Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ingin ke UK? Kenali Dulu Kebiasaan Masyarakat Inggris

Catatan Perjalanan ke Inggris (6)

Ilustrasi: Bagian dari Kampus Universitas of Birmingham, Inggris (Foto: NURSINI RAIS)

Sekilas masyarakat Inggris itu tampak cuek. Berjalan terburu-buru, langkahnya cepat dan panjang.

Sebelum berpapasan dengannya, terutama di ruang yang agak sempit kita harus siap-siap menyingkir duluan. Takutnya dia numbur. Eh .., nyatanya tidak. Sambil berlalu dia cuman berberujar, “Excuse me…!”

Bagi Anda yang ingin ke UK sebaiknya kenali dulu kebiasaan masyarakatnya.

Bertemu Cuek, Disapa Ramah

Selama di sana saya memperoleh gambaran umum, bahwa kebiasaan masyaratat Inggris itu jika bertemu cuek, disapa menyenangkan. Lebih-lebih jika sudah saling kenal.

Saya terkesan dengan seorang perempuan tengah baya. Anak-anak menyebutnya Lilipoot.  Orangnya mudah senyum, ceria, dan perhatian. Setiap bertemu dia rajin menyapa saya. Padahal awal berkenalan (via Arie menantuku),  durasinya  kurang lebih 3 menit.

Setiap jam sibuk pergi dan pulang sekolah, dengan suka rela dia membantu anak-anak sekolahan  menyeberang jalan, sekaligus mengatur lalu lintas.

Baca juga: Sendirian ke UK tanpa Menguasai Bahasa Inggris 

Karakter Guru di Raddlebarn School

Kebiasaan masyarakat Inggris yang responsif juga tercermin pada sikap gurunya. Hari pertama ikut mengantarkan cucu ke sekolah, Arie mengenalkan saya dengan beberapa guru di sana (Raddlebarn School).

Mereka sangat bersahabat, tanpa membedakan warna kulit. Baik antar rekan seprofesinya maupun terhadap tamu tak diundang seperti saya. Tidak segan-segan mereka menanyakan identitas diri saya pada Arie.

Ilustrasi: Siswa Raddlebarn Primary School pada jam istirahat. (Foto: NURSINI RAIS)

Para pendidik yang didominasi oleh kaum hawa itu memperlakukan saya seperti wali muridnya sendiri. Setelah jam belajar usai, tanpa melalui prosedur mereka mengizinkan saya membawa kedua cucu saya pulang. Meskipun tanpa didampingi ayah/bundanya. Ini adalah hal yang tak lazim berlaku di Raddlebarn School.

Anak-anak usia  Primary School (Sekolah Dasar),  apalagi anak TK, tidak boleh dititip-titip seperti barang mainan. Tak tahu apakah hal yang sama berlaku juga di sekolah lain di Inggris.

Eh, maaf. Tadi saya ngomong guru. Rupanya karakter Bapak/Ibu Guru di sana rata-rata sama dengan  kebiasaan masyarakat Inggris umumnya. Sebelas dua belas dengan para pendidik di tanah air.

 Ilustrasi: Cucuku Ridho, menerima Headteacher Award. Ternyata anak Indonesia bisa bersaing dengan anak luar negeri (Foto Istimewa)

“Di sini Kepala Sekolah membuka pintu untuk Wali Murid, bukan hal tak biasa, Nek. Padahal di Indonesia itu adalah pekerjaan pelayan/pesuruh,” kata Arie.

Semasa masih aktif mengajar dan memegang jabatan Kepsek, saya tidak pernah melayani orang tua siswa seperti itu. Malahan sering jengkel terhadap Emak-emak yang suka menunggu putera-puterinya dalam pekarangan sekolah sampai jam pelajaran selesai.

Ilustrasi: Cucuku Razita menerima Headteacher Award. Seperti kakanya, si cantik ini juga mampu bersaing di dalam kelasnya. (Foto Istimewa)

Yang berbeda dengan Bapak dan Ibu Guru kita adalah, mereka ke sekolah tidak mengenakan seragam dinas.

