Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Kerugian Mengintai Saat Orang Tua Menunggu Anaknya Belajar di Kelas

Ilustrasi: 5 Kerugian Mengintai  Saat Orang Tua Menunggu Anaknya Belajar di Kelas
 
Mengantar anak SD  ke sekolah sudah menjadi trend bagi orang tua di daerah saya. Hal ini berlangsung belasan tahun terakhir. Tepatnya sejak TKI  bolak-balik dari dan ke Malaysia. Mungkin ketularan tradisi.

Beda dengan era sebelumnya. Anak-anak pergi dan pulang sekolah  bersama teman-temannya. Alhamdulillah, sepengetahuan saya tiada terjadi apa-apa terhadap mereka. Karena rata-rata gedung SD kurang lebih radius 1 km dari pemukiman penduduk.

Antar jemput anak ke sekolah itu syah-syah saja.  Tiada aturan yang melarang. Terlebih zaman sekarang, anak-anak tak bisa lepas dari pengawasan orang tua.

Yang  kurang bagus, sudah diantar orang tua menunggunya sampai usai jam belajar. Kalau bulan-bulan pertama okey-lah, dapat dipahami.  Jika terus-terusan, bahkan  sampai naik ke kelas 4 menurut saya, itu lebay. Hal ini terjadi sekolah tempat saya pernah mengajar. Walaupun pelakunya tidak banyak.

Sekadar mengantarkannya melewati jalan, mungkin hal yang lumrah.  Setelah  siswa dan guru masuk kelas Emaknya boleh pulang.

Hal seperti  ini berlaku juga di Raddlebarn School Birmingham Inggris. Di sana  anak-anak  kelompok  Nursery  3><4 tahun (PAUD-TK) pun tak boleh ditunggui.  Begitu bel masuk dibunyikan, orang tua harus meninggalkan pekarangan sekolah. Jam pulangnya dijemput lagi.  

Jika ditimbang-timbang, menunggu anak berjam-jam di sekolah  itu banyak ruginya daripada untungnya. Umpamanya :

Anak-anak jadi manja

Ilustrasi: 5 Kerugian Mengintai  Saat Orang Tua Menunggu Anaknya Belajar di Kelas
 
Menyayangi anak adalah rahmatan lil alamain. Karena kasih sayang itu timbul dari RahmanNya Ilahi. Jangankan manusia, hewan pun sayang kepada  anaknya.  Kalau sampai melindunginya berlebih-lebihan, itu ceritanya akan lain. 

Biasanya di sisi Emaknya anak-anak itu cengeng bin manja. Dikit-dikit nangis. Pensil patah nangis, tak bisa nulis nangis, dicolek teman dikit nagis. Entah itu anak cewek atau cowok. Awal-awal masuk SD itu dua-duanya beda tipis.

Celakanya, nendengar tangisan anaknya, si Emak langsung bereaksi. Bahkan tidak segan-segan menerobos masuk kelas tanpa permisi.  Allahuakbar.

Mengganggu kenyamanan

Ilustras: 5 Kerugian Mengintai  Saat Orang Tua Menunggu Anaknya Belajar di Kelas
 
Buntut dari kemanjaan anak tadi kadang-kadang dapat mengganggu kenyamanan kelas. Pengalaman saya, mengajar di kelas  1.  Dalam kelas ada satu anak cowok  manja sekali. Setiap hari belajar minta emaknya mendampingi. Ditinggal ke kamar kecil saja dia menangis.

Bayangkan! Jika dalam satu kelas ada dua anak yang cengeng bin manja beigitu. Apa yang akan terjadi? 

Orang tua yang mencubit anaknya di kelas juga pernah. Gara-garanya sang anak tidak mau nulis. He he  .... Barangkali karena terlalu ambisi, supaya anaknya seperti anak orang lain. Yang ngatur tempat duduk anak-anak seenaknya juga ada. 

Tantangan terberat bagi guru kelas 1 adalah bulan-bulan pertama dan ke dua. Kadang-kadang kita minta dia mengerjakan tugas, dia malah merintahkan kita. 

“Ayo ditulis ya!”

“Saya tak bisa. Ibu saja yang nulis,” balasnya.  he he ....

Makanya dalam urusan ini diperlukan kenyaman. Dalam artian kelas harus bebas dari segala bentuk gangguan, baik dari dalam maupun dari luar.

 Banyak waktu terbuang percuma

Zaman saya masih aktif,  kalau tak salah ingat kegiatan belajar kelas 1 mulai pukul 7,30,  sampai jam 10.15, (kalau salah mohon dikoreksi). Jika rentang waktu tersebut dimanfaatkan untuk melakukan pekerjaan rumah,  berapa  banyak piring atau pakaian kotor yang selesai dicuci, halaman yang siap disapu dan lain sebagainya. 

