Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bigini Sikap Sulaiman si Petani Muda Ini, Saat Buah Cabenya Dimaling

Uncategorized

Bagi petani murah mahalnya nilai jual hasil penen, mereka menerima dengan segala kepasrahan. Tetapi kalau tanamannya  dipanen oleh orang yang tidak berhak, ini yang membuat mereka kecewa, kesal, dan tidak terima.

Kondisi ini dialami oleh  Sulaiman (27) seorang  petani muda Desa Simpang Empat Danau Kerinci. Buah cabenya dipanen paksa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Tak hanya memetik buah

Ilustrasi: Sikap Sulaiman si Petani Muda, Saat Buah Cabenya Dimaling (Foto SULAIMAN) 

Tangan  jahil itu tidak hanya memetik buah matangnya. Butir-butir yang masih hijau sekalian pucuk dan bunganya pun dia renggut.

Menurut Sarjana Elektro jebolan Universitas Bengkulu itu, semenjak cabenya mulai matang dan sudah bisa dipanen, dia menjaganya dengan rutin. Ditemani adik sepupunya setiap malam dia rela nginap di pondok kebun.

Selasa malam, 30/11/2021, kebetulan dia kurang enak badan, ditambah angin yang ekstra kencang,  membuatnya tak kuat nginap di kebun. Meskipun lokasinya di pinggir desa dan pondok ladang miliknya berdinding rapi, pada malam hari udaranya tetap saja bernuansa rimba. Udaranya sangat dingin.

Buah cabe berguguran

Ilustrasi: Sikap Sulaiman si Petani Muda, Saat Buah Cabenya Dimaling (Foto SULAIMAN)

Rabu pagi, saat hendak memanen, dia mendapati buah cabenya berguguran. Cabang-cabangnya banyak yang patah.

“Saya berpikir, ‘Mungkin dipetik maling. Ya, sudahlah. Tak apa-apa  paling dia ngambil sekarung. Masih banyak yang tersisa. ’Saya lanjut menyusuri area sampai ketengah,  sembari berusaha berdamai dengan kenyataan. Walaupun sebenarnya tidak rela. Siapa yang tidak kecewa, Bu. Karena terawat sebagai mana mestinya,  buahnya sangat lebat.” Jelas Sulaiman.

Apa yang ditemuinya? Kian ke tengah, tanaman kesayangannya itu banyak yang patah. Buah merah, buah hijau, daun dan bunganya  berserakan tak karuan.  “Intinya,  Cabe yang saya rawat dengan susah payah itu rusak parah. Padahal, jika dihitung-hitung belum balik modal.

“Saya coba merunut bekas jejak malingnya mengarah kemana. Usaha saya gagal.” tambahnya.

Cabe teronggok di semak belukar

Ilustrasi: Sikap Sulaiman si Petani Muda, Saat Buah Cabenya Dimaling (Foto SULAIMAN)

Rabu sore seorang pengembala sapi  mengabarkan kepada Sulaiman, bahwa dia menemukan 5 karung cabe teronggok dalam semak, tak jauh dari tempat kejadian perkara. Diam-diam Sulaiman membawa cabe tersebut pulang. Semuanya ada 77 kg.

Pelaku dicegat

Ilustrasi: Sikap Sulaiman si Petani Muda, Saat Buah Cabenya Dimaling (Foto SULAIMAN)

 Singkat cerita, petang itu juga Sulaiman berhasil mencegat 2 pelakunya. Meskipun awalnya mereka menyangkal, akhirnya  bertekuk lutut juga.

Keduanya mengaku, mereka kongsi  berempat. Semuanya pemuda tanggung belasan tahun. “Saya sempat emosi. Karena terdesak waktu Maghrib, akhirnya saya ajak mereka ke kediaman  saya.” kata cowok kuning langsat itu.

Kesepakatan berujung damai

Karena sudah ada pengakuan dari 2 pelaku sebelumnya, tidak sulit bagi Sulaiman menghadirkan yang 2 lainnya. Para orang tua mereka juga diminta datang. 

Disaksikan oleh Kepala Desa setempat, diperoleh kesepakatan dan  perjanjian di atas materai.

Mereka bersedia mengganti kerugian yang saya derita. Tetapi belum sekarang. Sebodoh apa lagi saya ini, Bu. Sudah cabe saya dimaling, masih mau juga berdamai.    

