Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Simak! Cara Melindungi Anak dan Gaya Pacaran Ala British

Catatan Perjalanan ke Inggris (8)

Para orang tua mengantarkan anak-anaknya di Raddlebarn Primary School (Foto: Istimewa)

Pada sesi ke 8 ini saya mengupas dua topik sekaligus. Yakni, tentang cara melindungi anak dan gaya pacaran ala British.

Sekilas seperti kurang konek. Tapi hakekatnya keduanya saling berhulu dan bermuara. Agar lebih jelas, simak detailnya berikut ini!

A. Perlindungan Terhadap Anak

1. Antar Jemput ke Sekolah

Ketika mengawali paragraf ini, pikiran saya melayang ke enam puluh tahun silam. Dikala hari pertama Emak mengantar saya ke Sekolah Rakyat atau SD.

Sambil memegang ujung gebayanya, saya berlari-lari kecil menyesuaikan langkah perempuan udik 22 tahun itu, menempuh jarak 1 kilometer, Duh ..., sangat indah untuk dikenang.

Apakah hari berikutnya masih diantar? Tidak. Beda dengan di Inggris. Antar jemput anak ke sekolah adalah suatu keharusan. Khususnya siswa usia Primary School, dari year 0 sampai year 6. Apa lagi anak-anak Nursery (3><4 tahun).

Jika tidak, biasanya ada teguran dari guru di sekolah. Bisa-bisa orang tuanya dikenakan pasal menelantarkan anak.

Seorang mahasiswi asal Indonesia pernah diingatkan pihak sekolah, gara-gara mengantarkan putera-puterinya terlalu pagi. Dia meninggalkan anaknya di pekarangan sekolah tanpa ditemani pengasuh.

Seyogyanya, anak-anak didampingi sampai bel masuk pukul 8.45. Habis itu orang tua boleh pulang. Kemudian menjemput lagi pukul 15.00.

Jika suatu ketika ayah dan ibu siswa berhalangan atau tak bisa menjemput, titip pesan dulu pada pihak sekolah bahwa si murid pulangnya ikut Ibu atau Bapak Anu.

Penerima pesan pun harus sosok yang dikenal Guru. Kalau tidak, jangan harap bocah-bocah tersebut diizinkan keluar.

Baca juga:  Keanehan Bermunculan di Cyti Centre  

2. Hak Anak

British sangat menjunjung tinggi hak anak untuk dilindungi. Misalnya, seorang muslim memaksakan putra-putrinya berusia di atas tujuh tahun agar mengerjakan shalat. Tersebab ini seorang anak merasa diperlakukan kurang adil, dia bisa saja melaporkan ibu dan bapaknya ke polisi.

Kasus seperti ini pernah menimpa keluarga malaysia di Swedia. Tetapi belum ditemui di Inggris.

Contoh lainnya, meninggalkan anak sendirian di rumah, orang tuanya pergi. Tindakan ini juga bisa dikategorikan menelantarkan anak. Pemenintah setempat punya wewenang mencabut dan mengambil alih hak asuh terhadap anak. Atau menawarkannya kepada lembaga maupun individu yang berminat mengadopsi anak.

Selama di Inggris, belum sekali pun saya menemui anak usia Sekolah Dasar apa lagi anak balita, tanpa didampingi orang dewasa. Baik ke sekolah maupun bermain. 

 Baca juga:  Meluncur ke Sally Oak

3. Pergaulan Bebas

Bagi saya selaku nenek, pergaulan bebas adalah sesuatu yang mengkhawatirkan terhadap pertumbuhan mental cucu saya di Inggris sana.

Menurut salah satu mahasiswi asal Indonesia yang tak mau disebutkan namanya, banyak siswa year 4 hingga year 6 (setingkat kelas 4 – kelas 6 SD), sudah berani menikmati pergaulan bebas yang paling mengerikan.

