Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Manfaat “Mncen” Terhadap Pasangan Baru di Desa Tebing Tinggi, yang Harus Dilestarikan

Ilustrasi Sistem "Mncen". (Ornamen ruangan pngantin tradisional di Desa Hiang, Kerinci. Foto NURSINI RAIS).

Pasca nikah terus pindah rumah, adalah hal lumrah bagi anak perempuan yang tinggal di perkotaan. Terlepas apakah rumah milik sendiri  pembelian suami atau istri, maupun ngontrak.

Namun bagi suku-suku tertentu, hal tersebut suatu kejanggalan. Bisa-bisa orang tua dituding kejam. Kecuali  si anak diboyong suaminya  jauh ke luar daerah.

Terkait persoalan pindah rumah, sebagian daerah, ada yang menganut sistem suami mengikuti istri, ada pula pasangan baru itu diboyong suaminya ke rumah orang tua laki-laki.

Tiada yang salah dengan kebiasaan tersebut. Hanya terpaut adat istiadat saja. Bukan  masyarakat  Indonesia namanya  tanpa diwarnai keberagaman. Jangankan antar suku, antara desa bertetangga pun berbeda dalam  banyak hal.

Di  Desa  tetangga saya misalnya, Desa Tebing Tinggi, Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci, Jambi. Di sini berlaku sistem mempelai pria mengikuti istri, sampai mereka punya rumah sendiri.

Uniknya, seminggu  usai anaknya menikah, orang tua perempuan  memberikan perabot dapur secukupnya.  Mulai periuk,  kuali, gelas, pring dan sebagainya, plus 10 kg beras dan tungku tempat memasak. Silakan urus keluarga sendiri.

Bermodalkan pemberian itu pasangan baru tadi mulai menjalani hidup mandiri.  Apabila pesangon tadi habis, tanggung jawab selanjutnya ada di tangan suami. Mereka berdualah yang memenuhinya. Layaknya orang sudah berumah tangga.

Tradisi yang telah berlangsung turun temurun ini mereka sebut “Mncen” (bahasa Kerinci). Jika dibahasaindonesiakan =  “mencil” atau memencil. Kata dasarnya pencil atau pisah.   Hakekatnya, pisah masak, pisah dapur.  Meskipun tetap tinggal satu atap. Hal serupa tidak berlaku di tempat saya.

Terbayangkan bukan? Jika Emak bapaknya punya anak perempuan 5, dan belum ada yang punya tempat tinggal sendiri,  sebanyak itu pula tungku dan abu dapur berjejer di ruang masak. 

Tatapi saya yakin, sebagiannya  belum sempat adiknya nikah, si kakak sudah punya rumah sendiri. Paling sempat ngumpul  2 atau 3 keluarga termasuk rumah tangga  ayah bunda.  Apalagi zaman sekarang, anak muda semakin kreatif cari duit. 

 Ilustrasi berbagi tungku dan abu dapur (Foto NURSINI RAIS)

“Melatih mereka cdeh (cerdas),”  kata  Bu Ros penduduk setempat saat saya wawancarai di rumahnya Jumat, 4 Juni lalu. “Mendingan anak-anak sekarang.  Mereka nikah udah dewasa.  Minimal lulus SMP.  Zaman saya perempuan 14-15 tahun banyak yang sudah punya anak,” tambah Nenek 5 cucu itu.

“Apo dak kasian?  Anak masih bulan madu, mau bersenang-senang, harus memikir beban hidup?” tanya saya.

“Sudah menjadi tradisi, Bu.” Seorang bujang yang berani babini , berarti dia  siap dengan segala risiko.”  

Setelah menyimak cerita Bu Ros, saya berpikir tradisi  mncen ada plus minusnya.  Namun sepanjang analisa saya lebih besar manfaat daripada modhoratnya.  

1. Mendidik Pasangan Baru Cepat Mandiri

Dengan tanggung jawab di pundaknya, suami dari keluarga baru tadi akan berusaha maksimum agar bisa memenuhi kebutuhan hidup dia dan istrinya. Mereka malu menadahkan tangan kepada orang tua.  Sekaya apapun ibu bapanya.

