Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Indahnya Detik-detik Menunggu Caciang Gilo Ngebang di Bulan Ramadhan

  Ilustrasi cacing gila. (Somber foto: dkp.jatimprov.go.id)

Indahnya Detik-detik Menunggu Caciang Gilo Ngebang  di Bulan Ramadhan

Saya dan juga Anda, pasti punya nostalgia dalam menjalankan puasa semasa kecil.  Mulai malas bangun sahur,  baru sadar sedang berpuasa setelah menyantap duku sepenuh perut, sampai curi-curi minum sambil mandi di sungai.

Ah, sangat indah untuk dikenang.  Terlebih bila teringat  kampung halaman. Berpuasa bersama  Emak, yang rajin membuat kolak. 

 Berbuka Menunggu Caciang Gilo Ngebang

Jika zaman itu saya ditanya, saat paling bahagia waktu berpuasa Ramadhan itu apa? Jawabnya, “Ketika menunggu  caciang gilo ngebang’ .”  (baca = cacing gila azan).

Hah ...? Memang ada cacing yang tidak waras alias gila? Ngazan pula. Lucu bukan?  Ets .... Jangan tertawa dulu.  

Sepanjang sejarah, belum ada cacing yang sakit jiwa. Yang ada cacing berbadan jumbo. Saat  mencangkul tanah kita sering menemukan dia keluar dari sarangnya. Menggelepar liar, dan membanting-banting diri. Terlebih kalau terkena sinar mata hari. 

Tak heran ada ungkapan yang mengatakan, "seperti cacing kepanasan". Mungkin tersebab itu masyarakat kampungku mengamuflasekannya sebagai caciang gilo alias cacing gila.

Pada zamannya, cacing gila ini punya kearifan penting dalam proses hidup dan  kehidupan masyarakat kampungku. Yakni  Negeri  terujung wilayah Sumatera Barat.

Sampai pertengahan tahun 60-an, jam termasuk salah satu barang langka bagi  masyarakat setempat.  Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memilikinya. Untuk menentukan waktu salat, mereka berpedoman pada bahasa alam.  Misalnya:

Waktu Subuh

Lazimnya, memasuki pagi subuh ayam jago  berkokok rame-rame. Bersahut-sahutan dari kandang satu dengan lainnya. Tetapi waktu  pelaksanaan salat dipertegas dengan terbitnya  fajar.

Sebab kadang kala ayam  jantan juga berkukuruyuk  saat tengah malam, menandakan pasang sedang naik. Tetapi kokok menjelang subuh  adalah rutinitas pasti dan alami. 

Fajar terbit juga sebagai pijakan untuk mulai menahan (imsak) dikala berpuasa. Intinya, kokok si jago di kandang dini hari itu adalah alaram supaya umat Muslim segera bangun, dan bersiap-siap bersantap sahur dan menunaikan shalat subuh.

Waktu Zuhur

Untuk salat zuhur,  tuntunannya ketika bayang-bayang sedikit mulai condong ke timur. Andaikan kita berdiri di terik matahari, posisi bayang-bayang dan tubuh kita sejajar penuh dan terinjak, artinya  hari sedang tengah hari. Belum saatnya menunaikan salat zuhur.

Beda dengan kajian ilmuan masa kini. Mereka menetapkan awal zuhur dimulai pada saat posisi matahari pada titik 00 derajat, atau pas pada garis meridian langit, (sedang tengah hari  kata para leluhur kami).

Waktu Asar

Bunga pukul empat (Foto NURSINI RAIS)

Warga yang punya hobi membudidaya tanaman hias, umumnya mereka  melengkapi  pekarangannya denga bunga pukul empat. Orang kampungku  menamakannya  bunga kajirat.  Apabila bunga kajirat mulai mekar, mengisyaratkan waktu Asar sudah tiba.

Waktu Magrib

Yang unik bin lucu, penanda waktu magrib atau buka puasa. Untuk  urusan yang satu ini, penduduk setempat berpijak pada bunyi cacing tanah.   Mereka mengamuflasekannya  sebagai “caciang gilo ngebang”. 

Kenapa cacing tanah dijadikan patokan?  Kerena lazimnya hewan tersebut  berbunyi  pada  setiap senja tiba.  Berdering nyaring tanpa jeda,  seperti bel (notasi)  jam beker.

Jadi, saat Ramadan , begitu makhluk penghuni tanah itu berbunyi,  kami sekeluarga bergegas ke ruang makan. “Babukolah, caciang gilo lah ngebang ...!" ("Silakan berbuka, Cacing gila sudah azan!”)  Kalau bukan bulan puasa, “Samiyanglah, caciang gilo lah ngebang ...!” ("Silakan sembahyang, cacing gila sudah azan!")  He he  ....

