Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

6 Alasan Korban KDRT tak Melaporkan Suaminya ke Pihak Berwajib

Ilustrasi tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Sumber gambar dailypost.ng. Diambil dari Tribun

Undang-Undang No. 23 Tahun 2004  tentang Penghapusan Kekeran Dalam Rumah Tangga telah diberlakukan. Namun, kekerasan terhadap perempuan terus berlanjut di negeri ini.

Berdasarkan data sistem Informasi Oneline Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMfONI PPA), yang dikutip Kompasiana.com, 9/3/2021, sepanjang tahun 2020 tercatat 6.389 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa di Indonesia, yang meliputi kekerasan fisik dan psikis.

Sebanyak 45, 36% terjadi dalam rumah tangga. Dikenal dengan singkatan KDRT  (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), yang dilakukan oleh suami terhadap istri. Saya yakin, angka ini jauh lebih kecil daripada kondisi rilnya.

Mirisnya, amat sedikit perempuan korban KDRT yang melaporkan suaminya ke pihak berwajib. Meskipun bukti telah cukup, muka yang lebam, gigi yang rontok, dan fakta lainnya yang bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini disebabkan oleh banyak hal. Di antaranya,

1. Rumah Tangga Adalah Urusan Pribadi

Semasa kecil saya punya pengalaman buruk yang sampai saat ini tak terlupakan. IP Tetangga nenekku punya tabiat jelek. Dia suka menyiksa istrinya secara fisik.

Kalau dia marah, seringnya malam-malam. Pintu dikunci dari dari dalam. Disela suara IP yang menggelegar, jelas terdengar dari rumah nenek, isterinya meraung-raung minta  ampun.

Anak-anaknya diam. Tiada tangis ketakutan. Mungkin karena hal tersebut telah menjadi pemandangan biasa. Tak terbayang, betapa jantung mereka tergoncang saat itu, menyaksikan ibunya disiksa ayah kandungnya.

Tidak satupun manusia yang berani membantu. Karena kasus tersebut ranah pribadi rumah tangga orang lain. Maklum zaman itu UU. No. 23 Tahun 2004 belum lahir. 

Pernah nenekku menyarankan agar wanita cantik nan lembut itu melapor pada sanak keluarga. Tetapi dia tidak melakukan itu. Alasannya malu. Karena urusan keluarga tak boleh diumbarkan pada orang lain.

Paling dia mengurung diri seminggu dua minggu, menjelang lebam di wajahnya hilang.  Habis itu mereka kelihatannya baikan kembali. Beberapa bulan kemudian peristiwa serupa terulang lagi.

Prinsip bahwa “rumah tangga ranah pribadi dan tidak boleh diumbar pada orang lain ” telah mendarah daging bagi bangsa Indonesia. Sulit untuk diubah. Sekalipun 1000 pasal undang-undang telah dibuat.

Hal ini diperparah pula oleh pemahaman agama yang terkesan kaku, yang  meisyaratkan pasangan itu ibarat pakaian. Tugasnya saling menutupi. Seorang istri yang berani membuka aib suaminya dan sebaliknya, sama dengan dia menelanjangi pasangannya.

Kita tak bisa menutup mata. Berapa banyak wanita meregang nyawa di tangan suaminya. Di mata tetangga mereka damai-damai saja. Ternyata di dalam rumah mereka menyimpan masalah. Ujung-ujungnya berakhir dengan peristiwa berdarah.

2. Menjaga Perasaan Anak-anak

Alasan ke dua korban KDRT tak  mau melaporkan suaminya kepada polisi adalah  demi mejaga perasaan anak-anak.

Saya pernah dicurhati teman seprofesi. Hampir 10 tahun dia mengalami kekerasan fisik dan psikis oleh suaminya. Semasa kami bertetangga dengannya, pasangan itu aman-aman saja. Kelihatanya  mereka sangat berbahagia. Suaminya tak pernah berkata kasar.

“Beberapa kali didamaikan oleh pihak keluarga, berjanji di atas kertas. Tetapi tabiatnya tak pernah berubah,” keluh wanita cantik itu.