Baca juga:  Keanehan Bermunculan di Cyti Centre

Berkesempatan Mengikuti Workshop

Tidak hanya mengantar jemput cucu. Sekali lima belas hari saya berkesempatan mengikuti Workshop di  Raddlebarn School. Pesertanya para orang tua siswa year 0 (anak 4 tahun) yang berasal dari luar negeri. Seperti Iran, Malaysia, Brunai, Turki, India, dan laan-lain sebagainya.

Melalui Workshop, keakraban guru dan orang tua terjalin baik. Terbangun pula singkronisasi antara guru yang mengajar di sekolah dan orang tua selaku pembimbing anaknya di rumah. 

Selesai kegiatan, diadakan temu ramah sekalian makan-makan gratis dari pihak penyelenggara. Tanpa diminta, ada juga orangtua siswa yang  menyumbangkan makanan. Pada momen tersebut, para peserta memperkenalkan kuliner khas Negaranya masing-masing. 

Lagi-lagi para guru memperlakukan saya seperti peserta lainnya.  Bagi saya itu adalah suatu penghargaan istimewa dalam  hidup saya. Tak mungkin terulang dua kali.

Ridho dan teman sesama penerima Headteacher award  (Foto Istimewa)
 
Demikian juga ketika mendampingi cucu ke perpustakaan umum Sally Oak, setiap hari Senin. Para petugas menyambut saya seperti orang tua siswa lainnya.

Bahkan hari terakhir saya ke sana, seorang petugas pustaka merangkul pinggang dan memegang baju si nenek ini. Sambil tersenyum dia berujar, “You look cute with that gown.” Padahal cewek cantik itu bukan seorang Muslimah.

Baca juga:  Meluncur ke Sally Oak

Saling Memberi Salam

Kebiasaan masyarakat Inggris yang menakjubkan adalah, ketika bertemu sesama Muslim, mereka saling mendahului mengucapkan salam. Baik muslim putih maupun muslim berkulit gelap. Di jalan maupun dalam kendaraan umum. Dalam mobil tersebut sering mereka bercerita panjang lebar dengan anak atau menantu saya.

Keramahan warga terasa kental jika kita menunjukkan perhatian serius kepada anjing kesayangannya. Karena  sebagian bule Inggris kemana-mana suka membawa anjing.

Cucu saya, Razita, tahu persis apa yang dimaui kaum pemilik hewan lucu tersebut. Bila bertemu di jalan, ia berhenti sejenak sekadar berucap, “What his name?” Kemudian membelai sedikit bulu-bulu lembut milik si anjay.

Baca juga: Kos-kosan dan Grasi Mobol di Sally Oak

Gemar Memelihara Anjing

Putraku dan teman bulenya. (Foto Istimewa)

Sebagaimana sering kita lihat di film-film Barat, kebiasaan masyarakat Inggris atau bule gemar memelihara anjing. Lebih-lebih nenek-nenek berusia senja. Sepi ditinggal pergi anak-anak, mereka memilih hidup bersama anjng-anjing piaraannya.

Ada juga pasangan suami isteri memang dari awal memutuskan child free sebagai pilihan hidup. Kemana-mana mereka selalu mengikutsertakan anjing. Termasuk ke tempat wisata.

Pada waktu-waktu tertentu, pemiliknya sengaja pergi ke taman   sekadar mengajak anjingnya bermain. Di padang luas itu, sang tuan memperlakukan anjingnya seperti anak sendiri, mengikuti ke mana dan apa maunya. Berlari, melompat-lompat, atau mencongkel-congkel tanah.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan, di pinggir dan sudut-sudut  taman serta di tempat umum lainnya, City Concil menyiapkan tong khusus tempat membuang tinja anjing.

Begitu hewan tersebut poop, tuannya langsung memungutnya pakai sarung tangan khususus.

(Foto Istimewa)

Penguasa setempat menerapkan denda 1000 poundsterling bagi siapa yang terbukti membiarkan kotoran anjingnya tergeletak di sembarang tempat.

Yang jauh dari karakter bangsa kita  adalah  kekeluargaan antar tetangga. Pulang beraktivitas, masuk rumah, kemuadian tak terlihat mereka keluar lagi. Palingan besok kapan mau kerja atau pergi kuliah.