Wajar, kalau cewek-cewek Primary saja sudah banyak yang hamil. "Heran juga. Fenomena ini bisa terjadi di tengah pengawasan orang tua yang ekstra ketat,” kata sang mahasiswi. 

Baca juga: Kos-kosan dan Grasi Mobol di Sally Oak

B. Berpacaran Ala British

1. Pemandangan Umum

Bagi saya sulit membedakan apakah sepasang anak manusia itu berpacaran atau berteman biasa. Sebab, laki-laki dan perempuan berpelukan dan berciuman di khalayak ramai merupakan pemandangan umum.

Pelakunya bukan hanya pasangan muda. Orang tua pun demikian. Dari jauh, keduanya mengembangkan ketiak dan saling mendekat. Seperti pesawat perang mau bertempur. Hep …, bertemu langsung cipika cipiki. Berlanjut jilat bibir, jilat lidah. Huwa ha …! Memalukan sekali.

Belum lagi pasangan yang mendengus mesra di atas kereta, di ruang tunggu rumah sakit dan tempat-tempat publik lainnya. Allaahuakbar.

Semula saya menganggap pemandangan tersebut tak lumrah dan luar biasa. Lama-lama, mata ini terbiasa dan mengibaratkannya sebagai seremonial meramaikan dunia.

Baca juga: Kepedulian Bertetangga di Sally Oak, Birmingham,Inggris

2. LGBT

Suatu sore, saya diajak Arie (menantuku) ke Queen Elizabeth Hospital Birmingham. Ada mahasiswa asal Indonesia yang diopname. Pulangnya kami agak lama di lobi belakang, menjelang taksi datang menjemput.

Setiap melihat mobil jenis taksi yang mengarah ke tempat kami duduk, mata saya jelalatan, fokus ke driver dengan harapan dia adalah personil yang telah ditelepon barusan.

Selama menunggu di sana, tak terhitung jumlahnya sedan meluncur dengan kecepatan tinggi. Terus berhenti di hadapan kami. Orang yang dinanti belum juga tampak batang hidungnya..

Tak lama berselang sedan lain muncul lagi. Tetapi mobil pribadi. Pengemudinya pria putih kira-kira tiga puluhan tahun. Di sampingnya ada penumpang cewek black berkaca mata hitam. Gayanya agak Arab-arab Afrika. Lehernya berlilit syal mirip sorban.

Begitu mobil itu berhenti, mereka berciuman dengan beringas. Kemudian sigap cewek maco tadi membuka pintu. Saya katakan cewek maco, karena gayanya maco akut.

Gelang dan kalungnya model klasik entah dari bahan apa. Rambutnya kuning ikal sebahu. Sembari mencuri kerling saya berpikir, mungkin mereka suami isteri. Isu tentang kulit putih suka menganggap rendah ras kulit hitam pun bablas dari memori saya.

Kemudian cewek semampai itu keluar. Pintu mobil pun ditutup. Pengemudi tetap berada di mobil. Rupanya ritual sun-sunan barusan belum usai.

Belum 10 detik, perempuan bercelana ketat itu kembali menyorongkan kepalanya ke dalam mobil lewat pintu depan. Weihhh …! Adegan serupa terulang kembali. Malah lebih sensual.

Dasar nenek kepo. Di sela seriusnya Arie membelai dan memanjakan putri bungsunya, saya mencuri intip aktivitas pasangan black and white tersebut.

Allaahu akbar. Makhluk berkulit mutung itu ada kumis, jenggot dan jakunnya.

Saya menghela napas, beristighfar, dan menahan malu pada diri sendiri. Apa kata Arie andai dia tahu mertuanya ini ngintip aib orang lain.

Inilah cara British mengayomi anak-anak dan gaya pacaran ala mereka, yang saya ketahui selama 1 bulan di sana (2015).