“Setiap  saya akan melapor ke polisi, si sulung bersikeras melarang. Katanya dia malu kalau bapaknya dipenjara. ‘Ujung-ujungnya nanti pasti perceraian. Abang ingin tetap punya orang tua lengkap, katanya.“ 

Pertimbangan si sulung ini logis. Mengingat zaman itu  usianya 23 tahun. Sudah selayaknya dia hadir sebagai sosok pendamai/penengah dalam perkara tersebut.  Ayah bundanya mendekati masa pensiun.

3. Sensitif Terhadap Lingkungan

Sikap sensitif terhadap lingkungan menyebabkan peristiwa KDRT sulit terungkap. Korban malu dan takut beban batinnya bertambah berat. Sudah disiksa oleh suami, ditambah lagi mulut-mulut orang yang suka memojokkan dirinya.

“Tiada asap kalau tak ada api. Pantasan suaminya naik pitam. Tak becus ngurus rumah tangga, dikasih tau melawan. Bla bla ....”

Mulut isteri semakin tergembok, jika dari awal pernikahan tidak disetujui oleh orang tuanya. 

Anehnya, boro-boro melapor ke polisi, ada pula korban punya keganjilan.  Hobinya menyenangkan hati orang menyakiti dirinya sendiri.

Hal ini ditandai sikap selalu memuji-muji suami di depan keluarga dan tetangga. Ya, romantislah, setialah, nurut, dan semua yang berbau positif melekat pada suaminya.  Di lain hari  hidungnya bengkok terkena bogem mentah. Belum lagi disakiti secara psikis, dihina dan dicaci maki.

4. Ketergantungan Ekonomi Pada Suami

Alasan ke 4 ini jamak terjadi pada korban KDRT yang tidak berpenghasilan sendiri. Andai suaminya dipida bertahun-tahun, siapa yang membiayai keluaraganya.  

Dapur wajib ngepul setiap hari.  Anak-anak butuh biaya sekolah. Syukur-syukur setelah bebas tidak dilanjutkan dengan perceraian.

5. Takut Menyandang Status Janda

Selaku orang tua yang mendekati kepala tujuh, saya sering dicurhati oleh ibu-ibu  muda yang sedang menghadapi gonjang-ganjing rumah tangga. Teruatama saudara dekat.

Kadang saya ikut baperan. “Ya, Sudah kamu  minta cerai saja.”

Dia bereaksi keras. “Aku takut menyandang status janda.” Sungguh, jawaban yang spontan, tak terduga, dan tidak saya harapkan.

Katanya, dia berpikir andaikan  terjdi saling melapor, pernikahan akan sulit dipertahankan. Status janda siap mengintai.

Perempuan begini jumlahnya memang tidak banyak.

6. Sebab Ketidakmengertian

Sikap ketidakmengertian ini sebenarnya bukanlah alasan untuk tidak melalaporkan seorang suami ke polisi. Apabila dia telah melakukan KDRT  terhadap istrinya.

Sebab, Andai si korban memang buta hukum dan buta huruf, Undang-undang membolehkan pihak lain membantu. Bahkan masyarakat berkewajiban untuk turut serta dalam mencegah KDRT.  Silakan dilihat dan baca Pasal 15 UU KDRT Nomor 23 Tahun 2004.

Tapi fakta berkata lain. Jarang sekali masyarakat yang peduli terhadap persoalan yang satu ini. Terutama apabila kasusnya menimpa  perempuan miskin. 

Demikian 6 alasan perempuan korban KDRT tak mau melaporkan suaminya ke polisi. Sebenarnya banyak hal lain yang  menjadi hambatan. Tetapi secara garis besarnya yang terpantau di lingkungan saya hanya 6 point ini saja. Tentu lain lingkungan beda pula kendala. Semoga bermanfaat, dan Selamat Hari Perempuan Internasional sekaligus Hari Wanita Indonesia Tanggal 8 dan 9 Maret 2001.

Baca juga:  

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi

 

 


 

48 komentar untuk " 6 Alasan Korban KDRT tak Melaporkan Suaminya ke Pihak Berwajib"

  1. walaupun saya belum berkeluarga, saya paham betul bahwa urusan rumah tangga memang sangat sensitif. sedikit saja ada kabar negatif, dampaknya akan buruk sekali kepada keluarga tersebut, terutama untuk lingkungannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaupun ananda belum berumah tangga, membaca artikel ini anggap saja belajar mendewasakan diri. he he ... (maaf bercanda).

