Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Fenomena Klasik Melanda Pasangan Lansia di Usia Senja

Ilustrasi Pasangan Lansia
Juli  tahun depan  pernikahan saya dan suami berusia setengah abad. Kurang lebih satu dasawarsa terakhir kami menyandang status sebagai pasangan  lansia. Saya 70, sang cowok 72 tahun. 

Selama berada dalam lingkaran  pasangan lansia, banyak hal  yang wajib saya syukuri. Di antaranya,  sampai hari ini kami masih sehat, meskipun pernah juga sakit  sebatas toleran. Selera  makan belum pudar selagi menunya sesuai,  dan belum  bergantung pada anak-anak. 

Kami juga tetap beraktivitas sesuai kemampuan. Dua kali seminggu suami ke kebun. Saya di rumah saja, berkutat dengan urusan dapur.  Untuk mengisi waktu senggang  bercanda dengan keyboard  laptop buat melampiaskan hobi coret-coretan yang belum tuntas pada zamannya. 

Untuk membangun dan mempertahankan hubungan sampai menjadi pasangan lansia, bukan perkara mudah. Banyak onak dan duri yang merintangi. Terutama, sejak kami memasuki usia senja. Parahnya selama 2023. 

Ingin tahu apa saja  fenomena yang melanda pasangan lansia yang satu ini? Baca paparan berikut sampai tuntas!

1. Sering lupa

lustrasi Pasangan Lansia
Lupa hal paling sering  terjadi dalam keseharian pasangan  lansia seperti kami. Baru saja  mengambil suatu barang,  dalam hitungan detik lupa taroknya dimana. Kasus begini bukan sekali dua. Intinya, nyaris tiada hari tanpa lupa. 

Pelakunya  kadang-kadang saya, tak ingat menyimpan kacamata sudah merupakan simponi kekeliruan saya sepanjang hari.  Di lain kesempatan doi si cowok lansia.  Waktu keliling-keliling di kebun,  tidak terhitung jumlah peralatan kerjanya raib bak ditelan bumi. 

Ketika menyeret sepotong gulma, refleks saja parang  terlepas dari tangan terus hilang. Dicari-cari sampai bermandi keringat pun  belum tentu ditemukan.

Tidak hanya penyimpanan barang yang sering tak ingat. nama orang, nama jajanan dan sebagainya,  sampai ke jumlah rakaat salat pun sering eror.

2. Nyinyir-nyinyir manja 

Nyinyir adalah penyakit tua yang tak kalah nyentriknya dialami pasangan lansia,  khususnya suami saya. Barusan dia bertanya, “Masak apa hari ini, Nek?”  

"Sambal pete sama ikan teri?” 

“Mantap ...!”  Belum 5 menit, pertanyaan yang sama berdengung kembali. Kadang-kadang  sampai 3-4 kali.  Begitu juga jika lansia ganteng itu punya cerita. Dia tuturkan ke emak anaknya ini  berulang-ulang.  Alhamdulillah saya belum  mengalami  fase begini.

Sudah nyinyir manja pula. Mirip anak kecil.  Saat berkomunikasi dengan saya, doi selalu menambahkan nama cewek lansianya ini di ujung kalimat. Sesekali pakai Nek (nenek).  Misalnya, mau makan Nek. Bikin minum, Nek. Ngantuk, Nek, dan sebagainya.

3. Mudah baper

Ketika anak-anak sudah berumah tangga, tentu  kasih sayangnya telah terbagi. Hal ini sangat manusiawi,  karena  mereka telah bertanggung jawab penuh terhadap  keluarganya. Jika anak-anaknya  jarang nelepon  ayahnya baper.  

Sedihnya melangit  jika sang anak  tidak mengangkat telepon.  Bagi saya, masalah remeh temeh begitu lewat saja. Mungkin   mereka tidak  mendengar, sedang salat,  atau HP-nya  ketinggalan. Ntar telepon ulang lagi. Sangat  tidak mustahil adanya unsur kesengajaan. Sebab,  anak menantu kami tipe manusia yang sangat menghormati  kaum lansia. Terutama  ayah bunda dan mertuanya.  

