Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 6]

Ilustrasi Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 6]. Foto S. PRAWIRO
 
“Hari itu Mamak melahirkan lagi.” Begitu Eyang Wiro mengawali kisahnya.  Cerpen yang dia beri judul “Peri Gigi”  ini adalah kisah ke 6 dari karyanya Dongeng Orang Kecil.

Kalimat pembuka cowok ganteng pemilik tahi lalat di hidung ini menyentak memoriku. Masa kecilku yang telah lama memumi kini berkelebat kembali.

Hatiku berbisik, Mamak Eyang Wiro lebih hebat daripada Emakku. Tetapi bedanya  cuman setipis kulit ari. Kalau si Mamak mengandung dan  melahirkan 10 kali, si Emak cuman  9 kali.

Perbedaan mencoloknya ada pada cara Eyang Wiro dan aku menyikapi kondisi. Panasara? Klik di sini dan baca Cerpen ini sampai habis.

Peri Gigi

Ilustrasi Dongeng Orang Kecil [Part 6]. Peri Gigi. (Foto: NURSINI RAIS)
 
Hari itu, Mamak melahirkan lagi. Aku tidak menyangka bayi itu adalah adik kami yang paling bungsu. Mengingat Mamak begitu hobi hamil dan melahirkan.

Sampai tetangga terkaget-kaget setiap kali melihat perut Mamak yang sebentar-sebentar buncit.

“Hamil moko seng mamakna Andri, hebat-nu?”

Kalau hamil lagikah Mamaknya Andri?” Begitu tanya yang sempat terlontar. Mamak hanya menyambut dengan senyum. Baginya mengandung adalah tugas istri. Yang penting suami rajin cari uang, tidak selingkuh, dan tidak main tangan, maka tidak masalah.

“Apa? Sudahmi lagi melahirkan Mamak-nu?”

Keheranan senada.

“Perasaan baru kemarin habis melahirkan, masa sudahmi lagi beranak.”

Pertanyaan semacam itu kerap kali mampir.

Hari masih pagi saat itu. Risma kakakku yang nomor tiga, Edha, dan Nita pergi menjenguk Mamak ke rumah bidan. kami harus menyeberangi jalan tak jauh dari rumah. Risna menggendong Nita yang baru pertama kali akan punya adik. Dan aku menggandeng tangan Edha si gigi hitam.

Sesampai tujuan, kami mendapati Mamak sudah melahirkan. Adik kami yang sangat lucu, ada burung-nya. Lengkaplah sudah harta Mamak dan Bapak. Lima anak perempuan dan lima anak laki-laki.

Kami bahagia.

Kepada siapa pun, Bapak selalu membanggakan anak-anaknya. Bahkan hingga kami semua dewasa dan menikah.

“Inilah harta yang sebenarnya.” Dengan kata lain, Bapak tidak sudi disebut orang miskin.

Dari dulu aku suka minta disisakan makanan, dimana pun mamak dirawat. “Minta, Mak. Jangki habiskanngi.”

Sama seperti ibu-ibu lainnya yang suka menyisakan snack kardusan yang didapat di pengajian untuk  anaknya, Mamak pun demikian. Ia mengalah demi melihatku mencicipi masakan Bu Bidan.

Setelah puas menemani Mamak dan adik bayi, kami pamit pulang. Wajah si kecil terbayang-bayang. Sepanjang jalan kami main tebak-tebakan, kira-kira adik mirip siapa.

Kakak bilang mirip Mamak, Edha bilang mirip Bapak. Tapi aku sendiri merasa adik bungsuku mirip Anto.

Tidak terasa setelah berjalan cukup jauh, sampailah kami di pinggir jalan raya. Kami bersiap menyeberang dengan formasi yang sama seperti ketika berangkat. Beberapa pengandara motor tampak mengenakan sarung dan baju koko, kemungkinan mereka akan pergi Jumaatan.

Tengok kiri-kanan, pelan-pelan kami melintasi jalan beraspal.

Tiba-tiba saja tangan Edha terlepas. Gadis kecil itu lari sendriri. Jantungku seakan lolos dari tempatnya.