      Setuju, ananda Sudibjo. Terlebih di pedesaan. Sedikit saja kasusnya terciaum, akan membuncah diseluruh negeri. Ini sudah merupakan hukum alam. Selamat malam. Terima kasih telah berkenan singgah. Doa sehat untukmu di sana.

      Hapus
  2. Suka sedih kalau baca berita KDRT, nggak kuat bayangin jadi korbannya. Serba salah banget, udah jadi korban dan kadang malah disalahkan oleh lingkungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesama perempuan kita ikut merasakan penderitaan yang dialami kaum kita ya, ananda Pipit. Selamat pagi. Terima kasih telah singgah. Doa sehat untukmu selalu.

      Hapus
    2. Selamat malam, Bu Haji
      Bu haji dan keluarga juga sehat-sehat ya

      Hapus
  3. kalau menurut saya pribadi sih nomor 2 dan 5 paling berpengaruh di antara yang lainnya, he-he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas Kuanyu. Demi perasaan anak, ibu rela melakukan apa saja. Terimasuk memasrahkan diri untuk tersiksa. Alasan terakhir banyak terjadi di pedesaan. Terutama jika yang mengalami perempuan miskin. terima kasih telah singgah, Mas. Selamat pagi.

      Hapus
  4. Sebenarnya hal ini harus di laporkan pada pihak yang berwajib apalagi kalau sudah main tangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selaku orang timur yang sangat menjaga nama baik keluarga, rupanya hal itu sangat sulit dilakukan Mbak. Selamat siang. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  5. ya, perempuan selalu mengalah....
    posting menarik...

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Habis mau bagaimana lagi, Mas Tanza. Mengalah karena keterpaksaan. Terima kasih telah hadir. Doa sukses untukmu selalu.

      Hapus
  6. Kok sedih ya bacanya T.T

    Tapi lebih ke heran ke suami aja si, kenapa bisa melakukan KDRT. Padahal ya kalau saya, mikir istri dan anak itu emang untuk dijaga..

    Lain hal kalau istrinya debt-collector ya, serem juga kita mbak...

    *memancing keributan*

    BalasHapus
  7. Kalau istri type "debt collektor" dan sudah tak bisa dibina, suami bisa mengembalikan dia kepada orang tuanya kali. Pecah kongsi dan bubar adalah pilihan terbaik. Selamat sore Mas Andie. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

    BalasHapus
  8. Halo celotehnur54, saya pikir 6 poin itu penting, meskipun 3 adalah salah satu yang tidak terlalu jelas bagi saya sama sekali.
    Sayangnya dunia masih penuh dengan kekerasan seksis. Semoga semua ini bisa dibalik, dan ini adalah tempat yang jauh lebih adil

    Salam pembuka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo juga, Shabatku Frodo. Faktanya memang begitu. Apakah hal serupa terjadi juga di negara Anda? Semoga tidak ya.

      Poin ke 3 mungkin ini tergantung tradisi. Di pedesaan tempat saya berdomisili, sebagian individu suka mengejek penderitaan orang lain. Bukan simpati. Akibatnya korban KDRT menutupi kemalangan yang menimpanya.

      Terima kasih telah berkenan singgah.Doa sehat menyertaimu.

      Hapus
  9. Meskipun saya belum berkeluarga saya ikut prihatin sekali bu dengan keadaan perempuan yang mengalami KDRT oleh suaminya.
    Sebenarnya wanita tsb bisa merubah nasibnya agar tidak ditindas suaminya terus dengan jalan melaporkan peristiwa KDRT tsb ke saudara tua nya yang disegani atau ke yang berwajib.

    BalasHapus
  10. Dalam hal ini serba salah, ananda. Kalau lapor polisi ujungnya sumi dipenjara. Bila sudah demikian, tak mungkin hubungan seperti dulu lagi. Ibarat piring yang sudah retak.
    Menurut bunda obatnya hanya satu. Bercerai saja. Kalau tabiat suami suka main tangan, susah untuk diubah. Selamat malam, selamat istirahat.

