sama dengan menahan suami mau selingkuh. kwikiwikk. Terima kasih telah singgah, Mangs Abdul. Doa sukses unkukmu selalu.

      Hapus
  7. aduh bu nur saya auto inget pas satu travel sama orang yang lagi diare
    mirip si untung engga sampai di hutan belantara
    memang urusan perut kalau udah ga bisa ditahan ya harus ditunaikan
    kloset saya juga baru mampet dan saya harus ke SPBU kalau mau BAB
    sungguh tersiksa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow ... ke SPBU lumayan ada clening servis untuk menjaga kebersihan. Kalau di muasala, bayangkan saja wc-nya buka bebas 24 jam. Untungnya penduduk setempat tidak terlalu padat. Mereka punya toilet di rumah masing-masing. Terima kasih telah singgah. Doa sehat dari jauh.

      Hapus
  8. Aku mo cerita waktu kecil dulu di kampung halaman, toiletnya itu masih seperti jaman batu.. Jadi waktu itu, selama di kampung, ga pake BAB seminggu wkwkwkwkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perut yang sangat bersahabat ....! selama di kampung tak pernah BAB. Betul itu Mas Andie. Kalau kita berada di luar daerah jarang buang air besar. Mungkin karena pengaruh perbedaan suhu lingkungan. Selamat pagi terima kasih telah mengapresiasi. Doa sukses dari jauh.

      Hapus
  9. ya mau bagimana lagi kalau perut gak di isi bisa sakit, yang terpenting sekarang sehat, karna makan adalah salah satu kebutuha hidup :d

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas Khanif. Kebutuhan perut akan terhenti bersamaan dengan berakhirnya kehidupan. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sukses dari jauh.

      Hapus
  10. ya ampun.. hahhaha antara jijik dan pengen ketawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Syukur, sepanjang hidup bunda belum pernah kebelet beol dalam mobil. Kalau nahan pipis sering. tapi tidak terlalu parah. Terima kasih apresiasinya ananda Naia. . Selamat malam

      Hapus
  11. Balasan
    1. Lucu sekaligus menjijikkan, ananda Nita. Terima kasih telah singgah ya. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  12. Aku pernah mengalaminya eyang Uti, hal menjijikkan seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he. ... Kalau siang susah nyari tempat yang aman (terlindung), kecuali ada wc umum. Jika malam takut dan mengerikan. Terima kasih telah mengapresiasi ya, ananda. Selamat sore.

      Hapus
  13. Hihihi duh kebayang yang naik bis umum, ada benarnya juga ya kita diperbudak oleh perut 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maunya sebelum berangkat usahaksn BAB dulu ya. Terima kasih telah singgah, ananda Dini. Doa sukses untukmu selalu.

      Hapus