Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Begini Dunia Digital di Mata Manula Kita Versi Kakek Nenek Bule

Catatan Perjalanan ke Inggris (11)  

 Mesin pembelian tiket kereta. (Foto: ARIE)

Saya masih ingat guyonan seorang manula beberapa tahun lalu. Dia bercerita bahwa kemarin dirinya ke kota ikut anaknya menarik uang di ATM.

“Masyallah. Begitu duit keluar, saya kaget dan gugup. Kiraan saya, yang mejulur itu lidah malaikat. Rupanya betul-betul uang,” katanya berapi-api.

“Saya dekatkan kuping di sisi mesin itu, sambil memukul-mukul dindingnya pakai tangan. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya,” tambah pria 54 tahun itu.

Semua pendengar di sekitar tertawa termehek-mehek. Termasuk saya. Bergurau? Ya. Tetapi candaan tersebut  lahir dari fakta sesungguhnya. Saat itu adalah pertama kali kakek 5 cucu itu mengenal dunia digital.

Baca juga: Si Aneh di  City Centre, Birmingham

Serba Otomatis

    Pengalaman semirip menimpa saya pada awal Juni 2015 silam. Ketika itu saya dan Arie menjemput salah satu Mahasiswi Indonesia yang diopname di Queen Elizabeth Hospital Birmingham Inggris. Begitu melangkah ke ruang perawatan, pintu langsung dibuka,  lampu pun menyala.

Saya berpikir, “Betapa cekatannya petugas rumah sakit ini. Padahal dia belum melihat kami datang, pintu dan dinding tertutup rapat tanpa kaca. Membuka pintu dan menyalakan lampu hanya dalam sekejap.”

Hal yang sama berulang pada pintu dan lampu ke dua waktu masuk ke kamar perawatan. Sampai di dalam tak ada makhluk kecuali pasien yang akan kami jemput. Gadis cantik asal Yogyakarta itu  tengah terlelap seorang diri. 

Saya longokkan kepala ke balik pintu. Mencari tahu seperti apa wajah karyawan yang membuka pintu dan menyalakan lampu dalam sepersekian detik tadi.  

Terakhir saya tahu dari Arie. Lampu-lampu yang menyala, pintu terbuka dan menutup tadi, keduanya serba otomatis, efek kerja reaksi gerak.

Soal pintu otomatis, lazim ditemui di Indonesia. Yang tak biasa bagi saya, lampu yang menyala dan mati sendiri tanpa menyentuh kontaknya.

Barangkali Anda tertawa atau membully kepolosan saya. Saat itu bagi saya dunia digital adalah alam baru. Maklum tinggal di desa. Kalau mau internetan adanya hanya di warnet.

Mungkin kalian sudah lama bergelut dengan kemajuan serupa. Khususnya para sobat yang bermukim di Kota besar seperti Jakarta. Meskipun masih kalah cepat dari masyarakat di negeri bule sana.

Baca juga: Kos-kosan dan Grasi Mobil di Sally Oak 

Nenek Kakek juga Keren

 Cowok dan cewek manula bule sedang bermesraan. (Foto ARIE)

Di akui atau tidak, Inggris sebagai tempat berawalnya Revolusi Industri, maslahatnya benar-benar dinikmati masyarakatnya secara luas. Salah satu dampaknya kesiapan sumber daya manusia. Mereka lebih dahulu  hidup di dunia digital daripada bangsa kita.

Jangan dulu berbicara masalah generasi mudanya. Kita harus optimis kaum milenial kita juga siap bersaing dengan bangsa manapun. He he ...

Yang membuat saya terkagum-kagum, banyak saya temui nenek dan kakek Inggris sembilan puluh tahunan (perkiraan saya) amat terampil mengoperasikan perangkat otomatis dan serba digital.  

Mulai menarik uang, stor tunai melalui mesin, membeli tiket angkutan umum, belanja di swalayan ambil barang hitung dan bayar sendiri (chash atau pakai kartu kredit), kembalian uang,  menukar uang receh, mereka lakukan sendiri. Tanpa didampingi anak cucu.