Menambah dosa

Biasanya ibu-ibu yang menunggu anaknya di luar kelas itu bukan satu dua orang. Setidaknya 8-10 orang,  tergantung jumlah anak-anak yang diantar.

Yang namanya emak-emak, pasti senang ngumpul sambil ngerumpi. Bermacam topik layak diangkat. Mulai isu terhangat dalam desa, sampai  urusan  hubungan suami istri tetangga pun enak didiskusikan. Ha ha ....  Bukankah itu menambah dosa?

Menimbulkan gesekan sosial

Apabila emak-emak berhimpun  lebih dari 2 atau 3 orang, banyak sedikitnya pasti  menimbulkan masalah. Kadangkala  pertikaian sesama anak-anak, orang tua ikut campur. Kasus ini terjadi bukan  sekali diua kali. Saling cakar pun pernah.

Rata-rata orang awam  susah diajak kompromi. Kalau ditegor mereka cuek. Agak keras gurunya dibilang sombong.

Pernah juga dibuat aturan, mengantar anak  diizinkan sebatas pagar, kemudian  pagarnya dikunci.  Eh ...,  cuman berjalan beberapa saat. Kemudian ambiyaar lagi.

Sekilas ulasan ini menggambarkan ketidak desiplinan sebuah sekolah. Tetapi, realitanya begitu. Namun, di daerah kami  kelaziman ini tidak tumbuh subur pada semua sekolah. Tergantung masyarakatnya.

Di  SD yang pernah saya pimpin misalnya. Setiap awal tahun pembelajaran,  ada saja kasus serupa. Beberapa orang tua murid baru, tak mau meninggalkan anaknya  di sekolah tanpa didampingi.

Enaknya, kami  punya seorang guru perempuan yang  tegas. Beliau ahli mengajar di kelas 1. Setelah bel masuk dibunyikan, jangan coba-coba orang tua siswa mundar-mandir di pekarangan sekolah.

Apalagi masuk kelas dengan tujuan mengurus keperluan anaknya. “Kalau kalian masuk, silakan mengajar,  saya keluar,”  katanya.

Demikian kira-kira 5 kerugian mengintai, saat orang tua menunggu anaknya belajar di kelas. Saya yakin kasus ini tidak terjadi di daerah Anda. Terakhir mohon maaf, ulasan ini bukan bermaksud mendikte, hanya  sekadar mengingatkan. Terlepas itu semua terpulang kepada Anda.  Semoga bermanfaat.

 Baca juga:  

*****
Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

26 komentar untuk "5 Kerugian Mengintai Saat Orang Tua Menunggu Anaknya Belajar di Kelas"

  1. Biasa hantar kerna urusan diteruskan, mengharap guru dan mendoakan mereka dilindungiNya. Terima kasih atas perkongsian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, kawan. Terima kasih juga telah singgah. Selamat malam dari seberang.

      Hapus
  2. Jadi inget waktu dulu pas saya tinggal di desa ayah (pas kls 1 sd), perjalanan dari rumah ke sekolah cukup jauh, capeknya pas berangkat itu turun terus sampai lutut terasa linu, pas pulang ya nanjak sampe ngos ngosan tapi ya gitu saya jalan paling bareng anak-anak lain bukan sama orangtua atau di anterin otangtua.

    Artikelnya fakta dilapangan banget bund, selamat malam, salam sehat selalu yaa bund.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat kembali, ananda Radhika. Wah, pernah juga sekolah di desa ya. Biasanya sering melewati jalan mendaki menurun itu membuat badan jadi sehat dan kekar. Terima kasih telah singgah. Selamat istirahat.

      Hapus
  3. Terimakasih untuk artikelmya Bu Nur.. inspiratif,.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Mas Warkasa. Terima kasih juga telah singgah. Selamat menyambut akhir pekan.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Terima kasih, selamat malam, ananda Nita. Salam sehat untuk semua.

      Hapus
  5. Sejak TK anak pertama saya hanya diantar tidak ditunggui, pas pulang baru dijemput. Tapi banyak yang nyinyir katanya saya tega karena membiarkan anak saya sendiri di Sekolah. Suka heran sama orang-orang yang merasa paling tahu seperti itu. Akhirnya ya udahlah di kalemin aja. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Prindipmu sudah benar, ananda Pipit. Zaman sekarang wanita yang masih bisa produktif, membuang-buang waktu percuma, menurutku rugi. Kecuali sambil nunggu anak belajar, emaknya jualan di sekolahan. Selamat sore. Terima kasih telah singgah.

      Hapus
  6. ya, benar tulisannya....
    ๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    # Have a wonderful day

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah singgah, Mas Tanza. Selamat sore. Salam sehat dari tanah air ya.

