Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jelajah Bengkulu Bogor, Beli 2 Oleh-Oleh Paling Jadul

 Kuliner

Jelajah Bengkulu-Bogor, beli oleh-oleh makanan jadul.  Ulasan ini adalah lanjutan dari artikel yang saya posting di sini awal Oktober lalu.

Jalan-jalan ke luar daerah selalu identik dengan oleh-oleh unik. Bahkan ada yang menganggapnya  sesuatu yang wajib untuk dibawa pulang.  Baik jenis makanan, maupun barang lainnya.

Beda dengan saya. Kapan diajak jalan-jalan, oleh-oleh soal nomor sekian. Yang  paling krusial travelingnya. Apalagi yang ngajak si penyandang dana, kalau bukan  sulung  ya, si bungsu. Meskipun sekadar untuk jalan-jalan emaknya ini  punya duit sendiri, enaknya tuh  dibayarin. Ha ha .... 

Bukan berarti oleh-olehnya tidak penting. Tetapi sekadar pelengkap saja. Fokus oleh-olehnya  urusan  perut alias makanan. Tak perlu yang mahal dan modern. Cukup biasa-biasa saja, syaratnya sesuai dengan selera. Toh tukang makannya cuman saya dan  suami  sama-sama berselera jadul. 

Pulang dari Bogor awal September  lalu, saya bawa oleh-oleh dalam dua versi. Pertama, kue hadiah dari menantu yang dia beli di Mall, kemasannya cantik dan modern. (maaf, lupa label produknya). Ke dua, jajanan lama dodol, peuyeum, dan wajik bandung saya beli di pusat oleh-oleh biasa di kota Bogor. 

Camilan dari Mall cuman tercicip tiga potong. Dodol, wajik  bandung, dan peuyeum, semuanya dikudap sampai habis. Namun ada 2 oleh-oleh jadul  yang paling laris manis melebihi larisnya kueh mengueh.

1. Ikan asap

 
Ikan Asap di Meja Pajangan Siap untuk dijual
Mungkin kalian menganggapnya lucu, kuno, dan aneh. Jauh-jauh traveling dari kota Bengkulu ke Bogor melintasi 5 provinsi, pulang-pulang membawa oleh-oleh ikan asap. 

Iya, faktanya begitu. Ceritanya, dalam perjalanan pulang dari Bogor menuju Bengkulu, ketemu sekelempok lapak penjual ikan salai. Lokasinya di pinggir jalan Lintas Barat Sumatra. Kurang lebih 100 meter dari bibir pantai Kabupaten Kaur Provinsai Bengkulu.

 
Ikan di tungku pengasapan

Di sana pedagangnya berjualan, di tempat itu pula dapur pengasapan ikannya.  Yang menarik, semua pekerjanya kaum emak-emak. Ikan gebur besar yang baru keluar dari laut,  mereka potong kecil-kecil. Terus   ditata di tunggku pemanggangan. Artinya, ikan asapnya masih baru dan wangi karena baru  keluar  dari pabrik.   Per potongnya mereka jual Rp 10 ribu. Saya beli 7 potong.

 
Ikan Baru Dibawa dari Laut (atas). Proses Pemotongan Ikan (bawah)

Sampai di rumah saya olah dengan bumbu-bumbu kampung seperti masakan almarhumah Emak. Subhanallah.  Saat menyantapnya, serasa  kembali ke era 60-an.

Begitu juga sang suami, karena saya dan doi sama-sama berasal dari satu kampung, makanan tradisional kami nyaris sama.Tidak heran, lidah kami berdua terbiasa dengan  ikan salai. Setiap dimasak  licin sekalian kuahnya.

Gulai Ikan Salai Berkuah Santan Tanpa Cabe Giling
 
Sebagai informasi tambahan, ikan asap adalah bagian dari masa kecil saya. Orang kampungku  menyebebutnya lauk panggang salai, (sesuai dengan proses pengolahannya dipanggang dengan cara disalai atau diasap). Sejak kelas 4 SR saya selalu membantu Emak menyalai ikan, untuk dijual di pasar-pasar tradisional.