    BalasHapus
  11. Aduuhh, ngerii kalo denger berita soal KDRT
    karena memang kondisinya amat complicated utk berbagai kasus ya Bund.

    Tante saya (almh) jg korban KDRT
    Suaminya pemarah bgt.
    Tapi tante memilih bertahan/ ga mau cerai, dgn alasan "Yang penting om kamu tdk selingkuh. Itu udah cukup."

    BalasHapus
  12. Masalah KDRT ini sering ditemui di masyarakat Kita. Memang iya, kadang sang istri tidak mengambil tindakan karena beberapa faktor seperti yang dituliskan di sini. Masalah penilaian masyarakat, anak, finansial setelah bercerai, stigam janda pasti ada dalam pikiran istri. Istri juga berhak bahagia, moga yang ada pada posisi ini bisa dapat jalan keluar terbaik

    BalasHapus
  13. ternyata ada banyak faktor ya yang membuat istri nggak berani melaporkan KDRT yang terjadi padanya. semoga saja saya dihindarkan dari KDRT ini.

    BalasHapus
  14. Masih banyak yang mengartikan status janda dengan hal yang seolah memalukan, atau miring dalam tanda kutip
    Semoga para istri memahami, kebaikan bersama adalah hal yang tepat dipilih daripada dipertahankan tapi menyiksa lahir dan batin...

    BalasHapus
  15. Persis, Bunda.
    Alasan-alasan ini yang membuat para wanita bertahan dalam sebuah rumah tangga yang sangat tidak sehat ini.

    Di keluarga kami pun ada.
    Dan benar saja, walau sudah tua, yang namanya tabiat itu gak hilang begitu saja. Sudahlah di pukuli dari segi fisik, batin pun juga. Suaminya menikah lagi dan terpaksa harus menghidupi 2 dapur.

    Tapi sampai sekarang pernikahan mereka masih berlangsung. Dan yang lebih amazing lagi, semua orang tahu kejadian rumah tangga itu, tapi sanga istri dengan sangat lemah lembut berkata kalau suaminya gak pernah memukulnya. Orang sama semut aja gak tega bunuh.

    Kita semua bisa bantu apa?
    Istrinya rela.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita hanya sebagai penonton. Kalau ikut campur kita yang disalahkan. Malahan menyalahi. Karena itu ranah pribadi. Kadang kita sakit hati karena istrinya keluarga sendiri. Eh, si empunya suami malah menyalahkan kita. Terima kasih telah mengapresiasi, selamat malam, ananda Lend

      Hapus
  16. Semua alasan tersebut masuk akal tapi membuat perempuan berada di posisi yg lemah. Semoga kasus2 seperti ini tidak banyak lagi terjadi di keluarga Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Rindang. Kadang perempuan terlalu pasrah karena pemahaman agama yang kurang betul. Mereka menganggap istri harus patuh dan tak boleh melawan suami. He he .... Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  17. Sedih banget yang nomor 4. Biarpun ekonominya tergantung sama suami, bukan berarti bisa pasrah aja didzolimi kayak gitu. Hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Hanya perempuan super sabar yang sanggup pasrah menerima kenyataan. Selamat malam, terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam. Doa sehat untuk keluarga di sana, ya ananda Imawati.

      Hapus
  18. miris banget klo ada perempuan yang mengalami kdrt tapi nggak bisa lapor
    paling banyak biasanya sih karena Ketergantungan ekonomi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya kita perempuan sebaiknya berusaha padai nyari duit. He he .... Selamat malam, ananda Dee. Terima kasih partisipasinya.

      Hapus
  19. Bu Nur, aku jadi inget dulu saat pelatihan pernah 1 kamar dengan seorang ibu 3 anak. Beliau di atas 20 tahun di atasku, ia bercerita suami pertamanya melakukan KDRT selama pernikahan, bahkan cenderung parah secara fisik. tapi dia menutup rapat sampe bepisah dan sampe hari ini meski sudah belasan tahun. Nah, semua alasan yang diutarakan ibu di atas ia sampaikan. sedihnya lingkungan memandang salah dirinya, mencap dia yang ga becus menjaga suaminya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, kasian si ibu. Sudah disiksa suami, di luar rumah malah dipersalahkan oleh para tetangga.