Belum lagi yang aneka qoin. Beli minum pakai qoin, masuk toilet pakai koin. Woduh …! Saya hanya cengar-cengir. Serasa diri ini hanya sosok bloon yang tak lebih besar  dari sebutir pasir di padang yang luas.

Tidak sedikit cewek dan cowok manula ubanan nyetir sendiri. Beli bensin, ambil dan bayar sendiri. Saat pergi ke daerah yang belum mereka kenal, mereka sangat lihai membaca peta. 

Baca juga: Kepedulian Bertetangga di Sally Oak, Birmingham,Inggris 

Belanja di Toko Argos

Satu lagi aktivitas unik yang juga digandrungi nenek dan kakek Inggris. Yaitu belanja barang (bukan makanan) di Toko Argos. Transaksi dilaksanakan dalam toko. Komoditasnya di taruh dalam gudang, tidak dipajang di etalase atau di rak terbuka.

Pihak toko menawarkan dagangannya via brosur. Sebelum belanja pelanggan mengenal sesuatu yang akan dibeli melalui katalog, yang memuat informasi tentang barang yang disasar. Mulai foto, jenis, model, tipe sekalian harganya yang dibandrol.

Setelah dirasa cocok, customer mengisi formulir. Kemudian menyerahkannya ke petugas berikut uangnya kes, atau digital. Tinggal nunggu beberapa menit, nama konsumen akan dipanggil sesuai nomor antrean. Pesanan siap diterima. 

Baca juga: Ingin ke UK? Kenali Dulu Kebiasaan Masyarakatnya 

Menolak Belanja di Argos

Saya sempat ikut Arie belanja ke toko yang menurut saya aneh itu. Hati kolot saya membantah. Apa enaknya beli barang di Argos. Selain tak ada peluang tawar menawar, pilihannya pun meraba buta. Lebih puas jika benda yang akan dibeli diteliti dulu, dipilih, baru dibayar. 

Tapi sebagai mertua, saya tidak berhak menyentil menantu. Tentu dia punya pertimbangan sendiri,  ke mana  uangnya akan dia alirkan.

Rupanya bertransaksi di Argos ada kekhasannya. Jika belanjaan tidak memuaskan konsumen, pihak toko bersedia menerima kembali benda yang sudah dibeli.

Bahkan memberikan alternatif uang ditarik atau diganti dengan produk lain. Sekalipun barang tersebut sudah sempat nginap di rumah  pelanggan.

Terakhir saya menyadari. Gara-gara Arie belanja di sana, saya mengerti aturan main yang berlaku di Argos. Hal ini merupakan salah satu bonus besar bagi perjalanan saya ke Inggris.

Barangkali kini sudah ada sejenis Argos yang beroperasi di tanah air. Khususnya di ibu kota Jakarta.

Baca juga: 6 Objek ini Tidak Akan Anda Temui di City Centre, Birmingham.  

Pelayanan Manual

Dengan adanya pelayanan modern, apakah jasa manual di Inggris tenggelam di laut digitalisasi. Boleh ia boleh tidak. Misalnya jasa pos masih tetap dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan serba mesin.

Di antaranya yang saya tahu, pembayaran gaji atau honor yang ditransfer melalui bank, bukti setorannya diantar ke alamat oleh Pak Pos pakai sepeda. Persis seperti tukang pos zaman dahulu.

Surat-surat tagihan pajak, gas, listrik, air, denda pelanggaran lalu lintas, dan surat-menyurat lainnya, juga ditangani oleh Pos.

Mengantar surat kabar dan majalah, belanja online pun tak luput dari rangkulan pengelola jasa kurir yang satu ini. 

Tak heran, di tengah mendunianya penggunaan alat komunikasi terkini, pelayanan pos tetap eksis di tengah warga Inggris.

Beginilah masyarakat kita khususnya kaum manula menyikapi dunia digital versi kakek nenek di negeri bule. Semoga bermanfaat. (Bersambung).