      Hapus
  7. Sepakat bun tentang jadi banyaknya dosa kalau berkumpul ibu-ibu dengan alasan nungguin anak-anak, karena ujung-ujungnya pasti bergosip selama menunggu itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... Fakta yang tak bisa dibantah ya, ananda Regen. Selamat sore, terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus
  8. Betul sekali bu, itu yang saya rasakan saat saya sekolah SD..mendiang ibu nunggu ujungnya saya manja dan nangis jika ditinggal..setelah punya anak justru saya biarkan anak dilepas ehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, ananda Herva. Kalau dimanja2 anak jadi lambat mandiri. Malah tak bisa apa2. Ntar kita tiada, mereka akan canggung. Kasian kan?
      Terima kasih telah singgah, selamat sore.

      Hapus
  9. Wah Bunda, aku jadi teringat masa sekolah, terutama masa masih kecil. Dulu malah 1 SD dengan ayah yang seorang guru. Bukannya dimanja dan lain sebagainya, justru aku takut dengan ayahku sendiri karena justru beliau bikin aku lebih disiplin daripada anak-anak lain.
    Boro-boro manja di sekolah, mau izin aja udah gemetaran duluan. Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Guru lama itu desiplin. Sekarang kalau guru desiplin, tegas, dibilang melanggar uu perlindungan anak. Pasti guru yang disalahkan.
      Selamat sore, ananda einid. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  10. Nostalgia zaman Teddy SD dulu Nek. Alhamdulillah sih nggak ada yang sampai begitu di sekolah SD Teddy.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He he .... Anak milenial tak kenal penderitaan hidup. Apalagi zaman sekarang. Nenek menank nasi bercampur pisang mentah pun pernah mengalami. He he ... Selamat malam, ananda Teddy. Terima kasih telah mengapresiasi. Doa sehat buat keluarga di sana ya.

      Hapus
  11. Laaah zaman aku mulai TK, itu jangan harap ortu diizinin tinggal Bu. Cuma boleh nganter sampe pintu gerbang. Pas SD juga sama.

    Makanya aku seneng di sekolah anakku yg skr, juga begitu. Ortu ga boleh masuk. Harus di liar nunggu. Jadi pas anak2ku awal sekolah baby sitter nya cuma nganterin trus pulang. Ntr dia jemput anak2 lagi. Biar mandiri. Walopun sbnrnya aku pengen mereka bisa pulang sendiri, kayak aku dulu :D. Tapi maklum, dulukan aku di komplek yg memang menyediakan sekolah untuk warga komplek. Lah di Jakarta jni yg mana penculikan marak, aku ga berani lepas anak2 pulang sendiri. Jadi selalu dijemput. Tapi untuk urusan nungguin, aku ga izinin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ananda Fanny keren. Ibu muda modern. Berdopmpet tebal tentunya. Tapi tidak mau memanjakan anak berlebih2an.
      Ya, di Jakarta, jangan ah, membiarkan anak pulang dan pergi sekolah sendirian. Mengerikan. Cucu bunda di kota Jambi saja dari kls 1 SD, sampai sekarang kls 1 SMP, tak pernah tanpa antar jemput. Tapi tidak pernah ditunggu. Kecuali Waktu di PAUD. Diantar dan tunggu sama ART-nya. Terima kasih telah berkomentar. Selamat malam. Doa sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  12. HIhihi, bukan saya banget ini mah :D
    Saya tumbuh besar dengan dikurung sama Bapak, gaboleh main ke luar, jadilah saya kayak ansos, kurang nyaman bergaul sama semua orang.
    Jadi dulu waktu pertama kali antar si kakak sekolah, cuman hari pertama saya nungguin di kelas, hari keduanya saya males, terlebih si kakak juga nggak butuh saya di dalam, dia pede aja tuh explore kelasnya, meski belum mau ngobrol sama gurunya :D

    Nggak nyaman di dalam karena diajak ngobrol terus kayak diinterograsi gitu.
    Tinggal di mana?
    Asli mana?
    Suami kerja di mana?
    Banyak duit nih ?
    Kenapa belum ada anak kedua?
    Astagaaaaaa... bete dengarnya :D

    Mending di luar, terus saya pura-pura sibuk lihat HP wakakakaka

    BalasHapus
    Balasan

    1. Si Kakak. Keren. Artinya dia anak mandiri. Untuk apa ditunggui. Enak di rumah ngutak atik keyboard. He he.

      "Tinggal di mana? Asli mana? Suami kerja di mana? Banyak duit nih ?
      Kenapa belum ada anak kedua?" >>> ha ha .... Di desa malah keponya level akut. Terima kasih telah hadir. Selamat istirahat.

      Hapus
  13. Wkwk saya gak pernah kepikiran, terbyata banyak yah kerugiannya dan saya setuju sih nek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapak2 gak kepikir gawean aneh Emak2. He he ... Selamat malam, cucunda. Terima kasih telah mengapresiasi

      Hapus