Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Trik Belanja Hemat Ala Mahasiswa Indonesia di Birmingham Inggris

 Catatan Perjalanan ke Inggris (10)

Kesibukan di Pasar Car Boot. (Foto Istimewa)

Harga Selangit

Sebagian besar kebutuhan masyarakat Inggris, diimpor dari luar negeri. Mulai dari produk garmen sampai ke sayuran, buah dan bumbu-bumbuan. 

Saya paling getol memperhatikan label-label barang yang dibeli. Khususnya bahan makanan. Buncis dari Mesir. Alpokat from Belgia, bumbu-bumbuan dari India, Cina, Bangladesh, dan Pakistan. Tak salah harganya selangit.

Angka-angka yang menempel pada kemasan sayur sangat mengagetkan. Segenggam kangkung 2,5 pound, 200 gram kacang panjang, 3,0 pond, 500 gram laos, dibandrol 2,5 pound. Masyaallah…!

Enaknya, bahan-bahan kebutuhan orang Indonesia tersedia lengkap di swalayan-swalayan. Termasuk beras, daging, ayam, dan lain-lain. Hanya konsomen harus hati-hati, agar barang yang dibeli benar-benar terjamin kehalalannya. 

Produk pertanian dalam negeri juga ikut meramaikan dunia persayuran di Inggris. Ada kol, sawi, bayam, kentang, dan lain-lain. Tarifnya menyesuaikan dengan sayuran impor.

Murah Okey Mahal Okey

Anda berencana melanjutkan studi di Inggris? Jangan galau! Ada 5 trik belanja hemat ala mahasiswa Indonesia yang nantinya patut dicoba.

Trik Belanja Hemat Pertama Beli Barang di Outdoor

Di mana-mana hidup ini sama. Dibikin senang bisa, dibuat susah pun tak kalah mudah.

Seperti di tanah air juga. Banyak uang, belanja di super market. Sedikit duit  bisa juga ngirit. Datang saja ke Outdoor di City Centre! Di sana banyak dijual sayuran, buah, dan bumbu-bumbuan. Tanpa lelah penjualnya erteriak-teriak menawarkan dagangannya dari pagi hingga sore.

Tarifnya serba 1 pound/per kaleng kecil. Bedanya belanjaan sama dengan di pasar tradisional Indonesia. Barang tidak dikemas rapi seperti belanja di swalayan.

Trik Belanja Hemat ke Dua  Datang Saja ke Indoor

Lalu bagaimana belanja kebutuhan selain makanan, seperti pakain, perabotan, dan lain-lain. Tak perlu risau. Kiatnya sama dengan membeli barang makanan. Punya dompet tebal, belanjalah di toko-toko besar atau di Mall. Barangnya memang mahal, tapi mutunya bagus.

Yang murah juga banyak. Datang saja ke Indoor. Seumpama lorong-lorong kalau di tanah air. Tentu barangnya beda kwalitas. 

Mau harga sedang kwalitet sedang, ada di Primark. Namun, jika dibandingkan dengan di Pasar Tanah Abang, harganya tetap jauh lebih mahal. 

Baca juga: Kos-kosan dan Grasi Mobol di Sally Oak

Trik Belanja Hemat ke Tiga, Jangan Gengsi ke  Toko Charity

Mau yang murah mutu bagus? Hmmm… Berseliweran di toko-toko Charity. Khusus menjual barang-barang bekas. Beragam keperluan tersedia di sana. Dari perabotan seperti meja makan, kulkas, sampai ke yang kecil perabot dapur dan pakaian anak-anak dan dewasa. Yang penting tidak gengsi.

Barang-barang dalam kondisi bagus dan layak pakai. Sering juga barang baru yang berasal dari toko bangkrut atau sisa stok, masih tersegel hologram. Harganya sangat murah. Tergantung kepintaran memilih dan menawar.

Khusus pakaian, baju eks desainer ternama tentu lebih mahal dari harga pakain bermerek Internasional lainnya. Sebaliknya pakaian bekas merek high street lebih murah. Berkisar antara 3- 10 poundsterling.