Waktu Isya

Salat wajib yang satu ini hampir tak memiliki nada pengingat.  Main filling adalah solusinya.  Beberapa saat usai maghrib, jika diyakini sudah masuk Isya, umat Islam langsung menuju sajadah  dan bertakbir.

Ada juga yang berazas pada langit. Jika warna cahaya di kaki langit barat telah hilang, tandanya salat isya telah boleh ditunaikan.

Barangkali ada yang heran. Kenapa tidak berpedoman pada azan Masjid saja?   Karena zaman itu Masjid belum bersinggungan dengan pengeras suara. 

Informasi Tambahan

Terkait dengan  bunyi cacing tanah yang disebut  cacing gila azan tadi, kakek ganteng rekan tidurku protes, bahwa  yang berbunyi itu bukan cacing, tetapi jangkrik.

“Suara itu bersumber dari sayapnya  yang bergesek.  Hal serupa juga terjadi pada dengungan nyamuk, katanya. “Bagaimana bisa cacing mengeluarkan suara,  dia tidak punya sayap,”  tambahnya.

Nenek udik ini bingung sendiri.  Seumur-umur saya telah terlanjur percaya, bahwa yang berbunyi  saat maghrib tiba itu adalah cacing gila.

Pandangan tersebut adalah warisan turun temurun dari para leluhur. Dan diamini oleh anak cucu dari generasi ke generasi. Tanpa tersentuh oleh penjelasan ilmiah. 

Terlepas dari makhluk apapun pemilik suara tersebut, cacing gila atau cacing waras, atau pun jengkrik, mitos seperti ini tak perlu dipertentangkan, sepanjang  tidak bertentangan dengan syariat. Anggap saja ia bagian dari kearifan lokal yang tak ada salahnya dipertahankan.

Ya, sudah. Diskusi tentang percacingan saya akhiri sampai disini. Takut salah ulas. Sebab saya tidak berkompeten di bidang ini.

Andai sobat blogger ada yang  ingin berpartisipasi menjawab kebingunan saya ini, mohon ditulis pada kolom komentar.  Semoga bermanfaat.

****

Penulis,

Hj NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi

36 komentar untuk "Indahnya Detik-detik Menunggu Caciang Gilo Ngebang di Bulan Ramadhan"

  1. Assalamualaikum.
    Terima kasih sudi singgah di dapur maya saya. Salam kenal dari Malaysia Timur.
    Indah gaya bahasa dan pemilihan kata yang digunakan dalam tulisan Hj. Nursini. Tahniah! Saya harap akan selalu ke sini untuk membaca hasil tulisan anda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, Ncik. Amie. Insyaallah saya siap berkunjung lagi dan untuk seterusnya. Terima kasih juga buat encik yang telah sudi hadir di lapak saya. Salam sehat berkah Ramadan.

      Hapus
  2. Selamat malam mbak nur.

    Oh jadi itu sebabnya menunggu caciang gelo ngebang, soalnya itu tandanya buka puasa.

    Tapi aku baru tahu kalo cacing tanah bisa bersuara. Sepertinya aku setuju kalo yang bersuara itu jangkrik Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Saya sudah diracuni oleh pikiran kolot para leluhur. Tapi saya juga setuju kalau yang mengeluarkan suara itu jangkrik. Terima kasih, Mas Agus. Telah singgah dan memberikan tanggapan. Selamat malam.

      Hapus
  3. tertanya-tanya saya...cacing boleh berbunyi? ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... sebenarnya prinsip ini merupakan sudah menjadi budaya masyarakat setempat, dear anis. Terima kasih telah mampir. selamat berpuasa.

      Hapus
  4. Selalu menarik.. ^_^ saya juga bingung, cacing adzan? Hehehehe.. Lalu melihat bunga pukul 4, saya baru paham sekarang kenapa mekarnya di sore hari saja.. Ternyata sesuai dengan namanya ya.. Hehehehe Jadi teringat taman kecil milik mama di depan rumah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah cara berpikirnya orang kampung zaman dahulubanget, ananda Naia. Kehidupan itu mengalir apa adanya. Selamat malam. Terima kasih Telah menanggapi. Salam sehat untuk keluarga di rumah.

      Hapus
  5. Heemm sepertinya Caciang Gilo sudah jadi mitos turun temurun diranah minang sejak dulu yaa bu Haji...😊😊 Meski Faktanya tidak demikian tetapi para regenerasi sudah telanjur mempercayainya dari para leluhur terdahulu..😊😊 Mungkin dulu karena keadaan jadi seperti itu kali yaa bu Haji. Atau mungkin sekarang masih ada yang berpedoman seperti itu.😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin dulu karena keadaan jadi seperti itu >>> benar, Mas Satria. Jam termasuk barang mahal. Jadi mereka memanfaatkan suara aneh yang diprdiksi sebagai bunyi cacing untuk penanda waktu.