Ketika dia minta VC cucu, segera dituruti. Sebab, dia tak bisa melakukannya sendiri. Kalau saya terlambat merespon dia merajuk. 

4. Tidak  betah tinggal lama bersama anak menantu

lustrasi Pasangan Lansia
Tidak betah tinggal  lama bersama anak menantu adalah  masalah klasik sebagian pasangan  lansia. Termasuk saya dan suami.  Mungkin ceritanya akan lain apabila kelak ayahnya pergi duluan.

Bertahan 5 hari saja di tempat anak sudah luar biasa. Selepas itu, seribu satu alasan minta pulang. Mulai merasa terikat, tidak enak makan, susah buang air (semblit), sampai ke merasa serba salah. Katakanlah anak-anak meninggalkan salat. Ditegur salah, takut dia tak enak muka, dicuek mulut ini gatal tak bisa ngerem.

5. Sensitif dan Cepat marah

Sensitif  dan cepat marah adalah perubahan paling signifikan dialami oleh suami saya beberapa tahun terakhir. Parahnya  selama 2023. 

Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah. Salah omong marah, beda pendapat marah,  Kadang-kadang  sekadar bergurau dia tersinggung, terus berkobar jadi kemarahan. Dilawan tambah menjadi. Tidak dilawan,  rungutnya berjam-jam.

6. Kemauannya tak bisa dihalang

lustrasi Pasangan Lansia
Ketika naik motor, tampilan kakek lansia itu  gagah perkasa.  Mungkin tiada yang menyangka beliau sudah sepuh. Terutama saat berangkat ke kebun yang jaraknya 1 jam perjalanan, (kurang lebih 40 km).  Pakai helm, sarung tangan, sepatu, jaket berlapis-lapis, plus ransel tersandang di punggung.  

Saat jalan kaki  langkahnya gontai,  kentara  betul gelagat  kelansiaannya. Saya dan anak-anaknya khawatir takut dirinya  terjadi apa-apa.

Dilarang dia marah besar. “Kalian jangan ganggu pikiran saya.  Saya ke kebun bukan  kerja untuk cari makan. Saya terhibur melihat tanaman. Silakan salur hobi masing-masing. Yang main HP sepanjang hari, yang kerja cari nafkah keluarga. Jangan usik kesenangan saya! Bla ... bla ...”  

lustrasi Pasangan Lansia
Ya, sudah. Harus bagaimana lagi. Saya dan anak-anaknya tak bisa berbuat banyak selain pasrah pada yang kuasa. Mungkin beginilah cara Tuhan menguji iman saya.

Merangkum dari halodoc.com,  Perubahan prilaku pada lansia muncul akibat penurunan fungsi kognitif, yang secara alami mengalami menurunkan fungsi pada organ tubuh dan psikologi. Fungsi otak dan kognitifnya pun  mengalami penurun.  Efeknya, lansia kesulitan dalam memecahkan masalahnya, mudah lupa, sering merasa tertekan. Hal itu membuat mereka merasa tidak becus dan menjadi marah pada diri sendiri dan orang sekitr,   seperti anak-anak dan bertindak semaunya.  

Kutipan di atas telah menjawab semua fenomena klasik sering melanda sebagian pasangan lansia yang bertingkah aneh. Seperti saya dan suami. Sekian dan terima kasih.  

 Baca juga:  

****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

_____________

Referensi:

Ini Alasan Usia Lanjut Psikologi Justru Seperti Anak-anak,  halococ.com, 29 Mei 2020,  diakses 23 Juli 2023.

https://www.halodoc.com/artikel/ini-alasan-usia-lanjut-psikologi-justru-seperti-anak-anak

22 komentar untuk " 6 Fenomena Klasik Melanda Pasangan Lansia di Usia Senja"

  1. Feliz aniversario a los dos. Y siempre hay que agradecer. Te mando un beso.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gracias por la oración Alejandro. Las oraciones también son saludables para la familia allí.

