Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

2 Peristiwa tak Biasa di Negeri Ini, Lazim di Bumi Inggris

 Cantata Perjalajalanan ke Inggris (13) 

Birmingham menjelang pagi. (Foto Istimewa)

Sebelumnya saya telah membeberkan banyak hal mencengangkan di tanah British. Tetapi tidak berlaku di negeri kita. Di antaranya bisa Anda baca di sini.

Kini saya membagikan 2 lagi peristiwa menarik tak biasa di negeri kita tetapi lazim di bumi Inggris. Saya katakan menarik, karena dipraktikkan di tempat tak galib (versi saya). Dan disaksikan oleh  masyarakat umum.

1. Aktivitas Misionaris

Setiap Muslim, berkewajiban meyakini kebenaran agama Islam, mengamalkannya, menjaga, membela nama baik, dan juga harus menyebarkannya.

Saya yakin, saudara kita yang non muslim pun punya kewajiban terhadap agama yang dianutnya. Hanya tata aturan dan pelaksanaannya disesuaikan dengan ajarannya masing-masing.

Buktinya, setiap kami berkunjung ke City Centre, Birmingham Inggris, pada suatu titik tertentu ada saja manusia berkerumun. Tetapi tidak terlalu ramai. Saya pikir mereka sedang nonton penjual obat. Suatu ketika, saya tertegun dan berusaha mendekat.

Mungkin memaklumi Emaknya ini tak mengerti apa yang sedang disaksikannya saat itu, anak saya berkomentar, “Itu kelompok misionaris Yahudi, Nek. Mereka  sedang menjalankan misinya memberikan ceramah. Mengajak penonton meyakini agamanya.

“Lihatlah beberapa orang melayani empat orang lainnya. Yang melayani dan dilayani sama-sama serius. Mereka berdebat mempertahankan argumen masing-masing.”

Saya bergumam dalam hati. “Menyiarkan agama dilakukan di sembarangan tempat, tengah kota, di tempat terbuka pula.”

Seakan-akan tak mau kalah, di area yang sama digelar pula peristiwa tak biasa itu. Boleh dikatakan semacam kelompok tandingan dari misionaris Muslim. Mereka juga disinggahi para pengunjung. Tamu tak diundang tersebut mendengarkan paparan sang penutur, memberikan pemahaman tentang ajaran Islam sesuai tuntunan Alquran dan hadist Nabi Muhammad SAW. 

Bila ada pendengar telah benar-benar meyakini, dan menyatakan keikhlasannya untuk memeluk Islam, di saat itu juga mereka minta disyahadatkan. Untuk pembinaan selanjutnya, diserahkan kepada suatu badan atau lembaga khusus menangani  mualaf.

Yang menarik dan luar biasa, kedua kelompok misionaris yang berbeda keyakinan ini terlihat damai-damai saja. Tiada terjadi perselisihan tiada pula saling ejek.

Menurut anak saya, pada hari dan tanggal tertentu, dua grup yang berbeda keyakinan di Inggris ini sepakat mengadakan debat terbuka di Kota London. Meski di gelanggang debat sempat memanas, sampai di luar mereka tetap damai. Noda-noda perdebatan sebelumnya lenyap bak disapu badai.  

Sebagai informasi tambahan, zaman kini banyak masyarakat Inggris sedang dilanda penyakit apatisme terhadap agama. Bila ditanya Anda beragama apa, tanpa basa basi mereka menjawab bahwa dirinya tidak beragama. “Agama itu bikin pusing,” tukasnya.

Wajar, para misionaris hadir menjawab kegamangan sebagian masyarakat tersebut. Caranya, menawarkan solusi supaya mereka memantapkan pilihan pada satu agama tertentu.

2. Merekrut Calon Prajurit

Di kampung saya, menjadi Tentara atau Polisi merupakan kebanggaan bagi banyak orang. Terlebih anak-laki-laki. 

Semasa mengajar di Sekolah Dasar, saya sering menanyakan ke siswa, “Kalau sudah besar kalian mau menjadi apa.” Lebih dari 50% menjawab jadi tentara dan polisi. Sisanya ingin jadi guru, camat, bahkan ada yang mau jadi Kepala Desa. He he.