      Hapus
  6. nyimak, belum pernah denger istilahnya, he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Hanya di kampung saya yang ada cacing gila, Mas Kuanyu. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.

      Hapus
    2. selamat pagi juga mba Nur, dan selamat beraktivitas juga

      Hapus
  7. Kearifan lokal yg hilang...
    Konsekuensi logis zaman...
    Salam sehat dan salam hangat Ibu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat kembali Mas Susy. Terima kasih tanggapannya.

      Hapus
  8. cerita seru bercampur humor....hehehe

    thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkiyu kembali, Mas Tanza. Terima kasih juga telah hadir. Salam sehat dari tanah air.

      Hapus
  9. Kalau perihal cacing, sepertinya saat lapar cacing-cacing di perut saya juga berbunyi hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ... Sama ma cacing perut orang Jambi ananda Supriyadi. Terima kasih tanggapannya. Selamat malam.

      Hapus
  10. Wah, aku baru tau semuanya dong. Kecuali ayam berkokok. Sayangnya, aku nggak tau rasanya ada ayam berkokok karena aku tinggal di perkotaan Bu.
    Padahal ingin tau rasanya dibangunkan oleh ayam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weih ..., rasanya maknyus, Mbak Einid. Terasa nuansa pedesaannya. Selama saya tinggal di rantau orang, jarang sekali mendengar ayam berkokok. Terlebih zaman sekarang. Orang tak banyak lagi memelihara ayam kampung. Karena tergusur oleh ayam potong. Harganya lebih murah daripada ayam kampung. selamat sore. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  11. Haha gitu toh jaman dulu, saya bru tau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya rajin berkunjung ke sini, Mas Norfahtul. Biar tahu suasana kampung era 60-an. Karena penulisnya pelaku sejarah. He he .... Terima kasih telah singgah. Selamat sore.

      Hapus
    2. Emang lokasinya dimana bun??

      Hapus
    3. Di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, ananda Norfahrul. Dahulu kalau mau ke Ibukota Provinsi (Padang), naik kapal kayu. Belum ada jalan darat. Sekarang udah bagus. hubungan lancar. Masyarakat berbelanja ke Padang berangkat pagi bisa pulang sore.

      Hapus
  12. Aku baru tau istilah caciang gilo gini, wkwkw yang ternyata penanda bahwa sudah buka puasa gitu ya? wkwkw

    BalasHapus
  13. Benar Mas Efo. Masa lama itu serba sederhana. Tetapi sangat indah untuk dikenang. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat sore.

    BalasHapus
  14. Era dulu memang masih mengandalkan tanda tanda alam
    Tidak seperti era sekarang. Serba digital atau modern.
    Terimakasih atas artikelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak heran ya Mas Djangkaru. Karena saat itu kehidupan berlangsung dalam serba keterbatasan. Terima kasih telah singgah, Mas. Selamat siang.

      Hapus
  15. Tanda -tanda saat tibanya sholat 5 waktu dan berbuka zaman dulu, unim ya bunda?
    Saya agak kaget ada cacing bisa adzan? Saya masih bingung... apa itu suara hewan jangkrik ya bunda saat maghrib ? Maafkan saya..
    Yang saya tahu kalau di Jawa masuknya musim kemarau ditandai dengan bunyi suara serangga garengpung.. Suara nya nyaring bersahut-sahutan di pagi hari.
    Selamat menjalankan ibdah puasa bunda.. Sempga ibadah puasa kita lancar sampai akhir nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf tulisan saya typo.. maksudnya Unik bukan unim.😊

      Hapus
    2. ... di Jawa masuknya musim kemarau ditandai dengan bunyi suara serangga garengpung.. Suara nya nyaring bersahut-sahutan di pagi hari ...

      Maafkan juga bundamu ini ananda. karena ikut mengamini tanda-tanda alam begini. Para leluhur kita memang tidak menguasai teknologi tinggi. tapi mereka pintar membaca rahasia tersirat di balik tersurat. karena mereka orang-orang jujur, tulus, ibadahnya taat, sehingga Tuhan memberikan dia kelebihan dan petunjuk. Doa-doanya mudah terkabul. Terima kasih telahmenanggapi. selamat siang, salam untuk keluarga di sana.

      Hapus
  16. cacing tanah bisa bunyi ya mbak? kok aku baru tau ya... suer :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ... Mitos yang mendapat pengakuan kali, Mas 60. Terima kasih telah singgah. selamat siang.

      Hapus
  17. nostalgia terus tiap main kesini bun.. Selama di pekanbaru teman2 sekolah juga bilangnya caciang bukan cacing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caciang itu bahasa Minang, ananda Annisa. He he ... Kambing jadi kambiang, kucing jadi kuciang ... dst. terima kasih tanggapannya.

      Hapus