      Salut juga pada beliau, sanggup menutup rahasia rumah tangganya belasan tahun. Hingga akhirnya dia bercerai.

      Terima kasih tanggapannya, ananda Shafira. Doa sukses selalu.

      Hapus
  20. Kasus Kdrt memang sensitif ya.. Kalau tetangga yang lapor dianggap ikut campur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak Nani. Terima kasih telah hadir. Selamat malam Minggu.

      Hapus
  21. Saya setuju dwngan semua alasan yang dituliskan eyang. Namun jika masih berkubang dalam toxic marriage, pastinya hal itu akan merusak kondisi psikis yerutama korban dan anak. Kemungkinan terburuk, anak-anak akan mengadopsi kekerasan dalam runah tangga tersebut. Perlu ketangguhan, hati yang lapang dan dukungan dari banyak pihak untuk melepaskan diri dari KDRT.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, ananda. Saya selalu berdoa semoga anak cucu kita diauhkanNya dari kasus serupa. Terima kasih. Selamat malam Minggu.

      Hapus
  22. Yang banyak terjadi memang Karena takut menjadi janda karena status janda terkesan negatif banget ya ibu nur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Faktanya begitu, ananda Aisyah. Padahal di mata Tuhan perempuan bersuami dan janda itu sama saja. Yang membedakan adalalah ketaatannya terhadap perintah agama. apapun statusnya. Terima kasih tanggapannya. Selamat malam minggu.

      Hapus
  23. Setiap baca tentang kdrt, aku merinding sekaligus takut. Apalagi membayangkan korban yang tidak mendapat dukungan dari orang-orang terdekat 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mirisnya, kadang-kadang pihak keluarga sendiri ikut menyalahkan korban. Terima kasih telah menanggapi, Mbak. Selamat malam minggu.

      Hapus
  24. Kalau baca dari 5 alasan ini terlihat budaya patriarki masih jadi penyebab utama. Posisi istri dalam rumah tangga nggak dianggap sejajar, kekerasan suami harus ditutupi dan dipahami supaya rumah tangga terlihat bahagia. Sedih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda Alfa. Kata menantu saya, teman Inggrisnya sering ngejek para istri Indonesia itu dipandang rendah oleh suami dalam rumah tangga. Selamat malam minggu. Terima kasih tanggapannya.

      Hapus
  25. Seperti kata Bu Nur dalam tulisan di atas, benar adanya ... saya pernah ikut pelatihan juga dari sebuah lembaga .. mereka juga mengatakan alasan perempuan tidak melapor, seperti di atas. Sayang ya ... gemas tapi gimana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, gemas banget, Mbak Mugniar. Padahal bukan urusan kita. Habis mereka kuat menanggungnya. he he .... Selamat malam, terima kasih telah hadir.

      Hapus
  26. Sebelum menikah dulu sering banget dengar cerita istri yang mengalami KDRT dan sempat heran juga kenapa si istri tetap bertahan walau kerap dizalimi sama suaminya sendiri. Kenapa gak langsung minta cerai saja?

    Ternyata memang banyak pertimbangan ya yang membuat si istri tetap diam saja seperti alasan-alasan yang sudah nenek kemukakan di atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  27. Iya, urusan rumah tangga itu memang rumit. Terlebih menyangkut kasus KDRT. Dalam hal ini pihak perempuanlah yang paling tersiksa. Selamat malam, ananda Siska. Terima kasih telah mampir.

    BalasHapus
  28. Salam kenal, Ibu. Saya di Sekayu, Sumatera Selatan. Tulisannya inspiratif sekali. Saya sering menyaksikan KDRT saat menemani suami ke Maluku Utara, tapi saya miskin ilmu sehingga tidak bisa menolong dengan benar. Semoga makin banyak yang paham tentang penanggulangan KDRT ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kembali. Ananda Ennikurniasih. Wah, Sekayu dekat dari provinsi Jambi. Seoga Allah menemukan kita. Amin. Terima kasih telah mengapresiasi. Kasus KDRT seperti puncak gunung es. Tak pernah habis dari permukaan bumi. Selamat sore.

      Hapus