Tetapi, bila melihat sesuatu kejanggalan tentang rumah kita, mereka memberi tahu. Suatu sore seorang bule lewat.  Dia melihat pintu kami tidak terkunci. Ibu muda itu singgah, terus mengetuk pintu  dan berujar, “Close the door!”. Mungkin tidak semua individu  bersikap begitu. Setidaknya saya telah menyaksikannya sendiri.

Demikian gambaran umum kebiasaan masyarakat Inggris yang terpantau oleh saya. Semoga bermanfaat. (Bersambung).

Baca juga: Kepedulian Bertetangga di Sally Oak, Birmingham,Inggris

****

Catatan: Artikel ini berdasarkan kondidsi Mei - Juni 2015.

 Ditulis oleh,  Hj. NURSINI RAIS

di

Kerinci Jambi.

 

28 komentar untuk "Ingin ke UK? Kenali Dulu Kebiasaan Masyarakat Inggris"

  1. wah seru pengalamannya bu Nur
    saya juga empet kalau banyak emak emak masih bergerumbul di depan pagar sekolah hehe
    tapi Inggris keren si masalah kebersihan
    dendanya engga main main

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Mas Ikrom. Sekarang trendnya Emak-emak ngantarkan anaknya ke Sekolah. Dulu kebiasaan ini di kota-kota saja. sekarang merambat ke desa. Seolah-olah tak percaya dengan guru dan di rumah tak ada pekerjaan lain. Di sekolah kadang mereka mengganggu kenyamanan. Ditegor, dibuat larangan tak mempan.

      Di Inggris anak SD wajib diantar, ditunggu sampai jam masuk kelas. Kemudian tak boleh lagi orang tua nongkrong di pekarangan sekolah. Pulang dijemput lagi.

      Hapus
  2. berarti seperti lo jual gue beli gitu ya.. tergantung kitanya seperti apa hehe.. ga jauh beda yah sama indonesia tapi memang punya cukup perbedaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Sudibjo. Damana-mana manusia itu punya kelebihan dan kekurangan. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

      Hapus
  3. ternyata orang inggris ramah-ramah ya mba, bisa di lihat dari toleransi mereka antara etnis dan ras yang ada, luar biasa, mereka juga suka memelihara anjing, sama halnya dengan orang kita Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya mereka dari dulu suka banget sama anjing deh daripada kucing hehe

      Hapus
    2. Betul Mas Kuanyu. (ke geeran saya dipanggil Mba. Mendekati kepala tujuh sayahnya ,Mas. He he ...) Konon di antara penduduk Eropah, bangsa inggris termasuk peramah. Meskipun dengan cara berbeda dibanding kita. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat siang. Salam dan doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
    3. Yang menarik, hewan di sana tidak boleh ditelantarkan, Mas Sudibjo. Anjing, kucing , dan hewan lainnya, kalau pemiliknya tak suka harus dikasih kepada siapa yang mau mengadopsi. Kalau tidak, antarkan pada lembaga (namanya tak ingat) yang menampungnya. Tengkiyu, Mas. Selamat akhir pekan.

      Hapus
  4. Wah, asyik nih Nek. Dominasi kaum hawa pula guru-gurunya. Enak juga ya mengantarkan anak/cucu ke sekolah sana. Hahahha.
    Salam, Nek. Mantav

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaknya cuman ganti pemandangan, cucunda Ozy. Usahakan juga Ozy bisa ke sana. Ada kok. Guru dapat bea siswa LPDP asal Papua. Tapi dipulangkan. he he ... tengkiyu telah mengapresiasi.
      .

      Hapus
  5. ASyik ya bisa berada di sana.. Saya cuman mengelus dada nih Buk.. Gak bisa ke mana-mana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuman melancong 1bulan, Mas Ancis. Sekarang di kampung lagi. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat pagi.

      Hapus
  6. Halo, kak.
    Salam kenal ya.
    Maaf telat membalas kunjungan.

