Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Mau Terjerat Utang? Jauhi 3 Hal Ini, Lakukan 3 Trik Lainnya

 

Ilustrasi Terjerat Utang (Foto HURSINI RAIS)

Berutang ibarat pisau bermata dua. Satu sisi dapat menuntaskan masalah saat dalam kepepet, di sisi lain bisa menyiksa diri sendiri. Untung-untung tidak sampai bunuh diri

Sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, oknum emak-emak pusing tujuh keliling gara-gara terjerat utang . Padahal secara kasat mata, suaminya bekerja dengan penghasilan yang tidak minim-minim amat.

Lebih-lebih zaman sekarang, untuk mendapatkan pinjaman sangat gampang. Bukan konsumen mencari  produsen. Produsenlah yang mendatangi konsumen.

Dengan mengusung label koperasi bunga rendah, kaki tangan pemodal menawarkan pinjaman masuk desa keluar desa. Anti anggunan anti ribet. Cukup bermodal KTP saja.  Dahulu pinjaman liar begini kami sebut Bank 47. 

Tatkala calon nasabah sangat membutuhkan, mereka datang menawarkan kebaikannya. Siapa yang tidak tergoda coba. Setelah dihitung-hitung ternyata bukan bunganya yang rendah. Tetapi utangnya  yang beranak pinak, yang lahir dari rahim  pinjaman lebih dari satu koperasi.

Terutama jika terjadi tunggakan berlapis-lapis. Sebab,  pas hari dan tanggal tagihan, nasabah rajin berpesan pada anaknya, “Ntar kalau abang koperasinya datang , bilang Emak, pergi ya!”  

Ironisnya, meskipun utang lama sudah menambun, koperasi memberlakukan sistem pinjam uang bayar utang.  Artinya, untuk menutupi utang lama, nasabah diberikan pinjaman baru.

Terjadilah gali lobang timbun lobang. Tanpa sadar leher  si nasabah telah terbelit kabel  utang. Sulit untuk melepasnya.

Jika ditelisik lebih dalam, sedikitnya ada 3 penyebab yang menjerumuskan oknum emak-emak  dalam jeratan utang piutang,  yang tidak patut ditiru.

Sebab Pertama: Berutang tanpa Sepengetahuan Suami

Maaf. Bukan bermaksud  ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Ada lho, oknum  perempuan bikin utang tanpa sepengetahuan suaminya.  Bukankah waktu mengajukan dan pencairan pinjaman tidak perlu persetujuan pihak ke tiga.

Giliran ditagih suaminya lepas tangan. “Itu bukan urusan saya. Dia berutang tak ngasih tahu saya.”

Dampaknya, istri pusing sendiri, panik sendiri.  Coba dari awal diberitahukan secara jujur dan terbuka, mungkin akan  ada sulusi lain dari suami. Kalau benar-benar uangnya untuk keperluan mendesak. 

Sebab ke Dua: Gaya Hidup yang Kebablasan

Sejatinya Islam tidak melarang umatnya berutang. Yang penting jelas peruntukannya.  Bukan untuk urusan yang bersifat negatif.   Jangan lupa  iringi dengan niat untuk membayarnya. .

Jangankan manusia biasa seperti kita-kita. Rasulullah pun pernah berutang, dengan menggadaikan baju besinya pada seorang Yahudi.  Uangnya beliau gunakan untuk membeli gandum buat makan bersama keluarganya. Tetapi beliau wafat tidak sepersen pun meninggalkan utang.

Celakanya, banyak oknum ibu-ibu yang terbelit utang  tersebab  perkara  yang kurang perlu. Beli mukena bagus harga sejuta.  Salatnya cuman dua kali setahun. Idul Fitri dan Idul Adha. 

Ada juga yang berani berutang untuk memanjakan anak. Beli HP mahal, baju mahal. Alasannya kasian. Cuman dia yang pakai HP murahan. Malu sama teman-teman. Sementara  untuk memenuhi kebutuhan dapur   orang tuanya engos-engosan.

Sebab ke Tiga: Daya Berpikirnya Dangkal

Sepanjang pengetahuan saya, orang yang sering dibelit utang itu biasanya cara berpikirnya dangkal. Asal ada peluang untuk ngutang, Hep ..., langsung dia sambar. Meskipun barang yang dia utangi bukan untuk kebutuhan wajib.

Mereka kurang mikir pemasukan suaminya berapa. Kalau dibayar utang semua besok mau makan apa. Waktu ditagih diomelin gayanya cuek . Bahkan dimarahi pun dia biasa-biasa saja.

Simpulan, Saran dan Penutup

Suka ngutang itu bukan penyakit yang perlu disembuhkan. Ia adalah tabiat jelek yang merusak kepribadian seseorang. Asal ada niat untuk menjadi lebih baik, dia pasti bisa berubah.

Kuncinya, jauhi 3 penyebab di atas, lakukan 3 trik berikut,  (a) tanamkan tekad untuk berubah (b) teguhkan hati untuk menahan diri dari godaan setan ngajak berutang, (c)  katakan tidak pada berutang. Kalau kondisi  benar-benar  “genting”, serahkan saja pada suami.  

Demikian 3 penyebab seseorang sampai terjerat utang  dan 3 trik untuk menjauhinya. Artikel ini ditulis berdasarkan  pengamatan saya pada lingkungan sekitar. Mungkin kondisinya berbeda dengan fakta yang pernah Anda saksikan. Semoga bermanfaat. 

