Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Iya, Karakter Seseorang Bisa Dibaca dalam 40 Detik? Temui Jawabnya di Sini!

Ilustrasi Membaca Karakter Seseorang (Sumber foto: Tangkapan layar IG putriku)

Saya pernah membaca sebuah kalimat yang teksnya kurang lebih begini, “Anda akan bisa membaca karakter seseorang pada 40 detik pertama  berkenalan dan ngobrol.” Tetapi maaf,  saya lupa judul  bukunya apa.

Narasi tersebut boleh dikatakan benar. Sebab, kata pribahasa, “Yang lahir menunjukkan yang batin.” Untuk menilai lahiriah orang lain cukup dalam beberapa detik saja.  

Tetapi boleh juga dikatakan kurang tepat, karena dalam mengambil suatu kesimpulan perlu pembuktian secara intensif. Bagaimana kita tahu karakter  si A, kalau bertemunya cuma kurang dari satu menit. Setidaknya kita perlu berteman dengannya  terlebih dahulu.

Terkait uraian di atas, berikut saya akan berbagi pengalaman  dalam berteman dengan  sahabat yang beragam type. Tetapi dalam bahasan ini saya batasi pada  2  karakter yang berbeda  saja. 

Catatan ini saya peroleh setelah berinteraksi dengan yang bersangkutan lebih dari sepuluh kali. Malahan sudah bergaul dalam hitungan tahun. Bukan dalam 40 detik awal berkenalan. 

Type Pertama: Mula-mula  Kenal, Dia Cuek

Sekilas dia terlihat sombong, angkuh dan tinggi hati. Kalau berkenalan dengan manusia begini, apa kata dunia? Seringnya  kita terlalu cepat menghakimi, memberinya label negatif, “Si Anu itu sombong,  bla, bla, bla.

Padahal kita dan dia baru  pertama bertemu.  Mungkin sifatnya pemalu,  atau  minder tersebab  ada sesuatu yang dia sembunyikan tentang dirinya,  semisal masa lalunya yang hitam, dan sebagainya. 

Ingat! Kehiduan ini bergerak dinamis. Sekali bersua bawaannnya cuek, mungkin aslinya dia ramah. Jangangkan baru kenal, dalam kondisi tertentu, kenalan lama pun bisa menunjukkan antipati  terhadap sahabatnya. 

Pengalaman pernah berbicara

Saya dan GM saling kenal, meskipun tidak terlalu akrab, dalam banyak kesempatan kami saling sapa.  Peristiwa ini terjadi puluhan tahun yang lalu. 

Suatu hari  saya dan dia (GM)  bertemu dalam acara resmi. Dia dikelilingi orang-orang hebat kelas elit (versi saya orang kampung). Gadis manis berperawakan sedang itu berdiri kurang dari 1 meter di samping saya. Saya tegor dia  cuek, seolah-olah  tidak kenal. 

Saya berpikir negatif. Barangkali dia malu dekat dengan saya karena dia  anak milenial (bahasa zaman now), cantik, dari golongan intelektual pula. Sedangkan saya orang biasa yang berpendidikan jauh di bawah dia. 

Saya coba berdamai dengan hati. Ya sudah. Anggap saja  itu hal biasa. Saya menyadari  bahwa bersikap sombong atau ramah itu hak pribadi. Saya tak bisa mengubah isi kepala orang lain sesuai dengan keinginan saya. 

Cuek dibalas cuek hasilnya rugi

Sebulan kemudian saya dan dia berjumpa  lagi. Seperti biasa saya tatap mukanya sambil tersenyum.  Terjadi hal di luar dugaan. Dia menyapa saya dengan ramah, dan bercerita ini itu.

Saya  Menanggapinya dengan  serius dan sok akrab.  Ujung-ujungnya saya curhat tentang suatu kesulitan yang sedang membelit saya. Kerena tema obrolannya mengarah ke sana.

Dia menawarkan bantuan. Akhirnya saya bisa keluar dari problem yang tak mungkin bisa saya selesaikan  tanpa bantuan dia.

Coba kalau saya balas cuek dengan cuek. Tiada kata selain rugi (secara moril). Pengalaman ini saya jadikan pedoman untuk masa yang akan datang. Supaya tidak  buru-buru menghakimi.  Saya harus belajar menghadapi masalah dengan  tenang, kepala dingin dan pikiran positif.

Saya acapkali berhadapan dengan oknum type begini. Umumnya mereka dari kaum hawa.

Type ke dua: Putih di Luar, Hitam di Dalam

Maaf sebelumnya, pada bagian ini mungkin ada yang menganggap si  nenek ini merasa paling sempurna.  Tidaklah, sobat.  Ini hanya iseng dan sekadar sharing saja. Mana tahu bermanfaat.

Hidup didunia ini memang begitu. Kejelekan orang lain kita yang mengomentari. Keburukan kita orang lain yang menilai. Ini sudah merupakan hukum alam yang tak bisa diganggu gugat. 

Lembut tapi menggigit

Seorang  wanita dengan bawaan  lembut, bicaranya tenang, rada-rada manja, antara terdengar dan tidak. Sekilas, perempan type ini  sering diterjemahkan sebagai pribadi yang santun, berbudi pekerti yang tinggi. Intinya segala hal positif disematkan padanya.  Apalagi jika dia berwajah cantik.