Kini profesi tersebut tinggal cerita. Sebab, hasil tangkapan nelayan tidak perlu pengawetan dengan cara disalai lagi, karena bisa disimpan berminggu-minggu di ruang pendingin plus sedikit pengawet tentunya, hingga tidak cepat busuk. 

2. Gurita

 
Ikan Gurita Dipajang di Warung 

Oleh-oleh kuno lain yang tak kalah larisnya di piring nasi kami adalah gurita. Sama seperti ikan asap, ikan gurita banyak ditemui di Desa Linau, masih dalam Kabupten Kaur, Provinsi Bengkulu.  

Ikan unik ini dijual dalam bentuk kering dengan dijemur di terik matahari, bukan disalai. Seekor gurita dihargai antara Rp 25-125 ribu, tergantung besar kecilnya. Bukan diukur  dari berat ringan timbangannya. Saya hanya beli satu yang ukuran sedang Rp 85 ribu. Tetapi cukup untuk 3 kali masak. Mantap ...., rasanya sebelas dua belas dengan ikan sotong (versi lidah saya). 

Saat itu adalah momen  pertama saya mengenal ikan gurita. Di laut/pantai kami Kabupaten Pesisir Selatan Sumatra Barat sana belum saya temui ikan lucu begini. Namun, saat menikmatinya tetap saja memberikan cita rasa khas, yang memuaskan selera makan kami berdua. Dan si kakek suami  memujinya sebagai oleh-oleh paling enak dan istimewa. 

Demikian kisah oleh-oleh makanan jadul ini ditulis seadanya. Semoga bermanfaat. Terima kasih. 

 Baca juga: 

 Sumber Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

*****

Penulis,
Hj. NURSINI RAIS
di Kerinci, Jambi

29 komentar untuk "Jelajah Bengkulu Bogor, Beli 2 Oleh-Oleh Paling Jadul"

  1. Me dio ganas de la comida. Te mando un beso.

    BalasHapus
  2. Pagi bunda...sayapun penggemar ikan asap atau salai, almarhumah nenek dan ibu saya orang Sumatra,jadi pasti paham masak dan tau ikan ini, memang cita rasa ikan asap tuh enak dan aromanya jadi sedap ,gulai santan ikan asap memang sedaaap bundaπŸ˜€πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bunda kira hanya kami2 orang pedesaan saja yang suka makan ikan salai. Ya, yang bikin sedap itu barangkali aroma asapnya ya, ananda. Terima kasih apresiasinya. Selamat berhari minggu.

      Hapus
  3. Jaman wak bocah2 dulu, kalau jumpa ikan salai ni gak sempat digulai, terus diratahin aje

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan masa kecil, Wak. Setelah kami beli bulan Agustus lalu, sampai di mobil kami juga makan ikan salai rame2. Haha ... Dicocol sama cabe saos. Enaaaakkk .... πŸ‘

      Hapus
  4. di tempat saya jawa timur juga ramai ikan asap bu
    dimana2 ada ikan asap ternyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini salah satu bukti bahwa kita adalah Indonesia, Mas Rezky. Terima kasih apresiasinya.

      Hapus
  5. Mbak. itu ikan gurita besar banget ya...
    Sampai saat ini saya belum pernah memakan ikan gurita. Entah bagaimana cara menyajikannya, belum tahu juga. Mungkin kapan-kapan mesti saya coba.

    Salam,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita sama, Mas Asa. Ternyata beda area laut ada yang tidak sama jenis ikannya. Seingat saya, laut daerah saya juga belum perna ikan gurita. Padahal pantainya sejalur dengan pantai Bengkulu.

