Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Turis Asing Bertingkah Aneh. Ke Bengkulu Minta Naik Mobil ke Jambi

 Wisata

Ilustrasi Turis Asing Bertingkah Aneh (Tangkapan layar dari foto Metrojambi.com)
 
Lagi-lagi turis asing bertingkah aneh. Katanya mau ke kota Bengkulu, minta naik mobil ke Jambi.

Peristiwa ini terjadi di loket travel Safa Marwa Kota Sungai Penuh. Rabu 23 Agustus yang lalu. Kebetulan saya juga punya tiket dan tujuan yang sama dengan sepasang bule tersebut.

Memperhatikan bahasa saat keduanya berkomuniasi, mereka  bukan Eropah. Englishnya  hanya ketika ngomong dengan kita-kita saja.

Menolak naik Safa Bengkulu

Ilustrasi Turis Asing Bertingkah Aneh (Tangkapan layar dari kanal youtube Idolakerinci bus)

Pukul 09.18,  travel ke Bengkulu siap berangkat.  Para penumpang diminta naik. Namun bule cowoknya menolak. Dia bersikeras  mau masuk ke  mobil yang terparkir di sebelahnya. Yakni,  Safa Marwa warna silver mengkilat, baru, kelas eksekutif,   jurusan Sungai Penuh Jambi. Sementara trayek ke Bengkulu  bercat hitam, maaf, agak usang. 

Tahulah, di loket-loket  travel Kota Sungai Penuh.  Rata-rata petugasnya berbahasa Minang. Terjadi saling sanggah yang kacau balau. Si turis ngomong English, lainnya bahasa Padang. “Kalau waang nio oto rancak, tompanglah oto ka Jambi”  (kalau anda mau mobil bagus, tumpang lah mobil ke Jambi). 

Perdebatan tersebut menjadi tontonan menarik  bagi orang-orang di sekitar. Lumayan juga buat hiburan.  Akhirnya turis asing  itu nunut juga. Tanpa basa-basi keduanya mengambil tempat di depan (samping sopir). 

Padahal pada tiketnya tercantum nomor tempat duduk  1 dan 2  di belakang sopir, satu rey dengan saya pemegang karcis nomor 3. Untungnya penumpang lagi sepi.  Bangku depannya belum terjual, makanya tak ada yang protes. 

Awal perjalanan 

Awal perjalanan, pria mancung berkulit putih itu cendrung bertingkah kocak.  Sesekali dia menekan tombol kalakson yang mengalunkan intsrumental lagu Minang. Di lain kesempatan dia sibuk merekam berbagai objek seperti, jalanan, hutan, gunung, jurang, dan sebagainya. 

Kurang lebih tiga jam menyusuri jalanan, mini bus yang kami tumpangi itu  berhenti di sebuah warung nasi, desa Alang Rambah Tapan, Pesisir Selatan Sumatra Barat.  Warung tersebut  merupakan langganan tetap   sebagian pengemudi  dan penumpang Safa Marwa jurusan Sungai Penuh-Bengkulu dan sebaliknya  untuk bersantap siang atau sore, atau sekadar menikmati kopi panas.

Belum 10 menit,  bule cowoknya  mulai gelisah. Dengan congkaknya dia minta driver  segera berangkat. Hal ini memaksa Pak sopir dan penumpang  buru-buru  melahap nasi  di piringnya. 

Aksi eksentrik yang kian gila

Menurut Pak Sopir, pagi-pagi  sebelum diminta  naik mobil  wisatawan asing  tersebut telah menunjukkan keanehan. Dia mengkorting  paksa harga tiket  Rp 20 ribu per orang. 

Kini  aksi eksentriknya makin gila.  Setiap mobil berhenti untuk suatu keperluan seperti  menyinggahi kiriman, menaikkan penumpang, dia marah-marah, minta Pak Sopirnya tidak  berhenti melulu. 

Dampaknya,  kendaraan melaju tanpa henti. Kecuali ngisi BBM. Jadwal  makan driver yang lazimnya dua kali,  terpangkas menjadi satu kali.

Pukul 18.40, mobil memasuki kota Bengkulu. Lebih cepat  dari biasanya yaitu, sikitar jam 21.00.  Sampai  di POM bensin (maaf,  tak tahu nama daerahnya), seorang penumpang mahasiswi  minta diantarkan ke UNIB  Belakang  tempat dia ngekost. Kurang lebih 3 menitan untuk balik lagi ke SPBU.  

Bule itu berteriak kencang  tanda protes. Maunya antar mereka dulu di sebuah hotel yang alamatnya, entah dimana. Jika keinginannya  tersebut dikabulkan, untuk mengantar mahasiswa tadi  ke alamatnya travel harus balik lagi ke belakang. Mana yang paling adil, coba.

Memancing emosi petugas loket

Sampai di loket Safa Marwa Kota  Bengkulu,  pengemudi menyerahkan mobil ke sopir raun untuk  tugas antar jemput dalam kota. Aturan mainnya memang begitu. 

Lagi-lagi sang Bule berteriak garang. Pak Sopir naik pitam, hingga memancing emosi  4 petugas loket, yang orangnya masih muda, ada satu yang tubuhnya segede gaban.  

Rame-rame mereka minta bule itu turun  dari mobil yang masih terparkir di pinggir jalan.  

