Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang Kembali Kondisi Kampungku Sebelum dan Setelah G 30 S 1965

Ilustrasi Mengenang Kembali  Kondisi  Kampungku Sebelum dan Setelah G 30 S 1965 (Foto dikutip dari
bogor.pikiran-rakyat.com)
 
Peristiwa “Gerakan 30 September”, telah berlalu 56 tahun. Namun kekejaman Partai  Komunis Idonesia itu tak pernah hilang dari ingatan masyarakat Indonesia.

Dalam kesempatan ini saya tidak berkapasitas  membahas kekejaman yang dilakukan partai bersimbol palu arit itu terhadap bangsa ini. Takutnya salah ulas.

Tetapi sekadar feedback, saya ingin meluahkan apa yang terekam di benak saya sebelum dan setelah peristiwa bersejarah nan berdarah itu terjadi. Khususnya di kampung halaman saya Tanjung Batang Kapas, Inderapura, Sumatera Barat.

Zaman itu saya masih hijau, blo-on bin kampungan. Belum mengerti apa-apa tentang partai, apalagi masalah politik.  Tetapi ada tiga peristiwa yang masih terekam di memori saya, sebelum dan setelah Pemberontakan G 30 S PKI. 

1. Bapak tak mau datang diajak rapat

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Emak mengantarkan saya mengaji di surau (musala) tanpa nama. Musala tersebut milik suku  sekumbang yang notabene puak saya.

Di sana saya dan teman-teman sebaya dibimbing oleh seorang  guru ngaji. Beliau kakak sepupu jauh Emak. Kami memanggilnya Wan. (baca: paman).  Beliaulah yang mengajarkan saya hingga pandai baca Quran. 

Dari  Wan juga saya dan teman sepengajian tahu dasar-dasar  ilmu agama, seperti  syahadat, salawat, rukum Islam, rukun Iman,  dan ilmu agama lainnya,  sampai pandai salat.

Setiap malam minggu murid ngaji diliburkan. Sang guru ngaji itu ada agenda  khusus. Tetapi tidak setiap malam minggu. Kalau tak salah ingat paling 2 kali  sebulan.  Katanya ada pertemuan. Sampai sekarang saya tak pernah tahu pelaksanaannya di mana dan dirumah siapa.

Setiap ada acara,  Wan mengundang Bapak, tetapi   beliau tak pernah datang.

Saya sedih dan minder. Sebab tetangga sebelah  yang punya anak  seumuran dan sama-sama mengaji  dengan saya,  Bapaknya  rajin memenuhi undangan Wan.

Siapa yang tidak kesal dan malu, coba! Guru ngaji yang dihormatinya  mengundang, Bapaknya tak pernah menanggapi. Rasanya saya mau menangis menyuruh Bapak pergi  barang sekali saja. Tetapi Bapak tetap menolak.

2. Tertarik dan ingin ikut menyanyikan lagu-lagu merdu

Selain rapat rutin yang digawangi Wan tadi, ada lagi kegiatan lain yang membuat hati saya berbunga-bunga. Pernah beberapa kali rombongan  masuk ke kampung kami entah dari mana. Wan dan Bapak tetangga sebelah juga ikut  bergabung.

Bertempat di rumah tetangga agak jauh dari rumah kami, mereka  mengadakan acara. Lagi-lagi saya tak tahu  entah dalam rangka apa. Yang jelas, saya dan teman sepermainan berkerumun melihatnya.  Orangnya gagah-gagah dan manis. Maklum, namanya anak kampung. Jarang melihat orang ganteng dan cantik. He he ....

Kami  ramai-ramai berdiri di  luar pekarangan. Menyaksikan kegiatan yang hanya pernah dilaksanakan di rumah itu saja. Setiap kali berkumpul, mereka bernyanyi bersama-sama. Sampai sekarang saya persis hafal nadanya. Liriknya cuman ingat dua baris. “Nasakom bersatu, Singkirkan kepala batu.”