Harus bagaimana lagi. Antara  saya dan mereka punya hubungan keluarga. Saya sedih, masih sekolah mereka sudah pandai melakukan tindakan kriminal.   Kita tunggu saja endengnya seperti  apa," papar sulaiman panjang lebar.  

Ketika ditanyakan apa harapan  ke depannya  terhadap kondisi ini,  Sualiman menjawab, “Yang pertama, saya berharap yang terbaik.  Kerugian saya mereka bayar lunas. Supaya tali persaudaraan tetap terawat. Itu saja."

“Selain itu, atas nama masyarakat biasa, saya berpesan kepada para orang tua  yang punya anak usia rentan terhadap kenakalan remaja, supaya hati-hati. Tidak membiarkan mereka bebas  berkeliaran, terutama pada malam hari.” Sulaiman menutup percakapannya.

 Baca juga:

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

 

 

16 komentar untuk "Bigini Sikap Sulaiman si Petani Muda Ini, Saat Buah Cabenya Dimaling"

  1. Wah harus di hindari nih sifat seperti ini, ingin dapat hasil tapi enggak mau kerja keras, he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Kenakalan remaja desa, Mas Kuanyu. Padahal mereka anak orang lumayan mampu segi ekonomi.

      Hapus
  2. sepertinya kejadian seperti ini sudah sejak dulu kala, remaja ngambil tanaman orang lain....

    tapi, sekarang kayaknya semakin merajalela....

    sedih, tidak berubah

    # Thank you mau berbagi cerita....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zaman dulu umumnya tanamsn yang diambil itu buah2an. Sekadar untuk makan. Sekarang telah merambah ke barang yang bisa dijual. Selamat pagi dari tanah air, Mas Tanza. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  3. Keren Nek, saya belum bisa buat jurnal sebagus ini

    BalasHapus
  4. He he ... Ini termasuk opini cucunda. Paragraf pembukanya saja sudah merupaka opini. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.

    BalasHapus
  5. Waah . Ikut menyimak Bu Nur..

    BalasHapus
  6. mudah mudahan bisa diselesaikan dengan kekeluargaan tanpa merugikan salah satu pihak ya bunda...jujur 77 kg itu ya banyak sekali hehe...sedih bila petani yang sudah susah payah menanam serta merawatnya tapi apa yang ditunggu tunggu tak sesuai harapan hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah nasib petani tradisional, ananda Mbul. Kalau pemodal gede mungkin susahnya kurang. Karena mereka main uang. Sangat pilu hati kami nenek2 ini melihat kerugian begitu. Dia anak muda begitu semangatnya. Padahal baru beberapa bulan habis nikah. Terima kasih telah singgah. Selamat sore.

      Hapus
  7. pelakunya dah gak berpikir sehat lagi. belum tau rasanya keluar modal banyak untuk merintis usaha. malah dirusak seperti itu 😔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda. Yang bikin kesal pemiliknya karena tanamannya dirusak. Kasian.... Begitulah kenakalan remaja ala desa. Selamat pagi. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  8. hukum mereka bekerja di ladang tu kalau tiada duit nak bayar. biar mereka tahu penatnya bersusah-payah bekerja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ... Seharusnya memang itu hukuman yang pantas. Selamat malam dari jauh, ananda Salbiah

      Hapus
  9. Salut sama orang ikhlas, saya juga kadang berfikir sama jika sesuatu hal terjadi pada saya: Pernah kehilangan barang berharga awalnya mumet banget, lama kelamaan baru sadar bahwa sikap demikian tidak akan mengembalikan apa apa, lebih baik mengatasinya dengan cara yang lebih konstruktif he he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga salut Pak Sofyan. Sulaiman ini memang type anak muda penyabar, tenang tapi ramah. Beda dengan saudaranya yang lain. Abis kalau dibawa ke hukum, hilang rugi cabe 77 kg, bisa rugi satu ekor sapi. He he. ...

      Hapus
  10. Ya Allah, rupanya yang melakukan masih remaja tanggung. Yang miris itu ketika Cabai yang sudah dirawat dengan sepenuh hati malah di rusak, Astaghfirullah.

    Tapi binak juga sikap Pak Sulaiman ya Nek, tidak langsung dipukuli karena marah + kesal. Tapi diambil jalan tengahnya. Salut banget.

    Terima Kasih Nek, lama nggak main ke Blog ini nih 😊😎🙏

    BalasHapus