Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fenomena Unik Mudik Lebaran yang Belum Banyak Orang Tahu

Ilustrasi Mudik Lebaran (Tangkapan layar IG si Bungsu)

Mudik merupakan seni  dalam  merantau.  Terutama momen lebaran.  Tanpa itu, namanya  hilang tak tentu rimbanya, mati tak tahu kuburnya.  

Jadi ingat gaya merantaunya orang kampung saya zaman dahulu. orang merantau tanpa tujuan yang jelas. Apalagi keperiannya membawa kesedihan mendalam. Umpamanya, merajuk  pada orang tua dan sanak keluarga, kecewa dalam bercinta, berantakan rumah tangga, dan lain sebagainya.  

Tak jarang sekali merantau mereka tak pulang selama-lamanya. Hingga sanak keluarga kehilangan jejajak.  Terlebih jika dia tidak berhasil. Mau pulang malu, akhirnya mati membawa rindu. 

Itu dahulu.  Semasa saya belum pernah naik kendaraan roda empat. Haha .... Kemana-mana jalan kaki.  Pertama naik mobil rasanya pohon kayunya yang berjalan. Bukan mobil. Wakikkikkik ....  

Makanya, begitu nekad meninggalkan kampung halaman, susah untuk kembali. Tidak seperti sekarang, keberadaan sesorang bisa dipantau. Lalu lintas manusia bebas tanpa hambatan.   

Oh, ya. sedikit melenceng. Tadinya  bahasannya mudik lebaran.  Berdasarkan pengalaman, banyak cara  perantau menyikapi trend mudik lebaran, yang belum banyak orang tahu. Antara lain, 

Pertama: Beruang tak beruang tetap jaga gengsi

Rata-rata orang kampung saya beranggapan, bahwa  hidup di rantau itu enak.  Terutama kalau merantaunya sudah bertahun-tahun. 

Suka atau tidak suka,  saat  mudik perantau harus pandai-pandai membawa diri,  kalau tidak mau jadi bahan cibiran. 

Usahakan jangan kekurangan bekal, mau berangkat lagi isi dompet kering kerontang, minjam ke sana ke mari.  Apalagi sampai menggadai sawah orang tua.  Ha ha .... 

Orang kampung itu tidak tahu kesulitan kita di rantau,  apakah jadi kuli atau merampok.  Tak heran, zaman sekarang, banyak orang-orang mudik mengandarai mobil plat hitam. Entah milik pribadi atau rentalan. Yang penting gengsi. Ha ha ....

Ke dua: Gagal menyenangkan keluarga, menyakiti diri sendiri

Tiga tahun pertama merantau, setiap lebaran saya termasuk rajin mudik. Padahal kondisi keuangan jauh daripada cukup. Maklum, pertama diangkat jadi PNS,kalau tak salah ingat gaji pokok saya Rp 1.080,00.

Bayangkan! Butuh berapa tahun kemudian gaji  pokok saya naik ke puluhan ribu. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, suami saya berjualan dari pekan ke pekan. Saya belum melakukan apa-apa untuk menambah penghasilan.

Sampai di kampung saya sering terbebani oleh rasa tak enak, karena tak mampu menyenangkan orang tua, adik-adik, dan keluarga mertua secara materi. Orang pulang saja minjam koperasi. Diangsur dengan potong gaji selama beberapa bulan. He he .... 

Paling beli baju baru untuk emak dan adik-adik.  Itu pun saya jahit sendiri. Supaya termodal murah. Mereka memang tidak menuntut. Saya yang merasa bersalah. 

Yang usil malah sanak keluarga dan orang di  luar rumah.  “Ceritanya jadi Pegawai Negeri, punya gaji bulanan. Pulang-pulang  tak ada perubahan. Tangan dan lehernya polos. (baca: tanpa  perhiasan).  Enakan tinggal di kampung bisa nanam kunyit di belakang rumah.”  Duh ..., Sakit rasanya hati ini.  

Ke tiga: Punya duit atau tidak tetap biasa-biasa saja

Seiring perjalanan waktu, tahun ke lima merantau di negeri orang, saya mulai buka usaha sampingan. Habis jam mengajar nyambi menjadi tukang jahit.  Usaha saya laris manis. Orderan melimpah ruah terutama bulan puasa dan mendekati lebaran. 

