Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setelah istriku Berpenghasilan [Part 4]

Ilustrasi

Hallo, teman-teman blogger!  Cerbung Setelah Istriku Berpenghasilan kini kembali lagi, setelah tayang 3 episode sebelumnya.

Pada bagian  4 ini,  nama Firah masih diseret. Tak tahu alasanna apa.  Entah  "Aku"-nya yang kesentrum senyuman si Firah atau  penulisnya yang kesengsem berat sama sang janda cantik itu. Mosok bunyi guyuran air mandinya saja   terdengar dari balik dinding tembus ke telinga. Ha ha ....

Biar tidak ketinggalan cerita, simak kisahnya berikut ini.

Setelah Istriku Berpenghasilan [Part 4]

S. PRAWIRO

Telat Bangun

Hari keberangkatan Rahel tiba, tapi dia justru bangun telat. Tidak ada sarapan. Malahan aku pun dibuatnya ikutan kalang kabut.

“Baju kuning Rahel, Mas, tolong dimasukkan ke koper.”

Sementara itu ia mencari-cari handuk hendak mandi.

“Ini?”

Rahel menoleh. 

“Iya itu.” Baju yang lebih cocok dipakai anak usia 13 tahun. Kurang bahan.

“Tolong sama celana hitamnya, Mas.”

Celana hitam super ketap ini akan dikenakan istriku di depan pria-pria sambil menawarkan rokok, astaga. Tidak benar ini. 

“Kok bengong, Mas?  Buruan  dong.”

“Iya, ini lagi dirapiin.”

“Maaf ya, Mas, nanti  kalau mau ngopi, bikin sendiri dulu ya. Kopi sama gula sudah Rahel beliin kemarin.”

“Iya, gampanglah, itu mobil jemputanmu udah dari  tadi bunyi kalakson terus.”

Moodku agak tertolong sebab semalam akhirnya bisa bermesraan lagi dengan Rahel.

“Dan ingat, Mas, anak-anak diasuh sendiri  gak usah minta bantuan siapa-siapa termasuk Mama di kampung, kecuali sangat mendesak.”

“Iya, iya.”

“Pamit ya, Mas.”

Rahel mencium punggung tanganku lalu beralih ke ranjang mencium kedua anak kami yang masih terlelap.

“Hati-hati.”

Sebuah mobil merah membawa istriku pergi dari rumah.

Mendadak rumah terasa sepi. 

Untung Rafadon libur. Gurunya lagi ada rapat. Malu juga rasanya kalau pas ngantar jemput ke teka. Eh banyak kali ibu-ibuk. Bisa dibilang hanya aku satu-satunya bapak-bapak di sana.  Aku sih tidak yakin  selamat dari perbincangan mereka. Bodoh amat lah. Untung lagi Rafadon sudah mau tinggal jadi gak harus seperti  ibuk-ibuk itu, berkeliaran di halaman teka sampai sekolah usai. 

*

“Bapak, laper mau makan mie.”

“Iya bentar. Tapi adik diliatin ya, jangan sampai jatoh.” 

Trauma juga kalau  Jaidan jatoh lagi. 

Terdengar guyuran air dari rumah sebelah. Rumah Firah,  mungkin dia sedang mandi. Kubuang pikiran itu jauh-jauh. 

Aku lantas ke dapur menyalakan kompor. Perabotan  biasanya sudah bersih, tapi kali ini semuanya masih kotor.  Aku menarik napas lalu mulai mengguyur teflon dan mencucinya sampai bersih.

“Makanan siap ...”

“Horee ...”

Ke dua anakku pun mulai makan.

“Bapak suapin,” Pinta Jaidan.

“Rafadon juga mau disuapin.”

“Iaya, iya.”

Baru beberapa suapan Rafadon berteriak minta air.

“Minum ...”

“Jaidan juga mau minum.”

“Raf duluan.”

“Aku duluan.”

“Suit, suit dulu yang menang dia duluan minum.”

“Pokoknya Rafa duluan. Kan Kak Rafa yang minta duluan.”

Masih pagi- pagi energiku sudah mau habis. Mana belum sarapan lagi. Pesan-pesan di ponsel pun dari kemarin tidak kepegang. Boro-boro bisa main game seperti biasa. 

Tapi kok perempuan-perempuan itu bisa pada strong ya. Menghadapi anak, menghadapi suami, menghadapi tetangga, kang sayur dan banyak lagi. Terbuat dari apa jiwa mereka. 

Ingin rasanya melambaikan tangan ke kamera. 

Sejak Rahel bekerja anak-anak jadi makin nekat denganku.

Kata  Mamak di kampung, gak apa-apa kalau istrimu mau kerja. Asal bukan kau yang suruh dia cari duit.