 Baca juga: 5 Trik Belanja Hemat Ala Mahasiswa Indonesia di Birmingham Inggris

****

Ditulis oleh

Hj. Nursini Rais

di Kerinci, Jambi

29 komentar untuk "Begini Dunia Digital di Mata Manula Kita Versi Kakek Nenek Bule "

  1. tetap tradisional walaupun di tengah globalisasi yang begitu besar dan cepat, inggris ini hebat juga ya, harus di tiru nih, karena tidak semua budaya harus berubah karena perubahan masa, terkadang ada budaya tertentu yang harus di jaga agar tetap lestari sampai anak cucu nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas kuanyu. Hal ini tercermin dari benda-benda yang terdapat dalam moseum di sana yang pernah saya kunjungi. Di antaranya mesin cuci manual, stirka jadul,tungku batu bara, tempaian tempat menyimpan air beserta gayung masih diparkir di samping rumah, untuk air mencuci kaki. Semua masih terpelihara dengan baik. terima kasih kunjungannya. selamat beraktivitas.

      Hapus
  2. Hai Mbak Nursini, salam kenal yaa.

    Cerita-ceritanya seru sekali. Inggris tetap menjaga hal2 yang bersifat tradisional juga yaa, tanpa mengenyampingkan perkembangan yang ada.

    Saya selama tinggal di Belanda juga jadi sering banget menerima surat dari pos. Iya juga ya padahal pengiriman lewat email jelas lebih simpel. Sampai menumpuk itu surat dari pos di satu storage sendiri.

    Mengenalkan digital kepada lansia juga butuh effor yang besar ya mbak. di satu sisi senang juga kalau beliau bisa mengoperasikannya, cuma memang edukasi literasi digital juga perlu dipelajari, karena tantangannya lebih berat untuk memahamkan mereka tentang digital yang nggak semuanya benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Ghina. Maaf. Panggil saja saya Nenek. Kemudaan kalau disapa Mbak. He he ... Usiaku mendekati kepala 7. Bangga juga telah mendapat sedikit iformasi tambahan tentang Belanda.

      Di Inggris (khususnya di kawasan Slly Oak, Birmingham), karena perjalanan saya kebanyakkan di kawasan tersebut), setiap rumah dilengkapi dengan kotak pos.

      "Mengenalkan digital kepada lansia juga butuh effor yang besar ya mbak. di satu sisi senang juga kalau beliau bisa mengoperasikannya, cuma memang edukasi literasi digital juga perlu dipelajari ..."

      ....>>> sepakat, Mbak. Saya sendiri sudah bertahun-tahun bergelut dengan yang namanya komputer atau laptop, masih super kewalahan menghadapi problem digital. Terutama saat ada program yang eror. Internetan saya berkutat pada medsos yang umum-umum saja. He he ... Maklum mulai belajar memasuki usia 50 an. Lumayan telat.

      Terima kasih telah berkenan singgah. Salam sukses untuk Mbak Ghina sekeluarga.

      Hapus
    2. Haloo bu, waah ternyata sudah mendekati usia 70 tahun tapi masih semangat menulis dan berbagi yaa. Keren ini. Generasi muda harus mencontoh apa yang ibu Nur lakukan..

      Hapus
    3. Alhamdulillah, faktanya begitu, ananda Dodo. Asli kelahiran 1953. Tapi syukur. Karena kesehatan yang prima saya masih bisa menulis. Walau hanya sekadar kemampuan yang dimiliki. Terima kasih telah mengapresiasi. Semoga sehat selalu.

      Hapus
  3. Di Jakarta saya belum pernah dapati lampu yang hidup dan mati sendiri, kalau saya dapati pasti saya akan kaget. Ternyata di Inggris pelayanan pos masih berjalan padahal Inggris sudah sangat maju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe .... Syukur. awalnya saya kurang Pede dengan pengakuan polos saya tentang lampu yang menyala dan mati menggunakan reaksi gerak, Mas Kal El. Mana tahu, di ibu kota negara sendiri (Jakarta) hal tersebut sudah basi. Sementara saya menceritakannya berapi-api.

