Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pohon Kasih Sayang Berbuah Masygul [Edisi Curhat]

Ilustrasi Pohon Kasih Sayang Berbuah Masygul

Puluhan tahun hidup di rantau orang, saya belum ketemu tetangga yang julid.  Bahkan satu di antaranya saya anggap  keluarga sendiri. Saya memanggilnya Akak. Kalau ada masalah apa-apa  kami sering  saling curhat.

Saya mengenal  Akak dan keluarganya akhir tahun 80-an. Zaman itu rata-rata perekonomian masyarakat desa kami sedang tandus. Termasuk keluarga saya dan beliau. Suami Akak  buruh serabutan.   Susah untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya  dengan 9 anak. 

Selain mengajar, kebetulan saya nyambi menjadi tukang jahit pakaian wanita. Salah satu putri  Akak  (anak ke 6) sebut saja namanya Maya, saya ajak bantu-bantu menjahit bagian pasang kancing.  Tentu saja dengan bayaran yang setimpal.  Niat saya, selain mengurangi beban kerja  saya,   Tanggungan keluarga Akak bisa longgar,  Mia dapat duit buat jajan. Daripada pulang sekolah dan saat libur dia menghabiskan waktu  untuk bermain.

Mia gadis cerdas. Satu kali dikasih tahu dia  langsung mengerti.  Meskipun saat itu dia baru kelas 2 SMP.  Selain cerdas, dia serba bisa dan rajin. Tanpa disuruh dia nawar duluan apa yang patut dia kerjakan,  termasuk memasak dan urusan dapur lainnya kecuali mencuci pakaian. Saya sangat terbantu olehnya, dan menganggapnya keponakan sendiri.

Kehidupan Akak mulai membaik

Singkat cerita, tahun 1996 (kalau tak salah ingat), perekonoian orang tua Mia mulai membaik. Boleh dikatakan lebih daripada cukup.  Setahun pasca reformasi, mereka sudah punya rumah tinggal dan bedeng  sewaan.  Perubahan ini terjadi karena Ayahanda Mia dan 3 kakaknya bekerja di luar negeri. 

Hubungan kekeluargaan kami tetap  terjalin sangat baik. Waktu  mereka beli  rumah,  Akak mempercayakan saya dan suami  untuk  membimbing beliau. Karena saat itu Ayah Mia masih di luar negeri. Begitu juga saat Mia menikah, kami yang melaksanakan urusan luar, dalam, jauh, dan dekat. 

Mia berubah sikap

Kini Mia sudah punya anak 3 semua telah dewasa. Satu sudah lulus kuliah. Namun 5 tahun terakhir Mia berubah sikap. Dia sering angin-anginan. Kadang-kadang ketemu saya dia buang muka, merengut. 

Saya tetap menyapa seraya mempersembahkan senyum termanis untuknya.  Reaksinya bervariasi. Kadang-kadang biasa-biasa,  sesekali datar, di lain kali   menjawab tegoran saya sekenanya. 

Jujur. Saya baper,  mengoreksi diri. Apa salah dan dosa saya padanya.  Seingat saya, dia tiada menyakiti  saya, saya pun  tak pernah  ada masalah dengannya. Ternyata pohon kasih sayang yang saya tanam selama ini berbuah masygul.

Saya berpikir waras

Ujung-ujungnya   saya berpikir waras, pusing amat mikirin orang. Positif thinking aja.  Mungkin dia lagi ada masalah keluarga atau kesulitan keuangan.  Maklum era sekarang  problem kehidupan semakin kompleks.  Dan tidak semua orang mampu memanajemen kegundahannya, hingga meluber ke tampilan sikap dan wajahnya. 

Kondisi tersebut terus berlanjut ke sekian dan sekian kalinya. Setiap   bertemu dia,  pasti saya menyapa duluan. Meskipun  si Mia-nya kadang-kadang pura-pura tidak nengok saya dan buang muka.  Seperti orang habis berantam. 