Pembeli yang beruntung, sering mendapat baju yang baru dipakai beberapa kali. Maklum, masyarakat menyesuaikan kostumnya dengan  musim. Ketika winter, mereka tidak membutuhkan pakaian summer. Sebaliknya selama summer, baju winter tidak diperlukan lagi.

Toko-toko Charity ini tidak hanya menjadi sasaran wisatawan luar negeri untuk belanja ole-ole. Masyarakat lokal pun berjubel memburu barang-barang branded seperti pakaian, tas, dompet,  sepatu, asesoris wanita, dan lain-lain.  

Di kota Jambi, barang-barang seperti ini dapat ditemui di Pasar Lopak Angso Duo. Penduduk setempat menyebutnya barang  BJ. Tentu saat pandemi saat ini membeli barang Charity bukanlah pilihan yang tepat.

Belanja atau tidak, saya paling suka menyinggahi Charity khusus pakaian. Asal ke City Centre, kurang terpenuhi trayek perjalanan jika tidak mejeng sebentar di Charity.

Arie pun sangat mengerti kemauan mertuanya ini. Sayangnya, bila bertemu barang yang saya sukai, begitu dibaca bandrolnya, otak kiri saya segera berkalkulasi. Membanding-bandingkannya dengan nilai rupiah. Hisy….! Mahal.

Keputusannya, “Daripada beli bekas 300-an ribu di sini, lebih baik beli baru di Indonesia.”

Sekadar beli satu, bukan saya tak punya uang. Arie juga mau beli. Memang dasar nenek-nenek. Mungkin urat belanjanya telah putus.

Semasa masih berkepala lima ke bawah, apa-apa terlihat cantik. Serasa  ingin memiliki semua. Kadang-kadang baju atau sepatu hanya dipakai beberapa kali. Kemudian rasa tak cocok merong-rong hati. Akhirnya dimuseumkan di  dalam lemari. Riwayatnya akan tamat bila sanak keluarga datang berkunjung. 

Baca juga: Kepedulian Bertetangga di Sally Oak, Birmingham,Inggris

Trik Belanja Hemat ke Empat, Cari Barang di Pasar Car Boot

Atau mau belanja lebih murah? Hai hai..! Ayo beramai-ramai ke Pasar Car Boot. Sejenis pasar kaget ala Inggris. Digelar setiap Sabtu dari pagi hingga siang pukul 12.00 siang. Bertempat di sebuah taman atau lapangan terbuka yang luas.

Di Pasar di sini barang-barang loak dijual obral. Para pedagang mengelarkan dagangannya dari dalam mobil bak terbuka atau mobil tertutup kayak kendaraan pribadi di Indonesia. Ada juga yang menghamparkan karpet di atas tanah atau rumput.

Barang-barangnya juga masih bagus. Harganya relatif murah jika dibandingkan di toko Charity. Lagi-lagi tergantung pandai memilih dan menawar. Meskipun demikaian, tetap harus hati-hati. Supaya tidak terbeli barang rusak! Lebih-lebih saat belanja barang elektronik.

Pasar loak ini adalah salah satu solusi hidup hemat bagi mahasiswa yang belajar di Inggris. Sekadar untuk dipakai satu atau dua tahun, untuk apa beli perabot dapur yang mahal. Bila pulang ke Indonesia tinggal mewarisi pada mahasiswa yang baru datang. Atau jika  tak ada yang berminat, buang saja ke tong sampah. 

Belanja di Car Boot, tak perlu gengsi-gengsian. Seperti di toko-toko Charity, selain orang asing berkantong datar seperti saya, penduduk asli yang berkantong bengkak juga banyak berbelanja di sana.

Saya nyaris tergoda dengan mesin jahit portable seharga 25 pound. Tujuh kali lebih murah jika dibandingkan di Indonesia. Kondisinya baru 90%. Ketertarikan saya terpaksa tertunda, mengingat perkiraan beratnya kurang lebih 20 kilogram.

Uniknya, di di pasar Car Boot ini pengunjung juga bisa menjual barang-barangnya yang sudah tidak dia inginkan lagi.

Baca juga: Ingin ke UK? Kenali Dulu Kebiasaan Masyarakatnya 

Trik Belanja Hemat ke Lima, Dapatkan Barang Murah Toko Poundland

Selain toko Charity dan bazar seperti pasar Car boot, di Inggris ada pula Poundland. Yaitu, toko serba 1 pound. Di sini tersedia mainan anak-anak, dan peralatan masak seperti sendok kayu, loyang muffin, dan lain-lain sebagainya. Khusus sepatu ana-anak dan dewasa juga ada.

Demikian 5 trik belanja hemat ala mahasiswa Indonesia di Inggris. Tulisan ini saya rangkum dari hasil pengamatan selama sebulan tinggal bersama mahasiswa Indonesia di Inggris, tahun 2015. Saya tak tahu apakah kondisi yang sama masih berlaku sampai sekarang. Semoga bermanfaat. 

Baca juga: 6 objek ini Tidak Akan Anda Temui di City Centre, Birmingham. 

****

Ditulis oleh

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi.

10 komentar untuk "5 Trik Belanja Hemat Ala Mahasiswa Indonesia di Birmingham Inggris"

  1. Ayam-ayam disana disembelihnya gimana ya kira-kira? Apa langsung potong aja? :D

    Selalu ada cara buat hidup hemat ya, pasti menyenangkan sekali di sana~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu yang tak pernah saya tahu, Mbak/Mas Edotz. Tetapi sampai di toko, ada kode halal atau tidaknya. Walaupun sama2 ayam atau sama2 daging. Selamat malam, Mas/ Mbak.

      Hapus
  2. informasi seperti ini memang sangat penting bagi pendatang, apalagi buat pelajar yang notabene uang saku nya masih dari ortu, wajib belajar hemat

    BalasHapus
    Balasan

    1. Betul, ananda Sudibjo. Kalau uang saku dari orang tua, manusia sekelas kami tak bakalan bisa dapat kuliah di sana. Namun, jika dibiayai pemetintah, beasiswanya bisa bersisa buat nabung. Yang penting pandai memanajemen uabg. Selamat siang. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  3. masih berlaku bu, hehe
    menurut saya karena disana dinamika ekonomi cenderung stabil
    justru di tempat kita (indo) harga bisa murah banget tapi tiba2 mahaaaal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin pengaruh insflansi ya, Mas Yudi. Sama dengan di Arab Saudi. Tahun ini kita beli bahan baju 30 riyal, 5 tahun bahkan 10 tahun ke depan harganya tetap 30 Riyal. Selamat malam Mas. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  4. Panduan informatif berbelanja hemat di Charity store.
    Kebayang suasana ramainya disana saat bermacam produk berhologram di sale dengan cara tawar menawar ..., mungkin suasananya jadi seperti di pameran ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Kebayang suasana ramainya disana saat bermacam produk berhologram di sale dengan cara tawar menawar ..., mungkin suasananya jadi seperti di pameran ya." Gak juga, ananda Himawan. Charity jualannya di toko. Yang obralan di Pasar car boot. Coba kalau banyak pedagangnya orang awak di sana. Pasti rame. he he ... Selamat malam. Doa suksus untukmu selalu.

      Hapus
  5. wah ternyata di luar negeri ada loakan juga ya? saya juga sering membeli pakaian bekas pakai di pasar. barangnya masih bagus, tak kalah dengan barang toko. Asal pandai memilah sih. Oh iya, istilah kerennya trifting ya? Btw, malah ingin kuliah diluar :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga suka beli pakaian bekas, Mas Supriadi. Terutama jaket dan jas. Tapi yang produk luarnya. Hehe .... Belinya di Pasar Lopak Jambi. Anak saya mau ke luar negeri (Eropah) sengaja beli jaket bekas 2-3 lembar. Beli baru kan mahal. Biar di foto gonta ganti jaket. Pulangnya kalau tak mau banyak bawaan dia buang saja ke tong sampah. Tapi zaman sekarang jangan dulu beli baju bekas. Takutnya ada virus covid yang boncengan dari luar negeri. Terima kasih telah singgah, Mas. Salam sukses selalu.

      Hapus