Baca juga:   

****

 Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

24 komentar untuk "Tak Mau Terjerat Utang? Jauhi 3 Hal Ini, Lakukan 3 Trik Lainnya"

  1. Semoga kita dijauhkan dari jeratan hutang. Hidup berkecukupan ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Berutang itu awalnya manis, kadang akhirnya pahit. Selamat malam, terima kasih telah singgah, ananda Amirotul Choiriyah. selamat malam.

      Hapus
  2. Wah nasehat yang sangat pas sekali bagi saya yang baru awal-awal bekerja. Terimakasih bu. Memang saya was-was dan berhati-hati terhadap utang.
    Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau baru kerja diberikan teman minjam, wah .... Jangan dulu ananda. Kasih sama orang tua dulu lah. He he .... Selamat malam. Selam terima kasih telah mengapresiasi, ansnda Supriyadi.

      Hapus
  3. Hihihi, Ozy udah tobat minjemin duit Nek. Org yg kmren kawan sekarang jd musuh krn ngilang. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ternyata kisah peminjam curup tak beda dengan yang di sini. Nenek juga kapok berurusan dengan ngasih pinjam. Lebih baik disedekah saja alakadarnya. Mending kawan menjadi lawan. Gara2 utang saudara jadi orang lain. Terima kasih telah singgah. Selamat malsm ananda Ozy.

      Hapus
  4. Ya Allah semoga bisa terhindar dengan trik ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, Mbak/Mas. Masalah yang satu ini kuncinya di tangan kita. Memang sudah jadi tabiat pelakunya. Padahal semua orang pasti pernah betutang. Termasuk saya. Asal jangan menjerat diri dengan utang. Terima kasih. Selamat siang.

      Hapus
  5. Semoga kita terhindar dari perkara utang, bunda.. Kebetulan beberapa waktu lalu adik saya terus menerus dihubungi pihak pinjaman online, rupanya temannya yang terlibat pinjol memberi nama dan nomor telepon adik saya. Kasihan adik gak tau apa-apa. Saya sampai melarang adik supaya tidak bergaul dengan temannya itu, karena memang dari dulu saya lihat gadis itu hidupnya gak hedon, sementara kedua orang tuanya gak peduli, ckckck miris. Ya anak umur 20th sudah terlibat pinjaman online demi memenuhi gaya hidupnya biar terlihat keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow .... Kok bisa begitu ya? Bisa dituntut tuh orang . jebloskan ke penjara. Selamat malam, Say. Terima kasih tambahan informasinya. Selamat malam.

      Hapus
  6. Sepertinya gaya hidup itu yang kadang bikin orang pengin hutang. Keuangan nya hanya cukup untuk beli motor beat, tapi akhirnya beli motor Nmax, mana kredit lagi.

    Giliran tiga bulan tidak bayar, motornya ditarik, hilang deh uang DP nya.

    BalasHapus
  7. Gaya hidupnya sembrono. Tanpa mikir muka dan belakang. Asal ada peliuang ngutang, eksekusi terus. Selamat malam, Mas Agus

    BalasHapus
  8. untungnya akau ga pernah punya utang, tapi jadi yang di utangin sering :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering diutangin, dapat pahala. Tapi kalau yang ngutang tak mau bayar? He he ... Apa gak jadi petaka? Selamat malam, Mas Khanif.terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
    2. Wah berarti mas khanif banyak duitnya nih, makanya orang pada ngutang sama mas.๐Ÿ˜„

      Hapus
    3. Kurang mau berutang bukan berarti banyak duit, Mas Agus. Tapi lebih pada kemampuan menahan diri supaya tidak dililit utang. Terima kasih Mas.

      Hapus
  9. Kalo nggak punya hutang tidurpun pules ya bu hajjah ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, ananda Srie. Terima kasih telah mengapresiasi. Selamat malming.

      Hapus
  10. Terima kasih bu nur sudah mengingatkan, apalagi sy ygvsering ngutamg di kantin sekolah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiada yang salah dengan berutang ananda Norfahrul, Yang perlu dijauhi terjerat utang sehingga tak bisa dibebaskan lagi. He he .... Selamat malam. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  11. Aku termasuk orang yang anti bgt sama utang, males mikir nyicilnya, apalagi kalau utangnya sama orang yg dikenal, aduh jangan sampai. Kecuali untuk rumah karena ga mampu beli cash jadi KPR kredit hihihi

    Semoga kita selalu terhindar dari jeratan utang ya bunda, selalu hidup berkecukupan sesuai kemampuan, amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, ananda. Tapi bukan berarti kita terhindar sama sekali dari ngutang. Yang perlu diwaspadai "terjerat utang" alias tak bisa melepaskan dari dari belitan utang. Sehingga berakibat buruk bagi kehidupan kita. Selamat siang. Terima kasih telah hadir, ananda Rey.

      Hapus
  12. Saya termasuk orang yang sebisa mungkin menghindari hutang, Bu. Takut saya tuh sama bunga dan lain sebagainya. Bisa jadi hutangnya gak seberapa, bunganya beranak pinak jadi banyak. Hiiiiii, ngeri. ๐Ÿ˜ฑ

    Sebenarnya, saya gak anti banget sama hutang. Kalau hutangnya untuk hal yang benar-benar perlu, sepertinya gak masalah. Kalau hurang untuk menuruti gaya hidup yang memaksa itu lho... Duh..

    BalasHapus
  13. Berutang itu soal biasa, asal jangan terbelit utang sepanjang masa. Kalau untuk hal yang mendadak tak ada salahnya berutang. Yang bikin kita terjerat itu berutang membabi buta. Tdak disertai niat untuk membayarnya. Terima kasih, ananda Roem. Maaf telat merespon.

    BalasHapus