      Betul, Mas. Pos masih berfungsi. Terima kasih telah berkenan singgah. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  4. haha lidah malaikat, pasti ekspresi manula itu sangat unik, matanya melotot beberapa detik membayangkan uang yang keluar dari atm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kakek kampung bereaksi. Maklum seumur hidupnya belum pernah melihat uang keluar otomatis dari kotak yang tergeletak di ruang sempit, seperti tak bertuan. He he ... Selamat malam, ananda Sudibjo.

      Hapus
    2. selamat siang bunda Nur hehe.. semoga sehat selalu di negeri orang yak hehe

      Hapus
    3. Selamat sore, ananda sudibjo. Bunda sudah di negri kita. Cuman 1 bulan jalan-jalan di sana. doa sukses untukmu sekeluarga.

      Hapus
  5. Wow, menarik sekali. Semoga suatu saat bisa berkunjung ke Inggris.

    MasyaAllah, salut sama Bu Haji mau dan terus belajar.
    jadi malu sendiri ini,

    Sehat-sehat terus Bu Haji dan keluarga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, ananda Pipit. Belajar tanpa batas. Selamat istirahat. Doa sukses untuk mu selalu.

      Hapus
  6. Hahhaha .. menggelikan juga sekaligus kasihan lihatnya seseorang mengalami gagap tekhnologi.
    Mau ngetawain tapi tapi takut dosa.

    Aku ada satu cerita dari teman cewek yang ngalamin kebingungan mencari tombol yang mana di layar karena dia tidak bisa bahasa Inggris ..., kejadiannya di toilet saat dia pipis.
    Salah pencet tombol .. tau2 air nyembur ke wajahnya setelah ia bangkit berdiri ... padahal air itu kegunaaannya untuk cebok 🙉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Kurang mau bertanya kali. Untung airnya tidak panas. 😛😛 terima kasih telah mengapresiasi, ananda Himawan. Salam sukses untukmu selalu.

      Hapus
  7. Baru nyampe di blog ini, baca satu artikel, berasa sudah sampai Inggris.
    Dunia digital di Indonesia memang masih jauh dari kemajuan di luar sana. Saya yang masih merasa muda saja, juga membayangkan akan jadi orang udik jika sampai sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang muda saja rasa jadi orang udik, apa lagi nenek tua ini. Malah serasa orang bloon. He he .... Selamat sore. Mbak Khairunnisa. Terima kasih telah mengapresiasi. Senang telah dikunjungi. Doa sehat untuk keluarga di sana.

      Hapus
  8. Saya sebenarnya lagi suka belek barang daripada cara digital, pilih dan kemudian bayar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunia sekarang penuh pilihan ya, Mbak. Mau belanja online atau ofline. Terima kasih telah hadir, Salam sehat untuk keluargadi sana.

      Hapus
  9. kantor pos itu banyak romantismenya...hehehe

    Cerita menarik dengan intro yang humor.....

    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mas Tanza. Era 70-an saya ngfens berat sama tukang Pos. Soalnya saya punya banyak sahabat pena. Setiap minggu ada saja surat yang masuk. Kapan ketemu Pak Pos, Ow ... rindu saya pada sahabat maya rasa terobati. He he ... Pak pos kenal persis dengan saya. Terima kasih telah mampir, Selamat berakhir pekan.

      Hapus
  10. Wah bunda bagus cerita pengalamannya nih, renyah dibaca tsu2 udah selesai 😊😁👍👍👍 salut sama bunda yang tetap semangat menulis 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ananda Dinni. Berkat berteman dengan kalian, semangat bunda jadi muda kembali. He he ... selamat berhari minggu. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  11. Aihh keren sekali ulasannya mantap menjaga traditional ditengah digital

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakat, Mbak Nita. Di tengah derasnta arus globalisasi, mereka (pos) tetap eksis. Malah tampil dengan ciri kejadulannya. selamat berhari minggu, terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus