Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns Goest House

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House (tampak depan Vyns  Goest House)
 
Usai menghadiri pesta pernikahan Ayu di Pintu Pohan, pukul  14.00 kami (saya, anak/menantu dan cucuku) meneruskan lawatan ke Parapat. Sesuai jadwal, besoknya lanjut mengunjungi Danau Toba. 

Medan tempuh ke Parapat 

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House (kondisi hutan di jalan Pitu Pohan-Parapat)
 
Untuk ke Parapat, harus keluar dari Pintu Pohan  sejauh 80-an kilometer, melewati jalan di sela-sela perbukitan hijau. 

Medan tempuh seperti itu mengingatkan saya jalan pulang ke kampung halaman saya,  menembus punggung bukit barisan, melitasi Taman Nasional Kerinci Seblat  dari Kerinci ke Pesisir Selatan. 

Bedanya, jalan Kerinci-Pesisir Selatan hutan blantara sepanjang kurang lebih 50-an kilometer. Tanpa adanya rumah penduduk.  Tikungan dan tanjakannya  banyak yang tajam, disertai jurang-jurang  dengan kedalaman puluhan hingga ratusan meter. 

Andaikan terjadi kerusakan kendaraan, tiada bengkel untuk minta bantuan. Paling sesama pengguna jalan yang lewat. Seram bukan?

Beberapa tahun lalu, adik sepupuku mengalami pecah ban. Posisnya kurang lebih  20 kilometer menjelang kota Sungai Penuh. Untuk sampai ke bengkel terdekat, dia memadati ban motornya pakai rumput hilalang. (Eh ..., maaf, agak melenceng. Maklum nenek-nenek ngobrolnya meluber ke mana-mana).

Beda dengan jalan  Pintu Pohan- Parapat.  Banyak ditemui kelompok-kelompok  kecil  rumah warga. Ada yang terdiri dari 2-4 KK, ada pula cuman 1 KK. Posisinya saling berjauhan. Hal ini membuat alamnya terasa bersahabat.  

Perbedaan tersebut membuat saya senang melewatinya. Bukan nenek celotehnur namanya kalau tidak menyukai hal-hal tak biasa. 

Meluncur ke Vyns Guest House  

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House (Lobi depanVyns  Goest House)
 
Pukul 16,25 kami sampai di Parapat. Perut mulai keroncongan.  Setelah makan di salah satu Rumah Makan Muslim, kami meluncur ke penginapan yang sebelumnya telah dobooking si sulung via aplikasi. 

Kurang dari 10 menit mobil kami  sampai di halaman depan  Guest House Vyns  Collection. Saya bingung.  Jangan-jangan Mbah Google ngantuk. Mintak ke penginapan, diantarkannya ke toko pakaian. 

Dicegat seorang pria

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House (tangga ke lantai 2 Vyns  Goest House)
 
Ternyata, Guest House Vyns ini hanya sepetak  ruko. Lokasinya pun di deretan pertokoan.  Kami disambut oleh abang parkir. Orangnya ramah, tidak pelit senyum. 

“Yuk Nek! bawa barang-barang seperlunya,”  kata putriku.  Sambil menenteng bawaan masing-masing, kami bertiga naik ke lantai dua. Sementara sopir masih berbenah di mobil, membuang sampah-sampah  bekas camilan anaknya ke tong sampah.

Baru sampai setengah tangga, seorang pria mencegat kami. “Bu ...!  Dari mana?” Langkah kami terhenti. Saya memastikan dia pemilik penginapan itu.

“Dari Jambi, Pak. Maaf, saya sudah booking,” jawab putri saya seraya menahan malu.

“Booking sama siapa?” balas pria tengah baya itu. Wajahnya agak jengkel. Mungkin dia menduga kami pencuri berjamaah atau tamu salah alamat. 

“Lewat Traveloka, Pak.  Sekali lagi maaf. Saya kira resepsionisnya di  atas. Lantai dasar khusus toko pakaian,”  tambah si sulung. 

“Oh, ya. Sebentar,”  katanya.  Pria berparas Medan itu  menghilang sejenak.  Kemudian datang lagi.

“Silakan!” katanya,  sambil mengantarkan kami ke kamar M dan N. Paras yang tadinya agak bengis, kini berubah ramah dan tersenyum manis. 

Kondisi dan fasilitas di kamar Vyns Guest House  

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House  (Kamar M Vyns  Goest House)
 
Seperti penginapan kelas home stay umumnya, bagi saya Vyns Guest house sudah melebihi dari  nyaman.  Kamar dan toiletnya bersih dan rapi.  Tersedia satu tempat tidur kapasitas dua orang, 1 lemari pakaian, 1 meja mini, 2 lembar handuk ukuran sedang, dan gratis Wifi. Meskipun tiada TV.