Di sini kemandirian pasangan suami istri itu benar-benar diuji. Kalau orang lain mampu melewatinya, kenapa mereka tidak.

2. Mengajarkan Pasangan Baru Hidup Hemat

Berapun senangnya  numpang di pondok  mertua, tidak seenak tinggal di rumah sendiri. Namanya saja numpang. Terlebih jika si penumpang sudah punya anak. Penghuni rumah jadi bertambah.  Suntuk pastinya.  Jangan-jangan mertua hobinya ngomel. He he ...

Dengan bimbingan orang tua, si pasangan baru tersebut  segera berpikir untuk membangun rumah. Mereka mulai menabung sedikit demi sedikit.

Guyuran beli tanah, beli atap, beli kayu bangunan, dan perlengkapan membangun lainnya. Hingga akhirnya mereka punya rumah siap huni. Mulai saat itulah berlakunya  kata-kata sakti orang bijak, “Pahit manisnya  berumah tangga itu akan terasa setelah tinggal di rumah sendiri.”

3. Gambaran Harga Diri Suami

Sebagaimana dijelaskan oleh Bu Ros tadi, seorang anak cowok yang telah berbulat tekad untuk berumah tangga,  artinya dia  telah siap lahir dan batin untuk mengahadapi tantangan hidup.

Dengan mncen sang menantu ditempa menjadi kepala keluarga yang  tangguh dan bertanggung jawab terhadap istri dan rumah tangganya.  Dan siap pula menyandang peredikat  ayah bila kelak dia punya anak.

Jika usai nikah dia  hongkang-hongkang, tidur siang, makan sama mertua dia akan diejek orang. Saat itulah harga diri kepala keluarga baru itu dipertanyakan.  

4. Meringankan Beban Orang Tua Secara Ekonomi

Setelah anak-anaknya menikah bukan berarti  tanggung jawab orang tua jadi selesai.  Masih banyak kewajiban lain yang harus mereka tunaikan.

Di antaranya, memperhatikan kesehatan dan  pengamalan agamanya, memberikannya kasih sayang. Karena cinta kasih orang tua bisa menambah energi dan semangat hidup  anak-anaknya sampai kapanpun. Dan sederet tanggung jawab lainnya.

Hanya saja, dengan menerapkan sitem mncen pada pasangan baru menikah, secara ekonomi tanggung jawab orang tua pihak perempuan  sedikit berkurang. Karena telah berpindah pada suaminya.

Simpulan, Saran,  dan Penutup

Berpijak dari paparan di atas, ditambah dengan fakta di lapangan, sistem “Mncen” Berdampak positif terhadap pasangan baru menikah  dan terhadap masyarakat Desa Tebing Tinggi secara keseluruhan.

Untuk itu, tradisi mncen ini harus dilestarikan. Diharapkan kepada pemerintah setempat membukukannya sebagai kearifan lokal dan budaya asli Indonesia.

Demikian ulasan sederhana ini ditulis berdasarkan temuan di lapangan plus opini pribadi. Mohon masukan dari semua pihak kalau ada yang salah tutur. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

 Baca juga: 

****

Penulis,
Hj.Nursini Rais
di Kerinci, Jambi

29 komentar untuk "4 Manfaat “Mncen” Terhadap Pasangan Baru di Desa Tebing Tinggi, yang Harus Dilestarikan"

  1. siip ulasannya...
    setuju dengan pelestarian budaya yang bermanfaat.... bisa dicontoh oleh masyarakat lainnya....


    Thank you for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tanggapannya. Mas Tanza. Selamat malam dari tanah air.

      Hapus
  2. Masih tradisional banget ya bu. Sekilas tadi bingung cara bacanya gimana karena kebanyakan konsonan 😅
    Btw ada nama tebing tinggi juga di jambi, mirip nama kota di sumatera utara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Ha he .... Belum bahasa Kerinci asli, Bang Siregar. Kalau kucing >>>jadi kucek. Anjing jadi anjek. Kambing jadi kambek. He he .... Selamat berhari minggu. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  3. wah baru tahu ada tradisi mncen, bagus juga yaa. semoga tradisi ini terus lestari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mbak Amirotul. Tapi kalsaya punya anak sedih. Kayak ngusir, ya. Selamat sore. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  4. Wah mantap banget nih mbak

    salam hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salzm hangat kembali. Terima kasih telah mampir, Mas Suni. Selamat sore.

