Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anda Berkunjung ke Birmingham Inggris? Jangan Lewatkan Destinasi Ini!

Catatan perjalanan ke Inggris (19)

Ilustrasi Kanal. (Danau kecil di Regent's Park, London. Foto NURSINI RAIS)

Sebagai orang kampung yang lahir dan dibesarkan di daerah aliran sungai, bagi saya berinteraksi dengan sungai bukanlah hal yang aneh dan istimewa.

Mandi berenang, naik perahu, bermain rakit, dan menangguk udang adalah kenangan terindah dalam hidup saya melewati masa kecil 60 tahun silam.

Makanya, ketika  Arie sang menantu merencanakan untuk mengunjungi kanal, hati kecil saya setengah menolak. Namun untuk menghargai penghormatan dia terhadap mertuanya, saya setuju-sejui saja. Habis, lokasinya juga tidak jauh. Bisa jalan kaki dari City Centre Birmingham.

Ada Apa dengan Kanal Inggris?

The Grand Union Canal. (Sumber foto: diambil dari en.m.wikipedia.org)

Sampai di halaman Hotel Indigo, saya berdecak dan geleng kepala menyaksikan apa yang ada di hadapan mata saat itu.

Masalah air tergenang, itu biasa-biasa saja. Yang luar biasa, airnya jernih tanpa selembar sampah pun. Padahal, kanal tersebut berada di tengah kota dengan penduduk yang relatif padat.

Kecuali helaian dedaun kecil yang berguguran. Jumlahnya pun tidak banyak, karena saat kunjungan saya ke sana pada ujung musim semi. Bukan musim gugur. Sepanjang jalur kiri kanan kali itu berjejeran bar, caffe, dan hotel berbintang.

Saya sangat menyesal karena tak punya dokumen terkait kanal ini. Karena selain  hilang bersama HP, sebagiannya terhapus saat tukang servis memformat ulang laptop. 

Antara bibir kanal dan bangunan, tersedia jalan yang cukup lebar untuk pejalan kaki, plus bangku-bangku tempat istirahat melepas penat. Namun di jalur lain (luar pusat kota), ada pula jalan-jalan diprioritaskan untuk penikmat olahraga bersepeda. 

Beberapa perahu motor meluncur perlahan memanjakan penumpang menelusuri kanal. Para wisatawan itu duduk manis seraya menikmati panorama alam di sepanjang aliran kali.

Bebek-bebek liar berenang berpasangan sambil memungut remah-remah makanan yang dilemparkan anak-anak wisatawan. 

Permukaan sungai buatan tersebut bertambah ramai, karena kehadiran tongkang mungil yang disulap  menjadi toko terapung. Beragam barang ringan keperluan rumah tangga terpajang rapi di dalamnya. Mulai dari keset, sendok, sampai ke sapu, dan ember. 

Tak terlihat seorang pun bocah mandi di sungai, bersenda gurau sambil lempar-lemparan dan kejar-kejaran. Seperti saya masih kecil dan anak-anak kampung umumnya. Saya tanyakan ke Arie. Apakah anak-anak di sini tidak pandai berenang.

“Air ini kotor, Nek. Tak layak untuk mandi. Kalau mau berenang ya, di kolam renang,” jawabnya.

Huh …, air sebening ini divonis kotor.” Coba kalau sungai ini ada di kampung, berbunga-bungalah hati ibu-ibu mencuci piring dan pakaian sambil bergosip raya. Mengupas topik terpanas yang menjadi trending kelas kampung. Pokoknya, Tepian mandi, tak hangat tanpa gosip. 

Sekilas Tentang Kanal Inggris

Menurut sumber yang pernah saya baca, di Inggris kanal mengalami masa keemasannya pada abad ke 18. Kanal itu dibuat untuk transportasi barang dan penumpang dengan biaya murah. Mengingat di sana tidak mempunyai sungai cukup besar yang bisa dilalui perahu.

Muatan diangkut menggunakan tongkang terbuat dari kayu.  Panjangnya kira-kira 20 meter dengan lebar 2 meter. Di beberapa kanal, perahu kurus tersebut mengangkut 120 penumpang. Ditarik menggunakan tenaga kuda yang berjalan pada jalur di pinggir kanal.

Perahu kanal ditarik Kuda (Sumber foto diambil dari en.m.wikipedia.org)

Pada zamannya, komunitas manusia tongkang tersebut mendesain buritan perahunya menjadi tempat tinggal. Ruangannya disulap menjadi kamar tidur anak istrinya dan ruang memasak. Dengan demikian, otomatis pelayar tangguh tersebut memboyong anak isterinya ke mana mereka  bekerja.  

Seiring kemajuan zaman, moda transportasi tersebut tinggal sejarah. Kini kanal hanya digunakan untuk rekreasi. Tetapi beberapa perahu kecil yang difungsikan sebagai tempat tinggal masih ditemui.

Saya sempat ngintip dari gordennya yang tersingkap. Ruangannya ditata sedemikian rupa, ada dapur serta perabotannya. Ada juga kamar tidur plus ranjang, dan ruang tamu dengan kursi meja seadanya. 

Saya berpikir, apakah rumah tongkang mungil ini dimiliki masyarakat yang tak punya rumah seperti mobil karavan. Atau disewakan ke orang-orang kaya yang sesaat ingin keluar dari kemewahan yang melimpah. Atau untuk memenuhi kerinduan menikmati suasana natural yang alamiah. Sekalian ingin merasakan bagaimana hidup susah.  

Yang menarik perhatian saya, di bahu jembatan kecil yang memotong cabang kanal dekat Hotel Indigo, bergelayutan gembok-gembok cinta. Di kala berhembus isu rencana pihak berwenang di Paris Prancis membongkar gembok-gembok symbol cinta di pagar jembatan sungai Seince, di jembatan tersebut malah kegandrungan mengukir kenangan dengan cara unik itu tetap tumbuh.  

Demikian temuan saya saat berkunjung ke kanal Birmingham Inggris, pertengahan tahun 2015 lalu. Mohon maaf jika kondisi yang saya ceritakan ini tidak sama dengan faktanya sekarang. Kerena sosial dan kehidupan itu selalu bergerak dinamis.Semoga bermanfaat. 

Baca juga:

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi

20 komentar untuk "Anda Berkunjung ke Birmingham Inggris? Jangan Lewatkan Destinasi Ini!"

  1. Balasan
    1. Terima kasih, Pak Budi. Telah mampir. Maaf telat merespons. Selamat idul fitri. Mohon maaf lahir batin.

      Hapus
  2. Terima kasih telah hadir, Mas Warkasa. Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin.

    BalasHapus
  3. Kanalnya keren sekali ya, ditarik sama kuda. Pemandangannya juga bagus banget. Kapan Indonesia bisa memanfaatkan kanal sebagai pariwisata? Kapan Mba?? Kapan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita punya banyak pariwisata selain sungai ya, Mas Hendra. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
  4. Keren destinasinya oma Nur, semoga next time bisa juga ke sana..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amun. Cucunda. Ayo, ajukan bea siswa tugas belajar ke sana. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat idul fitri.

      Hapus
  5. Birmingham masih jadi kota impian kalau ke Inggris hihihi
    Kanalnya keren ya bunda, di tengah kota tapi bersihnya luar biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ananda. Kalau ditangani secara profesional, kita punya sumber daya alam yang lebih bagus dari UK. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat sore.

      Hapus
  6. Bagusnya.. Seandainya di Indonesia juga sebersih ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Mungkin butuh waktu sekian generasi baru bisa menyamai mereka, ananda Naia. Terima kasih tanggapannya.

      Hapus
  7. Suasananya keren banget yah bu nur,, bersih airnya jernih, manusianya teratur cona diindonesia punya kanal kayak gitu pasti sdah rame balal bnyak pedagan di sepanjang pinggiran kanal, otomatis smpahnya jga bakal rame,,, akhirnya apa? Pemandangan jd rusak dan bisa2 teejadi banjir...
    Duh indonesia memang sulit klo mau kayak di ingris hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda Norfahrul. Untuk menyamai mental masyarakat negara maju di bidang kedesiplinan mungkin butuh waktu berabad2. Selamat siang, terima kasih telah menanggapi.

      Hapus
  8. Bagus banget nih The Grand Union Canal.
    Untuk teman-teman yang mau mencari tempat untuk guest post bisa banget kunjungi web kami ya, Yoexplore . co . id.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap berkunjung. Terima kasih undangannya. Terima kasih juga telah singgah.

      Hapus