Oke ..., tidak masalah, biar saya yang mengalah. Ekspetasi saya, dengan  segala kelembutan hatinya ke depan dia bisa memperbaiki sikapnya.  Sebab saya paling tidak suka musuhan. Apalagi dengan tetangga, dan orang yang dulu pernah menjadi bagian dari keluarga saya. 

Di tempat kerja juga begitu. Tersinggung dikit-dikit saya anggap biasa. Alhamdulillah puluhan tahun kebersamaan dengan teman seprofesi,   tak pernah kami terlibat konflik, apalagi  sampai cekcok. Walaupun ada  gesekan kecil yang tak disengaja, ya, itu tadi. Kalau bukan mereka yang negur duluan ya, saya.  Meskipun di segi usia saya lebih tua .... Selepas itu,  interaksi kami normal kembali. Bersenda gurau, ketawa ketiwi. Makan camilan satu piring keroyokan. 

 Saya kira ini gara-garanya

Semakin ke sini sikap Mia kian menjadi-jadi. Dahulu ketemu  cuek dan buang  muka itu hal yang lumrah. Sejak tahun 2021  tambahannya,  kalau kebetulan ketemu mendadak,  dia menatap saya dengan wajah sangar. 

Terakhir berhembus isu, bahwa dia lagi tak enak hati dengan tetangga  lain yang notabene lawan bisnisnya. Saya menduga, mungkin dia menganggap saya berpihak ke rivalnya tersebut. 

Duh ..., kalau benar itu penyebabnya, apa urusannya dengan saya. Haruskah saya ikut bermusuhan untuk mendukung dia?  Saingannya itu pun tak pernah banyak omong tentang Mia. Karena  semua tetangga tahu kalau Mia itu saya anggap anak sendiri.  Kini bukan zamannya lagi emak-emak ngumpul bergosip ria. 

Sebagai nenek-nenek, saya harus  jaga wibawa. Untuk apa ada pro dan kontra  cuman urusan ecek-ecek murahan. Bisnis ya bisnis orang. Saat butuh barang saya beli. Belum pernah dia kasih gratis. Lagipula harga diri saya tak akan tergadai dengan hal gratisan.   Namun tidak seorang pun berhak melarang saya ramah dan tersenyum tulus kepada semua orang.   

Menyerah dengan ketololan 

Suatu ketika, saya membaca sebuah status  di media sosial. Entah di Facebook atau di Instagram, atau di twitter saya tak ingat lagi. Narasinya lebih kurang begini,  “Jangan engkau dekati orang yang tidak menyukaimu.”  Tak tahu apakah ini quote, hadist  atau apa.  

Saya merenung sejenak.  Hep ...!   Tibalah saatnya saya menyerah dengan ketololan saya. Usaha memperbaiki hubungan dengan Mia  saya anggap tamat dan  gagal total. Ngapain saya berupaya baikan dengan orang yang jelas-jelas membenci saya. 

Saya sudah lelah. Sejak saat  itu saya tiada lagi berupaya  mendekati  Mia. Sebisa mungkin saya tak mau melihat wajahnya. Dia bukan saudara saya, bukan darah daging saya. Anggap saja dia tidak ada. Titik. Kondisi ini telah berlangsung satu tahun lebih.

Bagaimana hubungan dengan Emaknya Mia?

Komunikasi saya dan   Akak  biasa-biasa saja. Kami pergi dan pulang mengaji bersama.  Terlepas beliau mengetahui atau tidak keretakan hubungan saya dan Mia sejak  5 tahun terakhir. 

Bedanya, kalau dahulu  saya dan beliau saling kunjung,   curhat tentang  berbagai masalah, saling cicip masakan,  kini momen-momen  itu tinggal cerita. Toh si Mia-nya masih numpang tinggal bersama emaknya.  Mungkin ..., atau boleh jadi  ....