Andai dirinya belum berjodoh, pasti  doi jadi rebutan cowok sejagat. Kalau kurang-kurang iman, kami-kami yang  punya wajah sekadar memenuhi syarat dan bicara ceplas seplos ini bisa ngiri. (bercanda, ah. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat iri dan dengki). Saya tidak ngiri. Cuman sedih saja. He he .... 

Semasa remaja saya punya teman dengan  figur begini. Jumlahnya lebih dari satu. Habis mau bagaimana lagi. Mereka suka dekat dengan saya. Mungkin beliau-beliau itu menganggap diri ini bukan type teman yang bisa menjadi saingannya.  Ha ha .... 

Lahir  belum menunjukkan batin

Apakah  oknum gadis tadi  sempurna luar dan dalam? Belum tentu.  Ternyata dia  punya segudang kekurangan. Adakalanya kata-katanya yang keluar tajam menggigit. Yang angkuh, sombong juga ada. Yang kuper juga banyak

Temuan ini membuktikan bahwa lahir belum tentu menunjukkan batin. Putih di luar di dalamnya hitam.

Sama dengan bagian pertama, informasi ini saya peroleh setelah berinteraksi dengan yang bersangkutan lebih dari sepuluh kali. Malahan sudah bergaul dalam hitungan tahun. Bukan dalam 40 detik awal berkenalan.

Terakhir mohon maaf, ulasan ini hanya opini  pribadi, bersumber dari  temuan di lapangan. Bukan hasil penelitian ilmiah. Oleh sebab itu, mohon maaf jika kontradiktif  dengan teori para pakar. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

Baca juga:

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci Jambi

17 komentar untuk "Apa Iya, Karakter Seseorang Bisa Dibaca dalam 40 Detik? Temui Jawabnya di Sini!"

  1. menarik....
    begitulah kenyataan yang kita temui sehari hari....
    👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mas Tanza. Manusia ini memang makhluk unik. Terima kasih telah singgah. Selamat pagi dari tanah air.

      Hapus
  2. Wah relate banget bun.. Susah sangat mengenali hati seseorang zaman sekarang. Kita hanya bisa hati-hati.saja saat bersikap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ananda. Kian ke sini manusia ini ini semakin susah dikenali sifatnya. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat pagi dari jauh.

      Hapus
  3. hehehe betul betul bunda.. saya pun ada kenalan yang cantik banget kalo ngomong suaranya halus, apalagi kalau di depan orang banyak. Tapi begitu beberapa kali interaksi, ternyata dia suka melabrak orang yang gak sepaham dengan dia.. hiks.. buyar sudah cantiknya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, pengalaman kita mirip ya, ananda Naia. Tapi si lembut itu sering dipuja puji sama cowok. Ujung2nya dia tergoda oleh lelaki yang kurang tepat. Selamat malam, salam hangat selalu.

      Hapus
  4. Waah ikut menyimak Bu Nur..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mas. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  5. banyak ya macam karakter orang ayng tidak bisa dilihat dari fisik saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Justru itu yang membuat dunia jadi indah. Terima kasih telah mengapresiasi. Maaf telat merespon.

      Hapus
  6. Inilah alasan ada quote "dont judge book by its cover", karena yg di dalam ga selalu sama dengan yg terlihat dari luar, kadang penampilan seseorang nggak menggambarkan kepribadiannya sama sekali bunda, yg tau kepribadiannya cuma yg udah kenal aja, yg belu kenal cuma menilai dari penampilannya aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda Ursula. Fakta banyak berbicara. Tak heran orang banyak tertipu karena melihat kulit luarnya saja. Selamat malam, ananda. Rasanya sudah lama kita tak saling sapa ya.

      Hapus
  7. makanya kemarin pas puteri Indonesia saya nyusun hotpick pas mereka udah karantina seminggu Bu
    kalau cuma beberapa saat rasanya masih belum menemukan aslinya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah. Itu dia. Karakter putri Indonesia, itu dah pasti dia berusaha bersikap super. Asli atau foto kopy soal belakangan ya, Mas Ikrom. He he ...

      Hapus
  8. Kalau dalam 40 detik pertama misalnya, dia langsung bercanda, menjadi masuk akal kalau karakter dia dapat ditebak dlm 40 detik sebagai orang suka becanda.

    Tapi ya itu baru satu karakter, belum cukup untuk dikatakan mewakili dia secara keseluruhan.

    Untuk dpt menilai secara keseluruhan memang butuh waktu, dan hal dominan yg dilakukan inilah karakter dia, meski hal dominan yg dilakukan juga belum cukup utk menilai secara keseluruhan.

    Meskipun itu memang karakter dia kita tdk bisa beranggapan itulah karakter dia karena manusia bisa berubah sewaktu2.

    Kita boleh menilai tapi jgn jadikan penilaian sebagai acuan, kalau saya lebih memilih netral dlm menghadapi sikap org lain 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. "... Meskipun itu memang karakter dia kita tdk bisa beranggapan itulah karakter dia karena manusia bisa berubah sewaktu2. ..." >>>> dan yang paling labil, karakter calon bini, antara sebelum dan sesudah nikah. He he ...

      Hapus