Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ada Apa dengan Orang Rimba, Jalan Kaki Ratusan Kilometer Tujuannya tidak Jelas

Orang Rimba. (Sumber ilustrasi: Flickr.com. Diadopsi dari kumparan.com)

Beberapa tahun terakhir, orang rimba yang biasa disebut Suku Anak Dalam (SAD), sering ditemui di  daerah Kerinci. 

Dengan berjalan kaki  mereka menyusuri jalan dari arah Bangko menuju kota Sungai Penuh.
Warga yang dikenal dengan suku kubu itu berpakaian seperti orang kampung umumnya. Tidak mengenakan cawat yang hanya menutup organ vitalnya saja seperti yang sering  kita lihat di foto-foto. 

Tujuan yang tidak jelas

Umumnya  mereka pergi berombongan, menyertakan anak-anak, orang dewasa  emak-emak dan bapak-bapak. 

Ketika ditanya dari mana hendak kemana, ada yang menjawab dari Bangko (Kabupaten Merangin)  mau ke Solok (Sumbar), mencari sanak keluarga.  Sebagiannya tidak mau memberitahukan  daerah yang akan mereka tuju. 

Saya salut  pada mereka. Bocah-bocah laki dan perempuan sekira  6 – 7  tahun  sanggup menapaki  jalan sejauh kurang lebih  150 kilometer. Mereka juga diberikan sedikit beban. Barangkali pakaiannya masing-masing. 

Berpencar

Umumnya saat berjalan para pengembara itu berpencar-pencar.  Jarak satu dengan lainnya lumayan jauh. Lucunya, kalau si emak memanggil anaknya,  dengan berteriak nyaring dari jauh saja. 

Meskipun ada juga yang beriringan, tapi tidak banyak.  Namun, saat istirahat dan bermalam mereka berkumpul pada satu titik. 

Ibu-ibu muda ada yang menggendong anak. Barang bawaan dipanggul oleh bapak-bapak.  

Tidur di alam terbuka

Di mana ketemu senja, di sanalah mereka nginap.  Senangnya tidur di alam terbuka.  Suatu senja serombongan Suku Anak Dalam itu numpang nginap  di sudut kebun kami.  

“Saya tawarkan mereka tidur di lesehan kosong.  Mereka menolak,” kata  ER pria yang tinggal di rumah kebun kami saat itu. 

Tak terbayang betapa tersiksanya anak bayi di tengah dinginnya udara malam. Terutama di daerah Kerinci  yang hawanya sejuk sampai ke tulang.  Pada musim tertentu pagi hari pernah mencapai 16 drajat Celsiaus.  Sudah pasti, malamnya  lebih dingin lagi.

Minta-minta dan menolak diajak foto selfie

Sekali-sekali mereka  (SAD) singgah ke rumah penduk minta sedekah. Layaknya peminta-minta mereka sudah lancar melafalkan assalamualaikum.   

Uniknya,  kaum musyafirin itu  tak mau menerima pemberian selain uang.  Salah satunya  pernah saya berikan pisang, dia menolak.  Saya ajak dia berfoto  dengan  iming-iming duit. Dia juga menolak. “Nanti dimarah suami,”  katanya.

Sekira  3 tahun lalu, tetangga saya pernah memberikan pakaian bekas layak pakai. Ternyata, sepanjang perjalanan baju-baju  tersebut dia tinggalkan satu- satu. 

Ibu-ibu ramping dan padat berisi

Yang menarik, rata-rata orang rimba  itu tubuhnya  ramping, padat berisi. Terutama ibu-ibu.  Kok bisa ya. Saya rasa mereka belum mengenal  program diet. He he ....  

Kini  orang rimba  sudah biasa juga ditemui di kota Sungai Penuh (dulu ibu kota Kabupaten Kerinci). Tetapi saya tidak melihat mereka minta-minta. 

Kawasan hunian orang rimba

Sebagaimana kita ketahui, orang rimba atau Suku Anak Dalam adalah suku minoritas yang tinggal di hutan pedalaman Provinsi Jambi.  Khususnya dalam kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas, Taman Nasioanal Bukit Tiga Puluh. 

Orang rimba  ditemui juga di kawasan hutan sekunder sepanjang jalan lintas Sumatera, dari perbatasan Sumatera Selatan - Jambi, sampai perbatasan Jambi – Sumatera Barat, (kompas.com). 

Mereka familiar dengan alam, penganut pola nomaden (berpindah-pindah) untuk mencari sumber pangan, minim interaksi dengan dunia luar, memegang teguh cara hidup primitif, yang tak akan tergoyahkan oleh kemajuan zaman. 

Keberadaan orang rimba kian terdesak

Akibat pembabatan hutan yang tidak terkendali, keberadaan orang rimba jadi terdesak. Sebab, sumber penghidupan mereka seperti  binatang buruan, madu, getah kayu, ikan, umbi-umbian, dan sebagainya  ikut musnah.  

Mereka  terpaksa keluar dari hutan sebagai rumahnya dan bermukim di kawasan perkebunan kelapa sawit. Dampaknya, sering terjadi konflik dengan petani dan pengusaha setepat. 

Mungkin tersebab itu pula mereka mengembara sampai ke Kerinci, dan daerah sekitarnya (Sumatera Barat).  Bahkan sampai ke Riau. 

Penutup

Sebenarnya sejak zaman Pak Harto, sampai sekarang pemerintah telah melakukan pembinaan terhadap  masyarakat yang masih terasing ini. Bahkan telah melokalisir mereka, dibuatkan tempat tinggal. Tetapi  sebagian mereka tidak betah. 

