Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Orang Kaya Mencuri, Profesi atau Penyandang Kleptomania

 

Ilustrasi Orang Kaya Mencuri (sumber: Tangkapan layar dari foto viva,co.id)

Mencuri alasan miskin, mungkin hal lumrah. Jika profesi ini  ditekuni oleh individu berpunya, agak sulit dipercaya. Tetapi begitulah fakta.

Kasus di atas, mengingatkan saya pada seorang guru kami yang sudah almarhumah. Beliau mengatakan bahwa prilaku begini sebenarnya bukan mencuri, tetapi semacam kelainan jiwa yang disebut kleptomania.

Pengalaman di lapangan

Saya ingin  membagikan dua   pengalaman, terkait masalah orang kaya mencuri. Mungkin bisa menjadi renungan kita bersama.

Pertama; Semasa remaja  saya punya teman sebutkan namanya Ira, bukan nama sebenarnya. Orangnya cantik, semampai, kulitnya kuning langsat.   Setahu saya ibu bapaknya orang baik dan  tidak miskin amat.

Tetapi, dia suka mencuri. Duh, maaf. Kurang etis bergibah tentang hal ini. Intinya, sahabat saya itu punya hobi kurang terpuji. Dia mudah tergoda dengan barang yang bukan haknya.

Puluhan tahun kemudian saya dan Ira jumpa lagi di pasar tradisional. Saat itu dia  sedang belanja duku. Di tengah kesibukan sang pedagang melayani pembeli lain, sigap dia memasukkan beberapa genggam  duku ke dalam kresek belanjaannnya. Padahal dia sudah kaya, suaminya orang penting (baca: banyak proyek) di kantoran.  Rumahnya bagus, duitnya banyak. 

Ke dua, pelakunya Dara (bukan nama sebenarnya). Dia murid saya. Beberapa kali  saya kena perangkapnya.  Minggu pertama mengajar di kelas Dara, setiap pagi meja saya dikerumuni anak-anak untuk menyetor uang tabungan.

Dara ikut menyerbu.  Namanya anak kelas satu  SD. Nabungnya paling selembar lima ribuan. Nyinyirnya selangit sebumi. “Bu! Saya sudah bayar lima ribu.” Siswa lain tak mau kalah, “Saya dua ribu.” Bayangkan kalau ada sepuluh anak membual begitu. Jika rata-rata lima teriakan per orang, artinya ada lima puluh suara nyap nyep nyop membombardir telinga saya. Jadinya susah membedakan mana siswa yang sudah membayar mana yang belum.

Suatu pagi, jumlah uang yang terkumpul  kurang lima ribu dari yang seharusnya. Peristiwa serupa terjadi dua kali. Untuk selanjutnya saya tak mau tertipu lagi.

Namun Dara tetap melancarkan aksinya. Modusnya seperti biasa. Di tengah aktivitas saya mencatat nama siswa lain Dara berujar,  “Bu! Catat nama saya.”

“Kamu bayar berapa?”

“Lima ribu.” Jemari tangan kanannya mengembang. “Itu duit saya,” tambahnya seraya menunjuk ke tumpukuan rupiah di meja saya.

“Hah?” Mata saya melotot sebesar kelereng. Perlahan dia mundur dan kembali ke bangkunya dengan wajah biru menahan malu. Mungkin dia tidak tahu bahwa dari awal dia ke depan, saya mengamati gerak-geriknya.

Di lain hari, teman sekelasnya lehilangan satu kotak pensil warna. Pemiliknya nyaris pingsan karena menangis. Maklum, benda kesayangannya itu masih baru, dikirim orangtuanya dari Malaysia.

Semua siswa minta tasnya digeledah. Barang tersebut ditemukan dalam tas Dara. Berikut uang tiga puluh lima ribu rupiah. Saya tidak bertanya prihal duit tersebut.  Walaupun zaman itu anak kelas satu  di desa belum lazim memegang uang sebanyak itu. Barangkali dia terbiasa dengan jatah jajan yang melimpah.  Karena orangtuanya punya toko serba ada yang terkenal laris. Pendek kata, dia anak orang berada, dan tidak  pantas melakukan perbuatan tercela begitu.

Anehnya, Dara tidak membantah apa yang telah dituduhkan padanya. Tiada pula menolak untuk mengembalikan harta temannya yang telah dia curi.