Dalam hati saya bergumam, “Kalau diajak saya pasti mau.” He he .... 

3. Saya iri membayangkan perempuan bisa “nyopir” pesawat terbang

Di lain kesempatan, bapak tetangga yang rutin hadir pada bertemuan Wan tadi sering bercerita. Suatu saat nanti keluarga dia dan kelompoknya akan menikmati hidup mewah. Punya rumah bagus, kemana-mana naik mobil pribadi dan pesawat. Perempuan bisa nyetir mobil, pandai “nyopir” pesawat terbang. Ha ha ....

Cerita si tetangga, saya kabari pula pada Emak dan Bapak. Bapak tersenyum masam. Emak sedikit reaktif.  Sepertinya perempuan udik bin kolot itu agak menyesal  karena suaminya tak pernah mau diajak berorganisasi.  

4. Wan dan  pengikutnya diciduk polisi

Suatu pagi Emak memberitahukan saya. Tapi mohon maaf. Jangan ditanya hari itu bulan dan tanggal berapa. Sebab, kami tak kenal kalender. “PKI  sudah ditangkap polisi. Si A, si B, sudah dibawa ke ‘mudik’  ,“ jelasnya.

Kata mudik biasa digunakan oleh orang kampung kami sebagai  tempat khusus. Tepatnya ibu kota kecamatan. Di sana ada kantor camat, kantor polisi, dan kantor lainnya. Apabila dikatakan telah dibawa polisi  ke mudik, artinya sudah ditahan dikantor polisi kecamatan.

“Apa, Mak?” saya balik bertanya  dalam ketidakmengertian.  “Wan Anu dan pengikutnya ditangkap polisi.” Emak mempertegas informasinya.

“Bapak?”

“Tidak. Bapakmu bukan PKI.”

Saya benar-benar tidak paham yang dimaksud Emak. Saya juga tak mengerti apa itu PKI. Mengapa pula Wan dan Bapak tetangga sebelah ikut ditangkap.

Maklum zaman itu. Masyarakat pedesaan memang benar-benar buta dengan dunia luar. Apalagi anak ingusan seperti saya. Satu-satunya  sumber informasi adalah radio, yang hanya dimiliki orang-kaya saja.

Saya masih ingat, beberapa kali masyarakat diperintahkan mendengar radio bersama. Katanya untuk menyimak pidato presiden. Sekarang saya baru ngeh, barangkali saat itu  Pak Soekarno menyampaikan pidato  kenegaraannya  dalam rangka 17 Agustusan.  

Tempatnya di rumah Pak RK (Rukun  Kampung = Kepala Desa).  Mungkin radionya dikasih pinjam oleh pemerintah kecamatan. Pernah juga di rumah istri mudanya Pak Camat.

Eh, maaf, tadi bahasan saya tentang PKI diciduk polisi. Yang disampaikan Emak tadi benar adanya. Kabar membuncah di seluruh kampung. Wan dan semua orang-orang yang rajin mengikuti rapatnya dulu diangkut semua ke Mudik.

Cerita menjadi orang kaya dan membawa bini naik mobil pribadi dan naik pesawat  hanya tinggal mimpi dan berakhir dengan tangis dan pilu. 

5. Yang pergi tidak semuanya kembali

Sebagian mereka yang telah  dibawa pergi oleh polisi itu, ada yang sampai hari ini tak pernah kembali lagi. Namun ada juga yang pulang 1 dan 2 tahun kemudian. Tetapi kondisinya berbeda.  Ada  yang diserang penyakit ayan (epilepsi), ada pula yang minder karena takut  diejek tetangga.  Namanya keluar dari penjara.  

Selanjutnya kepada mereka dikenakan wajib lapor selama bertahun-tahun. Alhamdulillah, beliau-beliau itu akhirnya bebas murni juga, sebelum ajalnya menjemput. 