Dasar anak-anak. Polos, jujur, karena belum terkontaminasi oleh basa-basi, kepura-puraan. apalagi kebohongan.

Kesungguhan ingin menjadi polisi dan tentara ini berlanjut sampai ke jenjang menengah. Buktinya di daerah saya.sampai saat ini kedua profesi tersebut sangat seksi di mata anak muda lulusan SMA dan Sarjana.

Sayangnya, kedua profesi ini seolah-olah dijatahkanNya khusus untuk anak-anak kaum berduait. Meskipun ada yang jebol tanpa main duit, jumlahnya sangat sedikit.

Sudah bukan rahasia, banyak orangtua saggup melakukan apa saja demi mewujudkan cita-cita anaknya menjadi TNI/Polri. Sebagiannya rela menjual sawah dan ladang, bahkan rumah  kediamannya demi mengumpulkan dana untuk itu.

Saya pernah ditanyakan oleh pegawai sebuah Bank, “Untuk apa pinjam duit, Bu. Mau masuk anak jadi angkatan, ya?”

Pada kesempatan lain, saya pernah pula ditawarkan oleh oknum berbeda. Tapi karyawan bank yang sama. “Bu. Kalau butuh duit untuk anak jadi angkatan, Ibu bisa minjam sekian puluh juta.” Allahuakbar.  

Saya tak tahu apakah sekarang kondisinya telah berbeda. Sebab saya tak banyak lagi mengikuti perkembangannya.

Mending sang anak berhasil dengan selamat mempersembahkan apa yang diidamkan orang tua. Apa jadinya kalau fakta berbicara lain. Beberapa tahun kemudian, si anak dipulangkan tanpa nyawa. Ini benar-benar terjadi pada zaman dahulu, dikala Aceh sedang memanas.  

Sebaliknya, profesi militer kurang diminati anak muda di Inggris. Penjaringan calon prajurit dilakukan dengan cara tak biasa. Panitianya sengaja membuka loket di City Centre Birmingham. Tujuannya, agar mudah menyasar anak muda untuk direkrut menjadi prajurit. 

 Di  sana petugas menawarkan brosur-brosur kepada pemuda yang lewat. Dibumbui bujuk rayu, sang panitia mengkhotbahi calon sasaran yang berkenan singgah, agar tertarik menjadi Militer. Syukur-syukur jika yang ditawari merespon. Kalau tidak, petugas tersebut dicueki terus berlalu. 

Inilah dua peristiawa tak biasa di negeri kita, tetapi lazim di City Centre Birmingham Inggris. Terakhir, saya mohon maaf, andai sekarang kondisinya telah berbeda. Sebab, momen ini saya saksikan pada tahun 2015. Semoga bermanfaat.

Baca juga:   

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

Kerinci, Jambi.


22 komentar untuk " 2 Peristiwa tak Biasa di Negeri Ini, Lazim di Bumi Inggris"

  1. Balasan
    1. Rekima kasih atensinya Mbak Nita, selamat sore, salamsehat untukmu selalu.

      Hapus
  2. Inggris memang sedikit berbeda ya mba, kalau menurut saya terkesan unik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berbeda dan unik banget, Mas Kuanyu. Terima kasih ya. Telah berkenan hadir. Selamat sore, doa sukses untukmu selalu.

      Hapus
  3. Kalau dikita debat masalah agama nggak bisa ya kalau nggak panas, hihihi...

    wah, kirain di Inggris ada wajib militer bu haji

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tau juga ananda Pipit. Apakah penjaringan calon prajurit itu untuk wajib militer atau tidak.Tapi menurut pikiran saya orang awam, mungkin mereka takut jadi tentara karena sering disuruh Berperang membatu sekutunya Amerika yang hobi ikut campur dalam urusan militer di negara lain. He he ... numpang jadi orang sok politik dikit. Terima kasih telah mampir, selamat sore.

      Hapus
  4. ga kebayang kalo misionaris terang-terangan khotbah di jalan raya Indonesia, kira-kira gimana ya mbak?