      Hapus
  5. Tradisi ini hampir sama kayak di tempat saya namun itu untuk orang lain deh tak cocok buat saya dan gak mungkin juga saya akan menggalaminya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kunci orang tua. Kalau brliau siap mengubah tradisi gak apa-apa, ananda Tari. Terima sore. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
    2. Oh gitu ya bunda , terima kasih atas saran terbaiknya.

      Hapus
    3. Sama-sama, ananda Tari. Apa kabar keluarga di sana semenjak kepergian bapak? Semoga sehat dan tetap tabah ya. Doakan beliau supaya tenang di alam sana.

      Hapus
    4. Kabarnya baik bunda, meski kadang juga sering terbawa sedih terutama saat suasana sepi ini lagi acara pernikahan kakak saya bunda .

      Hapus
    5. Boleh tanya sedikit Tante?

      Hapus
    6. Oh ya. Semoga acaranya berjalan lancar .... Amin.

      Hapus
  6. Boleh tanya sedikit Tante ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanya apa Say? Kalau bisa akan dijawab. He he ...

      Hapus
    2. Begini bunda, ini menurut beberapa orang katanya sih wanita kalau suka ngambek dan pemarah bakal diceraikan suami . Jujur bunda, hal inilah yang bikin saya takut sendiri punya pasangan hidup .

      Hapus
    3. Gak juga, ah. Kalau udah punya pasangan, tentu masing2 individu bisa beradaptasi. Tak usah terlalu takut, ah. Semua akan baik pada masanya. Yang penting jalani dulu, okey?

      Hapus
  7. Ya bagus juga sih dikasi tungku dll biar bisa mandiri sampai punya rumah sendiri kelak.

    Tapi harus tungku ya mbak, gak bisa diganti kompor kah misalnya, hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Zaman kini mungkin ada yang ngasih kompor, Mas Jaey. Tapi istilahnya tungku. Sebab orang sana masih banyak masak pakai kayu bakar. Lokasi desanya dekat parladangan. terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malam

      Hapus
  8. Di daerahku juga mirip seperti itu Bu, suami harus ikut istrinya ke rumah mertua dan biasanya ngasih sedikit bekal, lalu setelah itu ya harus mandiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah jadi tradisi, bagus, Mas Agus. Biar berkrang tanggung jawab orang tua. Terima kasih telah mengapresiasi. Salam sehat dari jauh.

      Hapus
  9. Wah, nice ulasan Mbak. Nambah wawasan baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Yusnia. Semoga bermanfaat. Selamat malam.

      Hapus
  10. sampe skrg pun sy msh ngikut sama mertua mbak, sebenarnya malu, tp mertua sy baik hati, katanya, jgn ngontrak lagi rumah ini msh besar, kumpulin aja uangnya buat bangun rumah, hiks... baik hati bgt mertua sy...
    mdh2n sy bs cpt bikin rmh, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Artinya, Mas Sedang dalam proses mempersiapkan diri untuk punya rumah sendiri. Hal ini harus disyukuri. Tidak semua orang punya mertua baik hati. Selamat siang, Terima kasih telah hadir.

      Hapus
  11. Nambah ilmu baru lagi, terima kasih banyak bunda. Memang menikah dan berpisah dari orangtua itu rasanya 'nikmat' banget. Ketika senang terlihat senang, ketika susah dinikmati berdua, gak perlu ada orang yang tau. Hehehehe.. Saya dulu ketika baru menikah juga mama berat untuk melepas dan tinggal terpisah dr keluarga, begitu pun mertua, maunya kami tinggal serumah dengan mereka. Tapi karena kami masih sama-sama bekerja, diputuskan mengontrak rumah yang gak jauh dr tempat kami bekerja. Alhamdulillah semua bisa dilewati dengan baik, walopun perjalanannya gak selalu mulus

    BalasHapus