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House Beranda belakang Vyns  Goest House)
 
Untuk pendingin udara, Vyns tidak menggunakan  Ac.  Yang ada hanya kipas angin.Hal ini dapat dimaklumi, karena lingkungan sekitar hawanya sejuk karena  dipengaruhi  oleh suhu pegunungan. 

Meskipun lokasinya di tengah keramaian, begitu sampai di kamar, tak sedikit pun ada kebisingan. Beda tipis dengan  ketenangan di kamar hotel berbintang.   

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House  (Ruangan lobi depanVyns  Goest House)
 
Mau menikmati pemandangan bernuansa alami?  Silakan ke serambi belakang. Melongok sedikit ke bawah, desauan air anak sungai mengalir deras, dilatari pepohonan nan hijau rimbun.  Di lobi depan, tamu bebas duduk santai  di kursi cantik yang tertata apik sembari melihat orang dan kendaraan berlalu lalu lalang. 

Pelayanan dan tarif kamar Vyns

Intinya pelayanan yang kami peroleh setara dengan kost yang dikeluarkan.  Yakni, cuman Rp 200-an ribu  permalam.  Saya tak tahu apakah tarif segitu untuk kelas eksekutif atau ekonomi. Sebab, segala sesuatunya ditangani oleh putri saya.  

Sama dengan Ahza Syariah Labuhanbatu kemarin,  Vyns tidak menyediakan sarapan dan minum.  Tetapi di sekitarnya banyak kedai makanan dan rumah makan . Harganya pun tidak mencekik.

Satu  porsi nasgor dan sejenisnya  di  warung  halal Mbak dan Mas  Banyuwangi cuman Rp 15 ribu.  Untuk kapasitas perut saya cukup setengahnya. Sisanya minta dibungkus, ujung-ujungnya tetap dibuang.  he he .... 

Pamit meninggalkan Vyns  Guest House 

Ilustrasi Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns  Goest House (Selfie bersama Juragan Vyns  Goest House)
 
Pukul 09.00 kami pamit pada juragan Vyns. Beliau melepas kepergian kami dengan ramah dan santun. Bertolak belakang dengan  kemarin, saat dia  mencegat kami nyelonong masuk rumahnya tanpa kulonuwun.

Nah, bagi kalian yang ingin berkunjung ke Parapat baik untuk melancong, urusan keluarga dan lain sebagainya,  nginap di Vyns Goest House adalah pilihan yang pas.  Alamatnya di Jl. Sisingamangaraja  No. 94 Tiga Raja, Girsang Simpangan Bolon, Kabupataen Simalungun, Sumatera Utara. Kira- kira 15 menit ke Danau Toba. 

Inilah kisah pengembaraan kami dari Pintu Pohan ke Parapat, hingga dicegat pemilik Vyns  Goest House. Semoga bermanfaat.

Baca juga:  

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

Sumbe Ilustrasi: Dokpri

12 komentar untuk " Pengembaraan ke Parapat dan Dicegat Pemilik Vyns Goest House "

  1. murah lah ya 200ribuan
    hehe bisa tinggal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan terjangkau oleh kantong kita ya, Masa Rezky.. He he ...terima kasih telah singgah selamat pagi.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Banget, Mas Tanza. he he ... selamat pagi dari tanah air. Mas Tanza. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  3. Wah sangat informatif sekali 15 menit ke danau toba, danau inpian yg ingin saya kunjungi bunda, trimksh sudah berbagi informasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ada minat insyaallah rencana ke Danau Toba aksn tercapai. Selamat siang, ananda Nita. Doa sehat selalu ya.

      Hapus
  4. Lumayan deket juga ya ke Danau Toba, harganya juga cukup oke.
    Tapi saya belum pernah nginap di Parapat sih, lebih sering nginap di Samosir. Cuma nggak enaknya susah cari makanan halal di Samosir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukankah kampung Mas Rudi di daerah sana? Kalau di Parapat memang lumayan mudah mencari makanan halal. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat buat keluarga di sana.

      Hapus
  5. ke prapatnya pergi kemana saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiada kemana2. Ananda. Salam manis penuh berkah ya. Selamat istirahat.

      Hapus
  6. Daerah Parapat memang sejuk ya Bu. Makanya aku selalu sukaa banget tiap kesana. Soalnya tiap mudik ke Sibolga, kan pasti lewatin Parapat dulu.

    Baca cerita2 ibu ttg Parapat dan sekitarnya, ini ngobatin kangenku banget ama kampung. Pengen banget bisa pulang tahun ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rupanya sudah hidup enak di Jakarta masih rindu kampung halaman ya, ananda Fanny.

      Ya, bagi kami yang biasa dengan hawa pegunungan udara Parapat itu sangat nyaman bagi kami. Ingin rasany ber-lama2 di sana. selamat pagi, ananda. Salam dari tanah Kerinci.

      Hapus