Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengorek Rahasia Pentingnya Kehadiran dan Fungsi Anak dalam Pernikahan

 

Ilustrasi pentingnya kehadiran dan fungsi anak dalam pernikahan. (Sumber: Tangkapan layar dari IG anakku)

Sudah bukan rahasia umum, banyak oknum “wanita mujur” tidak menginginkan  kehadiran seorang  anak. Sampai-sampai mereka tega membuang darah dagingnya sendiri ke tong sampah. Nauzubillahi min zalik.

Di sisi lain,  tidak sedikit pula “pasangan malang”  yang belum diamanahkan momongan oleh Allah SAW.  Hal ini merupakan sebuah dilema bagi mereka yang menjalaninya.

Nikah sudah belasan tahun, usaha maksimum. Mulai berobat pada ahli medis,   minta bantuan orang pintar, sampai menjalankan praktik yang kurang masuk akal.

Bahkan ada suami istri yang rela mendatangi  musuh bebuyutannya yang pernah mereka  sakiti. Terus minta maaf atas segala  kesalahan, sekaligus  mohon didoakan  supaya dia dianugrahiNya keturunan. Namun upaya tersebut kandas dan tetap kandas.

Subhanallah. Takdir memang tak bisa dipaksa-paksa.  “Tiada sehelai daun pun  yang jatuh tanpa izin Allah.”

Begitulah fenomena dunia. Sebagian istri dikaruniai kesuburan yang melimpah, hampir setiap tahun perutnya gendut, melahir, hingga punya belasan anak.  Mirisnya, kadangkala di segi sosial ekonomi  mereka kurang beruntung.

Sepakat Bercerai

Bosan dengan upaya yang telah dilakukan, terkait perkara tak punya keturunan ini  ada pula  suami istri yang masih produktif  sepakat bercerai secara baik-baik. Alasannya, ingin mencari peruntungan masing-masing.

Aduh ..., betapa berat mereka menjalaninya. Biduk rumah tangga yang telah mereka bangun belasan tahun harus karam dihempas gelombang dan badai perceraian. 

  Ilustrasi pentingnya kehadiran dan fungsi anak dalam pernikahan. (Sumber: Tangkapan layar dari IG anakku) 

Pertanyaannya, seberapa pentingkah kehadiran dan fungsi  anak dalam sebuah perikahan? Jawabannya, "Tak terhingga”.  Misalnya, sebagai  perekat kasih sayang antara suami dan istri, buat hiburan setelah lelah bekerja, sampai menambah semangat hidup, dan lain sebagainya.

Namun agar tulisan ini tidak meluber ke mana-mana, saya coba membongkar 4 fungsi  terpenting  saja. Di luar yang dicontohkan  di atas.

1. Demi Harga Diri

Fungsi terpenting pertama, kehadiran anak dalam pernikahan adalah demi harga diri orang tua. Tak bisa diingkari, suami  atau istri yang mampu mempersembahkan keturunan kepada pasangannya adalah mereka yang  reproduksinya tidak bermasalah, alias sehat. Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi pasangan yang menjalaninya. Terutama kaum pria.

Kenapa kaum pria? Dalam kasus ini yang sering diolok-olok sebagai pembawa masalah adalah suami. Semasa muda, saya punya teman kerja.  Lelaki sebayaku itu suka mencandai pasangan yang  telah lama menikah tapi  tak kunjung punya momongan.

“Lakimu  ‘kurang garang’ kali. Wakilkan ke saya. Gantung aja celana dalamku di kamar tidurmu!  Dijamin kamu bisa hamil,” ejeknya. Kadang-kadang dia  pakai frase “kurang garang”, lain kali “kurang jantan”, adakalanya dia memberi label “lemah syahwat”.  Tak heran, sebagian suami/istri yang “kurang mujur” ini  sering minder.

2. Menumbuhkembangkan Cinta dan Kasih Sayang

Fungsi terpenting ke dua, kehadiran anak dalam pernikahan  adalah sebagai wadah menaburkan  benih cinta dan kasih.  Ketika anak-anaknya  masih kecil,  orang tua melindungi,  mengasuh, dan mendidik  anak-anaknya dengan segenap jiwaraga dan kasih sayang yang melimpah.  

Tertanam harapan dalam benak para orang tua, apabila kelak mereka sudah sepuh, akan menerima perlakuan serupa dari anak-anaknya.