      Hapus
  2. Hahahahaha...ternyata sama yah. Saya dan si Yayang sudah 52 an..dan situasinya mirip banget Mbak 🤪🤪🤪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, masih kalah saya ya, Pak Anton. Dulu saya kira makin tua jiwa masing2 kian tunduk. Ternyata, tidak. Gak heran orang2 bilang lansia itu sifatnya seperti anak.2

      Hapus
  3. Konon katanya, kalau udah lansia tingkat lakunya kembali seperti anak kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, Mas Herman. Dalam hal ini, salah satu pihak yang merasa pikirannya masih waras (belum mengalami perubahan) harus banyak bersabar. Begitu juga anak2 yang menjaga orang tuanya yang sudah sepuh.

      Hapus
  4. Jangankan ibu yang sudah 70 tahun, aku saja yang baru 40 tahun juga kadang suka lupa.

    Lagi asyik main hape lalu istri nyuruh ada kerjaan. Habis itu lupa hp taruh dimana.😂

    Tinggal dengan menantu emang kurang bebas ya Bu, enakan di rumah sendiri.🙂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tinggal dengan menantu emang kurang bebas ya Bu, enakan di rumah sendiri .... Setuju 100% Mas Agus. Karena gaya hidup anak muda tidak sesuai dengan kami orang tua. He he ...

      Hapus
  5. Wah artikel nya menarik bunda, mengingatkan saya juga, sebagai pasangan memang selalu ada kerikil"di depan kita, mudah lupa ,ngambekan, baperan dll adalah sifat yang sebagian orang akan mengalaminya jika usia bertambah,tapi saya juga sering kelupaan koq bund hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi lupanya nenek kakek lansia udah ke level parah, ananda Mreneyoo. Untuk bunda suka nulis. Kalau tidak, mungkin nama sendiri juga lupa. Terima kasih telah singgah. Selamat malam.

      Hapus
  6. Tapi artikel ini sangat bagus dan bermakna. Saya sangat menyukainya. Saya berharap Anda bahagia. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mengapresiasi, Pelis. Doa sehat juga untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  7. paling repot kalo sudah berhadapan sama yang sudah sepuhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mas Geden. Terima kasih telah singgah. Selamat beraktivitas.

      Hapus
  8. Aku jadi inget papa mama bundaa. Papa udah 72 umur ya, tapi masih aktif jalanin semua bisnis bakery dan peternakan ayam. Masih kuat bawa mobil. Tapi ya itu, kami ini yg kuatir kalo kenapa2. Cuma pas dilarang ya marah 😂. Katanya otaknya lumpuh kalo cuma diam di rumah 😅

    Kalo mama msh 60an. Tapi juga lumayan aktif. Sebagai anak, aku cuma mau mereka berdua ttp sehat, dan aktif sih. Dan aku pun penginnya setelah di usia segitu, juga masih kuat beraktifitas. GPP lah sedikit pikun, yg penting ttp bergerak. Rasanya memang ga enak kalo cuma di rumah diam aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. 72 tahun? Persis seumuran bapaknya (suami bunda) Tapi beliau gak berani nyetir mobil. Suka dag dig dug. Kegiatannya cuman ke kebun. Kadang ngeri juga membayangkan, takut terjadi apa2, bawa motor 50 km PP. Tapi kebun beliau pas di pinggir jalan raya.

      Hapus
  9. Dengan memahami hal-hal tersebut, kita sebagaimana anak bisa menata hati agar nyaman dan berdamai menghadapi orang yang sudah sepuh ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, saya cuman bisa menulis si doi. Entah bagaiman pula penilaian anak2 terhadap emaknya ini. He he ...

      Hapus
  10. Fenomena apa yang paling sering melanda penulis artikel ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pnomena apa ya, he he .... Oh ya. No 1, 3, dan 4. Terima kasih apresiasinya Mas Tikno.

      Hapus
  11. Terima Kasih telah berbagi ya Nenek, selamat atas pernikahannya yang telah sampai sejauh ini.

    Menjaga pernikahan hingga usia lanjut begini bukanlah hal yang mudah. Kalau sudah lansia udaj nggak manggil "Yang" lagi ya Nek?

    Lama nggak kesini nih Teddy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul ananda. Karena cinta telah usang, panggilan yayang udah hilang ya, ananda. Terima kasih telah singgah. Maaf telat merespon. Nenek sedang berada di luar daerah. Sibuk main ma cucu. He he .

      Hapus