Ayahandanya malah lebih baik pada saya sekeluarga. Apa-apa kesulitan saya dan suami  tinggal bilang. Tanpa  kami minta beliau siap membantu.  Sampai akhirnya beliau pergi untuk selamanya 4 tahun lalu. 

 Mitos atau fakta

Tak ada angin tiada badai. Keluar dari Masjid usai salat Idul Adha  19 Juli lalu, saya menunggu suami mengeluarkan motor dari parkir Masjid. Rupanya  Mia dan anak gadisnya juga ada di sana. Sama-sama menyeret motor dari parkiran.

Mendadak Mia menyampirin saya. Saya siaga.  Mungkin dia akan  melabrak saya. Eh ..., ternyata jarak 2 meter dari  tempat saya berdiri dia tersenyum, terus mengulurkan tangannya. “Mafkan Mia ya, Bu. Mungkin selama ini Mia banyak salah dengan Ibu.”  Dia memeluk saya erat. Saya balas pelukannya. sambil berujar, “Ya. Sama-sama.”

Apakah saya sedang bermimpi? Oh ..., Bukan.  Ini fakta nyata.

Penutup

Bermusuhan itu sangat tidak enak. Apalagi dengan orang yang selama ini kita sanjung-sanjung. Serasa diri ini orang jahat. Tetapi kalau ada oknum yang tak suka dengan kita, ngapain kita mengemis mengejar kebaikan yang tetap dia anggap buruk bahkan mungkin menjijikkan.

Dimikian curhatan ini saya bagikan. Semoga dapat meringankan apa yang mengganjal di hati ini.Terima kasih.

Baca juga:

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

31 komentar untuk "Pohon Kasih Sayang Berbuah Masygul [Edisi Curhat]"

  1. Bener bunda. Makanya aku bingung, Ama orang yg suka jilid, suka mikir negatif, suka benci ke orang lain, apa ga capek hidupnya? Punya 1 musuh aja kita pusing ngadepin, mikirin. Apalagi punya banyak 😂.

    Rukun2 ajalah. Ga usa iri dengki kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Esepakat, ananda. Tidak ada ada ketenangan yang terasa indah, tanpa dibarengi dengan hidup rukun bersama tetangga. Dunia ini rasa sempit jiga dikelilingi oleh musuh. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
  2. Aneh aja ya bund..enggak ada angin atau hujan tau"ngajak perang alias bermusuhan..tapi itulah manusia..kita gak bisa nebak isi hatinya...sayapun kalau jadi bunda mendingan mundur teratur bund dari pada pusing sendiri hehehe.. alhamdullilah kalau dia minta maaf dan menyadari kesalahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Meski dia sudah minta maaf, tapi bunda merasa asing menatap wajahnya. Malu, tak enak. Kaku. Mungkin karena terlalu lama saling cuek. He he ....

      Hapus
  3. Seperti itulah kehidupan
    hati kadang bolak-balik, kadang senang dan kadang susah
    setiap berhubungan sosial, pasti ada hal yang tidak sesuai
    mengganggu hati dan pikiran, saya pun mengalami hal yang sama
    yang penting, tetap hapi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selagi berinterasi dengan orang, banyak, pasti banyak pula ulahnya ya, ananda. Super sekali.

      Hapus
  4. La historia no te deja indiferente. Hay veces que no entiendo a los humanos. Te mando un beso

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ese es el hecho. Porque los humanos nacemos con varios tipos.

      Hapus
  5. hiihi jujur bu,aku juga punya kasus mirip.Dan rasa2nya gak ada salah ke orang tiba2 di julid-in.tapi ya sudahlah,itu urusan orang lain..kita gak bisa mengatur hati orang.syukurlah ibu dah "damai" lagi dengan mia.minimal damai di hati ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, damai, ananda. Tapi hati ini terlanjur sedih. Mulut ini telah dipenuhi lidah. Malu, sedih, kaku bercampur aduk saat bertatapan dengannya.