Masih dalam semester yang sama, warga kelas satu kehilangan buku paket. Kebetulan, salah satu wali murid melihat Dara memasukkannya ke dalam tasnya. Saya belum percaya begitu saja, tidak juga marah. Soalnya, bukan harta pribadi.  Milik negara dan anak-anak Indonesia. Hanya penasaran, siapa sebenarnya punya ulah. 

Sehari kemudian saya todong seluruh murid kelas satu  dengan cara persuasif plus ancaman. “Siapa di antara kalian yang terbawa pulang buku Ibu, tolong dikembalikan ya! Kalau  tidak, Ibu minta dibacakan Surah Yasin kepada jamaah Masjid. Biar pencurinya gila terus mati.”

Besoknya, begitu saya masuk kelas dia menyambut saya dengan  sopan. Bibirnya tersenyum-senyum masam. “Bu ! Ini kitab. Saya nemunya  di bawah meja,”  katanya seraya menyerahkan dua buku cetak beda judul itu.

“Terima kasih. Dua ya?”

“Iya, Bu.”

Saya bergumam dalam hati. Kasian ini bocah, orang tuanya kaya, cantik, masih kecil pula. Tetapi akhlaknya buruk.

Beda pencuri dan kleptomania

Puput Adi Sukarno memaparkan, kleptomania itu berbeda dengan mencuri. Penderitanya mengambil barang lebih pada saat dorongan atau munculnya   hasrat yang tidak tertahankan.  Meskipun barang tersebut tidak berharga sama sekali. Kalau mencuri, pelakunya beraksi menunggu situasi di sekitarnya aman terkendali. (Bisnis.com, 04 Februarai 2014).

Nah, bagaimana menurut kalian, Apakah sikap Ira dan Dara dikategorikan sebagai pencuri atau Kleptomania? 

Penutup

Apapun dalihnya, baik kleptomania atau mencuri benaran, untuk kesaksian yang ke dua, saya tak bisa berbuat banyak. Melapor kepada orangtuanya? Jangan-jangan tendangan bolanya memantul ke muka saya.

Kecuali mengingatkan anak-anak lain untuk berhati-hati, agar tidak membiasakan diri membawa barang-barang berharga  yang  tiada hubungannya dengan kegiatan pembelajaran. Seperti, handphone, ipad, uang yang berlebihan, mainan, dan pensil warna. Kecuali pada jam menggambar. 

Demikian pengalaman saya terkait dengan orang kaya mencuri. Apakah anda punya pengalaman serupa? Yuk sharing di kolom komentar. Terima kasih. 

 Baca juga:  

****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

8 komentar untuk "Orang Kaya Mencuri, Profesi atau Penyandang Kleptomania"

  1. Esa es una enfermedad. Interesante entrada. Te mando un beso.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Alexander. Diduga dia penderita kleptommania. Doa sehat dari jauh.

      Hapus
  2. Dibaca dgn tekun... Bagi memahami sedalam makna perkaraan tersebut.. Apabila adat mencuri dari kecil tidak dibendung maka ia menjadi biasa di hari besar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh jadi begitu ya temanku Time Traveller. Mungkin dia terbiasa dari kecil. Ada pembiaran juga oleh ibu bapaknya.

      Hapus
  3. Wah saya sendiri tak bisa menyempulkannya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, ananda. Tulisan ini hanya opini berdasarkan temuan dalam pergaulan sehari-hari. Maaf telat merespon.

      Hapus
  4. Kalau krn kleptomania, saya belum pernah punya teman yg begitu bunda. Tapi kalo hobinya suka nyuri ada 😅. Ga paham juga kenapa, bisa jadi krn ortu nya walo kaya tapi sangat strict masalah uang jajan. Jadi si teman lebih sering cuma bisa kepengen aja kalo ada temen lain punya barang bagus.

    Kalo memang menderita kleptomania, saya jadi penasaran apa ada pengobatan yg bisa menyembuhkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Sesuatu yang terjadi itu tentu ada sebab akibatnya. Berdasarkan informasi dari beberapa sumber yang pernah bunda baca, penderita kleptomania perlu mendapat penanganan khusus dari ahlinya. Terima kasih tanggapannya Selamat malam ananda Fanny.

      Hapus