Dari arah lain, kendaraan  roda dua melaju setengah kencang. Suaranya bising. Badanku lemas seketika. Aku terpaku menyaksikan tubuh mungil Edha tertabrak moncong motor. Adikku terpental, tersungkur di aspal.

Risna berteriak.

Badanku gemetaran.

Motor tetap berlari meninggalkan Edha yang terbujur di tengah jalan.

Dari tempat kami berdiri, tampak sebuah mobil dari arah berlawanan. Dan Edha tergeletak tepat di jalurnya.

Tanpa pikir panjang, aku berlari. Mobil semakin mendekat. Aku membalikkan Edha kecil yang wajahnya berlumuran darah.

Entah mendapat kekuatan dari mana, aku mampu mengangkat tubuh yang bagiku cukup berat, kemudian membawanya ke tepi. Jantungku berdebar kencang. Ngos-ngosan.

Wajahnya luka-luka. Darah berleleran dari mulut, giginya banyak yang tanggal.

“Jangko, Dek, Jangko mati.”

Jangan Dek, jangan mati.

Edha terbatuk, menyemburkan cairan merah segar.  Aku tidak ingin salah satu adikku mati di hari kami menyambut kelahiran adik baru. Aku tidak ingin kehilangan saudara-saudaraku. Aku tidak ingin ada kakak atau adikku yang mati. 

Suasana berubah ramai. Orang-orang berdatangan mengelilingi kami. Ada yang pergi memanggil Bapak. Namun kakak pertama kami, Andri, yang datang karena Bapak belum pulang. Hari itu Bapak lebih giat menarik becak dari biasanya untuk menebus biaya persalinan.

Adik segera dilarikan ke rumah sakit oleh Andri. Sementara kami bertiga pulang.

Sesampai di rumah, Risna membanting sebuah benda bulat berbahan tanah liat dari tanganya. Uang kertas dan koin-koin berhamburan.

Tidak kusangka kakkku yang gendut itu punya celengan. Hobinya makan, membuatku tak percaya ia mampu menyisihkan uang. Aku yakin dia pasti bekerja keras menyembunyikan benda itu dari orang rumah.

Recehan kami kumpulkan lalu bergegas naik pete-pete-sebutan untuk angkutan umum di Makassar-  menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan kami gelisah. Memikirkan adik, membayangkan keadaan Mamak-orang yang tak segan-segan menangis keras-keras jika tahu hal buruk menimpa salah satu anaknya.

“Jangan ada yang kasih tahu Mamak. Nanti air susunya tidak keluar karena kaget.” Kakak menekankan.

Tiba di rumah sakit di daerah Tamalanrea, kami menanyakan pasien baru korban tabrak lari. Kami dianjurkan langsung ke UGD. Namun setelah lelah berkeliling, sampai pusing menyaksikan banyaknya orang sakit, tetap saja adik tak berhasil ditemukan. Akhirnya kami memilih  pulang.

Di rumah, Bapak belum juga terlihat. Di tengah kebingungan, seorang tetangga menyarankan  agar kami ke Puskesmas. Benar saja. Adik mendapat perawatan di sana. Kondisi adik tidak separah yang kubayangkan, hanya sedikit luka luar. Dan ompong.

Sampai di rumah kami menyaksikan Bapak marah besar.  Dia langsung mencari sang penabrak, sibuk bertanya sana sini. Hebatnya, Bapak berhasil menemukan pelaku yang ternyata orang kompleks sebelah.

Setelah hari itu, wajah Bapak berubah sumringah. Bapak senang menerima uang yang jumlahnya lebih besar dari biaya berobat di Puskesmas. Orang kaya yang menabrak Edha ketakutan sekaligus merasa bersalah karena telah menjadi pelaku tabrak lari.

Lucunya, Bapak  semakin rajin berkunjung untuk minta uang. Setiap kali tertimpa kesusahan, ia ke sana lagi. Seperti sengaja memanfaatkan rasa bersalah sang penabrak.