      Hapus
  6. kadang orang yang julid itu
    bikin kesel hati orang

    BalasHapus
    Balasan

    1. Kita gak habis pikir, ada apa di kepala mereka hingga seakan sengaja mrncipta konflik. Terima kasih telah mengapresiasi, Mas Rezky. Selamat malam.

      Hapus
  7. wah kalo aku sih ada orang yang julid ga pernah ta peduliin, anggap aja mereka ga ada udah cukup :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya memang begitu ya, Mas Khanif. Caman hati ini masih berharap agar hubungan yang lama terjalin tetap awet. Selamat malam. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  8. Menghidari masalah atau menjauhkan diri lebih baik setelah berusaha utk perbaiki.. Apa pun diri sendiri lebih bermkna utk dijaga dari hati org lain..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Super sekali, Mas. Akhirnya memang begitu. Ngapain nyenangkan hati orang menyakiti diri sendiri. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
  9. jaman dulu entah kenapa punya banyak anak ya, keluarga ibu saya aja 8 orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emak saya anaknya 9, Mas Rezky. Saya anak pertama. Pernah saya dan almarhumah sama2 hamil.

      Hapus
  10. Hubungan manusia sangat berbeda dan semakin aneh. Terkadang orang terkejut. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kehidupan Zaman sekarang bukan saja makin aneh. Malah kian gila. He he ....
      Terima kasih telah mengapresiasi, sobat selamat malam.

      Hapus
  11. A very nice story.
    Thanks for your visit and comment.
    I'm following you from now. Your blog is very interesting.
    Have a good week.
    Kisses.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nice to meet you. Waiting for your visit anytime. Hopefully our friendship will continue and we will make blogging a regular activity

      Hapus
  12. Prinsip kita sama bund, gak perlu ikut-ikutan bermusuhan hanya demi membela orang terdekat. Aku pun gitu, kalau temenku A musuhan sama temen B, atau C, ya aku gak mau ikut urusan mereka dan tetap jaga hubungan dengan semuanya, toh bukan urusan kita, itu urusan mereka hihi

    tapi sangat disayangkan kalau semua orang dianggap sama dan dijadikan musuh ya. Tapi memang lebih baik masa bodoh karena memikirkan itu gak ada gunanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai ananda Keza! Lama kita tak saling sapa. Begitulah kehidupan sosial. Meski kita punya niat baik terhadap orang lain, ada juga oknum yang tidak menerima. Dan memandang kita sebelah mata. Terima kasih ya. Telah singgah. Selamat beraktivitas.

      Hapus
    2. Hehe hali, Bunda gmna kabarnya.
      Iya nih, aku rehat kemarin2.
      Iya bund bener banget, kadang kebaikan kita malah diartikan dg kenegatifan. Akhirnya ya dipandang sebelah mata. Mereka gak mau mikir sisi lainnya

      Hapus
    3. Sekarang bunda udah sadar. Kalau mencintai dan menghormati orang lain itu sekadarnya saja. Tak perlu berlebih2an. Selamat malam, ananda Keza.

      Hapus
  13. hidup ini pilihan. kita boleh memilih untuk menjauhkan diri daripada sebarang masalah... apa-apa pun... berbalik kepada... sayangi diri sendiri.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, teman Anis. Cuman rasa kurang enak saja antar tetangga bermusuhan. Selagi bisa di perbaiki,
      dibaikin. Kalau tidak, sudah. Ucapkan saha selamat tinggal orang berakhlak kurang baik. Oh, ya. Syukur, sekali ini komen Anis bisa nempel di halaman blogku seringnya memang segitu. Koman teman 2 sering gak nysntol di blog saya.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  14. “Jangan engkau dekati orang yang tidak menyukaimu.” ...setahu saya cuma qoutes saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mrhanafi. Ternyata quote ya. Selamat malam.

      Hapus