      Hapus
  6. Bundaaaaaaa, ya ampuuuun ini juga masakan fav sayaaaa 😍😍😍. Dulu babysitter saya yg malah masakin ini, ikan asap di masak lemak pedas. Beuughhh saya masih kebayang enaknya, blm lagi aroma smokey dari ikan. Enaaak bangettt. Babysitter saya udh ga ada, tapi baca ini jadi kepengen lagi. Cuma ikan asapnya ini yg susah πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ananda Fanny ...! Di mata bunda kamu tuh luar biasa. Cantik, muda, dan berpunya. Tetapi rendah hati. Banyak suka makanan kampung. Padahal dirimu orang kota dan modern.

      Hapus
  7. Aku yang masih muda juga sangat suka ikan salai. Di semarang ada pusat pengasapan ikan. Yang jadi favorit itu kepala ikan manyung. Kalau ikan salai bisa dicampur dengan sayur terong.

    Padahal dulu aku ga suka. Entah gimana ceritanya kini aku suka makan ikan kepala manyung. Ibuku pun juga suka dan sering memasaknya.

    Kalau gurita biasanya makan si pasar semawis, pecinan semarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. "... Ikan salai bisa dicampur dengan sayur terong." Persis sama dengan masakan kampung kami, Mas vai.

      Dahulu gak suka ikan salai. Sekarang malah senang. Itu menandakan selera tua Mas Vai udah muncul. Hehe ....

      Konon ikan gurita itu enak dibuat sate. Saya belum pernah nyicip sategurita.

      Hapus
  8. Menarik sekali entri ini Ibu Nur.
    Saya jarang jumpa ikan asap, tetapi itik dan daging asap biasa jumpa.
    Pernah sekali saya melihat ikan sedap diasap / disalai di daerah Kota Belud, Sabah. Unik sekali pembuatannya. Harap saya pun akan berpeluang makan nasi lauk gulai ikan asap berkuah santan seperti menunya Ibu Nur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Datang saja ke tempat saya di Kerinci , Ami. Ditunggu sama gulai ikan salainya.

      Hapus
  9. seumur2 saya blm pernah makan gurita mbak... entah kenapa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun baru sekali nyicip ikan gurita, Mas. Padahal negeri asal saya tak jauh dari laut.

      Hapus
  10. Ikan asap itu diolah jadi sayur enak juga ya. Kalau aku namanya ikan asap ya digoreng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikan asap bisa diolah jadi beragam masakan ya, Mbak Tira. Digoreng enak, dimasak berkuah santan juga enak. Terima kasih apresiasinya ya. Mbak.

      Hapus
  11. ikan asap trus ditambah minuman es jeruk jumbo enak kayaknya bu hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi sebagian nenek2 kampung seperti saya, ikan salai lebih daripada enak, Mas Rezky. He he ...

      Hapus
  12. saya suka ikan, tetapi untuk ikan asap saya pernah atau belum lupa, seingat saya dulu pernah ikan asap dibeliin ... katanya tinggal makan aja tanpa dimasak dulu ... kan saya berpikiran itu kan di asap cuma diawetin bukan berati sudah dimasak ? atau memang sudah dapat dimakan mohon infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak apa2 langsung dimakan, Mbak. Sebab setelai diasap dia sudah matang. Terutama yang baru keluar dari pemanggangan.

      Hapus
  13. Ikan asap enak dan juga tahan lama ya Bu, jadi beli banyak juga tidak takut basi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahan lama, pasti Mas Agus, sebab ikan salai diproses secara alami. Semakin kering salainya makin tahan lama. Semakin lembab dagingnya kian enak. Tetapi tak apa2 jika dimasak ikan salai semakin gurih

      Hapus
  14. Ikan asap atau ikan salai adalah salah satu makanan favorit saya....
    yummy ......πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin di sana tidak ditemui ikan salai ya, Mas Tanza.

      Hapus
  15. Ikan asapnya amat menyelerakan sungguh... Balik di masak lagi... Sedapp bangat ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk datang ke Indonesia, ikan salai siap dimasakin. Hehe ....

      Hapus