Untung orang itu berhati peri. Atau mungkin sebesar itu rasa takutnya.

Tidak kusangka hikmah tabrakan itu begitu dahsyat. Gigi Edha tumbuh bagus, jadi putih dan rata. Setelah dewasa, ia menjelma menjadi peremupan cantik dengan senyum menawan. Berbanding terbalik dengan kondisinya dulu yang memiliki gigi geripis hingga menghitam akibat gula-gula.

Ketika kami dewasa, pernah sekali aku menyeletuk, “Untung waktu itu kamu ditabrak, Dek. Keluarga bisa makan enak, gigimu pun jadi cantik.”

Adiku yang sudah menjadi salah satu menager di cafe XXI itu melotot kesal.

Teringat cerita rakyat yang tersohor di berbagai negara. Konon, jika gigi susu kita tanggal, simpanlah ia di bawah bantal. Maka malamnya, Peri Gigi akan datang dan menggantinya dengan uang.

Anak-anak begitu bahagia, tanpa mereka tahu bahwa Peri Gigi yang begitu murah hati itu adalah orang tua mereka sendiri. Dan baru akan menyadarinya ketika beranjak remaja.

Itu kisah hubungan antara anak dan orang tua  yang jika dituliskan akan terdengar mengharukan.

Sayangnya bagi Edha, sang penabrak itulah Peri Gigi yang telah mengayunkan tongkatnya. Yang berbaik hati memberi keluarga kami banyak uang. Karena gigi-gigi Edha kecil banyak yang patah. Lantaran ulahnya. (Bersambung)

Baca juga:

*****
Penulis, S. PRAWIRO
Jakarta

12 komentar untuk "Cerpen Bertema Kehidupan | Dongeng Orang Kecil [Part 6]"

  1. Asyik sekali saya membaca Peri Gigi.
    Terima kasih Ibu Nur rajin kongsi kisah Dongeng Orang Kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, ananda Ami. Semua cerpennya ada 10. Baru tayang 6. Sering berkunjungya. Terima kasih apresiasinya. Selamat malam.

      Hapus
  2. sedih ceritanya, tapi penuh makna....

    Thanks for sharing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah hadir, Mas Tanza. Salam sehat penuh berkah dari tanah air.

      Hapus
  3. Bagus ceritanya Bu, apalagi dialognya, saya familier banget hahaha.
    Btw, teman saya dulu punya gigi yang bagus banget.
    Imut, rata, rapi, kayak mutiara deh.

    Pas kami terkagum-kagum, dia bilang.
    Udah deh, sekarang aja orang,liatnya bagus, tapi kecilnya dia bikin ortunya nyaris jantungan.

    Lantaran dia jatuh dan mulutnya penuh darah, eh giginya rontok semua di bagian depan.

    Nggak tahunya pas tumbuh lagi, giginya jadi cantik banget :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga suka tulisan S. Prawiro ini, ananda Rey. Bahasanya ringan, mudah dipahami.

      Kadang karena gigi rontok secara alami itu pergantiannya tidak serentak. Makanya dia tumbuh sering tidak rata. Selamat malam, ananda Rey. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  4. bahasa inggrisnya tooth fairy ya
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, telah singgah, Mas Rezky. Selamat malam.

      Hapus
  5. Sebentar bu, saya ke belakang nyari part 1 nya ya. Salam, entar balik lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, ananda Supriyadi. Terima kasih telah mampir. Selamat sore. Salam siksesn selalu.

      Hapus
  6. Setuju banget sama kalimat ini bun

    "Baginya mengandung adalah tugas istri. Yang penting suami rajin cari uang, tidak selingkuh, dan tidak main tangan, maka tidak masalah"

    Karena sebenarnya yang bermasalah itu mereka yang selalu mencela tanpa bercermin. Terima kasih untuk part 3 dengan pesan moralnya yang sangat bagus bun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha .... Andaikan suami yang mengandung, mungkin bayinya kececer di tengah jalan. He he ... Selamat sore, ananda Radhika. Doa berkah untuk keluarga di sana.

      Hapus