 Penutup

Setelah memasuki pendidikan di tingkat menengah pertama (1968), saya baru mengerti, ada apa sebenarnya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika itu pula saya mengerti, kenapa dahulu  Bapak tak mau datang diundang Rapat oleh Wan. Apa pula maksud dan tujuannya  orang ganteng dan cantik itu dulu menyanyikan lagu dengan syair “Nasakom bersatu, singkirkan kepala batu.”  

Saya bersyukur Bapak dan keluarga dekat kami tidak ada yang terlibat dalam Partai yang berlambang palu arit tersebut. Seperti Wan dan Bapak tetangga sebelah.

Terakhir saya mohon maaf, artikel ini bukan bermaksud memojokkan kelompok tertentu.  Saya memahami, para oknum kampung  yang terperangkap dalam kelompok tersebut hanya korban.

Semua kenalan kami yang berhasil dipulangkan dari tahanan G 30 S PKI mengaku, mereka terjerumus karena ikut-ikutan.  

Mari kita berwanti-wanti agar bangsa ini tidak kecolongan dan disusupi oleh paham-paham yang bertentangan dengan falsafah negara kita yang berketuhanan Yang Maha Esa ini.  

Demikian Kondisi  kampungku sebelum dan setelah G 30 S 1965.  Semoga bermanfaat.

Baca juga:  

****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci Jambi

27 komentar untuk "Mengenang Kembali Kondisi Kampungku Sebelum dan Setelah G 30 S 1965"

  1. Memang mengerikan peristiwa dimasa lampau itu bu, banyak pertumpahan darah dari orang-orang yang tidak bersalah ataupun belum dinyatakan bersalah. Semoga kelak tidak terjadi lagi peristiwa demikian. salam sehat bu Nur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Begitulah harapan kita semua, ananda Supriyadi. Mari kita mulai dari diri sendiri ya. Menjauhkan ajakan2 yang tidak jelas. Berpolitik tiru2an. Menjadi umpan orang2 yang ingin memanfaatkan kesempatan. Jangan mudah termakan isu yang bepotensi memecah belah. Selamat pagi, ananda.

      Hapus
  2. Saya hanya tau kekejaman PKI melalui tayangan film di TV , apakah benar seperti itukah kekejaman PKI yang di film, ataukah filmnya yang di rekayasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang namanya film pasti banyak bunga2nya, Mas Budi. Yang tahu kondisi sebenarnya adalah pelaku dan korban. Selamat sore, Mas. Terima kasih telah singgah. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
    2. Sebenarnya menurut info banyak kejadian kekejaman PKI seperti di madiun 1948 dan di wilayah lainnya juga. Namun yang paling populer yang kisah G 30 s/PKI 1965

      Hapus
  3. Sebagian korban pada peristiwa G30S PKI itu yang aku dengar itu cuma ikut-ikutan, dalam arti mungkin mereka juga tidak tahu apa yang dibahas pada rapat seperti itu.

    Kasihan, mungkin baru sekali dua kali ikut rapat akhirnya diciduk polisi. Itu tetangga Bu haji yang bisa pulang tapi kena penyakit ayan menurut ku pasti di kantor polisi di...

    Ah sudahlah.

    Aku bukan membela PKI apalagi mereka juga membunuh umat muslim, cuma kasihan kepada mereka yang ditangkap karena sekedar ikut-ikutan. Untungnya bapak Bu haji tidak ikut rapat ya, kalo ikut..😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Duh, Mas Agus, kalau Bapak ikut2an, habislah kami tidak bisa makan. Waktu itu, kami masih kecil2. Terima kasih telah singgah, Mas. Doa sehat selalu penuh berkah.

      Hapus
    3. Iya Bu haji, semoga ibu juga sehat selalu agar bisa ngeblog terus, suka baca cerita dari sumbernya langsung.

      Hapus
  4. senang baca kisahnya, dari saksi sejarah langsung.
    Alhamdulillah, ingatannya masih kuat.