    Kalau praktik tni/polri yang saling menyuapi itu saya rasa masih ada mbak.. karena masuk sana ada batasannya.. dulu, jaman saya untuk masuk akpol itu dijatah cuma 4 orang untuk 1 provinsi.. bayangin aja itu persaingannya T.T

    persaingan "vitamin d"-nya tapi :))

    BalasHapus
    Balasan

    1. Ow, Kalau di Indinesia berantam kali ya, Mas Ndie. Lagipula kurang etis menutut budaya kita. Tapi, ya, itulah faktanya.

      Yang dibatasi mungkin lulusan sarjana ya, Mas. Selamat sore, selamat meninggu Maghrib.

      Hapus
  5. Ikut menyimak bu Nur☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mas Warkasa. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  6. Baru tahu kalo di negeri ratu Elizabeth itu lazim orang khotbah di tengah jalan ya, kalo disini memang tak lazim. Yang lazim disini malah anak muda pengin masuk militer, kalo disana malah kurang diminati.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di tengah jalan gak juga Mas Agus. Tepatnya di tengah keramaian kota. Mungkin mereka enggan masuk tentara karena takut berperang membantu sekutunya AS yang hobi berperang. he he .... Terima kasih telah hadir. Selamat sore.

      Hapus
  7. Apa ini karena negara tidak ikut campur dalam urusan ibadah warganya yaa? Akibatnya warga diberi kebebasan untuk memeluk sebuah agama atau tidak. Akhirnya para misionaris ini menjadi bagian terdepan untuk mengenalkan agama mereka kepada warga yang belum memilih beragama apa. Begitu kah..?

    Kalau di sini, debat masalah agama malah dihindari. Katanya sensitif. Padahal semua agama mengajarkan kasih sayang..huufft

    Makasih bu nur untuk artikeknya yang bagus ini ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tau juga ananda Dodo. Sampai dimana campur tangan pemerintah di sana dalsm masslah agama.

      Debat agama memang sensitif di negeri ini. Sedikit saja tersenggol merembet kemana-sna. Terlebih semenjak adanya medsos.

      Selamat siang. Terima kasih telah hadir, Mas Rivai. Salam sehat selalu.

      Hapus
  8. Kalo orang berkerumun jualan obat, kayaknya sih cuma di Indonesia yaa bund 😅😅

    Untuk debat terbuka, keren jg yaa dan ternyata setelah itu merrka tetap adem adem aja. Ini menunjukkan kedewasaan mereka..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya iya, ananda Dodo. Di Malaysia tidak ditemukan tukang obat di tempat2 umum. Di Mekah ada kerumunan obralan. Tapi bukan tukang obat. Jualan baju.

      Dewasa banget kayaknya. Maklum, mereka duluan maju. Selamat siang. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sukses selalu.

      Hapus
  9. sebenarnya di negara negara demokrasi memang disediakan kesempatan untuk agama apa saja "berdakwah".....

    Di banyak kampus amerika, di depan kantin mahasiswa, setiap hari Jum'at ada "misionaris" untuk agama Islam.....ya, banyak kerumunan juga.....

    # Menarik ceritanya tentang Inggris..... thank you telah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih informasi tambahannya, Mas Tanza. Terima kasih juga telah berpartisipasi. Salam Jumat Berkah.

      Hapus
  10. Fakta unik ya bu dari negara UK , British Raya.. setiap misionaris dari agama apapun bebas memberi ceramah di tempat umum, disediakan debat terbuka tetapi tetap dengan aksi damai. Salut untuknegara Inggris

    BalasHapus
  11. Bebas banget, ananda. Maklum negara sekuler. Pemeluk Islam di sana terus bertambah. Tapi bunda tak mau membahasnya. Maklum nanti ada sahabat blogger kita yang non Muslim kurang enak. terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat untuk keluarga di sana.

    BalasHapus
  12. Hebat ya toleransi di sana,bisa menyebarkan keyakinan masing2 dimana aja dan tetap damai. Di Indonesia sekedar mendirikan rumah ibadah aja udah rusuh ya bu.

    Terus itu kalau perekrutan militernya kurang menarik minat, mungkin karena gajinya belum cukup sejahtera apa gimana bu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Taktanya begitu, Mas Edotz. Lebih zaman sekarang, masalah agama rada sensitif di neberi ini. Soal profesi militer yang kurang diminati, beleh jadi alasannya begitu. Terima kasih tanggapannya. Salam untuk keluarga di rumah.

      Hapus