“Kamu tuh tak bisa seenaknya  merintah sopir.  Kalau  mau ngatur, carter ..., carter ..., carter ...,” Ujar salah satunya sambil menggigit geraham.   

Di sela itu ada pula  oknum yang menepuk-nepuk dada. “Saya abri, abri, abri, tauk?” 

Sepertinya gatal tulang mereka ingin  menghadiahi bogem mentah pada penumpang aneh itu. 

Turis tersebut tertunduk diam  di jok mobil, bagaikan ayam sudah dipotong.  Saya coba memberi sedikit pembelaan, “Ya sudah, kasian dia. Ntar masalahnya merembet ke mana-mana. Bikin repot.” 

Penutup 

Sambil ngomel-ngomel  para anak loket itu bubar. Drama menegangkan epesode kedua ini  berakhir menggantung, karena saya sudah dijemput oleh anak dan menantu bersama cucu-cucu tersayang.  

Demikian kisah tingkah aneh wisatawan asing ini ditulis sesuai dengan kesaksian di tekape. Semoga bermanfaat.

Baca juga:  

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi.

16 komentar untuk "Turis Asing Bertingkah Aneh. Ke Bengkulu Minta Naik Mobil ke Jambi"

  1. Las diferentes culturas chocan a veces. Te mando un beso.

    BalasHapus
    Balasan

    1. Así es. Aquí es necesario comprender la cultura local para que no choque.

      Hapus
  2. Ada-ada aja ya Bund tingkah para turis luar itu. Kalau kita terbiasa dengan pepatah di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung, sepertinya mereka juga harus paham filosofi itu ya biar bisa saling menghargai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin mereka tidak memahami filosofi tersebut, seharusnya mereka cari informasi dulu sebelum masuk ke Indonesia. terima kasih telah singgah, ananda Regen.

      Hapus
  3. Itulah bund...di mana bumi di pijak di situ langit di junjung, di mana kita berada ya menyesuaikan diri..tapi namanya bule mungkin ngerasa gimana kali bund hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Mungkin dia buru2 sampai karena jam booking hotel telah terlewati ya ananda. Jadi rugi kalau tidak ditempati sesuai jadwal. He he ....

      Hapus
  4. Kok ikut gemush pen turut ngomelin tuh turis yak😂aneh-aneh aja. Mau menyamakan kebiasaan dia di LN kalik makanya begitu. Pdhal di Indo ya tentu ada aturan dan kebiasaan yg berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya turis tersebut belajar banyak, sebelum dia masuk ke negeri kita ya, ananda Keza.

      Hapus
    2. Iya sih, Bund. Tapi kadang gak semua turis mau mempelajari negara yg akan mereka kunjungi. Akhirnya begitu deh, malah bikin geram warga asli Indonesia

      Hapus
    3. Mungkin mereka merasa jadi melioner, makanya dia besar kepala. Meskipun banyak sedikitnya mereka tahu tradisi dan karakter bangsa kita.

      Hapus
  5. Saya beberapa kali Nemu bule nyebelin kayak begini, tapi di negara lain. Kalo di Indonesia malah belum pernah.

    Waktu di Malaysia bule resek begini yg ada langsung di bikin diem Ama petugasnya di awal berangkst, jadi dia ga semena2 sepanjang perjalanan.

    Ini Mungkin ya bundaaa, Krn di Malaysia Rata2 orangnya bisa bahasa inggris. Jadi dr awal mereka langsung tegas Ama si bule dengan bicara langsung.

    Tapi saya akui orang Indonesia kurang banyak yg bisa bahasa inggris minimal. Sehingga ketika terjadi gaduh, yg ada supir banyak diam, mengalah. Ujung2nya si bule jadi merasa jagoan. Makanya berani merintah2.

    Saya ga salahin supir, Krn si bule memang kurang ajar sih, ga sopan dr awal 😅. Semoga aja next nya ga ketemu Ama turis gila begini lagi.

    BalasHapus
  6. Boleh jadi begitu ya, ananda Fanny. Karean keterbatasan Bahasa Inggris kita. Jadi kita gak bisa bertindak tegas. Mungkin mereka menganggap kita di bawah standar dia (maaf, prediksi pribadi). Makanya mereka berani semena2. Lihat tuh di Bali. Ada yang ngajak warga setempat berantam, memeras, melakukan hubungan suami istri di halayak ramai dan lain2.

    BalasHapus
  7. perjalanannya sangat banyak ceritanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita ringan, Mas Rezky. He he ... Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat selalu ya.

      Hapus
  8. Kelakuan bule kalau ke indonesia itu terbilang unik-unik. Pernah ketemu bule yang ga mau bayar ketika mendaki gunung rinjani. Mereka ngotot kalau mendaki gunung tidak perlu bayar. Mereka beranggapan kalau gunung itu milik umum. Mereka pikir sepertj berada di negara mereka. Belum lagi ketika diatas dia minta-minta logistik ke pendaki lain. Ya ga semua bule seperi itu, banyak bule yang taat pada aturan lokal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas Vai. Cendrung maks kehendak. Bayar ongkos mobil memaksa minta diskon. Kita sendiri orang lokal mematuhi tarif tiket. Mungkin karena mereka tak punya uang, karena tidak semua turis itu orang kaya.

      Hapus