    Kalau dilihat sikap orang Inggris kelihatan cuek tapi ternyata ramah begitu ..., miriii ... iip 11-12 sama karakterku, kak.
    Banyak orang yang belum kenal aku ngertinya aku pribadi yang cuek juga kesannya angkuh, Duh !.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo juga Mas Himawan. Panggil saja saya Ibu atau Nenek. Kemudaan disapa Kakak. Usiaku mendekati kepala 7. He he ... 68 tahun aslinya.
      Oh, ya. Tapi saya tak merasakan itu. Buktinya, kalau Mas Himawan angkuh, tak bakalan mau berkunjung ke blogku. Terima kasih apresiasinya. Terima kasih juga telah singgah.

      Hapus
  7. Pengalaman yang luar biasa bund👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak juga, ananda Dinni. Masing-masing kita punya pengalaman unik. Tengkiyu ya. Telah berkenan hadir.

      Hapus
  8. comelnya cucu-cucu�������� dari zaman sekolah saya punya cita-cita mahu belajar sampai oversea dan pilihan saya semestinya england sebab malaysia negara commanwealth jadi urusan pembelajaran lebih mudah. tapi apakan daya tiada rezeki untuk study di sana. tapi dapat jejakkan kaki ke sana walaupun sekali saya dah cukup syukur. tambah pula dapat ketemu orang sana yang baik dan peramah. siap minta nombor telefon saya in case mereka mau datang ke malaysia kelak����

    BalasHapus
    Balasan
    1. "tapi apakan daya tiada rezeki untuk study di sana" ====> Bukankah di Malaysia beasiswanya gede. Keknya mahasiswa asal Malaysia di british itu mewah. Tapi kabarnya dikasih beasiswa atas nama utang ya. Nanti udah kerja dikembalikan lagi pada pemerintahnya. Di Indonesia Bea sisiwanya dikasih benaran. Bukan atas nama piutang. Terima kasih, telah bersedia singgah, Mak Cik. Doa dari negeri seberang.

      Hapus
  9. Balasan
    1. Lopyu too. He he . ..tengkiyu sudah mampir ya.

      Hapus
  10. Aku mau jawab pertanyaaan di judulnya dulu ah. Ingin ke UK? Ingiiiin bangeeett. Hehehehe...

    Yg cerita tntng ramah itu temenku yg baru pindah ke Inggris juga cerita gt. Mereka keliatan cuek, tp pas disapa n diajak ngobrol ternyara ramah2 bgd. :D
    Buat melihara anjing, kayaknya di Indonesia jg harus diterapkan itu klo peliharaan ga boleh pup sembarangan dan didenda. Hahhaha.. Aku punya tetangga yg pup anjingnya suka dibiarin ngotorin jalan komplek. Yaampun emosi jiwa jadinya. Udah ditegor Pak RT pun ga mempan juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ananda Thessa ... Usahakan bisa pergi. Asik lho. Terlebih bagi kalian anak muda yang suka nulis. Saya aja yang sudah dipanggil Nenek serasa enggan pulang. He he ...

      Sama. Di tempat kami juga begitu. Kotoran anjing berleleran di sembarangan tempat. Ditegor malah tuannya tak enak hati. Terima kasih telah mengapresiasi, ya. Salam untuk untuk keluarga di sana.

      Hapus
  11. Selamat malam, Bu Nursini.
    Wah senang sekali mengantarkan cucu ke sekolah. Dek Razita cantik sekali dengan jilbabnya.
    Hebat2 cucunya masyaAllah.
    Semoga bisa ke sana suatu saat, hehe
    Salam santun dan sehat selalu Bu 😇 🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat sore, Mbak Firda. Maaf telat merespon. Seenak apapun negeri orang, enak juga negeri kita sendiri. Asyiknya cuman pamandangan bisa gonta gani. Terima kasih telah mengapresiasi, Mbak. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  12. Merhaba, bir karar aldım. Artık yabancı ülkelerin blog sitelerine de uğrayacağım. Google çeviriye teşekkürler. Dünya, internet ile küçülüyor. Çocukların her yerde aynı olduğunu görüyorum. Hepsi çok masum.

    Türkiye'den sevgilerle.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Endonezya'dan da selamlar dostum. seni tanıdığıma memnun oldum Blogumu ziyaret ettiğiniz için teşekkür ederim

      Hapus