Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setelah Istriku Berpenghasilan [Part 1]

Ilustrasi Setelah Istriku Berpenghasilan
 
Assalamualaikum, temans bloggers di manapun berada. Tentu kalian masih ingat, sepanjang Agustus-Oktober  2021 blog celotehnur54.com pernah menayangkan sebuah cerbung bertema kehidupan. 

Kisah yang berjudul Dongeng Orang Kecil tersebut adalah karya S. Prawiro, Salah satu kru  Asmanadia. Kini buku tersebut telah terbit dalam bentuk fisik.  

Saya sudah membacanya sampai khatam. Sumpah, bagus, dan gurih. Penceritaannya mengalir mulus dengan bahasa sederhana namun kekinian, dan  mudah dimengerti. 

Sekarang menyusul  cerita bersambung berikutnya dalam bentuk ebook.  Judulnya Setelah Istriku Berpenghasilan.  Semuanya ada 20 bab, yang masing-masing  punya daya pikat tersendiri.  

Lagi-lagi  S. Prawiro memperercayai saya untak menayangkan di blog kesayanganku ini  dari part 1-10.  Yang minat silakan japri  penulisnya. Harganya ramah di kantong. 

Subhanallah. Tak kalah seru dengan karyanya yang lain. Sungguh.  Pria yang biasa disapa Eyang Wiro di kalangan anak KBM ini, sangat lihai bermain kata-kata. Saya yakin siapa pun yang membaca tulisannya pasti kecanduan dan meridukan karya S. Prawiro  yang lain. Berikut kisahnya. 

Setelah Istriku Berpenghasilan (Cerbung)

S. Prawiro

[Part 1]

Kejutan di Pagi Hari

Saat tetangga samping rumah sedang menjemur handuk, mataku tak sengaja menangkap pemandangan itu. Hanya dalam balutan daster  kok bisa enak dipandang. Berbeda sekali dengan istriku yang rambutnya saja tak pernah kena sisir. 

“Mas...”

Rahel tiba-tiba muncul dari belakang sambil memegang pundakku dengan kedua tangannya. Spontan aku terlonjak kageti

“Eh, Adek.” Aku  sedikit tergagap. 

Rahel  udah lama lho Mas, gak bedakan.”

“Yang natural ajalah, Dek, lebih bagus. Gak Pakai bedak juga udah cantik kok.” Bohongku. 

Bukannya pelit, bedak sekarang mahal-mahal sedangkan penghasilanku sedang tidak pasti. Lagi pula yang dimaksud dengan  bedakan oleh istriku itu sudah barang tentu satu set perawatan wajah. 

“Tumben mau bedakan? Toh cuma di rumah.”

“Soalnya Mas udah jarang muji-muji Rahel cantik, giliran scrolling lihat foto-foto cewek dikasih emot love semua.”

Baru hendak merebahkan badan setelah seharian lelah mengutak-atik toko online. Istriku tiba-tiba membuat merinding dengan serangkaian pernyataannya. Salah jawab bisa kacau jadinya.  

“Udah mulai facebookan lagi ya, kamu sekarang, katanya mau fokus urus suami dan anak-anak,” 

Rahel berubah pikiran Mas.”

“Berubah gimana?”

“Sekarang Rahel mau tampil cantik lagi seperti dulu. Bosan dasteran terus. Berhubung Rahel sudah lama  gak jajan baju. Makanya tadi iseng aja buka FB. Pengen lihat-lihat postingan teman-teman Mas. Kali ada yang jualan gamis.” 

“Baju dan  gamis yang lama kan masih bagus semua, Dek. Gak usah banyak mau dulu, kondisi ekonomi kita lagi gak stabil.” Suaraku  meninggi.  

Aku memasang benteng pertahanan. Kalau kuikuti maunya Rahel, bisa-bisa bulan ini uang  untuk keluargaku di kampung bisa kesumat. 

“Mas ...” 

Lagi-lagi suara istriku memanggil, “Apa lgi to, Dek?” Tanyaku jutek. 

Kita kan udah lama tidak nge-mall. Sore nanti jalan yuk!

Bukannya berhenti  mengganggu istirahatku. Rahel justru meruncing tujuannya yang sebenarnya. Dia  mungkin ingin healing. Bosan di rumah terus.  Tapi aku juga lagi ketat soal pengeluaran.

“Gak usah dululah, Dek, yang penting kan  masih bisa ngemil.

“Mas kalau diajakin ngomong serius suka banget bikin mood orang jelek. Bosan Mas terkurung  terus, udah kayak mayat hidup aja Rahel nih. Beda sama tetangga sebelah.” 

Deg!

Apa Rahel tahu tadi aku melirik istri orang. 

Sabar dulu lah, Dek. Ngertiin situasi kita. Tahu sendiri penghasilan Maslagi gak karuan.”

Kulembut-lembutkan suaraku agar Rahel melunak. 

“Masih sepi  aja  ya, Mas?”

“Iya. Cek aja uang di rekening tinggal berapa tuh.”

Kulihat istriku menghela napas. Ia lantas mengambil ponsel kami dan mengecek tabungan kami, Isinya tinggal empat juta enam belas ribu dua ratus rupiah.

“Mas, ini mah cuma cukup buat bayar kontrakan dan biaya hidup sehari-hari untuk dua bulan ke depan.”    

“Iya, maka dari itu bantu dihemat-hemat. Gak usah aneh-aneh dulu.”

“Yah, Mas ini Cuma diajak nge-mall malah ngomel-ngomel. Aku gak minta beli ini itu kok Cuma mau jalan-jalan. Paling  makan kalau laper. Kalau sikap Mas gini terus aku mau kerja lagi aja deh kayaknya.”

“Jangan sinting kamu, Dek. Mau taruh di mana mukaku. Sabar dulu kenapa sih.”

“Mas, ini tahun ke lima kita berkeluarga. Sama sekali gak ada kemajuan. Rahel juga mau bantu-bantu Mamak di kampung. Jangan cuman keluarga Mas terus aja yang diperhatikan.”

Darahku seketika mendidih, rupanya selama ini istriku keberatan aku bantu-bantu keluargaku di kampung.

“Akhirnya Mas ngerti sekarang, ternyata kamu itu gak ridho Mas kirim-kirim uang ke rumah ya” 

“Bukan gitu, Mas. Rahel gak masalah Mas kirim berapapun, tapi  jangan halangin Rahel untuk berbakti  pada keluargaku juga.” 

Suasana menjadi tegang. Kalau sudah bahas masalah uang cepat sekali emosi ini meluap-luap. 

“Rahel. Mamak di kampung bukan tanggung jawabmu. Kamu itu perempuan.”

“Tapi, kan Bapak udah meninggal, Mas. Aku ini anak tunggal.”

“Mamak kan bisa jual tanah atau perhiasannya. Buat apa punya kekayaan kalau tidak dimanfaatkan.” 

“Almarhum Bapak itu paling anti jual-jualin barang. Kalaupun akhirnya ada yang dijualitu pasti hasil keringatnya dulu, bukan dari pembagian warisan. 

“Tapi kamu itu seorang istri. Ada suami dan anak-anak yang harus diurus. Anak-anak gimana, Dek kalau kamu kerja di luar. Siapa yang momong?”

“Ya, Mas lah. Mas kerjanya dari rumah.” 

“Gak bisa begitu. Mas ini kepala keluarga kerjaan utama Mas nyari duit.  Bukan malah ngurusin bocah-bocah. Bisa makin kecil penghasilan Mas kalau harus dibagi dengan ngurusin anak-anak.”

“Makanya, Mas lebih liat lagi kerjanya. Kalau dalam bulan ini tidak bisa nyisihin buat mamakku di kampung, aku nekat cari kerja lho, Mas. 

Rahel mulai berani mengancamku.  Apa dia marah karena tadi aku melirik tetangga. Ya elah padahal gak sengaja. Jualan sebagai dropshiper, penghasilan tak menentu. Harus benar-benar serius ngerjainnya kalau mau dapat banyak.  Memang sudah berapa kali istriku meminta agar aku kerja di PT yang pengahasilannya tetap. Namun aku lebih suka kerja di rumah sambil gulang guling di kasur. 

Ancaman Rahel berubah ngambek. Aku dipunggunginya. Sampai dini hari akhirnya aku bisa juga memejamkan mata.  

Saat terbangun, sosok yang begitu asing berdiri di depan lemari kamar sambil memperhatikan penampilannya. Rok di atas lutut, kemeja putih. Wajahnya full make up. 

Sudah Bangun, Mas?”

Aku hanya bengong, apakah aku sedang bermimpi? 

“Rahel pamit kerja ya?”

 (BERSAMBUNG)AAA

 Baca juga:

28 komentar untuk "Setelah Istriku Berpenghasilan [Part 1] "

  1. Wah...lagi seru"tau"udah abis bund....ya gitu deh..rumput tetangga memang lebih hijau ya bund...itu omongan lebih demen liat istri natural apa adanya tapi liat yg sebelah bening dan kinclong deg "an hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang yang atural itu bagi suami boleh dikatakan hanya sekedar basa basi saja ya, ananda. He he ....

      Hapus
  2. Hahahahaha bener loh aku emosi baca yg tokoh laki2. Egoiiis puooool. Ga bolehin istri kerja, tapi dia sendiri ga mampu nyenengin. Cuiih, amit2 untung suamiku ga gitu ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ. Penulisnya lihai memang Bun, mengaduk emosi hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andai dapat suami tipe begitu mungkin bunda stress, sebab dari sebelum nikah bunda biasa berpenghasilan sebagai tukang jahit. Meskipun alakadarnya.

      Hapus
  3. Me alegro mucho, te deseo un buen fin de semana.

    BalasHapus
  4. Hal menarik, itulah lika-liku rumah tangga
    semua demi tercukupi, dan demi keinginan yang terpenuhi
    indonesia emang unik, punya budaya tersendiri, istri juga punya tanggung jawab mencari nafkah.
    Negara lain belum tentu lo,
    yuk kerja semuanya mumpung masih diberikan kesehatan dan kesempatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda. Bagi kami2 yang biasa kerja dan berpenghasilan, kurang lengkap rasanya hidup ini kalau hanya menunggu nafkah dari suami.

      Hapus
  5. wahhh menarik sangat penulisan dan ideanya. terbaik๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    bagi saya pada zaman sekarang kedua duanya suami isteri harus bekerja. tanggungjawab dan komitmen pada hari ini sangat besar.

    bagi saya kalau isteri bekerja suami juga harus tahu tanggungjawabnya. jangan diambil kesempatan atas perkara ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Anis. Yang susah tuh mentang2 istri bekerja punya penghasilan, suami malas2an, ya.

      Hapus
  6. Ia cerita yang cukup bagus. Saya suka. ๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, temanku Pelis. Doa sehat untuk keluargamu dari jauh.

      Hapus
  7. salut untuk perempuan Indonesia...
    ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas Tanza. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  8. hmmm... kalo suami isteri harus pergi bekerja.... nasib anak gmn tuh? apa gak ada yg memikirkan? Toh, kita nyari duit juga untuk anak juga kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi istri yang biasa kerja dan berpenghasilan sore saya, di rumah saja itu serasa dipenjara, he he. Masalah anak bisa dicari pengasuh. Usahakan kerja di luar rumah tidak sehari penuh. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas. Salam sehat selalu untuk keluarga di sana.

      Hapus
  9. Aduhhh bunda...mana sambungannya.jadi penasaran nih hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Part 2-nya, sebentar lagi siap tayang ananda. Silakan dibaca ya.

      Hapus
  10. Suami2 begini memang menjengkelkan. Berusaha lebih tak nak, isteri mintak beli sesuatu tak boleh tapi bila isteri nak ada pendapatan sendiri tak diberi. Ini namanya suami tak adil. Boleh bikin rosak emosi gini huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Carneyz. Sebagian suami memang begitu. Enaknya lelaki begini dipecat saja jadi suami. He he ....

      Hapus
  11. Sejenis cerita yang juga terjadi di kehidupan nyata, bahkan di sekitar saya bun.Hehe Pengen istrinya nampak natural, eh lah kok sangking naturalnya gak ngasih "asupan" buat perawatan istri. Sedih sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dasar suami pelit ya ananda. Haha .... Bahkan ada juga oknum suami yang pegang duit sendiri. Beli garam sebungkus pun minta duit pada suami. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

      Hapus
  12. Siap tunjukkan 10 bab awal. Siapa rajin baca boleh ikuti.

    BalasHapus
  13. Waah masih bersambung ya๐Ÿ˜

    BalasHapus
  14. Iya, Mas. Terima kasih telah singgah. Salam hangat selalu, ya.

    BalasHapus