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Hanya peristiwa bersentuhan langsung dengan mata dan hati yang mampu saya ingat, Mas Tanza. Terima kasih atensinya, selamat berakhir pekan.

      Hapus
  5. Ada banyak sejarah di balik kejadian itu ya mba, dan dari sana sepertinya kita harus belajar dan belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Kuanyu. Anak2 sering saya ingatkan supaya jangan mudah terpengaruh oleh ajaran dan ideologi yang tidak jelas. Selamat malam minggu. Salsm sejahtera buat keluarga di sana ya.

      Hapus
    2. salam sejahtera juga mba, dan salam balik untuk keluarga mba di sana

      Hapus
  6. Moga negara nusantara aman, peristiwa silam diambil sebagai iktibar.

    BalasHapus
  7. Terima kasih telah berbagi cerita Nek, jadi paham situasi kondisi zaman PKI dulu. Apalagi ini kisah nyata Nenek kan?

    Miris juga ya Nek, informasi dan edukasi dari pemerintah kurang bagi penduduk kampung saat itu. Jadinya banyak yang terjerumus, Alhamdulillah Bapak Nenek tidak ikutan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dahulu informasi sangat terbatas, ananda Teddy. Micropon saja hanya mesjid besar yang punya. Radio dalam satu desa paling ada 2. Kehidupan rakyat sangat sulit. Banyak rakyat kelaparan. Benar2 kelaparan. Tidak ada nasi untuk dimakan. Selamat pagi, ananda. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
    2. Sama-sama Nek, semoga sehat selalu ya Nek

      Hapus
  8. Ngeri cerita nya Bu Nur
    Memang yang diciduk kebanyakan ikutan saja dan gak paham sedang terjadi apa
    Tragedi ini memang membuat luka.
    Kalau bicara Sumatra Barat saya juga jadi ingat trauma PRRI.
    Apa di kampungnya Bu Nur juga terjadi peristiwa ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah salah satu pelaku/saksi sejarah PRRI, Mas Ikrom. Ketika pesawat terbang menembak salah satu sasarannya, (sebuah gudang biasa di sebut gudang garam). posisinya di pelabuhan Sungai Muara sakai. Kira-kira 1 km dari rumah saya. Saat itu saya belum bersekolah. Suatu hari ikut emak ke ladang. Begitu pesawat ramai-ramai di udara seketar ladang kami, Emak membawa saya tiarap dalam parit. Beliau menimbun tubuh saya dengan dedaunan. kemudian beliau melindungi anak semata wayangnya ini. Posisi tubuhnya seperti merangkak di atas tubuh saya. Ha ha ... cuman itu yang masih saya ingat. selamat siang. Doa sehat penuh berkah untuk keluarga di sana.

      Hapus
  9. Ngerii yh nek pada jaman itu,,, tapi pasti seru juga yah kan pernah merasakan salah satu momen sejarah indonesia hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngeri? gakjuga, cucunda. Maklum, zsman itu nenek masih kecil. Gak tau masalah partai, belum mengerti apa itu politik. Terima kasih, cucunda Fahrul. Terima kasih telah singgah. Salam hangat selalu.

      Hapus
  10. Cerita sejarah yang luar biasa dari Bu Nur. Penngalaman sejarah yang memilukan dan jangan sampai terulang. tetap waspada dari kebangkitan PKI. Terima kasih sharingnya Bu Nur. Salam sehat dan selamat beraktifitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Pak Eko. Yang paling memilukan, cerita mantan tahanan, bagaimana rekan2nya diangkut satu persatu lalu lenyap untuk selamanya. Padahal mereka orang awam yang hanya ikut2an. Terima kasih telah singgah. Selamat istirahat.

      Hapus
  11. kezaliman dan kekejaman PKI sama seperti PKM di Malaya suatu ketika dahulu. tiada cerita yang indah melainkan cerita sedih semata

    BalasHapus