3. Meneruskan Keturunan

Fungsi  terpenting ke tiga, kehadiran anak dalam pernikahan yaitu, untuk  meneruskan keturunan.  Seseorang yang tidak punya anak,   generasinya akan putus.  Di kampungku golongan ini disebut orang punah.  Harta yang ditinggalkannya disebut harta buntung. Kasar bukan? Harus bagaimana lagi.

4. Menyambut Harta Warisan

Fungsi  terpenting ke empat, kehadiran anak dalam pernikahan untuk menyambut harta warisan. Tabiat orang Timur umumnya,  para orangtua berjuang mengumpul dan mempertahankan harta demi anak dan generasi sekian kali keturunan. Termasuk saya.

Sikap tersebut telah membudaya, menjadi kebanggaan, dan punya kepuasan tersendiri di kalangan para orang tua.

Tiada yang salah dengan prinsip dan cara pandang demikian. Allah pun melarang kita meninggalkan keturunan dalam keadaan lemah (miskin).

Dalam Surat An-Nisa ayat 9, Beliau mengingatkan, “Dan hendaklah takut kepada Allah. Orang-orang yang seandainya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya.”

Lalu bagaimana dengan saudara kita yang kurang beruntung tadi? Sepanjang pengetahuan saya, mereka juga berusaha, mengumpulkan harta layaknya orang punya anak. Yang menarik, sebagian  beliau-beliau itu justru rezkinya melimpah ruah.

Setelah dia meninggal, syukur-syukur harta buntung tersebut dikelola secara adil oleh keluarga jauh. Kadang-kadang malah menimbulkan sengketa. Kata Pak Ustad kegaduhan tersebut bisa memberatkan bagi empunya di alam kubur.

Solusi

Banyak kalangan berpendapat, anak dalam sebuah rumah tangga  tidak harus keluar dari rahim sendiri. Banyak anak-anak  terlantar di luar sana yang patut disantuni, diurus dan dididik seperti anak sendiri.

“Ambil anak yang masih bayi!”  Begitu solusi  klasik yang enak diucapkan. Tetapi sulit dilaksanakan. Terutama buat kami yang tinggal dipedasaan.

Dampaknya  akan muncul setelah anak itu terkontaminasi dengan pergaulan di luar rumah. Tepatnya setelah mereka tahu statusnya  adalah anak pungut.

Bagi orang tua yang banyak harta,  kadang-kadang bom konfliknya  meledak  pasca orang tuanya berpulang. Meskipun semua pihak telah  sepakat mengantisipasi  jauh sebelum sang pewaris  tiada.

Ini adalah fakta umum yang sering berlaku di sekitar kita. Walaupun harus diakui juga tidak semuanya begitu.  Makanya, bagi Anda yang punya keterkaitan dengan persoalan serupa, tidak usah fobia dengan masalah yang belum terjadi. .

Saran dan Penutup

Andaikan Anda memantapkan pilihan pada solusi  di atas, jangan berpikir terlalu lama. Semakin cepat eksekusinya kian bagus.  Mumpung usia masih muda. Biar banyak kesempatan bagi  si  anak untuk  memperoleh pendidikan yang cukup.

Ada lho. Pasangan yang mengadopsi anak di usia senja. Sebelum si kecil masuk SD, dia keburu meninggal. Yang tersisa hanyalah kisah sedih yang mengharu pilu.

Demikianlah pentingnya kehadiran dan fungsi anak dalam pernikahan. Tulisan ini ditulis berdasarkan penemuan pribadi di tengah masyarakat sekitar tempat tinggal saya. Mungkin faktanya berbeda dengan kondisi di lingkungan Anda. Semoga bermanfaat. 

Baca juga: 

****

Penulis,

Hj. NURSINI RAIS

di Kerinci, Jambi.         

 

 

17 komentar untuk "Mengorek Rahasia Pentingnya Kehadiran dan Fungsi Anak dalam Pernikahan"

