Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengulik Tradisi Membantai Menyambut Idul Fitri di Desa Simpang Empat

Kegiatan membantai  menyambut lebaran tahun 2021 Kelompok Pengajian Nurul Haq, Simpah Empat Tanjung Tanah. (Foto Hapizul)

Memotong sapi bersama di hari terakhir Ramadan, merupakan tradisi masyarakat Desa Simpang Empat Tanjung Tanah Kabupaten Kerinci.  Ritual ini dilaksanakan dalam rangka menyambut lebaran Idul fitri.  

Kebiasaan  tersebut sudah ada sejak lama. Masayarakat setempat menyebutnya  mamantea atau  munuh. Jika dibahasa indonesiakan, mamantea =membanatai. Munuh = membunuh atau menyemblih.

Satu ekor sapi dibeli keroyokan secara berkelompok. Mulai daging,  hati, jantung, sampai organ lainnya dibagi rata dan sama banyak pada seluruh anggota. 

Kegiatan kelompok pengajian Buya Martunus, Tanjung Tanah Tahun 2021. (Foto NURSINI RAIS)  

Umumnya kelompok ini terbentuk secara alami di tempat pengajian atau grup. Seperti grup pemuda, grup orang tua murid ngaji, dan ada juga grup keluarga.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa harus di kelompok. Bukankankah  daging sapi  dapat dibeli  dengan mudah di pasar-pasar? Tinggal bayar duit, angkat barang, urusannya kelar.  Jawabnya,

Alasan Kualitas Daging

Soal harga, lebih irit beli daging di pasar daripada mamantea kelompok. Tetapi  musim lebaran Idul Fitri,  warga setempat lebih memilih beli mahal.

Alasannya, daging sapi potong sendiri lebih meyakinkan. Asal usul dan kondisi sapinya diketahui jelas, proses pemotongan disaksikan langsung oleh warga.  

Kegiatan membantai kelompok Pengajian Buya Zakaria, Tahun 2021 Simpang Empat Tanjung Tanah (Foto NURSINI RAIS)  

Sebelum penyembelihan, sapi diperlakukan dengan baik, dan dibacakan doa.  Untuk keperluan cuci mencuci seperti membersihkan jeroan, air yang digunakan langsung mengalir dari kran  PDAM. Intinya, mereka mengaggap kualitas dagingnya  lebih terjamin.

Bahkan ada pribadi yang fanatik,  tidak mau mengonsumsi daging sapi kecuali sapinya dipotong dalam kelompok di desa. 

Alasan Kebersamaan

Sebelum hari  mamantea,  anggota kelompok mengadakan rapat untuk  membicarakan banyak hal.   Antara lain, sapi yang akan dibeli, meliputi harganya, besarnya iyuran per anggota, sampai ke  pembentukan panitia dan lain sebagainya.

Saat  penyemblihan, semua anggota dilibatkan tanpa kecuali. Dalam artian, tidak hanya diserahkan pada panitia saja. 

Kegitan membantai kelompok Keluarga H. Rapuan, tahun 2021, Simpang Emoat Tanjung Tanah. (Foto NURSINI RAIS)  

Yang menarik. Ada pula ibu-ibu pengajian yang sepakat mengumpulkan dana selama setahun. Mereka menyebutnya menabung untuk beli daging (sapi). Salah satu anggota dipercayakan sebagai bendahara.

Jujur, bukan berarti masyarakat setempat tak mampu beli daging tanpa menabung terlebih dahulu.  Banyak kok, anggotanya yang berekonomi mampu.  Tetapi untuk beli dagi buat disantap saat lebaran Idul fitri, mereka memilih bergabung dan menabung dalam komunitasnya. Katanya, segala sesuatu itu enaknya bersama-sama.

Kondisi ini mencerminkan bahwa rasa kebersamaan itu masih tetap eksis di tengah masyarakat Indonesia.  Khususnya di Desa Simpang Empat Tanjung Tanah.  

Baca juga:  

****

Penulis,

Hj. Nursini Rais

di Kerinci Jambi

14 komentar untuk "Mengulik Tradisi Membantai Menyambut Idul Fitri di Desa Simpang Empat"

  1. Rasa kebersamaan yang tidak luntur tergerus jaman πŸ˜ŠπŸ˜€ πŸ‘πŸ‘ mohon maaf lahir batin bundπŸ€πŸ™

    BalasHapus
  2. Betul, ananda Dinni, Amin. terima kasih tanggapannya. Selamat hari Raya Idul Fitri, Maaf lahir bain.

    BalasHapus
  3. Selamat hari raya idul Fitri ya Bu Nur, mohon maaf kalo banyak salah selama ini dalam ngeblog.πŸ™πŸ™πŸ™

    Menurutku kebersamaan itulah yang utama, biarpun sedikit lebih mahal tapi demi kebersamaan tidaklah apa-apa, apalagi bisa nabung dulu ya Bu biar tidak terlalu berat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ucapan yang sama disampaikan kembali, Mas Agus. Iya. Begitu kuatnya magnet kebersamaan di kalangan masyarakat pedesaan. Kadang mereka sengaja memburuh berkelompok di kebun orang. Uang upah/gajinya mereka tabung pada pemilik kebun. sebelum puasa baru diambil. Katanya untuk beli dahging lebaran. Meski tidak semua uang tersebut digunakan untuk beli daging. Tapi untuk beli baju, belanja bulan puasa dan lain sebagainya. terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus

  4. Waah, suasana kebersamaan yang menyenangkan . Sayangnya di tempat kami sudah tidak ada lagi ritual yang seperti itu .


    Selamat idul Fitri, mohon maaf lahir batin .

    BalasHapus
  5. Ucapan yang sama untukmu sekeluarga. Maaf juga lahir dan batin.

    Karena kebersaman hidup menjadi indah ya, ananda Tari. Terima kasih telah hadir.

    BalasHapus
  6. kebersamaan sangat terlihat sekali di acara ini ya mba Nur, semua anggota saling bantu, harus di lestarikan nih kebudayaannya

    BalasHapus
  7. Insyaallah tetap lestari, Mas Kuanyu. Belum asa tanda2 akan terkikis zsman. Sslam idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

    BalasHapus
  8. Enak ngelihat kehidupan kebersamaan gotong royong begitu. Itu pasti killing timenya bakal mantep banget. Kerjain sambil ngobrol2 santai 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Frans. Di sinilah indahnys tinggal di desa. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat idul fitri, maaf lahir dan batin.

      Hapus
  9. Konsepnya kayak qurban gitu yab bu nur,,, tp ini cuman yg patungan yang dapet.
    Keren sihh tradisinya masih terjaga sampe sekrang

    BalasHapus
  10. Betul. Kebersamasn lebih kental pada malam takbir. Pemuda membuat sop dan makan bersama dari tulang sapi yang dipotong tadi. Terlepas dari rasanya seperti apa. Maklum kumpulan anak muda cowok. Masaknya gotong royong, dalam porsi banyak pula. He he .....

    BalasHapus
  11. tanjung tanah jambi, sudah lama pengen main ke daerah sana tapi belum kesampaian

    BalasHapus
  12. Yuk ke sini, Mbak. Ditunggu dengan senang hati.

    BalasHapus