Tentang perlindungan terhadap anak, tentu antar jempt ke sekolah bukanlah satu-satunya tindakan yang mereka lakukan. Masih banyak aspek mendasar lainnya, sesuai dengan falsafah hidup yang mereka anut, baik dalam bernegara maupun di lingkup terkecil. Yaitu keluarga.

Begitu juga tentang gaya pacaran orang sana. Banyak kejanggalan lain yang tidak etis dipaparkan di sini. Salam dari Pinggir Danau Kerinci. Semoga bermanfaat. (Bersambung).

Baca juga: Ingin ke UK? Kenali Dulu Kebiasaan Masyarakatnya  

.****

Ditulis oleh

Hj. NURSINI RAIS.

di Kerinci, Jambi.

 

20 komentar untuk "Simak! Cara Melindungi Anak dan Gaya Pacaran Ala British"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. asiik tuh... hehehe
    nice article, nambah wawasan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat. Amin. Terima kasih telah singgah, Mas Tanza.

      Hapus
  3. So nice article hope can be there
    Josssss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lopyu, Say. Terima kasih telah mampir. Salam sehat penuh semangat.

      Hapus
  4. Artikel yang keren dan bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Ananda Dinni. Salam literasi.

      Hapus
  5. Balasan
    1. He he. Kalau dilihat benaran pasti dia marah. Terima kasih telah mengapresiasi, Mbak Nita. Selamat sore.

      Hapus
  6. Hahaha, beberapa pandangannya jadi memuakkan ya Nek. wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya nenek malu melihatnya. (Yang memuakkan). Lama-lama jadi terbiasa. Terima kasih telah mengapresiasi, ananda. Salam sehat untukmu sekeluarga.

      Hapus
  7. Allaahu akbar. Makhluk berkulit mutung itu ada kumis, jenggot dan jakunnya
    Jujur, saya ngakak di bagian ini bu, hahah.
    Parah sekali yaa, miris. Namun, lebih miris lagi adalah.. faham sepperti ini dikit demi sedikit udah muncul di Indonesia, banyak anak muda hari ini yang menganggap LGBT adalah hal yang normal normal saja, padahal mah parah itu.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penganut pahan begini sangat dilarang agama. Heran juga ya, Mas Dodo. Sebanyak ini lawan jenis yang cantik dan ganteng, mereka memilih pasangan sejenis. Nauzu billahi min zalik. selamat alam. Maaf telat merespon.

      Hapus
  8. Ooh saya pikir sepasang kekasih yang pria nya berkulit putih, pasangannya black .. tapi tetrnyata pasangannya i yang berkulit black tu juga pria ya bu ? Jadi mereka itu pasangan sejenis? Astagfirullah haladzim.. speechless...
    Prihatin sekali..
    Semoga saja pasangan tersebut bisa mendapat hidayah kembali. normal menyukai lawan jenis bukan sesama jenis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, duh. Kapan dapat hidayahnya, Mbak Justcherry. Kalau lingkungan seakan menghalalkannya. Di sana urusan trans jender ada kantornya. Selamat malam, salam sehat untuk keluarga di sana ya.

      Hapus
  9. wah sangat bebas sekali pergaulan dan lingkungan sosial di sana. Tapi, rasa-rasanya anak muda di indonesia mulai meniru gaya berpacaran dan pergaulan seperti hal di negara barat. Apalagi diera yang serba tak terbatas kini, semua bebas berekpsresi dengan dalih keterbukaan pikiran dan yang paling menyebalkan adalah dengan alasan HAM. ckck, menyedihkan. Tak bergaya terkini disangka kolot dan ketinggalan jaman, entahlah ini pemikiran saya selaku anak muda.

    salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, ananda Supriyadi. Dunia sekarang seakan betul-betul tiada batas. Baik di desa maupun di kota.

      Menurutku, lebih baik dikasih label kolot daripada mengikuti aliran yang tidak sesuai dengan tatakrama dan tuntunan agama. Selamat malam. Terima kasih telah mengapresiasi.

      Hapus