  1. Sejatinya anak adalah titipan Alloh swt ya Bunda...perkara akan dihadirkan ke dalam kehidupan pasutri itu sepenuhnya kuasa Alloh. Mengejek keluarga yang belum dikaruniai momongan menurutku sangatlah kurang etis bahkan melukai perasaan. Hendaknya bagi yang lebih senior atau lebih dulu dikaruniakan anak tidak berbuat dzalim pada yang belum. Karena kita tidak diperkenankan pula mengomentari hal hal yang terlalu jauh apalagi menyangkut kehidupan rumah tangga orang lain bukan. Semoga saja bagi teman teman yang belum dikaruniai momongan dan sangat ingin memiliki anak segera diberikan hamil dan melahirkan juga mendidik putra putri dengan penuh kasih sayang. Jikalau takdirnya memang tidak demikian, kudoakan semoga pasangan suami istri tersebut semakin harmonis, langgeng dan hidup dalam kebahagiaan sampai maut memisahkan. Amin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bukan ngejek, ananda Nita. Tapi mereka itu teman dekat. Dalam satu kelompok itu ada macam-macam tipe. Ada tukang ketawa, ada tukang canda. yang dicandai kayaknya biasa-biasa saja. Cuman kita penonton menganggap dia minder. Akhirnya yang sering dicandai itu dapat juga keturunan pas pada tahun ke 11. cuman satu. Tak nambah-nambah sampai beliau meninggal. Terima kasih, telah singgah. selamat malam.

      Hapus
  2. Memang kalo menikah lalu tidak ada anak rasanya kurang lengkap, tidak bergairah melakukan pekerjaan, tidak ada yang buat hiburan.

    Kalo ada anak kan misalnya pulang kerja suntuk, lihat mereka jadi fresh lagi pikirannya. Tapi kalo ada yang sudah lama berumah tangga belum ada anak ya jangan diledek, kan nanti jadi minder.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Mas Agus. Kata orang Minang, "anak itu ubek jariah palarai damam." he he .... Gak semua suka ngedledek, tapi sobat yang satu ini candaannya suka nyleneh.Terima kasih telah hadir. Selamat malam.

      Hapus
  3. rasanya hampa tanpa kehadiran anak dalam sebuah pernikahan....
    banyak sih yang "menunda" karena alasan ekonomi salah satunya....


    Tulisan bermanfaat ..... thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Yang suka manunda nikah itu biasanya ada rasa kurang percaya diri. Selamat malam dari tanah air Mas Tanza.

      Hapus
  4. Semoga tahun ini bisa mendapatkan momongan, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mas Andrie. Aku ikut mendoakan. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat pagi.

      Hapus
  5. Halo bun.. Waah rasanya kesal aku baca tulisan bunda di atas yg menceritakan ada orang yg mengolok-olok temannya trntsng tak punya keturunan; kurang garang lah, dsb. Orang seperti itu benar benar tak beradab dan sangat kurang ajar.

    Oh yaa, sedikit saran koreksi, bun. Di awal tertulis Allah saw. Harusnya swt, kan.
    Btw, selamat malam dan sehat selalu bun.. 😀😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he ... Kayaknya telah jadi tabiatnya dia ananda. Ngomongnya sambil ketawa. Yang dicandai juga gak marah. Senyum2 aja. Akhirnya tahun ke sebelas yang dibully itu dapat juga. Sekarang cucunya udah banyak. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  6. He he ... Kayaknya telah jadi tabiatnya dia ananda. Ngomongnya sambil ketawa. Yang dicandai juga gak marah. Senyum2 aja. Akhirnya tahun ke sebelas yang dibully itu dapat juga. Sekarang cucunya udah banyak. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi.

    BalasHapus
  7. Artikelnya bagus banget bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ananda Srie. Selamat malam.

      Hapus
  8. Iyya bu nur anak itu sangat penting sihh,,, semoga kelak saya kalau sudah nikah dikaruniai banyak anak,, aminnn
    Btw gambar ilustrasinya anaknya yah bu nur??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga ketemu jodoh yang baik. Betul, ananda Norfahrul. Mamanya anak saya. Gadis kecil itu cucu pertama. Sekarang udah lulus SD. Ilustrasi ke dua, ayahnya anak saya. punya anak 3.

      Hapus
  9. Aku tidak pernah berani menanyakan kepada pasangan-pasangan yang telah lama menikah tapi belum juga mendapatkan momongan karena itu akan menyakiti mereka, apalagi sampai berani membercandai seperti yang ada dalam contoh di atas. Bukankah momongan juga pemberian dari Tuhan yang tidak bisa kita prediksi kapan Tuhan memberikan ke kita, sementara kita hanya bisa berusaha.

    Semoga apapun pemberian Tuhan ke kita, kita dapat dengan lapang dada menerima.

    BalasHapus
  10. Betul, Mbak Einid masalah yang satu ini amat sensitif. Tetapi orang sini bsnyak yang suka bercanda. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam.

    BalasHapus