Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kepedulian Bertetangga dan Mabuk-mabukan di Sally Oak Birmingham

Catatan Perjalanan ke Inggris (5)

Ketika musim semi tiba, pohon rindang dan menghijau. Area Aston Hall Park Birmingham. Foto NURSINI RAIS

Hari-hari pertama di Selly Oak, rasa sepi amat mencekam. Tiada warung tempat nongkrong beli lontong, dan belanja sayur. Tidak terlihat anak-anak bermain di halaman, apa lagi berkeliaran di jalan. Ke mana-mana mereka didampingi orang tua.

Mahalnya Interaksi Antar Tetangga

Rumah-rumah tertutup rapat. Pintu hanya dimanfaatkan untuk keluar bila bepergian, dan masuk setelah kembali.

Wajar, di celah paving block depan pintu ditumbuhi rerumputan dan lumut. Seolah-olah tak pernah tersentuh telapak kaki manusia. Saya berpikir, betapa mahalnya interaksi antar tetangga di negeri Ratu Elyzabeth ini. 

 Sebulan saya di sana, saya merindukan sapaan hangat tetangga sebelah. Minimal saat saya sedang berdiri di depan pintu, mereka pulang kuliah atau kerja, berhenti dan melengos sejenak sebelum masuk rumah, sekadar melemparkan senyuman dan berhello-helloa-an. 

Baca juga: Sendirian ke UK tanpa Menguasai Bahasa Inggris  

Mati Diratapi Anjing

Menantuku Arie bercerita, bahwa beberapa bulan lalu ada kakek tetangganya meninggal tanpa diketahui. Biasanya kemana-mana si kakek didampingi seekor anjing. 

Suatu hari anjing kesayangannya tersebut gelisah, keluar masuk rumah dan melolong-lolong di depan pintu. Sementara tuannya tak nampak batang hidungnya. Terakhir diketahui si kakek telah terkapar sendirian di dalam rumahnya dalam kondisi tak bernyawa.

“Mungkin lolongan anjing membahasakan ratapan sedih atas kepergian tuannya untuk selamanya.” kata Arie.

Coba si kakek sering berinteraksi dengan tetangga, layaknya masyarakat Indonesia di pedesaan khususnya, mungkin hal begini tak akan terjadi. Padahal semua hunian di sana type sederhana dinding bersama (rumah deret), dan tak ada yang kosong.

Baca juga:  Keanehan Bermunculan di Cyti Centre

Pertama Menginap dan Raungan Pemabuk

Pertama bermalam di Selly Oak, jet lag menyerang tak kenal ampun. Dinginnya menusuk sampai ke tulang. Tiga lembar duvet masing-masing lipat dua menimbun tubuh. Gigil tak bisa diajak kompromi. Padahal saya ke sana mendekati akhir musim semi (pertengahan Mei 2015). Masyarakat sedang bersiap  menyambut summer.

Musim Salju di Birmingham Inggris

“Ini belum seberapa, Nek. Saat winter, bagi yang kurang kuat daun telinganya merah seperti udang goreng,” kata Arie.

Belum sempat memejamkan mata, sayup terdengar teriakan wanita. Mula-mula hanya satu orang, kemudian pekikan lain susul menyusul tak kalah nyaring. Prediksi saya sumbernya cuman beberapa puluh meter dari kamar tidur saya.

Saya bangun sambil siaga. Jangan-jangan ada kebakaran atau peperangan. Durasinya kira-kira 5 menit, kemudian suasana kembali tenang. Walau mata tak kunjung ngantuk, saya kembali menggolekkan raga. Kurang lebih satu jam kemudian, di lokasi  yang agak jauh raungan perempuan terdengar lagi.

Malam berikutnya peristiwa serupa berulang kembali. Malah lebih riuh dari sebelumnya. Jeritan laki-laki dan perempuan bersahut-sahutan. Sesekali terdengar seperti membanting-banting sesuatu.

Terakhir saya tahu, bahwa kegaduhan tersebut cowok dan cewek mabuk lagi sakau. “Kondisi seperti ini cuman musiman. Terutama setelah para mahasiswa berpesta merayakan berakhirnya masa ujian, atau sekedar party akhir pekan. Boleh jadi juga ada sejawatnya yang  merayakan ulang tahun,” kata putra saya. “Karena lingkungan disekitar Selly Oak ini lingkungan anak muda (mahasiswa), masyarakat sini tiada yang peduli,” tambahnya. 

Baca juga:  Meluncur ke Sally Oak

Sepi Tanpa Seruan Azan

Pagi menjelang subuh, tanpa azan yang sudi berseru, tak ada ayam yang berkokok.

Saat itulah saya sangat sedih. Teringat kampung halaman, rindu anak, rindu cucu dan rindu suami. Biasanya beliau rajin membangunkan saya untuk bertahajjud. 

Mau ngaji, takut  dimarahi tetangga karena bising. Di kiri kanan kamar saya berdempetan dengan kamar orang sebelah.    

Baca juga: Kos-kosan dan Grasi Mobol di Sally Oak 

Hewan pun beroleh Berkah

Di ujung musim semi, rumput di taman pun masih berbunga. Foto NURSINI RAIS

Hari ke tiga saya di Sally Oak, kulit ujung jemari tangan saya pecah-pecah, mengeras, tajam seperti duri. Kondisi ini dapat dimengerti, tersebab suhu dingin kulit ujung jari mengeras dan retak.

Tidak hanya itu. Sekujur tubuh timbul bintik halus dan gatal. Bila digaruk, sedapnya melebihi gurih kacang goreng. Kian dikorek semakin nikmat, sampai berdarah-berdarah dan meninggalkan jejak seperti dicakar ayam jantan. Saya berpikir mungkin kulit saya alergi terhadap suhu dingin.

Lain dugaan saya, beda pula prediksi Arie. “Bila winter telah berlalu, tidak hanya tumbuhan yang mendapat berkah kehidupan, Nek. Beberapa jenis hewan pun keluar dari persembunyiannya menggerayangi bumi. Tak terkecuali pasukan kutu dan kuman.

“Hewan tersebut numpang hidup dan bersemi di tubuh makhluk lainnya. Termasuk pada kucing. Mungkin badan Nenek itu gatal digigit kutu kucing, yang masih tersisa. Padahal Si Manis Belgia itu telah dipasangkan kalung anti kutu.”

Rubah pun tak mau melewati momen istimewa ini. Bila sore mendekati senja, ia suka  mundar-mandir di pojok halaman belakang. Mengais-ngais gundukan tanah, terus menyelinap di sela-sela rerumputan lalu menghilang.

Dua atau tiga hari kemudian keluarga anjing itu muncul kembali. Kata Arie, hewan tersebut juga akan lenyap bersamaan berakhirnya summer. (Bersambung).

****

Dituli oleh

Hj. NURSINI RAIS


 

35 komentar untuk "Kepedulian Bertetangga dan Mabuk-mabukan di Sally Oak Birmingham"

  1. Meninggal gak ketahuan mungkin jadi hal lumrah di negara-negara maju yang begitu individualistis ya kak. Aku jadi ingat pernah nonton video di youtube mengenai sebuah jasa penguburan di jepang, tapi khusus untuk orang2 yang meninggal sendirian karena gak ketahuan. Jadi ternyata banyak banget orang tua di Jepang tuh hidup sendiri tanpa ada sanak saudara atau keluarga. Sedih banget sih ngeliatnya, meninggal sendiri tanpa ditemani siapapun 😓

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Sedih banget sih ngeliatnya, meninggal sendiri tanpa ditemani siapapun" ====> sama, Mas. Saya juga sedih.

      Bagi mereka, hidup sendirian merupakan pilihan. Sebagiannya punya banyak harta. Tapi tidak berpikir untuk mewariskan pada anak cucu. Setelah dewasa anak-anak berhak memilih jalan hidupnya masing-masing.

      Terima kasih telah singgah, Mas abesagara. Salam literasi.

      Hapus
  2. kontras sekali dengan kehidupan manusia di indonesia ya bun, susah berarti ya kalo butuh apa apa ga bisa gotong royong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, ananda Sudibjo. Kita bersyukur, lahir sebagai bangsa Indonesia. Terima kasih apresiasinya. Selamat malam.

      Hapus
  3. setiap guratan kata dalam ceritanyabsangat indah mba...aku sampai terpesona membacanya dan terbayang begitu dinginnya sali oak saat winter tiba..sedingin interaksi antar warganya ya ternyata..bahkan aku sampai merinding membayangkan jikalau bernasib sama seperti si kakek yang meninggal tanoa diketahuii dan hanya diratapi tangisan sang anjing yang setia menemani hiks...sedih..

    kalau masalah kutu kucing jujur agak kaget karena kupikir adanya di sini aja..ternyata di inggria ada juga hehe..gatalnya luar biasa...aku kalau habis kena kutu kucing serasa pengen nangis karena gatalnya setelah sembuh tetap menimbulkan bekas yang lamaaaa nunggu hilangnya...untung oas udah dewasa uda ga ketemu kutu mpus lagi...pas masih sd sering betul digigit karena bapakku piara belasan kucing yang sering lahiran di eternit yang menyebabkan kutunya berjatuhan ke bawah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Mbak Gustyanita yang cantink! Pengen ke Inggris? zaman sekarang bea siswa bejibun. Rebut dengan segala upaya. he he (yang penting semangat ya, Mbak).

      Iya. Saya juga alergi terhadap kutu kucing. Padahal nyonya dan tuan rumah rutin melakukan pemusnahannya. Namun karena musim dingin telah berlalu, mereka juga berhak merayapi bumi. Salam sehat dan sukses buat Mbak Nita sekeluarga. Terima kasih telah berkenan hadir.

      Hapus
  4. Ikut menyimak Bu Nur☺️🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Okey, sip, Mas Warkasa. Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  5. satu pengalaman berharga yang pastinya 100% berbeza dengan masyarakat di negara sendiri... bagaimana keadaan pandemic di sana, mbak? khabarnya total lockdown..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di daerah kami di Jambi sini. Aman. Orang sudah tak peduli lagi dengan pandemi. Yang penting kita jaga kesehatan masing-masing. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam hangat selalu.

      Hapus
  6. Di daerah kami di Jambi sini. Aman. Orang sudah tak peduli lagi dengan pandemi. Yang penting kita jaga kesehatan masing-masing. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam hangat selalu.

    BalasHapus
  7. Haloo Bund, membaca cerita tentang warga di Inggris, waah nampaknya di Indonesia hari ini, terutama di kota-kota besar, sudah menuju ke arah yg sama seperti mereka; Individualistik. Sapa menyapa kepada tetangga menjadi berkurang. Semoga yaa hal seperti ini berkurang di Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Dodo. Jangankan di kota besar, di pedesaan pun hampir terasa. Sebab, banyak keperluan yang bisa dipenuhi tanpa keluar rumah. Di antaranya, nonton, belanja, mandi, berinteraksi, dan lain-lain. Selamat malam, maaf telat merespon. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  8. Kebayang gimana dinginnya disana ya Mbak. Saya pernah merasakan dingin sampai 3 derajat celcius rasanya pengen kemulan di bawah selimut aja seharian. Padahal waktu itu masih autumn, gimana kalo winter ya? 😅

    Di negara2 maju emang individualitasnya tinggi banget ya, bagusnya mereka nggak kepo2 dan basa basi sama hidup orang lain tapi ya gitu kadang saking individualnya sampai tetangga sendiri meninggal nggak ada yg tau :(

    Kalau orang2 yg mabuk pasti shpck banget ya, di Indonesia jarang lihat atau dengar suara2 orang mabuk tapi di luar negeri malah banyak 😅 saya pertama lihat orang mabuk juga kaget muka'y sampe ungu banget. Hadeehh~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, dingin banget, Mbak Ima. Terutama malam hari. Padahal saya ke sana mendekati musim panas.

      Bagi orang yang biasa di kota, hidup infividualis mungkin tidak terlalu asing. Tapi kami yang biasa tinggal di desa dikelilingi sanak saudara, wah, bingung dan kesepian di tengah keramaian. Begitu juga dengan
      Tingkah orang mabuk dan mahalnya sapaan dari tetangga. Selamat sore. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  9. Kasihan banget membayangkan akhir hayat kakek itu ya Bund.
    Duh, apakah beliau hidup selibat atau bagaimana?
    Kalau baca cerita2 seperti ini, rasanya bersyukur sekali tinggal di bumi Indonesia tercinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur bercampur bangga, ananda Nurul. Kita terlahir sebagai bangsa Indonesia. Mereka punya kelebihan, namun tak sedikit pula kekurangannya. Selamat malam. Doa sehat untukmu selalu.

      Hapus
  10. Kalau udah ngerasain bertandang ke negeri orang, barulah bisa merasakan betapa kekayaan lokal berupa silaturahmi, kekeluargaan dan gotong royong jadi hal yang sangat berharga ya, Bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mbak Marita. Sehebat apapun negeri orang, bangsa kita, tanah air kita, adalah nomor satu. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  11. Waduh bu, walau keadaan tak nyaman disana tapi saya menikmati penceritaannya :) ternyata pedih ya ga dengar adzan subuh, ga enaknya tinggal di negara orang.

    Ngomong2 pernah juga kena kutu kucing, memang gatal luar biasa dan kalau sudah digaruk ya... Menyesal kemudian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pedih banget Mbak Andina. Tetapi ya, itulah faktanya. Mungkin azannya ada. cuman untuk jamaah dalam masjid saja tanpa pengeras suara. Buktinya, menurut cerita anak saya, ketika salat jumat azan cuman dibolehkan seperti itu. Ya. Digigit kutu kucing itu memang gatal. Setelah digarut jejaknya sangat mengganggu. Terima kasih telah singgah. Salam hangat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  12. Ternyata kehidupan sosial di Inggris tidak senyaman di negeri kita ya Bund. Individualismenya tinggi banget. Wah gak bisa bayangin gimana rasanya kalau pas lagi membutuhkan pertolongan gak ada ada yang peduli. Semua ada positif dan negatifnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak bisa bayangin gimana rasanya kalau pas lagi membutuhkan pertolongan gak ada ada yang peduli. Semua ada positif dan negatifnya. >>> positifnya, kalau kita sakit, konsultasi sama dokter bisa via telpon aja, ananda Ulfah. Kalau ternyata harus dirawat, pihak rumah sakit akan menjemput.

      Tapi kalau mahasiswa, temanya banyak. Waktu bunda di sana ada mahasiswi yang sakit. Setelah konsultasi, diantar teman masiswanya asal Pakistan pakai mobil pribadinya.

      Hapus
  13. Menarik sekali melihat kehidupan di negara lain ya mam. Satu yang paling saya syukuri, di sini kita bisa mendengar suara adzan bersahut-sahutan. Nyatanya suara adzan sangat menentramkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan hal lain yang juga wajib disyukuri, Kita ditakdirkan lahir sebagai bangsa Indonesia ya, Mbak. Terima kasih telah mampir. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  14. Kalau sudah dingin, orang Indonesia kudu cepat mengatasinya dan beradaptasi yaa, Bun. Musim panas juga..
    MashaAllah~
    Perjuangan seorang mahasiswa untuk meraih ilmu dari negeri orang.

    Semoga lancar urusannya selalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para Mahasiswa juga petut bersyukur dikaruniai kelebihan berupa kecerdasan. Sehingga bisa kuliah di sana. Dibiayai pemerintah pula. Kecuali anak orang kaya. Terima kasih telah singga ananda Lend. Salam sehat untukmu selalu.

      Hapus
  15. Duh sedih pas baca cerita kakek tetangga yang meninggal tanpa diketahui. Individualis banget ya budayanya. Minim interaksi sosial. Pernah bahas ini di kelas kursus bahas Inggris sm guru yg dr sana. Katanya dulu sbnrnya gak gitu. Pergantian generasi bikin interaksi sosial makin minim. Itu masalah sosial budaya mereka skrg. Mrk sbnrnya rindu interaksi sosial.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya dulu sbnrnya gak gitu. Pergantian generasi bikin interaksi sosial makin minim. Itu masalah sosial budaya mereka skrg. Mrk sbnrnya rindu interaksi sosial. >>> Ngeri juga ya, Mbak Nieke. Takutnya penyakit serupa menular ke generasi kita. Selamat malam. Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  16. WAh... tak sabar menunggu lanjutan ceritanya. kena kultur shock ya bun, beda bgt dgn di tanah air

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jauh banget, bedanya ananda Nunu. Pergaulan sehari-hari malah paling mengerikan. Selamat malam. terima kasih telah mampir.

      Hapus
  17. Ya ampun serem juga ya, Bu Nur, kalau sampai meninggal sekian hari tapi nggak ada yang tahu. Mungkin karena itu juga di negara maju pada memilih tinggal di wisma jompo biar ada yang ngerawat dan nggak sendirian di hari tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Ulfa. Orang-orang tua di sana yang tinggal di panti jompo itu, tauaaaa... banget. Kurus tinggal kulit pembalut tulang. Tingkahnya pun aneh. Terima kasih telah singgah. selamat istirahat.

      Hapus
  18. Baca pengen mewek. Meninggal sampai nggak ketahuan ya mbak. Kepedualian bertetangga apa memang nggak begitu penting di snaa? Jadinya membudaya ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin karena kebutuhan mereka tercukupi semua. hingga tak perlu orang lain. He he ... Tapi kita bersyukur menjadi warga negara Indonesia ya, Mbak Malica. Terima kasih telah menanggapi. selamat malming.

      Hapus