Tapi kayaknya gak kuat deh Mak kalau kerjanya kantoran atau dari luar rumah gitu. Kewalahan aku, apalagi tak ada pembantu. 

*

“Istrinya  masih kerja ya, Kak?”

Tiba-tiba Firah lewat habis joging.

“Iya, masih. Sudah dikontrak selama setahun.”

"Kenapa gak ambil baby sitter."

“Kebenaran. Baru mau saya usulkan ke istri.”

“Kalau  butuh kabari ya.”

“Dek Firah ada kenalan yang mau jadi Baby Sitter.”

“Firah sendiri, Kak yang mau jadi babysitter buat nambah –nambah bayar kontrakan.”

“Emang udah gak kerja lagi ya?”

“Baru-baru kena PHK, Kak.”

Rautnya sedih seperti butuh tempat bersandar.

“Gaji baby sitter sekarang berapa ya, Dek. Kalau boleh tahu sih?”

“Saya ada pengalaman jagain anak-anak sih Kak.  5 Juta sebulan.”

“Gitu ya.”

Aku pun mundur alon-alon untuk menjadikannya salah satu kandidat baby sitter kami.

*

Pasti Rahel bakal mencak-mencak kalau tahu aku habis ngobol dengan tante Firah. Hebatnya lagi Rahel sudah mencuci otak Rafadon untuk melapor ke ibunya kalau bapak sampai mengobrol sama perempuan utamanya dengan Firah.

Asyik juga sih kalau ada yang jagain anak-anak. Duniaku pasti bakal kembali nornal seperti sedia kala.

Kerjaan gak bakal direcoki  sama anak-anak. Bisa fokus bikin materi promosi. Broadcast-broadcast ke pelanggan lama. Insyaallah omzet  kembali stabil. Kalau kondisinya seperti sekarang ya sudah. Gak bakal bisa maksimal. Cuma bisa jualan pas dua anak benar-benar tertidur. Padahal di jam-jam itu ya,   aku juga sudah capek. Gak ada harapan lagi. Rahel harus dihentikan. 

*

Tiga hari berlalu  Rahel pulang dengan wajah berseri-seri. Ia baru casbon dua belas juta dengan perjanjian dipotong 12 kali selama masa kontrak. 

Kami pun pergi ke minimarket membeli kebutuhan harian. Sabun cuci, popok, spon cuci piring baru, coco cran, susu kotak, yakult, sabun mandi bayi, shampoo, tisu, kondom, tissu wajah, snack, indomie, kecap minyak dan masih banyak printilan lainnya. 

Ini untk pertama kali kami belanja sebanyak itu. 

Aku tidak punya cukup dana untuk membeli semua itu sekaligus.

“Dek, ini gak apa-apa kamu semua yang bayar?”

“Rahel gak masalah, asal Mas bisa bantu-bantu di rumah. Tapi kalau Mas gak punya penghasilan  dan gak mau megang kerjaan rumah juga, itu baru Rahel ngamuk-ngamuk. Jadi gak usah merasa bersalah kalau Rahel yang bayarin semua ini. Mas gak usah malu.”

Aku hanya diam sambil menyimak isi hatinya. 

Tiba-tiba Rafadon nyelutuk. 

“Kemarin Bapak sama Tante Firah mengobrol, Buk.”

Rahel langsung menatapku tajam penuh amarah. 

”Lama gak, Nak?”

‘Lama lho, Buk." 

Mampus.

(BERSAMBUNG ....)

Baca juga:

*****

12 komentar untuk "Setelah istriku Berpenghasilan [Part 4]"

  1. Hahaha..anaknya udah bisa ngadu ke ibuknya ya bund kalo si bapak ngobrol sama Tante sebelah 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha .... Anak kecil jiwanya polos. Gak bisa berdusta. Terima kasih telah singgah, ananda.

      Hapus
  2. hahahaha bapaknya tak boleh nak lari bila anak 'jadi spy' hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak kecil jiwanya polos ya, Anis. He he.... terima kasih telah singgah.

      Hapus
  3. Emaknya punya CCTV di rumah ya ternyata.Mantap banget itu bu hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak2 malah lebih jujur daripada cc tv ya, Mbak Enny. He he ...

      Hapus
  4. Anak2 malah lebih jujur daripada cc tv ya, Mbak Enny. He he ...

    BalasHapus
  5. Hehehehe... Fitrah yang kayaknya yahud nih. Bikin cemburu Rahel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak2 kapan ada kesempatan ketemujanda cantik, habislah bergoncang liman di dadanya. Haha...

      Hapus
  6. Waah udah banyak cerita fiksinya, keren bu Nur😁👍

    BalasHapus