Kondisi ini membuat saya fokus menyelesaikan pesanan. Mudik lebaran tak lagi menjadi prioritas. Akhirnya, kealpaan tersebut menjadi kebiasaan permanen. Saya pulang ketika ada perlunya saja, tak harus saat hari raya. 

Bisik-bisik sanak keluarga dan tetangga  masih seperti biasa. Justru  lebih reaktif daripada sebelumnya. “Kabarnya di rantau punya gaji, jadi tukang jahit terkenal.  Jari tangan dan lehernya kosong.”  

Saya menanggapinya santai saja. Orang mau ngomong apa ya, terserah.  Yang penting saya nyaman menjalani hidup. Kapan mau mudik saya punya cukup duit. Tidak lagi mengandalkan pinjaman kopersi sekolah. 

Saya tidak mau memasrahkan diri diburu oleh ambisi punya perhiasan yang banyak demi menyenangkan hati orang.  

Yang gondokan  justru emak saya.  Saya paham perasaan beliau, yang sangat berharap  kalau saya pulang harus pakai perhiasan yang banyak. 

Beginilah uniknya  fenomena  mudik lebaran, yang saya alami sendiri, namun belum banyak orang tahu. Bagaimana pengalaman kalian? Yuk saling berbagi pengalaman seputar mudik lebaran silakan curhat di kolom komentar.  Semoga inspiratif.

Baca juga :

****

Penulis,
Hj. HURSINI RAIS
di Kerinci Jambi

24 komentar untuk "Fenomena Unik Mudik Lebaran yang Belum Banyak Orang Tahu"

  1. Pertama diangkat PNS gaji pokok cuma 1080, itu tahun berapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. TMT 01 maret 1977 (cpns), Mas Hermansyah. Terima kasih telah singgah, Salam idul fitri. Maaf lahir dan batin.

      Hapus
  2. Wkwk,, saya belum pernah rasain mudik sihh nek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya mudik itu identik dengan merantau. No mudik, tanpa merantau. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam IdulFitri.

      Hapus
  3. Jakarta sudah berapa hari ini kosong melompong bu. Pada mudik semua keluar jakarta. Minggu depan siap2 diserbu lagi balik ke jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Di tempat saya tambah ramai, Bang Siregar. Karena orang rantau banyak yang pulang.

      Hapus
  4. Bersyukur dengan membaiknya situasi pandemi, sehingga masyarakat kembali leluasa untuk mudik dan merayakan Idul Fitri di daerah asalnya masing-masing.

    Semoga ibadah Ramadan Bu Nur berbuah berkah kebahagiaan Idul Fitri 1 Syawal 1443 H.
    Hormat saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Pudji. Ramai banget lebaran tahun ini. Mobil lewat depan rumah kami (jalan lintas ptovinsi) kayak di kota. Perantau banyak yang mudik. Terima kasih doanya. Salam lebaran untuk Mas Pudji sekeluarga. Maaf lahir dan batin.

      Hapus
  5. hehehe...jadi tahu gaji pokok pns kala bunda pertama diangkat.

    Salut bunda pandai menjahit...awalnya menjahitkan baju untuk emak dan adik adik..lalu kini bisa buka usaha sampingan dan membesar. Mbul ingin bisa pintar menjahit juga. Dulu di Smp padahal ada pelajaran khusus muatan lokal pertanian. Praktiknya tiap pelajaran langsung dengan mesin jahit walau awalnya agak susah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah maksud mbul muatan lokal menjahit hehehe...kok aku nulis pertanian..

      Hapus
    2. Artinya ananda Mbul tuh punya bakat menjahit. Lanjutkan. Kalau belum bisa, sebaiknya belajar lagi. Kan Mbul masih muda. Bisa menjahit itu enak lho. Meskipun baju siapnya banyak di pasaran, murah, tapi tukang jahit tetap laris. Profesi nenjahit itu tak pernah nganggur. Tak pernah kering duit. He he ... Tapi bunda udah stop manjahit sejak 2006. Waktu itu bunda mulai diangkat jadi kepala sekolah. Tugas banyak. Sering rapat sana sini. Bosan. Sejak tahun 1968. Awal pensiun pun masih ada pelanggan lama mengantarkan jahitan bunda tak mau. Bosan, bosan. Ha ha. Mulai anak2 usai kuliah dan kerja, kami hanya mikir perut berdua. He he nenek songong.