Maklum, ibarat orang  pergi merantau, pasti merindukan untuk kembali ke kampung halamannya. Senangnya hidup melangun di hutan-hutan, memenuhi kebutuhan hidup  dengan berburu. 

Bagi yang bertahan, banyak yang telah berhasil keluar dari zona nyamannya. Mereka sudah hidup layak seperti warga Indonesia lainnya. 

Lembaga non pemerintah pun banyak yang memberikan sumbangsihnya  untuk memajukan  kaum marginal ini. Kini sudah banyak anak-anak mereka yang pandai tulis baca. Pemudanya pun  telah ada yang menjadi TNI dan Polisi.

Inilah sekilas tentang kehidupan  orang rimba yang sanggup jalan kaki ratusan kilometer dengan tujuan yang  tidak Jelas.

Baca juga :

*****

Penulis, 

Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci Jambi

19 komentar untuk "Ada Apa dengan Orang Rimba, Jalan Kaki Ratusan Kilometer Tujuannya tidak Jelas"

  1. Di zaman sekarang yang sudah serba teknologi canggih ini masih ada yang kuat dengan kehidupan primitif. Saya sih gak kebayang kalau harus hidup begitu, berat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Bang Siregar. Cukuplah zaman dahulu hidup serba terbatas. Selamat tinggal masa lalu yang super susah. he he .... Selamat datang masa kini yang serba mudah. Ha ha

      Hapus
  2. kayaknya di mana mana naluri ingin hidup dengan alam masih ada....

    Suku Indian Amerikapun masih banyak hidup di hutan, cuma hutannya hutan konservasi.... dikasi sembako gratis oleh pemerintah.....

    Yang kulit putihpun, ada yang suka hidup di pinggiran hutan...... ya, itulah kehidupan, sulit bagi kita yang "normal" untuk memahaminya...

    # nice story... thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih informasi tambahannya Mas Tanza. Hebat ya. Dikasih sembako gratis. Kehiidupan orang rimba di Jambi malah dimanfaatkan oleh pihak2 tertentu yang mencari keuntungan. Kalau ada upaya untuk mencerdaskan mereka, ada pihak yang terkesan menghalangi. Supaya mereka bisa menguasai kawasan. Tapi sekarang sudah ada juga yang menyadari. Bahwa mereka sengaja dibiarkan dalam ketidakmengertian. Suara tersebut didengungkan oleh salah satu warganya yang telah berhasil jadi polisi. Selamat pagi dari tanah air Mas Tanza.

      Hapus
    2. begitulah kalau SDM rendah, gampang diadu domba, kemudian dikuasai....
      devide et empera...

      Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan....

      Hapus
    3. Sepakat, Mas Tanza. Sekali lagi terima kasih doanya

      Hapus
  3. Perlahan-lahan namun pasti suku anak rimba ini keberadaannya akan tergerus oleh jaman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sayang ya, Mas Herman. Maunya pihak terkait harus lebih peduli terhadap kesulitan mereka. Zaman Pak Harto, mereka dibuatin rumah, dikasih kebun karet. Eh ..., kembali lagi ke hutan. Kebunnya mereka jual. Endingnya, yang kaya malah pemilik modal, si pembeli kebun mereka dengan harga murah. Terima kasih telah singgah, Mas Herman. Salam sehat buat keluarga di sana.

      Hapus
  4. Semoga warga suku orang rimba yang sudah nerhasil menetap bisa mempengaruhi saudaranya yang masih nomaden.

    Instansi pemerintah lintas sektor terkait seyogyanya tidak boleh kalah dalam konsep dan tindakan dengan NGO yang melakukan pembinaan terhadap suku tersebut. Negara wajib hadir mengurus mereka, meskipun hasilnya sedikit dan lambat karena terkait perubahan perilaku dan budaya.

    Terima kasih Bu Nur telah menyajikan realita hidup saudara kita orang rimba.
    Hormat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sekarang mereka sudah mulai pintar. Terang2an pada media, bahwa mereka diperalat oleh banyak pihak untuk mengeruk keuntungan. Misalnya atas nama program pembinaan. "Kondisi kami tetap tidak berubah," kata bribda Tampung yang baru dilantik menjadi polisi beberapa bulan lalu. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas Pudji. Selamat malam. Salam sehat selalu untuk keluarga di sana.

      Hapus
  5. Menarik dan unik Nek ulasannya ๐Ÿ˜

    BalasHapus
  6. 150 km tuh kurang lebih 30 jam jika jalan nonstop. kalo sehari mampu 10 jam, butuh 3 hari ut sampai tujuan

    BalasHapus
  7. Betul, Bang Day. Mungkin lebih 30 jam. Mereka telah terbiasa dengan kegiatan melangun, yaitu bepergian ke hutan lain untuk waktu lama, apa bila ada anggota keluarganya meninggal. Terima kasih, telah mengapresiasi. Selamat malam.

    BalasHapus
  8. Ikut menyimak Bu Nur, bermanfaat ulasannya ๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih, Mas Warkasa. Selamat menyambut idul Fitri. Maaf lahir dan batin.

      Hapus
  9. Alhamdulillah dapat informasi baru tentang SAD(Suku Anak Dalam) ini dari artikel Nenek๐Ÿ˜๐Ÿ‘.

    Hebat juga mereka ya Nek, mungkin karena sudah terbiasa tinggal di hutan dengan segala keruwetannya membuat mereka sangat tangguh di alam liar.

    Terima Kasih Nek.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, ananda Teddy. Tadi nenek ketemu beberapa orang SAD di kota Sungai Penuh. Mereka minta2. Paling tidurnya di semak2 dekatan dengan sungai.

      Hapus
  10. Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda Nita. Selamat malam. Salam sehat buat keluarga di sana.

      Hapus