      Hapus
  6. gaji PNS dulu ngenes ya BU Nur
    jadi ingat alm kakek
    tapi seru juga liat pengalaman mudik zaman jadul

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Mulai diangkat gol. 2/a Mas Akram. Gaji pokok, 80% dari Rp 1.350. Benar2 tidak manusiawi. He he .

      Hapus
  7. Saya juga tim mudik buuu. Yaaa kadang emang dikomentarin aneh2 gitu sih, tapi selama ini masih biasa biasa aja. Semoga nggak sampai bikin bete ehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, ananda. Ngapain kita bete. Duit2 kita. Yang menjalani hidup kita.

      Hapus
  8. Ga akan ada habisnya kalo ngikutin apa kata orang ya Bun 😄. Ntr kita pulang sambil pake perhiasan di seluruh tubuh, ditanya juga mobilnya mana 🤣. Aku udh belajar utK ga peduliin apapun kata orang. Yg terpenting bisa bahagiain orangtua, dan keluargaku sendiri. Bukan memenuhin ekspektasi orang lain yg Deket juga ga 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Prinsipmu mantap, ananda. Yang penting membahagiakan orang tua. Selagi mereka masih hidup. Apabila Beliau telah tiada, air mata darah pun akan kita keluarkan, yang berlalu itu tak bisa dijemput.

      Hapus
  9. pusing kita, kalau ngikuti omongan orang.....
    apa saja yang kita lakukan dianggap salah... salah semua... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begini salah. Begitu salah, jadi semua serba salah. He he ....

      Hapus
  10. Kayaknya waktu gaji bunda 1.080, aku belum lahir, atau mungkin bahkan orang tuaku aja masih kecil, karena kedua orangtuaku lahiran tahun 60 sekian.

    Faktanya bunda, sampai skrg msh byk orang rantau yang maunya terlihat WOW kalau mudik, bahkan nih sampe dibela2in beli emas imitasi, karena ga mau dengar cibiran tetangga di kampung "dari tanah rantau kok pulang2 polosan".

    Tapi aku termasuk yg bodo amat, ga mau ngurusin perkataan orang lain, yg penting kan bisa bahagiain keluarga sendiri, itu udah lebih cukup buat aku, ga ada abisnya denger omongan tetangga, ngasih kagak, komentar doang iya hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "ngasih kagak, komentar doang iya" Hehe ..... Setuju sekali dengan narasi ini. Dulu emak dan adik2 bunda yang sering baper dengar omongan orang. Anehnya oknum yang ciriwis itu kehidupannya tidak lebih baik dari bunda. Mereka hanys punya emas yang melingkar di jari dan tangan. Selain itu biasa2saja. Malah kalau dikalkulasi, yang mereka punya kalah banyak dari bunda. Ha ha ... Nenek sombong. Selamat beraktivitas, ananda Urrsula.

      Hapus
  11. Saya menghabiskan waktu 10 tahun pernikahan, untuk mengerjakan hal-hal yang, nabung buat mudik, atau keluarga pas lebaran.
    Jadilah, hidup saya rasanya cuman buat mudik doang, hahaha.

    Karena kalau mudik tuh biayanya gedeeee banget.
    Bukan karena gengsi, tapi memang biayanya segitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya percaya 100% ananda Rey. Karena kita sama2 perantau. Jangankan dari Jawa ke Kalimantan, kampung saya yang cuman dapat ditempuh 3 jam naik mobil saja butuh biaya tidak sedikit. Biaya transportasinya tidak seberapa. Gaji sopir masih bisa diatur. Karena setiap pulang, minta dijemput sama keluarga sendiri. Yang gede itu, basa-basi buat saudara-saudarinya. Ha ha ... Mereka memang tidak minta. Tapi kitanya yang tidak enak. Karena tradisi orang kampung kami menganggap orang rantau itu banyak duit. Buksn ssya saja yang ngebos bagi2 rezeki. Perantau lainnya juga begitu. Itulah kebanggaan keluarga yang punya saudara pulang dari rantau.

      Hapus